NovelToon NovelToon
Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Jangan Menyesal Setelah Aku Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:116.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jalur Langit

Disa ingin memberi kejutan berupa kehamilan yang telah lama dinanti-nanti, tetapi dia malah mendapatkan kejutan lebih dulu dari Cakra. Cakra membawa pulang Risa yang sedang hamil anaknya.

Dari pada menerima Cakra, yang jelas-jelas sudah mengkhianatinya, dan harus menerima Risa sebagai madunya, Disa memilih pergi dengan membawa anak Cakra yang dia sembunyikan.

"Jangan menyesal setelah aku pergi."

***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

"Turun!" titah Cakra dingin, setelah mematikan mesin mobilnya. Mereka sudah sampai di depan rumah Risa. Rumah sederhana yang sudah terbengkalai selama kurang lebih sepuluh bulan.

Cakra turun dari mobil lebih dulu untuk menurunkan dua koper milik Risa. Ia menggeram kesal saat menyadari si wanita pembohong itu belum juga keluar dari mobilnya. Dengan gerakan kasar, Cakra membuka pintu di samping tempat duduk Risa.

"Turun!" bentaknya.

"Mas ....." Risa memasang mimik memelas, berharap hati Cakra akan tersentuh.

"Gak usah memelas gitu, aku nggak akan pernah iba. Kamu turun sekarang!"

"Kalau kamu keberatan sama kehadiran Zara ... Kita bisa singkirkan dia, yang penting kita jangan pisah," sergah Risa. Sebuah pemikiran yang terus ia pikirkan selama dalam perjalanan. Ia rela kehilangan Zara asalkan ia tidak kehilangan Cakra dan kemewahannya.

Rahang Cakra langsung mengetat, nyaris habis kesabarannya menghadapi Risa. Gila! Ibu macam apa ini, yang tega mempunyai pemikiran seperti itu terhadap anaknya sendiri? Bukankah seorang ibu itu seharusnya rela mati demi anaknya?

"Aku justru mau talak tiga kamu, Ris."

"Mas.... "

Cakra berdecak tidak sabar, ia tarik lengan Risa. "Ayo turun, kamu udah bukan istri aku lagi."

Seharusnya setelah Zara lahir, Cakra ingin meresmikan pernikahannya dengan Risa. Namun yang terjadi kini mereka malah bercerai.

Setelah berhasil menurunkan Risa, Cakra kembali masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi. Ia bimbang sesaat, melirik bayi tidak berdosa yang sejak tadi terdiam anteng di gendongan ibunya. Tidak menyangkal bila Cakra masih memiliki hati nurani, ia merasa khawatir dengan nasib Zara di tangan Risa. Biar bagaimana pun, bayi itu tidak salah apa-apa, yang salah adalah ibunya.

Berusaha menyingkirkan rasa khawatir itu, Cakra lekas menghidupkan mesin mobil, melaju pelan meninggalkan rumah Risa. Entah bagaimana nasib Risa selanjutnya, ia tidak akan peduli.

Risa sendiri kini sedang menangis, terduduk di teras rumahnya yang tebal oleh debu dan kotor. Keadaannya berubah seratus delapan puluh derajat dari pada yang kemarin. Ditambah lagi keberangkatan Andre ke luar negeri seolah menambah kepiluan di hidupnya.

Andre ....

Barangkali Risa masih bisa membatalkan keberangkatan Andre. Barangkali ia masih bisa menghubungi pria itu, ayah dari Zara. Risa tak punya pilihan lain selain menyerahkan hidupnya sekarang bersama ayahnya Zara. Hanya pria itu sebenarnya satu-satunya pria yang tulus dengan Risa.

Risa segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia mencari nomor Andre yang terakhir menghubunginya. Menelepon nomor itu berharap ia belum terlambat.

Maaf, nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan....

"Aarrghhh, tidak!"

Andre sudah berangkat, Risa terlambat menghubungi pria itu. Sepuluh tahun lamanya pula ....

Tidak ada lagi orang yang bisa dijadikan tumpuan hidup Risa. Ia kini sendirian dengan Zara yang masih bayi dan membutuhkan banyak biaya.

......................

Masih di dalam mobil, Cakra mengemudi dengan tatapan kosong. Memutar kembali berbagai kejadian-kejadian di hidupnya semenjak ia mengenal Risa. Awalnya ia mengenal Risa sebagai sahabat dari istrinya, Disa. Hingga setelah beberapa bulan mengenal Risa, wanita itu mulai menggodanya.

Betapa bodohnya Cakra yang sudah mengkhianati Disa. Hanya karena ia tak kunjung hamil, Cakra dengan mudah melepasnya. Sekarang, ia telah benar-benar kehilangan Disa. Tak henti-hentinya menyesali keputusannya saat menceraikan Disa. Talak tiga, pula.

Andai saja Cakra tidak gegabah, andai saja Cakra tidak pernah tergoda dengan Risa, andai saja ia tidak pernah mengkhianati Disa. Andai saja .... Mungkin sekarang ia masih bersama Disa, hidup bertambah bahagia dengan adanya si kembar sebagai pelengkap.

Zhafran dan Alyssa.... Kedua anaknya.

Cakra menambah kecepatan mobilnya. Rumah Disa, di mana ada wanita yang sudah ia sakiti namun yang hingga kini masih ia cintai dan kedua anaknya berada adalah tujuannya.

Rasanya ... Ingin sekali memeluk Disa, memeluk Zhafran dan Alyssa juga. Mendekap mereka bertiga erat-erat yang lama.

Sampai di rumah Disa, rumah itu nampak sepi dari depan. Warung ibunya tutup. Cakra tidak tahu apakah Disa ada di rumah atau tidak, yang ia lakukan kini adalah turun dari mobil, mengetuk pintu rumah Disa.

Tak berapa lama, pintu terbuka. Disa yang membukanya. Wanita itu terlihat terkejut melihat kedatangan Cakra dengan keadaan yang agak berantakan.

"Mas? Kenap—"

Disa tak jadi bertanya, sebab Cakra langsung memeluknya. Pelukan yang erat, sangat erat, bahkan lebih erat dari puluhan—tidak—ratusan pelukan yang pernah Disa dapatkan saat masih menjadi istrinya.

Disa melingkarkan tangannya ke belakang punggung Cakra, naik ke atas menyentuh bahunya, bukan untuk membalas pelukan Cakra tapi untuk ditarik, berusaha melepaskan pria yang mendekapnya ini.

"Mas, lepas."

Cakra menggeleng. Bukannya terlepas ia malah semakin mengeratkan dekapan.

"Mas, tolong deh jangan kayak gini. Lepasin."

Kenapa? Kenapa Cakra tiba-tiba datang ke sini tanpa berkata-kata apa pun, ia langsung memeluk Disa? Apa yang sudah terjadi dengan papanya si kembar ini?

Disa sangat tidak nyaman dipeluk oleh Cakra, dia sudah menjadi mantan suaminya, dan lagi posisi mereka masih di ambang pintu yang terbuka. Ibu juga sedang tidak ada di rumah. Disa takut ada orang yang melihat mereka berpelukan, lalu timbullah fitnah-fitnah.

"Mas, lepasin aku! Kamu kenapa sih?!"

"Sebentar aja, Dis, aku pengen peluk kamu."

"Aku nggak mau, gimana nanti kalau ada yang liat? Kita udah bukan suami istri lagi! Jangan sampai muncul fitnah-fitnah."

Cakra tetap mempertahankan pelukan, dan tenaga kecil Disa untuk melepaskan pria itu tidak berpengaruh apa-apa.

"Kenapa kita harus pisah, Dis? Kenapa kamu harus minta talak tiga?"

Huh? Masih tanya juga kenapa mereka berpisah? Disa tak habis pikir! Dia sendiri yang selingkuh dan memilih Risa!

"Mas, gak usah ngelantur ke mana-mana! Lepasin aku! Aku lagi nemenin Zhafran sama Alyssa tidur di dalam, kalau mereka bangun gimana?"

Cakra rasa sudah cukup ia memeluk Disa. Pelukan pun mulai melonggar, dan Disa langsung mendorong dada Cakra.

"Ray!" panik Disa. Di saat pelukan itu belum sepenuhnya terlepas, Rayyan justru datang. Hendak berpamitan karena ia akan berangkat ke bandara.

Cakra menoleh ke belakang. Si pilot ini ....

Rayyan tidak mungkin tidak melihat Disa, wanitanya, dipeluk oleh pria lain. Mantan suaminya lagi. Shit!

"Ray, aku bisa jelasin—"

"Ssttt," Rayyan menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri, menyuruh Disa untuk tidak memberi penjelasan apa pun.

Rayyan bicara dengan Cakra, "Mas, ngapain peluk peluk calon istri orang?" ia meraih tangan kanan Disa, di mana ada cincin pemberiannya yang tersemat di jari manis Disa. Rayyan tunjukkan cincin itu tepat di depan wajah Cakra. "She's mine. tolong jangan sembarangan peluk calon istri aku!"

Cakra melongo sejenak, Disa sudah punya calon suami? Lengkap sudah penderitaan Cakra hari ini.

"Sorry," kata Cakra, yang kemudian langsung pergi dari sana. Bahkan lupa jika ia belum sempat melihat Zhafran dan Alyssa.

Setelah mobil Cakra pergi, Disa langsung bicara, harus memberikan penjelasan supaya Rayyan tidak salah paham.

"Ray, jangan salah paham, aku juga nggak ngerti kenapa dia tiba-tiba datang terus meluk aku. Sebelumnya nggak pernah gini kok, beneran, bukan kita yang sengaja pelukan, tapi ..... "

Rayyan mendorong Disa masuk, kemudian menutup pintunya. Ia tarik pinggang Disa sehingga tubuh mereka menempel. Saling memeluk. Enak saja miliknya dipeluk-peluk oleh pria lain, huh! Rayyan tidak terima.

Bukan hanya memeluk Disa saja, Rayyan juga mengecup bibirnya.

"Aku jadi nggak yakin kalau harus nunggu setahun lagi. Kelamaan nggak sih? Gimana kalau kita nikah bulan depan aja?"

...****************...

1
dyah EkaPratiwi
semoga berubah lebih baik ya ris
Retno Harningsih
up
Vivi Zenidar
Bisa buat modal
Uthie
Pingin nangis dehhh 😭😭
Uthie
Kasian juga sihhh kalo udah gtu
Uthie
Oo . begitu tohhh
Uthie
cepetin atuhhh 😁
Uthie
Wadduuhhhh.... Bu Rahmi sampai sesetianya itu setelah ayahnya Disa wafat, ternyata pernah berkhianat juga tohh... sehingga adanya Risa?!?
Uthie
sukurin kauu nek lampir 😡
Uthie
rasain 😝
Uthie
Rasain.. sukurin 😝😝😝😝
Uthie
Duhhh..Mas captain dah seromantis itu lohhh Disa 😍😍
Uthie
gak sabar rahasia si Risa yg kenyamanan itu terbongkar 😏
Uthie
rasain kauu 😝
Uthie
Duhhh mas captain 😍
Uthie
pingin banget nunggu si Rissa di tendang tuhhh sama ibu mertua nya tersayang 😁😂
Uthie
Rasain kau Risa 😡
Uthie
Typo kata akhirnya Thor 🙏
mungkin itu maksudnya:
"Selamat menikmati PENYESALAN mu Mas"
bukan malah jadi PENJELASAN yaa Thor 😁🙏🙏
Sky: makasih udah bantu koreksi kak 😄 aku kadang kalo abis update yaudah, gak aku baca jadi gak ngeh kalo ada typo. kayaknya banyak deh typo typo lainnya wkwkwk
total 1 replies
Uthie
Harusnya selidiki sampai tuntas itu 😌
Uthie
Cieeee... mantan yg belum move On itu Dis 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!