Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Sangat Mahal
Setitik darah itu menarik ingatan Stefanus pada malam badai, saat tubuh wanita ini hancur di dasar tangga pualam.
"Kamu terluka," bisik Stefanus parau.
"Hanya kena pisau sedikit."
"Kamu bilang ini sedikit?"
Shaquena tersenyum tipis. "Kalau ini dibawa ke rumah sakit, dokternya mungkin malah menyuruh kita pulang."
Stefanus tidak ikut tersenyum. Ia mengambil kotak P3K dari laci dapur, lalu membuka plester antiseptik dengan pelan.
"Berikan tanganmu."
Shaquena menurut. Jari-jarinya terasa hangat disentuh Stefanus. Pria itu membersihkan luka kecil tersebut menggunakan kapas dengan hati-hati. Gerakannya pelan sekali, amat takut menyakiti.
"Perih?"
"Sedikit."
Stefanus menghela napas. "Lain kali panggil aku kalau mau memakai pisau."
Shaquena menatap wajah suaminya cukup lama. "Kamu terlalu khawatir."
"Aku memang khawatir."
Jawaban jujur itu keluar tanpa ragu. Shaquena kehilangan kata-kata. Hatinya bergetar menerima perhatian itu.
Ia membiarkan Stefanus menempelkan plester kecil melingkari telunjuknya. Setelah selesai, Stefanus baru melepaskan tangannya dengan enggan.
"Besok kamu jangan masak lagi," larang Stefanus tegas.
"Kalau begitu besok kita makan apa?"
"Aku yang belajar masak."
Shaquena tertawa pelan. "Kita berdua bisa-bisa hanya hidup dari mi instan."
Stefanus akhirnya ikut tersenyum. "Tidak masalah. Asal kita makan bersama."
Keesokan paginya. Shaquena berdiri di depan jendela apartemen. Tatapan matanya lurus membelah deretan gedung pencakar langit.
Di layar ponselnya hanya tertera satu nama. Pak Hartono.
Panggilan langsung tersambung.
"Selamat pagi, Nyonya."
"Pagi, Pak Hartono. Apakah latar belakangnya sudah dicari?"
"Sudah saya pastikan, Nyonya."
"Bagaimana keadaan pemuda bernama Daniel itu?"
Pak Hartono terdiam selama beberapa detik. "Keadaannya jauh lebih buruk dari dugaan awal."
Shaquena memejamkan matanya. "Lanjutkan."
"Rumahnya hampir disita bank hari ini. Adiknya juga harus cuci darah rutin. Kalau minggu ini tunggakan tidak dibayar, rumah sakit akan menghentikan pengobatan Ratih."
Shaquena menggenggam ponselnya lebih erat. Ia menduga Daniel terdesak, namun tidak menyangka separah ini.
"Berapa total utangnya?"
Pak Hartono menyebut angka tersebut. Nominal itu tidak besar bagi Shaquena. Namun cukup untuk menghancurkan hidup satu keluarga.
"Ada satu hal lagi, Nyonya," sela Pak Hartono ragu.
"Apa itu?"
"Semalam, utusan dari Tuan Sebastian mendatangi rumah Daniel."
Ruangan apartemen mendadak dilingkupi kesunyian. Sebastian ternyata bergerak lebih cepat. Pria licik itu selalu pandai mencium bau orang putus asa, lalu menjerat mereka dengan rasa utang budi.
"Pak Hartono."
"Ya, Nyonya."
"Lunasi semua utang rumah Daniel hari ini juga ke bank."
Pak Hartono terdiam sejenak. "Tanpa mencantumkan nama Nyonya?"
"Iya, anonim penuh." Shaquena memberi instruksi tegas. "Pindahkan Ratih ke rumah sakit terbaik. Bayar lunas semua biaya perawatannya. Jangan sampai Daniel tahu siapa yang membantunya."
Pak Hartono kembali diam. "Nyonya. Kalau Daniel saat ini sudah menerima kesepakatan dan berada di pihak Tuan Sebastian..."
Shaquena menutup matanya sesaat. "Aku tahu risiko itu."
"Lalu kenapa Nyonya masih membantunya?"
Shaquena menarik napas pelan. "Orang yang sedang mati tenggelam tidak bisa memilih tangan siapa yang pantas menyelamatkannya. Dia hanya butuh ditarik ke atas permukaan air."
Pak Hartono merespons pelan. "Saya sangat mengerti maksud Nyonya."
Telepon ditutup. Shaquena tetap berdiri mematung.
"Kalau setelah semua bantuan ini dia tetap memilih mengkhianatiku..." Ia menunduk menatap telapak tangannya. "...setidaknya aku tidak membiarkan seorang anak kecil kehilangan kesempatan hidup."
Rumah sakit swasta di kota kabupaten itu mulai ramai menjelang siang. Daniel baru selesai mengurus administrasi Ratih. Ia sudah menunduk pasrah ketika petugas memanggil namanya lagi.
"Bapak Daniel?"
"Iya," jawab Daniel lemas.
"Mohon tunggu sebentar."
Beberapa menit kemudian, seorang dokter menghampirinya. "Selamat siang, Mas Daniel. Seluruh tunggakan biaya pengobatan adik Anda sudah dilunasi hari ini."
Daniel membeku di tempatnya. "Apa?"
"Bahkan biaya perawatan untuk beberapa bulan ke depan juga sudah dibayarkan penuh."
Daniel berkedip berkali-kali. "Dokter pasti salah melihat data."
Dokter itu menggeleng pasti. "Sama sekali tidak. Ini sudah dibayar lunas atas nama Ratih Prasetyo."
Daniel langsung berdiri. Napasnya memburu. "Siapa pihak donatur yang bayar semuanya?"
"Kami tidak bisa memberi tahu identitasnya."
"Tolong beritahu saya, Dok."
"Mohon maaf, Mas."
Daniel memandang wajah dokter itu cukup lama. "Benar-benar tidak ada nama?"
"Tidak ada nama. Hanya ada satu pesan tertulis."
Jantung Daniel kembali berdebar menghantam tulang rusuk. "Pesan apa?"
Dokter itu membuka lipatan catatan kecil. "Lanjutkan hidup. Jangan menyerah."
Hanya dua kalimat pendek itu.
Daniel menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa amat sesak. Apa bantuan anonim ini dari Mahendra juga? Logika batinnya membantah. Pesan ini terlalu tulus.
Ratih yang duduk di kursi roda menatap kakaknya cemas. "Kak."
Daniel berlutut di depan kursi roda adiknya. "Tidak apa-apa, Dek."
"Kita masih bisa berobat cuci darah lagi?"
"Iya."
"Rumah kita juga aman?"
Air di pelupuk mata Daniel hampir jatuh. "Iya, rumah kita sudah aman."
Ratih mengukir senyum kecil yang sangat lega. "Ayah sama Ibu di surga pasti ikut senang melihat kita hari ini."
Kalimat jujur itu membuat Daniel buru-buru memalingkan wajahnya. Ia mati-matian menahan isak tangis agar adiknya tidak melihat sepasang matanya yang memerah.
Siang harinya, Ratih dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang jauh lebih baik. Kasurnya baru. Ruangan sangat bersih. Perawat datang bergantian mengecek kondisinya.
Ratih melihat sekeliling ruangan megah itu dengan mata berbinar. "Kak. Sewa ruangan sebagus ini pasti mahal ya?"
Daniel mengusap pucuk rambut adiknya. "Iya, sangat mahal."
"Kita bayar pakai apa?"
Daniel terdiam. "Tadi dokter bilang sudah ada dermawan yang membayar semuanya."
Ratih terdiam memikirkan fakta itu cukup lama. "Nanti kalau aku sudah sembuh, kita harus kerja buat balikin semua uangnya."
Daniel tersenyum pahit. "Iya. Pasti kita balikin."
"Itu kalau aku sudah sembuh nanti."
Daniel menggenggam tangan kecil itu. "Tugasmu sekarang cuma fokus sembuh."
Ratih tertawa kecil. "Kalau aku sembuh, aku mau masakin makanan kesukaan Kakak setiap hari."
Daniel ikut tertawa pelan. "Kamu memangnya bisa masak?"
"Nanti aku belajar."
"Awas, jangan sampai kuahnya keasinan seperti kemarin."
Ratih cemberut. "Nggak bakal keasinan."
Mereka berdua tertawa lepas. Tawa kecil bahagia yang sudah lama hilang akhirnya kembali terdengar.
Namun di balik senyum itu, hanya Daniel yang tahu rasa sakit di hatinya. Semakin besar bantuan tulus yang ia terima hari ini, semakin berat rasa bersalah yang memenuhi rongga dadanya.
Sore harinya, Daniel berjalan keluar menuju taman rumah sakit. Ia duduk sendirian di bangku semen. Tangan kanannya meremas kartu nama hitam milik Theo.
Orang suruhan Sebastian Mahendra.
Kontrak kotor semalam itu masih mengikatnya. Ia sudah menerima satu koper penuh uang tunai. Utang rumahnya sudah lunas. Adiknya mendapat jaminan hidup. Semua berawal dari satu syarat mutlak. Masuk sebagai penyusup ke tim Nyonya Shaquena.
Daniel menundukkan kepalanya. "Apa aku masih pantas disebut manusia baik."
Ponsel di sakunya bergetar. Satu pesan teks dari Theo.
"Apakah sudah ada perkembangan?"
Daniel menatap layar itu cukup lama. Rahangnya mengeras. Ia menghapus pesan itu tanpa membalas.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
"Jangan pernah lupa kesepakatan kita, Daniel."
Daniel menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tarikan napasnya terasa sangat berat.
Ia bahkan belum pernah bertemu wanita bernama Shaquena itu. Ia menatap langit sore yang mulai berubah warna menjadi jingga.
Otaknya memutar kembali wajah Ratih yang akhirnya bisa tersenyum tanpa rasa sakit.
Kalau ia nekat membatalkan perjanjian kotor dengan pihak Mahendra sekarang, bagaimana kalau pihak konglomerat itu mengambil kembali semua bantuannya? Bagaimana kalau Ratih kembali terusir dari rumah sakit?
Daniel mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia benar-benar membenci dirinya sendiri saat ini.