Tin tiiin tiiiin
Suara klakson itu membuat Ara kaget dan tangan kanannya refleks menarik pedal cakram pada motor matic nya. Hal itu ia lakukan sebagai upaya untuk mengindari masalah, sebab motornya hampir saja berciuman dengan kap mobil milik seorang tentara yang jika di lihat dari seragamnya yang rapi.
Ara tidak tahu jika kejadian hari itu adalah bagian dari takdir.
Desclaimer:
Mohon maaf jika ada salah penyebutan kata maupun kalimat. Tulisan ini murni hasil imajinasi dari author dan tidak bermaksud menyinggung pihak siapapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firefly99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa
"Tadi kenapa?" tanya Altair.
"Kenapa apanya?"
"Kata anak-anak, bu Gemala terlihat menggandeng tangan bu Haryo ke KSA"
"Sepertinya tangan bu Haryo keseleo waktu mau nahan bola yang ku umpan ke lawan."
"Kamu umpan atau smash tuh bola?"
"Smash, gak keras" jujur Ara.
"Sengaja?"
"Tidak, mas. Serius. Kayak main seperti biasanya saja. Mungkin beliau yang memang sedikit sensitif, sejak aku datang, gak pernah ramah ke aku" Ara sekalian curhat. Mumpung timingnya pas.
"Tumben curhat?" heran Altair.
"Mumpung mas bertanya, makanya curhat colongan barusan" jawab Ara.
"Kamu sering-sering deh cerita kayak gini. Saya juga kadang mau bertanya, tapi gak tahu harus mulai dari mana. Kalau ada masalah , ngomong. Jangan semuanya dipendam sendiri." ujar Altair.
Mereka sedang naik motor matic milik Ara. Mumpung rumah putih tidak jauh dari kesatuan, jadi Altair memilih naik motor.
"Nggak deh. Urusan mas udah banyak, masa' iya aku nambah beban mas, janganlah" tolak Ara.
"Ra, kapan sih kamu berhenti nge-debat saya?"
"Aku gak debat mas ,lho"
"Tapi gak apa-apa deh. Saya suka kalau kamu banyak omong gini, saya jadi punya teman cerita." Tangan kiri Altair menggenggam tangan Ara yang ada di pinggangnya.
"Fokus deh bawa motor, gak usah modus pegang tanganku" Ara menarik tangannya, lalu mencubit pinggang Altair.
Altair terkekeh. Makhluk yang bernama wanita memang lebih sulit dipahami daripada isi kamus. Selalu ada hal baru, yang bisa membuat lelaki semakin merasa nyaman dan ingin selalu berada di sisi wanita, seperti yang Altair rasakan saat ini. Diantara banyak wanita yang ia kenal, hanya Ara yang berani mencubit pinggangnya, meskipun cubitannya tidak terlalu sakit sih.
"Kamu bawa kuncinya kan?" tanya Altair.
"Mas gak punya kuncinya emang?"
Altair menggelengkan kepalanya.
"Rumah ini kan milik kamu" jawabnya.
"dih, memang nya boleh seperti itu?" tanya Ara. Ia sambil memberikan sebuah kunci kepada Altair.
"Ya, boleh"
Di lantai satu ada dua kamar, Altair meminta Ara agar perempuan itu tidur di kamar utama. Sementara dirinya tidur di sebelah kamar utama.
Barang-barang yang ada di dalam rumah ini tentu berbanding terbalik dengan apa yang ada di asrama. Di asrama, mereka harus menggunakan barang elektronik yang sederhana.
Gea benar-benar memanjakannya menjadi seorang menantu. Mesin cuci satu tabung, kulkas besar 2 pintu , kitchen set terkini dan canggih yang tersambung dengan zink dan juga oven.
Setelah membaringkan Ale di sofa bed ruang keluarga, Ara segera ke dapur. Ia menggunakan jasa kurir untuk berbelanja bahan masakan.
Ini memang kali pertama Ara datang ke rumah ini setelah resmi menjadi istri dari seorang Altair.
"Gak mau pasang foto gitu di sini?" tanya Altair. Dinding rumah memang masih polos. Belum ada satupun hiasan yang menempel di sana. Bahkan belum ada jam dinding.
"Mau foto yang mana?" tanya Ara.
"Ya banyak. Foto waktu mappaccing, waktu akad, waktu pedang pora juga. Boleh lah"
"Yang waktu habis akad saja, mas." kata Ara.
"Okay. Mas hubungi tempat cuci fotonya, biar sekalian sama bingkainya " Altair sibuk dengan ponselnya, sementara Ara ribut dengan peralatan masaknya.
✨✨✨
Rumah putih ini jauh lebih luas, membuat si kecil Ale bisa mengeksplor ruang keluarga sambil merangkak.
"Pa pa" pandangan Altair tertuju pada Ale yang sedang duduk bersila sambil menatapnya.
"Tadi bilang apa sayang?" tanya Altair.
"Pa pa pa" ulang si kecil.
Altair tersenyum senang. Ia menggendong Ale lalu memutar-mutarnya di udara.
"Raa?!" panggil Altair.
"Kenapa,mas?" Ara baru keluar dari kamar utama.
"Baby Ale udah bisa panggi saya lho" pamer Altair.
"Emang iya?" sebelah alis Ara terangkat.
Altair mengangguk.
"Pa pa papa pa"
"Nah kan" bangga Altair.
"Memangnya mas papanya?"
"Ya iya dong. Ale nih anak pertama mas. Iya yah sayang yah"
Seolah mengerti, kepala Ale mengangguk. Hal itu lantas membuat si jutek Altair tertawa puas.
Rupanya panggilan Ale ke Altair dengan sebutan papa , membuat lelaki itu tidak mau jauh-jauh dari Ale. Bahkan saat tidur pun, ia meminta agar Ale tidur bersamanya.
"Ayolah, Ra. Boleh yah?" mohon Altair.
"Gak usah deh. Nanti mas keganggu tidurnya. Ale juga tidurnya gelisah" larang Ara.
"Ra, please! Masa' kamu tega biarin seorang anak terpisah dari papanya."
"Papa, papa, papa terus" omel Ara.
"Atau kalau nggak, mas tidur di kamar kamu deh " ucap Altair seenak jidatnya.
"Makin makin nih orang " Ara berusaha sabar.
"Kamu pilih mana? Ale tidur berdua sama aku atau kita tidurnya bertiga?" tanya Altair.
"Tapi kalau Ale bangun tengah malam, mas bikinin susu yah"
Altair hanya mengangguk, ia terlampau senang dipanggil papa.
Jam tidur Ale cukup teratur. Saat ia tidur dalam keadaan kenyang di jam 10 malam, bayi itu tidak bangun lagi sebelum pagi menyapa. Tentu hal itu sangat menguntungkan bagi Ara, ia jadi bisa ikut tidur dengan nyenyak tanpa repot bangun tengah malam untuk menyusui Ale.
From : Mas Naka
Send a picture
Ara terkekeh kecil melihat gambar yang Altair kirim. Gambar dimana Altair tersenyum sedangkan Ale sudah terlelap.
To : Mas Naka
senang banget kayaknya. B aja lah.
From: Mas Naka
Iri? Bilang, nyonya.
From: Mas Naka
Atau sini deh, tidur bertiga. Lumayan lah untuk menghangatkan tubuh, mumpung di luar lagi hujan.
Ara lalu berjalan menuju jendela kamarnya, di luar memang sedang hujan. Suara jatuhnya tetesan air itu membuat Ara lebih tenang, bahkan bau tanah yang baru tersentuh air juga sangat menenangkan. Ara berdiri cukup lama di depan jendela, ia lalu menutup jendelanya dan kembali ke tempat tidur.
Keesokan harinya, Ara dibuat pusing saat melihat lantai rumah basah. Ia mengikuti jejak air yang ternyata berasal dari teras samping rumah. Susunya Ale tertumpah, sementara Altair hanya menonton saja, membiarkan Ale basah-basahan.
"Gini nih kalau terlalu ngebet di panggil papa. Mana ada papa yang mau lihat anaknya main susu sampai basah-basahan?"
"Biarkan dia bereksplorasi, Ra. Kamu sensi banget perasaan. Kurang belaian kamu?"
Ara mendelik tajam ke Altair, membuat Altair susah menahan tawanya.
"Lemes sekali sih mulut mas. Jangan-jangan dulu suka belai- belai"
"Nah kan , ujung-ujungnya bahas yang dulu. Kamu kenapa sih, Ra?"
"Udah ah" Ara berlalu masuk ke rumah sambil mengendong Ale.
"Papa pa papa pa" Ale menolak untuk diangkat oleh Ara.
"Anaknya gak mau tuh" ucap Altair.
"Mandi dulu yah sayang. Habis itu main lagi sama papa jadi-jadian nya" tekan Ara pada akhir kalimatnya.
"Iri banget kamu, Ra" ejek Altair.
AQ sukarasa
tp asli ini kereeeen❤️❤️❤️❤️