Kesalahan yang dilakukan demi melepaskan diri dari jeratan pinjaman online tak disangka harus membuat Rudi harus membayarnya dengan menyelamatkan sembilan manusia dari kematian tragis. Mampukah Rudi menyelamatkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9 Nyawa 27
"Asal kau tahu, meskipun kau sudah bekerja mati-matian untuk menunjukkan betapa loyalnya dirimu, tetap saja kau pasti akan dihabisinya, entah kapan waktunya. Sama seperti diriku yang kini jadi buronannya?" ucap pria itu sinis
Rudi terhenyak saat mendengar ucapan dari Sulaiman.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku adalah orang suruhan Jonathan?" tanya Rudi dengan wajah penasaran
"Hmm, mudah saja. Selama ini aku hidup tenang sebagai seorang pemulung di sini. Dan tidak pernah ada seorangpun yang ingin tahu tentang diriku apalagi mendekati rumahku. Sudah bukan rahasia lagi jika orang-orang akan menjauhi kami yang miskin dan memiliki anak keterbelakangan mental. Kami sudah terbiasa dan nyaman dengan suasana seperti itu. Jadi sudah pasti aku pasti curiga jika ada seseorang yang tertarik dengan kehidupan ku, dan dari beberapa orang yang sama seperti dirimu aku bisa menyimpulkan jika orang-orang yang tertarik dengan ku hanyalah para anj*ng pemburu Jonathan yang dikirim untuk membunuh ku!" terang Sulaiman
"Kenapa Jonathan ingin membunuhmu?" tanya Rudi
"Cih, apa kau sengaja mengetesku?" jawab Sulaiman balik bertanya
"Oh bukan begitu, terus terang saja aku juga tidak tahu kenapa Jonathan menyuruh ku untuk membunuh mu. Asal kau tahu, Aku adalah orang baru di geng naga merah dan aku baru saja keluar dari penjara. Terus terang saja aku tidak tahu banyak tentang geng naga merah, apalagi Jonathan. Tentu saja itu karena aku hanyalah seorang atlet yang terpaksa harus bergabung dengan geng mafia untuk menyambung hidup," jawab Rudi dengan wajah polosnya
Melihat kejujuran di wajah Rudi membuat Sulaiman pun mempercayainya. Ia kemudian menceritakan alasan Jonathan memburunya.
"Aku tahu dia memburuku karena menginginkan benda ini," ucap Sulaiman sambil menunjukkan sebuah flashdisk kepadanya.
"Apa ini?" tanya Rudi
"Itu adalah bukti jika Jonathan yang sudah membunuh adiknya sendiri Richard Austin,"
Seketika Rudi melotot saat mendengar pengakuan Sulaiman. Ia tak mengira jika pria itu yang sudah membunuhnya.
"Tapi bukankah pelakunya adalah Carlen?" jawab Rudi
"Carlen hanya orang suruhan saja. Dalang dari kematian Richard adalah Jonathan yang tidak suka jika sang ayah mewariskan perusahaan kepadanya. Tentu saja ia melibatkan banyak sekali orang-orang dalam kasus ini, jadi orang-orang tidak akan mengira jika ialah dalang dari pembunuhan ini sebenarnya. Dan tidak ada seorangpun yang bisa menjebloskan ia ke penjara kecuali dengan bukti ini," jawab Sulaiman
Lelaki itu kemudian menyerahkan bukti itu kepadanya.
"Meskipun aku belum mengenal mu, entah kenapa aku merasa jika benda ini akan aman jika berada di tangan mu,"
Sulaiman kemudian memberikan flashdisk itu kepada Rudi.
"Tapi, bagaimana jika terjadi hal sebaliknya," jawab Rudi yang merasa sedikit gugup
"Aku yakin kau bisa menjaganya dengan baik. Aku merasa sepertinya usia ku tak lama lagi. Mungkin saat ini aku memang masih bisa selamat darimu. Tapi aku tidak tahu esok, Jonathan terlalu sulit untuk ditebak."
Sulaiman duduk di kursi lipat dan menyalakan sebuah rokok.
"Aku sudah terlalu lama hidup sebagai seorang pendosa, aku tak pantas hidup terlalu lama di dunia ini. Tentu saja aku harus menebus semua dosa-dosa ku," ucap Sulaiman menepuk pundak Rudi
Setelah berbincang cukup lama, Rudi pun memutuskan untuk meninggalkan kediaman Sulaiman.
Ia kemudian kembali ke Markas Naga Merah.
Senyuman Herly menyambut kedatangannya. Ia seolah bisa membaca keberhasilannya.
"Aku memang tidak salah memilih mu Dimas. Aku tahu kau pasti bisa mengalahkan tua bangka itu dengan mudah. Dengan kemampuan mu aku yakin kau tidak butuh waktu lama untuk melumpuhkannya. Bukan begitu?" tanya Herly
"Hmm," jawab Dimas mengangguk
"Ok, karena tugasmu sudah selesai. Sekarang saatnya kau harus mengawal ku untuk menemui seseorang,"
Herly merangkul Dimas dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Hari itu Dimas mengawal Herly menemui beberapa orang rekan bisnisnya. Dimas merasa sedikit aneh, hari itu. Bagaimana tidak. Ia tidak merasa jika hari itu Herly tidak bertemu dengan orang-orang yang mengancam jiwanya , hingga membutuhkan perlindungan darinya. Namun entah kenapa Herly bersikeras untuk meminta dirinya selalu mengawalnya kemanapun ia pergi.
Pukul sepuluh malam Herly menyuruh Dimas untuk kembali ke markas Naga merah karena tugasnya sudah selesai.
Namun Dimas yang ingin mengecek uang milik Carlen yang ia sembunyikan di berangkasnya meminta izin kepada Ketua Geng Naga Merah untuk pulang ke rumah dengan alasan untuk menemui sang ibu yang sudah lama tak bertemu dengannya.
Ketua Geng pun memberikannya izin. Rudi begitu bahagia karena ia bisa mengambil uang miliknya yang ada di kediaman Carlen.
Setibanya di kediaman Carlen ia melihat rumahnya sudah porak poranda. Namun ia begitu lega saat melihat berangkas yang ia kubur di halaman belakang rumah masih utuh.
"Syukurlah uangnya masih aman!" serunya kemudian membawa tas itu pergi.
"Sebaiknya aku taruh dimana tas ini, gak mungkin kan kalau aku taruh di markas naga merah, bisa bahaya!" Rudi tampak berpikir keras untuk mencari tempat yang aman untuk menyimpan tas miliknya
Namun saat ia melintasi sebuah masjid iapun berpikir untuk menitipkan tas miliknya itu di sana.
Ia kemudian menyewa sebuah loker untuk menyimpan tas miliknya. Setelah merasa semuanya aman iapun bergegas untuk menemui sang ibu.
"Sepertinya aku harus menemui ibu Dimas, agar dia merasa senang bisa bertemu kembali dengan ibunya," ucapnya dalam hati
Namun saat perjalanan pulang ke rumahnya ia dihadang oleh beberapa orang preman. Menghadapi preman jalanan bukan hal sulit baginya. Meskipun jumlah mereka begitu banyak namun dengan keahliannya ia mampu mengalahkan mereka dengan cepat.
"Abang!" seru Radit saat melihat Rudi dikeroyok oleh para preman
Pemuda itu segera berlari kearahnya untuk membantunya.
"Bagaimana bisa kau ada di sini?" tanya Rudi
"Aku sudah bebas hari ini bang, seperti Abang, kebebasan ku juga dimajukan karena aku selalu berkelakuan baik selama di sel," jawab Radit
Rudi terus menghajar satu persatu preman yang berusaha membunuhnya.
Radit tampak begitu senang saat melihat Rudi berhasil mengalahkan semua preman-preman yang menyerangnya.
"Wah, abang memang luar biasa, abang bisa mengalahkan mereka dengan cepat!" seru Radit
"Kamu juga Keren Radit, thanks ya udah bantuin aku!" jawab Rudi kemudian mengambil tasnya yang tergeletak di jalanan.
Rudi begitu terkejut saat merasakan sesuatu menancap di perutnya. Radit buru-buru berlari menjauh darinya setelah berhasil menikamnya.
"Kamu...kenapa kamu melakukan ini padaku!" seru Rudi saat melihat Raditlah yang berusaha membunuhnya
Radit menyeringai saat melihat Rudi bersimbah darah.
"Karena aku sudah lama ingin melakukannya Abang. Aku sudah muak menjadi kacungmu. Kau selalu saja bertingkah seperti bos besar dan menjadikan aku layaknya seorang pecundang. Sekarang aku sudah puas karena bisa melampiaskan kekesalan ku padamu. Aku senang jika kau mati. Harusnya aku sudah melakukannya saat kau di rumah sakit. Tapi sayangnya aku terlalu takut saat itu, tapi sekarang aku tidak bisa menahannya lagi!" jawab Radit
Ia bahkan kembali menusuk Rudi saat melihatnya berusaha membalas perbuatannya.
"Sekarang matilah kau!" serunya sambil menggilas luka di perut Radit
sukurin...nyesel deh
tp tetep maju, tegakkan keadilan💪💪💪
hahaaa... berubah!!! 🦸♂️
lanjut...
yaaa... bundir, dosamu makin bertambah
waaduuuh pertanda apakah ini semua??