NovelToon NovelToon
Warwick

Warwick

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Dunia Lain / Perperangan / Fantasi Wanita / Barat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lowdod

Di dunia bernama Proelium ini tidak ada yang namanya uang, kedamaian, ataupun cinta. Yang terdapat disini hanyalah pertarungan, kematian, dan juga kesengsaraan. Orang orang di dunia ini hidup dengan cara membunuh orang yang lemah kemudian mencuri apa saja yang mereka punya. Tidak ada yang namanya penjara atau penjaga keamanan di dunia ini.

Di dunia ini, yang haus akan darah menjadi semakin kuat layaknya seorang dewa, sementara yang lemah hanya akan menjadi batu pijakan bagi mereka yang haus akan pertarungan.

Keres Sanguis adalah seorang petarung wanita yang telah mencapai puncak tertinggi dengan cara membunuh semua orang yang dia temui. Namun pada akhirnya, dia tidak memiliki tujuan apapun selain terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Apa yang diinginkannya sekarang adalah berubah menjadi orang yang lebih baik dengan cara meninggalkan dosa masa lalunya, sekaligus menjatuhkan kekuasaan yang telah menciptakan sistem keji di dunia ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Valiant Knight, and The Shining Armour

Sang ksatria berdiri kokoh di tengah-tengah kegilaan medan pertempuran. Suara tubrukan pedang dan senjata lainnya, teriakan kesakitan, tangisan, dan kehilangan, dan ledakan besar yang terjadi dimana-mana. Ksatria itu masih teguh pada pegangan hidupnya. Ia menghela nafasnya di antara hiruk-pikuk peperangan yang dahsyat, yang memekakkan telinga siapa saja dengan kengeriannya. Ia melangkah maju, di saat yang lainnya melarikan diri dari ancaman maut yang meneror tanah suci tersebut, tempat dirinya dan keluarganya lahir serta tumbuh menjadi dewasa. Baju tempurnya memancarkan sinar terang dari sang mentari, membuat dirinya terlihat seperti seorang malaikat dengan segala kemuliaannya. Ia menuruni hingga ke bawah medan perang layaknya seorang malaikat suci menyelamatkan seorang jiwa yang tersiksa oleh kegelapan dunia ini. Ia jatuh ke tanah berkali-kali, mengirup bau tanah dan darah lebih dari ribuan hitungan, namun tetap saja ia masih berdiri di tengah-tengah keputusasaan yang melanda orang-orang di sekitarnya itu.

Di saat orang lain telah kehilangan harapan, maka di sanalah sang ksatria. Mengorbankan dirinya, sebagai sebuah harapan yang baru.

...****************...

Gemuruh petir terdengar kembali di lapisan langit ketujuh. Keempat orang itu seketika menoleh ke arah barat secara bersamaan, mulai mengira-ngira apa itu sebenarnya. sebuah keanehan terlihat, layaknya diungkapkan oleh alam kepada mereka. Gemuruh petir tersebut bukan meledak dari atas awan, melainkan seperti disemburkan oleh sesuatu ataupun seseorang dari bawah tanah. Beberapa gemuruh petir terjadi kembali secara beruntun, sebelum akhirnya sebuah suara seperti deruan ombak terdengar dengan sangat ganas menuju ke arah mereka dari belakang. Virginis dan Constantes pun menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan lihatlah, hamparan pasir di bawah mereka hingga ke belakang sudah berubah warna menjadi merah hitam kegelapan.

“Apa-apaan itu ?” gumam Virginis.

“Jangan-jangan.....” gumam Constantes.

Suara deruan ombak itu terdengar semakin keras dan lebih jelas lagi di telinga mereka. Constantes pun mulai mengambil langkah mundur untuk berjaga-jaga. Dan benar saja, yang ditakutinya memang terjadi di saat itu juga. Sebuah ombak besar berwarna merah mulai bergulung dari arah timur dan barat daya. Tiap cipratan airnya menghancurkan segala bebatuan yang dihantamnya, membuat ombak itu jauh lebih mengerikan lagi selain karena kecepatannya yang juga luar biasa. Constantes pun langsung berlari sambil menarik Hemera dan kakaknya ke arah barat, dimana pegunungan tinggi dapat terlihat dimana-mana.

“Kita lari sekarang !!”

“Eh !? Tapi kenapa, anjink !!?”

Helios pun juga memiliki reaksi yang sama dengan Constantes. Tidak butuh waktu lama bagi dirinya untuk mengetahui sisi paling mengerikan dari ombak besar berwarna merah tersebut.

“Tidak usah bertanya, selamatkan diri saja dulu !!” serunya.

Ombak besar dari kedua arah tersebut dengan cepat mulai memenuhi keseluruhan area gurun pasir itu. Keempatnya berlari secepat mungkin yang mereka bisa supaya tidak ditelan oleh ombak merah tersebut. Mereka bagaikan dikejar oleh waktu dan takdir yang sedang mengamuk kepada mereka. Tiap bagian dari otot kaki mereka digunakan untuk berlari kencang menjauhi ombak dari dua arah tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka berempat berhasil mencapai pegunungan tinggi tersebut. Namun itu bukan berarti bahwa mereka sudah aman hanya dengan sampai di pegunungan itu saja. Keempatnya masih memanjat ke atas, sementara Helios, hanya memiliki satu tangan saja. Di saat Virginis dan Hemera masih memanjat naik, Constantes memutar otaknya dan langsung membopong Helios di belakang punggungnya. Ombak merah tersebut telah menyentuh bagian bawah dari pegunungan berbatu itu, dan ketinggiannya pun masih naik secara perlahan. Padang pasir yang awalnya hanya berisi hamparan pasir saja, kini telah berubah menjadi lautan merah darah dalam sekejap mata.

“Constantes, pegang tangan gw !!”

“Aku membantumu juga, Constantes ! Bertahanlah !!” seru Hemera yang juga mengulurkan tangannya untuk membantu Constantes.

Constantes memegang tangan Virginis erat-erat, dan bersama-sama, Virginis dan Hemera mengeluarkan seluruh tenaga mereka untuk mengangkat Constantes juga Helios yang ada di punggungnya.

“Sialan..... Pake kaki lu, bodoh !!”

“Tapi itu nggak mungkin !!” jawab Constantes dan Helios secara bersamaan.

“Apanya yang gak mungkin, bangsat !!?”

Begitu Virginis menanyakannya, kaki Constantes yang memijak pada sebuah bebatuan kecil terpeleset ke bawah, membuat batu-batuan kecil itu terjun bebas seketika ke kedalaman laut merah itu. Di saat itu juga, Constantes menyadari bahwa bahaya semakin mendekati dirinya.

“Oh, sialan.....” gumam Constantes.

Lautan merah tersebut mulai mengeluarkan letupan-letupan keras yang terlihat sangat mengerikan. Spontan, Virginis langsung mengerahkan seluruh kekuatannya untuk segera menyelamatkan Constantes dan Helios dari situasi yang mengerikan itu. Virginis menoleh ke arah Hemera, dan ia menatapnya dengan serius.

“Oi, kamu !! Gw bisa ngelakuin ini sendiri, jadi lepasin aja pegangan mu !!”

“Tapi.....”

“Ga ada tapi-tapian, bodoh !! Lu cuma ngehalangin gw aja kalo begini caranya !!”

Hemera menoleh ke arah kakaknya, Helios, seperti sedang menanyakan sesuatu dalam diam. Dan seperti biasanya, Helios pertama-tama menjawab pertanyaan adik perempuannya itu dengan sebuah senyuman ramah.

“Tidak apa-apa, Hemera.....” jawab Helios dengan lembut.

Mendengar kakaknya menjawab seperti itu, Hemera pun segera melepaskan pegangannya. Seketika itu juga, bayang-bayang berwarna hitam gelap menyelimuti keseluruhan tubuh Virginis, memberinya sebuah ledakan kekuatan yang begitu dahsyat. Dalam sekejap mata, Virginis langsung berhasil mengangkat Constantes, bahkan hampir melemparkannya ke belakang. Namun itu semua terasa sangat mudah baginya. Benar juga, ada satu orang yang tidak terangkat bersama dengan adiknya saat itu.

“Helios !!!!!”

Virginis dan Hemera berteriak dengan panik, namun semuanya itu sudah terlambat. Begitu Virginis terjatuh ke atas tanah berbatu di pegunungan tersebut bersama dengan adiknya, ia sudah tidak dapat lagi melihat apa yang dialami oleh Helios. Hanya adik perempuannya saja yang tahu, apa yang dilakukan oleh Helios saat dirinya itu terjun bebas ke dalam lautan merah darah yang sama seperti mulut seekor buaya menganga menunggu mangsanya jatuh tepat ke dalam mulutnya itu. Helios...... Hanya tersenyum saja.

“Sialan..... Sialan !!” seru Virginis dengan panik.

Ia melihat ke bawah pegunungan itu lagi bersama-sama dengan Hemera. Sudah tidak ada apa-apa lagi, kecuali tangan kiri Helios yang masih terangkat keluar dari permukaan laut merah itu. Dari pergerakan tangannya, Virginis dan Hemera dapat mengetahui bahwa di dalam sana, Helios..... Masih hidup. Satu hal terakhir yang dilihat oleh Virginis dari Helios, yaitu sebuah jempol yang seolah mengatakan bahwa dirinya sedang baik-baik saja.

“H...... Helios......”

Virginis menunduk karena rasa menyesal yang berat menyesakkan dadanya saat ini. Dari sebelah kanan, ia dapat mendengar Hemera yang terisak-isak, menangisi tubuh kakaknya yang sudah menghilang bagaikan ditelan bumi seutuhnya.

Lagi-lagi, aku tidak bisa nyelametin orang lain.......

“Oi...... Helios itu....... Kakakmu, bukan ?” tanya Virginis dengan suara lirih.

Setelah beberapa saat, Hemera masih tidak menjawab. Virginis menoleh ke arahnya, dibarengi oleh Constantes yang berusaha untuk menenangkan Hemera, namun itu saja masih belum cukup.

“Maafin aku...... Hemera.....”

Virginis berdiri dan menatap ke arah barat. Amukan dari gemuruh petir itu masih menggema di atas ketinggian langit. Apakah benar gemuruh petir itu memanggil sesuatu ? Kalau begitu, apa yang dipanggil olehnya ?

“Hemera, tenanglah...... Kita masih harus lari dari sesuatu.” ucap Constantes.

Virginis seketika menoleh ke arah Constantes di saat itu juga, kaget dan kebingungan.

“Oi, lari dari apa memangnya?”

Constantes membalas tatapan Virginis, sambil menunjuk ke arah lautan merah tersebut. Virginis pun mengikuti petunjuk dari adiknya, dan di sanalah, ia menyadari bahwa teror sesungguhnya baru saja dimulai. Makhluk-makhluk aneh seperti ikan melompat-lompat dari dalam lautan merah itu menuju ke arah mereka, dan suara kepakan sayap pun juga dapat terdengar dimana-mana. Ribuan monster bersayap seperti kunang-kunang muncul secara perlahan dari dalam lautan merah itu, terbang mendekati mereka. Sudah jelas dan tidak perlu dipikirkan lagi kalau semuanya itu sedang menargetkan mereka bertiga sebagai mangsa. Virginis pun mengeluarkan kedua katarnya, siap untuk menghajar gerombolan monster aneh tersebut.

“Sialan. Constantes, bawa cewek itu ke tempat aman, sekarang !!”

“Tapi, gimana denganmu !?”

“Gw ini kakak lu, tahu !! Jadi gak usah mikirin gw, oke !?”

Di saat itu, Constantes dibuat untuk teringat kembali dengan sosok Virginis yang dulu. Senyuman lebar di wajahnya, dan sebuah jempol yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dengan semua yang sedang terjadi di sekitarnya saat ini. Sungguh, kakak perempuannya itu, terlihat seperti seorang ksatria dengan baju tempurnya yang mengkilat dan memancarkan cahaya terang.

“Aku mendoakan mu, kakak.”

Setelah membujuk Hemera beberapa kali, akhirnya Constantes pun berlari bersama dengan Hemera untuk pergi ke tempat yang lebih aman, meninggalkan Virginis berhadapan dengan gerombolan makhluk lautan merah itu sendirian. Lagipula, Virginis telah memutuskan bahwa ia akan melindungi adiknya itu dengan segenap kekuatannya, dan juga segenap kemampuannya. Ia tidak apa-apa melindungi Constantes seperti ini, bahkan jika ia harus kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan lagi seperti dulu. Ia, akan melakukan segala yang terbaik...... Hanya untuk adiknya.

Karena dialah, seorang ksatria dalam baju tempur yang bercahaya terang itu.

...****************...

“Sialan !!”

Constantes dan Hemera menghentikan langkah mereka seketika, saat sebuah ekor panjang yang tajam menembus keluar dari tanah. Dalam sekejap mata, mereka berdua sudah dikelilingi oleh para ikan terbang dan kunang-kunang merah gelap berukuran raksasa itu. Constantes mengubah tangan mekanisnya menjadi sebuah senapan, dan ia mengarahkan laras senapan itu ke segala arah, berusaha untuk mengancam mereka semua tanpa gertakan apapun.

Hemera ketakutan, dan Constantes menyadari bahwa dirinya sedang terpojok saat ini. Di belakang sana, kakak perempuannya sedang bertarung habis-habisan melawan gerombolan makhluk laut merah itu yang sepertinya akan terus bermunculan tanpa henti. Sang kalajengking pun keluar dari dalam tanah menampakkan dirinya, langsung menyerang Constantes tanpa basa-basi. Di saat itu juga, sebuah peluru peledak mendarat di cangkang luarnya, menghancurkan seluruh tubuh kalajengking itu seketika.

“Sialan. Lima peluru lagi, dan habislah riwayat kita.” gumam Constantes.

“Apa ??”

Constantes menoleh ke Hemera yang kelihatannya menjadi semakin takut setelah mendengar gumaman nya itu. Ia menghela nafasnya, dan berusaha mencari celah dari kerumunan makhluk laut merah itu.

“Tenang saja, bukan berarti kita harus menghabiskan semua peluru itu saat ini juga.”

Satu peluru peledak lagi mendarat di tanah, menghancurkan beberapa makhluk laut merah itu seketika.

“Sekarang !!” seru Constantes kepada Hemera sambil menoleh ke belakang, mengamati gerak-gerik dari sisa kerumunan makhluk laut merah itu yang lainnya.

Hemera pun berlari keluar dari kerumunan makhluk itu lewat celah yang dibuat oleh Constantes secepat mungkin, disusul oleh Constantes itu sendiri. Para kunang-kunang dan ikan terbang itu mulai mengamuk, dan tanpa menunggu waktu lama, mereka semua langsung mengejar Constantes dan Hemera habis-habisan. Beberapa ikan terbang itu mulai menghilang dari pandangan, dan para kunang-kunang raksasa menembaki keduanya dengan semburan air berwarna merah darah. Atau mungkin saja, itu adalah darah yang sesungguhnya.

Keduanya masih terus berlari menyelamatkan diri mereka, tanpa sadar bahwa beberapa ikan terbang yang tidak kelihatan itu sudah siap untuk menyerang mereka berdua dari berbagai arah. Di saat itulah, katar dari Virginis menyelamatkan nyawanya dari ancaman maut.

“Aarggh !!”

Constantes menoleh ke belakang, dimana kedua matanya mendapati Virginis yang baru saja diserang dengan telak oleh ikan merah terbang tersebut. Walaupun begitu, ia tidak dapat melakukan apa-apa selain terus berlari saat ini. Dari kejauhan, Constantes terus mengamati Virginis yang mencoba untuk menyerang balik para makhluk laut merah tersebut. Ia menusukkan katar nya ke kepala bawah ikan merah itu, mengayunkan katar cambuknya hingga menyapu beberapa dari mereka sekaligus, dan menghujam seekor kunang-kunang raksasa berkali-kali di atas tanah berbatu di pegunungan ini. Virginis berdarah, ia membutuhkan pertolongan saat ini. Namun tatapannya yang ia layangkan untuk Constantes itu seperti menyuruh adiknya untuk tetap menyelamatkan diri bersama dengan Hemera, adik Helios.

Meminta pertolongan pada yang 'tidak diketahui' ? Apakah itu...... Benar-benar berguna ?

Apa yang sempat diragukan oleh Virginis tiba-tiba sungguh terjadi di saat itu juga kepada adiknya dan juga Hemera. Layaknya sebuah pertolongan dari surga, beberapa sambaran petir dari atas langit menghancurkan seluruh makhluk laut merah yang mengerumuni mereka berdua. Berbeda dengan Constantes dan Hemera yang saat itu sedang sangat terkejut dan kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi, Virginis justru menghela nafasnya karena lega. Setidaknya, ia melihat adiknya itu selamat dan masih hidup. Setidaknya, sang ksatria itu melihat rekan-rekannya meneruskan sejarah dari kota tempat kelahiran mereka itu.

Constantes, tetaplah hidup...... Oke ?

Virginis mengerahkan seluruh kekuatannya, menghajar seluruh makhluk laut merah yang mengelilingi dirinya itu dengan beringas. Semua serangan mematikannya itu, berhasil untuk menarik perhatian makhluk laut merah yang lainnya juga, di saat yang sama menjauhkan Constantes dan Hemera dari ancaman bahaya.

“Kakak.......”

Constantes dapat melihat jiwa seorang ksatria di dalam Virginis saat ini. Virginis di matanya, terlihat seperti seorang ksatria yang mengenakan baju tempur bercahaya yang melindungi semua orang yang membutuhkannya. Seorang pahlawan, yang akan selalu dikenang oleh sejarah saat sosoknya sudah tidak ada lagi di bumi. Seorang pahlawan, yang meneriakkan 'Selamatkan hidupmu !!' di saat dirinya sendiri tidak dapat menyelamatkan nyawanya.

Pengorbanannya tidak akan sia-sia. Hanya itu saja yang aku tahu......

“Hemera, kita pergi dari sini.”

“Tapi..... Bagaimana dengan kakakmu !? Kamu akan meninggalkannya begitu saja !?”

Constantes kemudian mengambil pedang iblis keroposnya dari punggung, bersiap dengan ancang-ancangnya seperti akan segera menghadapi sesuatu.

“Atau mungkin tidak untuk selamanya.....”

“Huh ?”

Sang 'ksatria', datang untuk menanyakan rekannya yang selamat. Apakah mereka melakukan hal-hal yang baik, atau tidak. Sang 'ksatria' itu terjun dari atas langit, dan kemudian mendarat di tanah di depan Constantes dan Hemera sambil menancapkan pedangnya yang menghancurkan tanah di sekitarnya saat itu juga. Constantes maju beberapa langkah ke depan Hemera, melindunginya dari sang 'ksatria'.

Aku tidak menaruh banyak harapan padamu. Tapi setidaknya, bertahan lebih lama lagi, pedang iblis sialan !!

“Hemera, sembunyikan dirimu dari mereka !!”

“Tapi...... Kamu tidak terlihat seperti mampu mengalahkannya, bodoh !!”

Constantes menatap Hemera dengan penuh percaya diri. Senyumannya, seakan mengatakan bahwa ia sedang tidak apa-apa saat ini.

“Aku akan melindungi mu, seperti kakak kita yang juga selalu melindungi adiknya !”

Hemera mematung di saat itu juga. Sebuah perasaan haru, dan juga kekesalan saat menyadari bahwa dirinya tidak dapat melakukan apa-apa selain bersembunyi di balik tubuh seorang ksatria perkasa di tengah medan pertempuran. Pada akhirnya, Hemera hanya bisa melakukan seperti apa yang Constantes suruh kepadanya. Ia menyembunyikan dirinya menggunakan sihirnya itu, seraya mengamati pertarungan Constantes melawan sang 'ksatria'.

Di balik selubung tidak terlihat miliknya yang menyembunyikan dirinya dari ancaman bahaya itu, Hemera berdoa, kepada sebuah entitas yang tak diketahui supaya Constantes dan kakak perempuannya bisa selamat dari situasi yang mengerikan seperti saat ini. Constantes maju sambil mengangkat pedang iblisnya di atas bahu, mendekati sang 'ksatria' itu seperti seseorang yang sudah menerima nasibnya sendiri untuk ditelan oleh gerbang neraka kematian. Constantes mengayunkan pedang iblisnya yang membara berkali-kali, namun semuanya itu mampu ditangkis dengan mudah oleh sang 'ksatria'. Pedang keduanya saling bertemu dan bertubrukan tidak lama kemudian, membuktikan siapa yang lebih unggul saat ini. Tentu saja si 'ksatria' lah yang merupakan pemenangnya. Dengan pedangnya yang tajam nan kokoh, ia dapat dengan mudah menghancurkan pedang iblis Constantes hanya dengan sekali dorongan, yang membuat Constantes akhirnya jatuh ke tanah dan membuat dirinya tak berdaya. Sang 'ksatria' itu kemudian mengangkat pedangnya, bersiap untuk menusuk dada Constantes dan mengakhiri hidupnya, namun ia justru disambut dengan tangan mekanis Constantes yang sudah berubah menjadi selongsong senapan peledak.

“Ini masih belum selesai, bodoh !!”

Sebuah tembakan peluru bom mendarat tepat di kepala bagian depan sang 'ksatria' tersebut, meledakkan pelindung kepalanya seketika. Namun, sang 'ksatria' nampaknya masih baik-baik saja, seperti tidak terkena satu serangan sekalipun.

Tinggal tiga peluru lagi, harapan terakhir ku sekarang ini.....

Dengan putus asa, Constantes mencoba untuk melakukan serangan mematikan miliknya dengan melompat ke atas setinggi mungkin, kemudian menembakkan semua sisa peluru peledak miliknya itu ke arah sang 'ksatria'. Sang 'ksatria' dibuat tertutupi oleh tiga ledakan beruntun seketika, dan saat Constantes akhirnya mendarat kembali di atas tanah, ia melakukan serangan desperado miliknya dengan sebuah tendangan berputar menggunakan kaki kanannya, yang sudah berapi tentunya. Seperti baru saja menendang sebuah benteng besar, tendangannya berhenti seketika saat berhasil menyentuh pelindung kepala sang 'ksatria', tidak menimbulkan efek sama sekali. Serangan balik dilancarkan oleh sang 'ksatria' itu dengan melakukan sebuah tebasan rendah, memaksa Constantes untuk melompat ke belakang untuk menghindarinya. Namun begitu Constantes mendarat di tanah kembali, dirinya sudah disambut dengan serangan lanjutan dari sang 'ksatria' yang berlari ke arahnya sambil mengangkat pedang lurusnya tinggi-tinggi. Begitu pedang tersebut diayunkan, bukan nyawanya yang melayang, tapi justru tangan kanan Virginis yang melayang ke atas udara.

“A-apa ??”

“H..... Hati-hati, bodoh !!” seru Virginis, sambil menahan rasa sakitnya yang terasa sangat menyiksa.

Begitulah. Virginis lagi-lagi harus kehilangan sesuatu yang tidak akan dapat kembali lagi hanya untuk melindungi adiknya. Ia kehilangan setengah dari tangan kanannya, saat ia sedang berusaha untuk memblokir tebasan atas milik sang 'ksatria' itu. Darah mengucur dengan deras, dan rasa sakit itu, semakin lama mulai terasa semakin menyakitkan daripada sebelumnya.

“Urkh...... Urrrkkkh !!”

Melihat bahwa sang 'ksatria' mengangkat pedangnya kembali, Virginis pun memaksa dirinya untuk bergerak, mendorong Constantes ke belakang dengan menjatuhkan dirinya sendiri ke atas tanah. Setidaknya keduanya selamat dari tebasan yang mengerikan itu, namun sebagai bayarannya, Virginis harus semakin tersiksa karena rasa sakit di tangannya yang baru saja terpotong itu menjadi semakin lebih hebat. Baru saja jatuh menimpa tanah, dan Constantes bangkit kembali membelakangi kakaknya yang sedang terbaring lemah sambil memegangi luka di tangan kanannya itu. Constantes melayangkan tinju berapi nya, sambil dipenuhi dengan amarah dan perasaan ingin balas dendam kepada sang 'ksatria' di depannya tersebut.

“Beraninya kau !!!”

Namun hanya dengan sekali pukulan saja, sang 'ksatria' itu sudah berhasil untuk menghempaskan Constantes ke samping kiri, sangat jauh dari posisi awalnya. Di saat itu, Virginis sudah tidak dapat melihat satupun harapan lagi, kecuali ketika Hemera menghampirinya dan menyeret tubuhnya menjauh dari sang 'ksatria' tersebut.

“Bertahanlah sebentar, aku akan menyembuhkan lukamu !!”

“Cih, percuma aja, bodoh.”

Bayang-bayang sang 'ksatria' menyelimuti mereka berdua, membuat Hemera akhirnya mendongak ke atas, dan mendapati bahwa sang 'ksatria' itu sudah berada di depan mereka lagi, sedang mengangkat pedangnya untuk mendaratkan serangan terakhir miliknya. Ketika pedang itu mulai jatuh ke bawah mendekati lehernya, yang Hemera hanya lakukan hanyalah menutup matanya, berdoa sambil memohon bahwa sesuatu yang tidak mungkin terjadi akan terjadi di saat itu juga, menyelamatkan dirinya beserta dengan Virginis.

“Tolong aku....... Kakak !!”

Aku akan selalu ada di sisimu, Hemera. Aku..... Akan selalu melindungi mu.

Itulah perkataan yang selalu diucapkan oleh Helios saat dirinya sedang ketakutan akan sesuatu yang tidak diketahui. Kalimat itu tiba-tiba terngiang kembali di dalam pikirannya. Ia sadar bahwa beberapa saat telah berlalu, namun kepalanya masih saja belum terpenggal. Hemera pun membuka matanya, melihat sebuah keajaiban yang tidak mungkin terjadi itu, terjadi di depan matanya, dan juga di depan mata Virginis. Helios, yang tadinya jelas-jelas sudah tenggelam di dalam lautan merah itu, sedang berada di hadapan mereka, memukul pelindung kepala sang 'ksatria' dengan tangan kanannya yang baru dari samping. Seluruh tubuhnya telah berubah, dipenuhi dengan bebatuan yang menyala merah terang dan gelap di bagian-bagian celah bebatuannya. Walaupun wajahnya telah terdistorsi, mereka berdua sangatlah yakin kalau sosok yang dilihat mereka saat ini adalah Helios itu sendiri.

“Helios !!” “Kakak !!” seru mereka berdua secara bersamaan.

Pukulan Helios begitu keras, sampai-sampai membuat sang 'ksatria' harus mundur beberapa langkah ke kiri karenanya. Setelah hampir terjatuh, sang 'ksatria' mengambil nafas sebentar, membiarkan Helios melihat wajah Virginis dan Hemera sekali lagi dengan matanya sendiri.

“Helios...... Lu, masih hidup, huh ?”

Helios menoleh kembali ke arah sang 'ksatria', menatapnya dengan tajam sambil mengabaikan pertanyaan Virginis sebentar saja. Ia kemudian menjawab pertanyaannya dengan nada yang dingin.

“Jangan berharap terlalu banyak, Virginis, Hemera. Aku juga tidak akan bertahan lama dengan tubuh yang baru ini.”

Seakan mengatakan bahwa waktu berbincang mereka sudah cukup, sang 'ksatria' akhirnya berdiri kembali, kemudian mengangkat pedangnya di atas bahu.

“Sampai di sini dulu, masih ada hal yang harus aku urus saat ini.”

Helios kemudian menoleh ke arah Hemera, memberinya satu senyuman kecil untuk yang terakhir kali dan selamanya.

“Hemera, kamu rawat luka Virginis dulu di sini, oke ? Aku akan melindungi kalian berdua....... Bukan, maksudku kalian bertiga.”

“Baiklah. Aku paham, kak.”

Mata Helios bertemu kembali dengan tatapan sang 'ksatria'. Jauh di belakang sang 'ksatria', adalah Constantes yang masih kesulitan untuk bangkit berdiri kembali akibat pukulan terakhir 'ksatria' tersebut. Setelah saling menatap satu sama lain sejenak, Helios mengepalkan kedua tangan berbatu miliknya, sementara sang 'ksatria' memegangi pedangnya dengan dua tangan dan mengangkatnya tidak terlalu tinggi dari permukaan tanah. Tidak butuh waktu lama, untuk keduanya saling menerjang satu sama lain dengan segenap kekuatan yang mereka miliki. Helios memukul pelindung kepala sang 'ksatria' dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya, ia gunakan untuk menghentikan tebasan dari pedang sang 'ksatria' tersebut. Keduanya menarik serangan mereka secara bersamaan, dan tak lama kemudian, mereka mulai baku hantam kembali. Tiap serangan diterima oleh keduanya bagaikan bukanlah sesuatu yang mematikan ataupun membahayakan hidup mereka. Hingga tibalah saatnya, ketika Constantes melompat ke udara sambil mengangkat tinju berapi miliknya tinggi-tinggi.

“Matilah, ksatria brengsek !!!”

Sang 'ksatria' menoleh ke arah Constantes, namun ia tidak sempat untuk menghindari pukulannya itu. Sebuah ledakan besar tercipta, ketika kepalan tangan Constantes menghantam tengkuk lehernya sang 'ksatria' itu.

“Barusan adalah serangan yang bagus, Constantes !!”

“Heh, Helios, kan !? Kita hajar sialan ini bareng-bareng !!”

“Aku sudah tahu itu, Constantes !!”

Constantes berputar ke samping kanan Helios, dan bersama-sama, sebuah pukulan paling keras mereka lancarkan sekuat tenaga, bahkan jika itu akan menghancurkan tangan kanan mereka sekalipun.

“RASAKAN INI, BANGSAT !!”

Pukulan mereka berdua mengenai bagian bawah dari pelindung kepala sang 'ksatria' tersebut. Walaupun tidak hancur seketika, keduanya masih mempertahankan pukulan itu. Kekuatan yang lebih besar mereka keluarkan, yang berujung pada kehancuran pelindung kepala sang 'ksatria', dan kedua tangan kanan Helios dan Constantes di saat yang bersamaan. Helios kehilangan tangan kanan berbatunya, dan Constantes kehilangan tangan kirinya, yang merupakan tangan mekanis buatan Keres itu. Tubuh sang 'ksatria' mulai memunculkan retakan dari atas hingga ke bagian paling bawah, mengeluarkan sesuatu seperti asap hitam dari dalamnya. Pada akhirnya, setelah jatuh ke atas tanah dan menghantam sebuah batu tajam, tubuh sang 'ksatria' itu hancur sepenuhnya, menghilang dan membuat para makhluk laut merah meninggalkan pegunungan berbatu tersebut.

“Kak Helios !!”

Helios dikejutkan oleh Hemera yang memeluk dirinya secara tiba-tiba dari belakang. Hemera sedang menangis keras, begitulah yang ia ketahui saat ini hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Helios dapat merasakan, bahwa tubuhnya akan hancur tidak lama lagi, jadi ia dengan sangat terpaksa melepaskan kedua tangan Hemera yang terus memeluk dirinya dengan erat dari belakang itu.

“Hemera, sudah ku bilang kalau aku tidak akan bertahan lebih lama lagi. Selamat tinggal, Hemera.”

“Jangan.... Jangan tinggalkan aku, kak Helios !!”

Helios menoleh ke arah Constantes, yang saat ini sedang berdiri di samping Hemera. Matanya, seperti mengharapkan sesuatu dari Constantes untuk adik perempuannya.

“Aku tahu itu. Aku akan selalu menjaganya, Helios.”

“Bagus lah kalau begitu. Aku bisa...... Meninggalkannya dengan nafas lega.”

Tubuh Helios rubuh seketika di saat itu juga, berubah menjadi sama seperti batu-batuan yang tidak dapat dibedakan dengan batu asli yang lainnya. Constantes pun memeluk Hemera, berusaha untuk menenangkannya dari rasa kehilangan itu. Sesuatu, yang tidak akan pernah kembali.

“Hemera, dia sudah tenang di sana.”

“Kakak......”

Masih dengan memeluk Hemera, Constantes menoleh ke arah kakak perempuannya, Virginis, yang saat ini sedang duduk lesu sambil memegangi tangan kanannya yang hilang setengah. Lukanya memang sudah mengering, namun tetap saja, itu pasti masih terasa menyakitkan.

“Constantes, lepaskan aku. Biarkan aku menangisinya beberapa saat saja.” ucap Hemera dengan lirih.

“(Sigh) Baiklah.”

Constantes pun meninggalkan Hemera menangisi Helios yang sudah berubah menjadi serpihan-serpihan batu sendirian, sementara dirinya berjalan menghampiri Virginis yang masih duduk lesu sejak tadi. Kakaknya itu, terlihat sedang sangat kelelahan. Virginis kemudian mendongak ke atas, menatap mata adik satu-satunya itu.

“Kamu tidak apa-apa, kak ?”

“Masih lebih mending daripada ngeliat lu mati, Constantes.”

“(Sigh) Dasar keras kepala.”

“Yeah..... Panggil gw apa aja yang lu mau, bajingan.”

Kata bajingan, itu sudah tidak terdengar seperti sebuah hinaan lagi di telinga Constantes. Mereka berdua tertawa bersama-sama, kembali seperti saat mereka berdua masih seorang Daemones kecil yang tidak mampu.

Sesungguhnya, Constantes telah menyadari sesuatu. Bahwa kakak perempuannya itu, benar-benar seorang ksatria baik dalam baju tempurnya yang bercahaya terang.

Seorang ksatria, yang rela mengorbankan dirinya....... Demi orang lain yang dicintainya.

1
Amelia
salam kenal ❤️🙏
calliga
Ku kasih 5 Stars, Terus berkarya ya
calliga
Semangat!
Yu
aku kasih bintang 5. Semangat nulisnya
SweetWhimsy
masyaAllah suka banget novelnya padahal udah lama ga baca novel,tiba2 mau baca ini ternyata seru banget
LiveChic
Thor, aku nungguin crazy up karena ceritamu sudah drive me crazy~
Garden Rose
hwaaaa lanjut g thorrr...klo g aku nangisss😭😭
BeautyBabe
rate bintang ⭐⭐⭐⭐⭐ biar semangat 😇 saling mendukung ya Thor 😇
TexasTiger
Ayok thor mana nih kelanjutannya?
Cinta Misnaming
Karakternya jangan dibikin yang sedih sedih gitu dong thor.. aku jadi ikut sedih
girlganggoodies
Good news! Cerita author bikin aku halu..
Garden Rose
author emang debest deh, pacar aja kalah nyenengin hati aku! karyamu selalu ditunggu!
monsoonblooms
Thor, kamu tahu artinya setia kan? Iya, aku dan kamu. Makanya tetap lanjut ya ceritanya:)
꧁༒☬Sa̶d̶B∆Y☬༒꧂
semangat selalu Thor aku suka ceritanya ❤️❤️
Amelia Handayani
semangat kaka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!