Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
“Apa? Seratus tael? Bahkan kalau punya uang pun belum tentu bisa membelinya!”
Kerumunan yang sejak tadi memenuhi halaman rumah keluarga Hartono langsung gempar.
Seseorang buru-buru menambahkan, “Itu kue dari Kuango, toko kue paling terkenal di ibu kota! Kudengar setiap hari orang harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan satu kotak.”
“Benar! Bahkan para selir di istana pun mengirim pelayan khusus untuk membelinya.”
“Aku juga pernah dengar,” sahut yang lain. “Semasa hidupnya, mendiang Ibu Suri sangat menyukai Kue Ekor Phoenix dari sana.”
Mendengar penjelasan itu, semua orang saling berpandangan.
Kalau memang semahal itu, bagaimana mungkin keluarga Nenek Sun mampu membelinya?
Bukankah tadi mereka mengatakan kue itu dibawa pulang oleh keluarga mereka?
Sedikit demi sedikit, penduduk desa mulai menyadari bahwa mereka telah dipermainkan. Tatapan mereka perlahan beralih kepada Nenek Sun dan cucunya.
Haya menundukkan kepala dalam-dalam. Wajahnya memerah karena malu, terlebih saat tanpa sengaja bertemu pandang dengan kakak sulung Seina.
Saat suasana mulai sunyi, Seina melangkah maju.
"Kue itu memang diberikan oleh keluarga Sia kepadaku hari ini. Aku sengaja membawanya pulang agar orangtua dan kakak-kakak ku bisa mencicipinya."
Setelah beberapa saat hening Seina pun melanjutkan penjelasan, "Tadi siang Haya dan Erya datang bermain ke rumah."
"Erya ingin meminta sepotong, tetapi aku tidak bisa memberikannya karna kotak itu hanya berisi tujuh potong, yang artinya cukup untuk mereka"
Penjelasan Seina membuat semuanya menjadi jelas. Tatapan penduduk desa terhadap Erya berubah seketika.
Semula mereka mengira keluarga Hartono pelit. Ternyata gadis kecil itulah yang kecewa karena tidak diberi kue, lalu memutarbalikkan cerita.
Seorang anak seusia itu sudah pandai berbohong, mereka tidak tahu harus berkata apa lagi. Apalagi jika benar harga setiap potong kue mencapai lima tael perak.
Jangankan memberikannya kepada orang lain, mereka sendiri pun belum tentu rela memakannya. Namun Nenek Sun masih belum mau mengaku salah.
Dengan wajah tanpa rasa bersalah, ia mendengus.
"Memangnya kenapa kalau cucuku ingin makan? Namanya juga makanan, bukankah memang untuk dimakan manusia?"
Belum sempat ia selesai berbicara, seorang perempuan desa langsung menyela.
"Kalau begitu malam ini kami semua makan di rumahmu saja."
"Benar!"
"Kalau makanan memang untuk dimakan orang lain, kami juga ingin mencicipi masakanmu."
Beberapa orang langsung tertawa sambil ikut menggoda.
Wajah Nenek Sun berubah merah padam.
"Apa maksud kalian? Mengapa harus makan di rumahku?" Kalian mau menghabiskan beras keluargaku?"
"Jangan mimpi!"
Seorang pria tua menggeleng pelan. "Kalau begitu, mengapa keluarga Hartono harus membiarkanmu mengambil milik mereka?"
Ucapan itu membuat Nenek Sun benar-benar kehabisan kata. Menyadari dirinya berada di pihak yang salah, ia langsung duduk di tanah sambil menangis meraung-raung.
"Aduh... dunia ini sudah tidak adil! Kalian semua menindas seorang wanita tua!"
"Aku lebih baik mati saja!" Tangisannya terdengar nyaring di seluruh halaman.
Haya yang berdiri di sampingnya hanya bisa menutup wajah, ia benar-benar malu.
Kalau neneknya terus membuat keributan seperti ini, siapa lagi yang mau berteman dengannya?
Dengan wajah tertunduk, ia mengeluarkan beberapa butir permen dari sakunya.
"Nenek... Jangan membuat masalah lagi, ini permen yang tadi diberikan Seina kepadaku."
Begitu melihat tujuh atau delapan butir permen itu, seluruh penduduk desa kembali terdiam.
Permen saja sudah termasuk barang mewah bagi keluarga desa, namun Seina memberikannya kepada Haya tanpa ragu.
Kalau memang ia anak yang pelit, mana mungkin ia melakukan hal seperti itu?
Sekarang mereka benar-benar sadar telah salah menilai keluarga Hartono.
Suasana berubah canggung, beberapa orang bahkan tidak berani mengangkat kepala karena malu.
Saat itulah kakak sulung Seina melangkah maju.
Sejak awal ia terus menahan emosinya, kini ia berkata dengan suara tenang, tetapi penuh ketegasan.
"Sejak keluarga kami pindah ke Desa ini, kami selalu berusaha hidup rukun dengan semua orang. Tidak kusangka hari ini kalian justru mempermalukan seorang anak berusia enam tahun."
"Kalau beginilah cara kalian memperlakukan tetangga, kami benar-benar kecewa."
Begitu ia selesai berbicara, kakak kedua Seina ikut maju, tatapannya menyapu seluruh kerumunan.
"Jangan mengira keluarga Hartono mudah ditindas."
Kakak ketiga tetap berdiri di samping dengan ekspresi datar. Ia tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya sudah cukup menunjukkan bahwa ia berdiri di pihak keluarganya.
Kakak keempat hanya melipat tangan sambil mendengus pelan. Di dalam hati ia masih belum sepenuhnya percaya kepada Seina, namun hari ini ia harus mengakui bahwa adik kecilnya benar-benar berhasil membalikkan keadaan.
Bahkan kakak kelima yang biasanya pendiam akhirnya melangkah ke depan.
Setelah ragu beberapa saat, ia berkata singkat, "...Aku juga."
Ucapan sederhana itu membuat Seina tersenyum kecil.
cerita nya juga seru