“Kak, ada yang ingin saya omongin,” Alisha sengaja menunggu Arkana agar tak ada kesalahpahaman di kemudian hari. Biarlah dijalan ia sedikit ngebut agar tidak telat ikut ujian.
“Lain kali aja, aku ada meeting pagi-pagi. Lakukan saja apa yang menurutmu baik aku setuju,” Arkana tak sarapan dan hanya meminum juice yang disiapkan oleh bi Sona.
Kepoin yuk cerita seru mereka. Kisah Faisal Arkana Kaif dan Alisha Mahalini yang dikemas dalam kisah "CINTA BERBALUT EGO"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roslaniar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CBE # 27 》》JANGAN MENGGANGGUKU
Pak Ahmad dan mama Alice segera bersiap mengunjungi Arkana setelah Alex memberitahukan kondisi mantan menantunya tersebut. Pasangan suami istri itu sangat kaget mendengar musibah yang menimpa Arkana.
Dengan kecepatan sedang pak Ahmad melajukan mobilnya membelah jalan raya menuju rumah sakit Medical Centre. Jarak rumah yang lumayan jauh membuat keduanya tiba setelah satu jam berada di jalan raya.
Tok,,, Tok,,, Tok
Ceklek
“Silahkan masuk pak, bu,” Alex membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan pak Ahmad dan mama Alice yang terlihat sangat khawatir.
“Gimana keadaanmu nak ? Kok bisa seperti ini ? Memangnya kamu bawa mobil sendiri ?” Mama Alice membombardir Arkana dengan pertanyaan. Mendengar kekhawatiran mantan mertua sahabatnya membuat Alex nyengir kuda. Siapa saja yang melihat kekhawatiran pasangan suami istri tersebut pastilah akan menduga jika mereka adalah orang tua Arkana.
“Kemarin aku buru-buru ma, pa, sehingga tak bisa menunggu Alex menjemput.” Meeting pagi-pagi dengan klien membuat Arkana tak bisa menunggu Alex. Jika Alex menjemputnya terlebih dahulu maka akan memakan waktu yang lumayan lama karena jarak yang cukup jauh. Bisa-bisa meeting mereka batal dan Arkana tak menginginkan hal itu terjadi.
“Setelah sembuh kamu tak boleh lagi nyetir sendiri. Pakai supir pribadi nanti papa yang carikan.” Pak Ahmad memang sudah menganggap Arkana putranya sendiri walaupun pada kenyataannya pria yang sedang terbaring itu adalah mantan menantunya.
Pak Ahmad dan Kiyai Somad bersahabat meskipun usia mereka berbeda beberapa tahun. Lebih tepatnya Kiyai Somad lebih tua 3 tahun. Saat ini hanya pak Ahmad kerabat yang Arkana miliki.
“Pa, ma, boleh aku bertanya ?” Arkana tak menimpali perkataan pak Ahmad. Ingatannya tiba-tiba kembali pada saat ia mengalami kecelakaan.
“Tentu saja nak, apapun pertanyaanmu kami berdua akan berusaha menjawabnya, “ Kali ini mama Alice yang bersuara. Alex ikut menyimak dimana saat ini ia berdiri berseberangan dengan pak Ahmad dan mama Alice.
“Alisha sudah kembali kan, ma ?” Arkana ingin memastikan penglihatannya saat seorang wanita menolongnya.
“Hilangkan Alisha dari pikiranmu nak, pilihlah wanita yang akan kamu nikahi. Papa dan mama akan melamarnya untukmu dan akan mengadakan resepsi yang mewah untuk kalian, “ Pak Ahmad tak tega melihat Arkana yang tak pernah bosan menanyakan keberadaan Alisha. Bisa saja pak Ahmad mengatakan yang sebenarnya tentang keberadaan Alisha namun ia merasa tak ada gunanya demi kebaikan Arkana.
“Aku gak bisa pa. Aku sudah menyia-nyiakan Alisha selama pernikahan kami dan rasa penyesalan itu akan tetap ada sebelum aku bertemu dan meminta maaf padanya,” Arkana tetap ngotot. Entah hanya rasa sesal yang menguasai ruang hatinya ataukah sebenarnya rasa cinta yang mendalam.
“Sudahlah nak, rasa sesal itu gak perlu dipelihara. Papa yakin Alisha tak merasa dirugikan. Jalan takdir kalian memang harus seperti ini.” Tak ada lagi yang bisa pak Ahmad katakan. Toh sejak kepulangan putrinya itu tak pernah menyinggung nama Arkana meskipun hanya sekedar menanyakan kabarnya.
Tak ingin membahas lebih jauh tentang Alisha, maka mama Alice mengubah topik pembicaraan. Bukan karena mama Alice menyembunyikan keberadaan putrinya. Hanya saja wanita cantik khas bule itu ingin agar Arkana melupakan Alisha dan membuka hati untuk wanita lain. Hingga akhirnya mereka tertawa dan melupakan apa yang baru saja mereka bahas.
Walaupun Arkana merasa kepalanya masih sedikit nyeri namun kehadiran pasangan suami istri yang ia anggap sebagai orang tuanya sendiri cukup mampu mengalihkan rasa sakitnya.
Jam terus berputar hingga senja kembali mengingatkan penduduk bumi jika sesaat lagi malam akan menguasai semesta. Pak Ahmad dan mama Alice pun berpamitan agar Arkana bisa istirahat.
“Kami pamit nak, istirahat yang cukup agar segera pulih.” Mama Alice mengusap pelan lengan Arkana yang juga berbalut perban.
“Terima kasih mama sama papa sudah bersedia jenguk Arka,” Arkana tersenyum lebar menatap wajah tulus kedua mantan mertuanya.
“Oh ya nak Alex, titip Arkana ya. Kalau ada apa-apa segera telpon kami,” Pak Ahmad menatap pria muda yang selalu menemani cucu sahabatnya.
“Pasti om,” Alex mengekori pak Ahmad yang kini berjalan kearah pintu ruang perawatan Arkana. Ruangan yang lebih mirip rumah mungil karena dilengkapi fasilitas layaknya sebuah rumah.
Alex kembali masuk dan berjalan ke arah sofa. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan karena saat ini sang bos sedang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.
“Jangan menggangguku, pekerjaan ini lebih penting daripada yang akan kamu katakan.” Alex melihat Arkana akan berbicara dan Alex ingin agar pria itu istirahat agar ia bisa bekerja dengan tenang.
Bibir Arkana kembali terkatup mendengar ucapan asisten kurang ajarnya. Seandainya saja dirinya saat ini memiliki kekuatan, ingin rasanya ia melempari asistennya itu dengan bantal karena ucapannya yang tak berakhlak.
Dengan tenang Alex menyalakan laptop yang sejak tadi menganggur. Dengan tenang ia menyelesaikan pekerjaannya. Sesekali ia melirik brangkar dimana Arkana berbaring. Melihat Arkana yang merupakan sosok sempurna dimata para kaum hawa membuat Alex meringis. Bagaimana tidak, pria sesempurna Arkana ternyata hingga saat ini belum bisa move on dari Alisha padahal sudah bertahun-tahun mereka berpisah.
Walaupun Arkana selalu mengatakan hanya menyesal dan ingin meminta maaf pada Alisha namun Alex yakin jika sebenarnya Arkana telah mencintai Alisha. Cinta dibalik penyesalan.
“Sebelum aku kehilangan kesadaran, aku melihat Alisha yang menolongku,” Suara Arkana berhasil menarik atensi Alex. Sesaat Alex menghentikan kegiatannya.
“Karena kamu selalu memikirkan Alisha makanya ketika kamu setengah sadar yang kamu liat hanya Alisha,“ Alex tak percaya dengan ucapan Arkana. Pria seperti Alex lebih mengutamakan logika. Penuturan Arkana tak lantas mempengaruhinya dan tak masuk akal menurutnya.
Arkana menatap tajam Alex, seolah ingin menerkamnya hidup-hidup. Alex tak mempercayai apa yang dikatakannya padahal itulah kebenarannya. Meskipun kesadarannya saat itu perlahan menurun namun Arkana yakin dengan apa yang dilihatnya.
“Istirahatlah bos, segera pulih dan buktikan jika yang kamu lihat adalah benar,” Alex tak ingin lagi melanjutkan perdebatan dengan orang sedang tak stabil.
Ingatkan Alex jika suatu saat bertemu dengan Alisha untuk menanyakan jampi-jampi apa yang dipakainya sehingga sepanjang waktu Arkana selalu mengingatnya. Lihatlah bahkan dalam keadaan tak berdaya pun tetap saja memikirkan Alisha.
“Saat itu aku masih sadar, Lex. Dan aku yakin jika wanita itu adalah Alisha,” Arkana tetap ngotot dengan keyakinannya.
Alex hanya diam dan memilih untuk menyudahi pekerjaannya dan mengistirahatkan tubuhnya untuk menghadapi hari esok yang ia yakini akan sedikit lebih berat. Kekuatan berbicara Arkana sudah mulai pulih meskipun belum bisa banyak bergerak. Alex hanya bisa memperbanyak doa agar Arkana segera pulih dan gila kerja seperti biasanya sebagai bentuk pengalihan pikirannya tentang Alisha.
cinta berbalut ego🤭🤭🤭🤭
walaupun kamu hebat kayak apapun tentu masih membutuhkan orang lain.terimalah dengan ikhlas Arkana.
itulah yg terbaik bagimu
sy suka dgn cerita2 nya.