NovelToon NovelToon
Dari Selir Yang Diabaikan Menjadi Permaisuri

Dari Selir Yang Diabaikan Menjadi Permaisuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Aliansi Pernikahan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Yang baca Author do'akan semoga kalian lancar rezekinya😍😍 up dijam yang sama


Dari Selir yang Diabaikan menjadi Permaisuri

👑 Kaisar Tang Xuanze (唐玄泽)
👸 Permaisuri Mu Qingran (慕清然)
🌸 Gelar: Permaisuri Xianhe (贤和皇后)
🏯 Istana: Istana Ziyun
📜 Era Pemerintahan: Zhengzhou (正州)

Mu Qingran hanyalah seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang istana. Diabaikan Kaisar Tang Xuanze, dihina para selir, dan dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan, ia memilih bertahan dengan kecerdasan dan kesabarannya. Saat berbagai intrik mengancam takhta, Qingran membuktikan kesetiaan serta keberaniannya hingga perlahan merebut kepercayaan sang kaisar. Namun, jalan menuju singgasana permaisuri dipenuhi pengkhianatan, fitnah, dan pengorbanan. Mampukah seorang wanita yang pernah dianggap tak berharga mengubah nasibnya menjadi Permaisuri Xianhe yang dihormati seluruh negeri? Ataukah ambisi istana akan menghancurkan cinta dan harapan yang akhirnya ia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Kaki di Padang Salju Utara

Dingin di perbatasan utara Kekaisaran Zhengzhou bukanlah sekadar suhu rendah yang menusuk kulit, melainkan cengkeraman es yang seolah mampu membekukan aliran darah di dalam nadi. Angin dari stepa luas Siberia dan Mongolia berembus liar, membawa badai salju putih yang menutupi seluruh pandangan sejauh mata memandang. Di tengah hamparan putih yang mematikan itu, sekelompok kecil penunggang kuda bergerak senyap bagaikan bayangan malam.

Mereka berjumlah kurang dari dua puluh orang. Tidak ada bendera kebesaran kekaisaran yang berkibar, tidak pula ada zirah perang gemerlap yang memantulkan cahaya. Semuanya mengenakan mantel bulu tebal berwarna abu-abu kusam, menyamar sempurna di antara kabut salju dan bebatuan terjal lembah perbatasan.

Di barisan depan, menunggangi kuda hitam berambut legam yang gagah, duduklah Mu Qingran. Jubah perjalanannya dilapisi mantel bulu tebal, namun postur tubuhnya tetap tegak sempurna, memancarkan wibawa yang tidak mampu disembunyikan oleh pakaian penyamaran sekalipun. Wajahnya yang putih mulus tampak sedikit memerah karena terpaan angin dingin, tetapi sepasang mata jernihnya tetap tajam mengawasi setiap jengkal jurang dan jalur setapak yang mereka lalui.

Di sampingnya, Jenderal Lu merapatkan mantelnya, menatap ke arah lembah di bawah sana dengan dahi berkerut dalam.

"Yang Mulia," bisik Jenderal Lu melalui terpaan angin badai yang menderu kencang. "Pos terdepan militer kita di Lembah Blackwind seharusnya berada di balik bukit batu itu. Namun... situasinya tampak terlalu sunyi. Tidak ada kepulan asap dari cerobong api tenda prajurit. Ini tidak wajar."

Qingran menarik kendali kudanya perlahan, menghentikan langkah rombongan kecil itu di atas punggung bukit berbatu. Ia memejamkan matanya sejenak, menajamkan pendengaran di tengah suara deru angin salju. Bau samar yang terbawa oleh udara malam bukanlah aroma kayu bakar yang biasa dijumpai di perkemahan prajurit, melainkan bau amis logam yang sangat khas—bau darah segar yang membeku.

"Jangan mendekat secara terbuka," titah Qingran dengan suara rendah namun tegas. "Kirim dua orang pengintai terbaik untuk memeriksa keadaan pos terdepan terlebih dahulu. Aliansi Serigala Utara pasti sudah mendahului kita."

Tanpa suara, dua prajurit bayangan melesat turun dari kuda mereka, bergerak gesit menyusup di antara bebatuan tertutup salju bagaikan siluet hantu. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali dengan wajah pucat pasi.

"Melapor kepada Permaisuri!" lapor salah satu pengintai dengan napas terengah-engah. "Pos terdepan Lembah Blackwind... semuanya telah dibantai. Tenda-tenda dibakar habis, dan puluhan prajurit kita digantung di sepanjang gerbang kayu sebagai peringatan oleh pasukan Serigala Utara."

Mendengar berita itu, para pengawal kekaisaran di belakang mengepalkan tangan mereka dengan geram, gigi mereka berkatup rapat menahan amarah yang membakar dada. Namun, wajah Qingran tetap tenang. Tidak ada jerit kemarahan, tidak ada pula rasa takut. Ia justru membuka matanya, memperlihatkan sorot dingin yang jauh lebih berbahaya daripada badai salju di sekeliling mereka.

"Ini adalah pesan selamat datang dari sang khan baru," ucap Qingran pelan. "Mereka ingin memancing amarah kita, membuat kita menyerang secara membabi buta ke dalam perangkap yang telah mereka siapkan di lembah utama."

"Lalu apa rencana kita selanjutnya, Yang Mulia?" tanya Jenderal Lu, meminta arahan dari sang permaisuri. "Jika kita maju, kita masuk ke dalam sarang macan. Jika kita mundur, harga diri kekaisaran dan keselamatan rakyat di garis belakang akan terancam."

Qingran turun dari kudanya. Ia melangkah mendekati tepi jurang yang menghadap langsung ke arah lembah luas di bawah sana, tempat cahaya api unggun besar milik pasukan musuh tampak berkelip-kelip samar di tengah badai salju.

"Kita tidak akan mundur, dan kita juga tidak akan menyerang secara membabi buta," jawab Qingran, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis yang misterius. "Seorang pemburu sejati tidak pernah mengejar mangsanya ke dalam hutan yang gelap. Ia membiarkan mangsa tersebut keluar dari sarangnya, lalu menjebak mereka di tempat di mana mereka tidak memiliki tempat untuk melarikan diri."

Jenderal Lu menatap Qingran dengan penuh rasa kagum. Di tengah situasi yang begitu mematikan, kepala wanita di hadapannya ini tetap dingin bagaikan es abadi di puncak gunung.

"Jenderal Lu," perintah Qingran tanpa menoleh. "Bawa separuh pasukan kita untuk berputar melalui jalur tebing barat daya—jalur curam yang dianggap mustahil dilewati oleh kuda. Bakar persediaan makanan dan jalur logistik utama mereka di belakang lembah saat tengah malam tiba. Buat mereka panik dan mengira pasukan besar kekaisaran telah mengepung dari segala penjuru."

"Lalu Anda, Yang Mulia? Apa yang akan Anda lakukan seorang diri di sini?" tanya Jenderal Lu dengan nada cemas.

Qingran meraba gagang belati giok putih yang terselip rapi di balik mantel tebalnya. Ia mendongakkan kepalanya, menatap ke arah langit malam yang kelabu.

"Aku akan berjalan langsung ke pusat perkemahan mereka," jawab Qingran tenang, tanpa sedikit pun keraguan di dalam suaranya. "Aku ingin melihat wajah sang khan muda dari Aliansi Serigala Utara dan sisa-sisa pengikut Klan Mei yang berani menjual negeri ini. Aku ingin mendengar sendiri alasan apa yang mereka miliki sebelum aku mencabut nyawa mereka dari muka bumi."

"Yang Mulia! Itu terlalu berbahaya!" seru Jenderal Lu setengah berteriak, mencoba menolak ide gila tersebut. "Hamba tidak bisa membiarkan Anda pergi sendirian ke sarang musuh!"

"Ini bukan permintaan, Jenderal, ini adalah titah," potong Qingran dengan wibawa mutlak yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku. "Laksanakan tugasmu, dan biarkan aku menyelesaikan bagianku."

Tanpa menunggu bantahan lebih lanjut, Qingran menarik tudung mantel bulunya untuk menutupi sebagian wajahnya, lalu melangkah turun seorang diri menyusuri lereng bukit bersalju yang curam, menuju ke arah lembah tempat ribuan pasukan musuh bersiap menyambut malam kematian.

Badai salju bergemuruh semakin kencang, menelan sosok sang Permaisuri ke dalam pekatnya malam. Pertempuran sesungguhnya antara kecerdasan melawan kebrutalan baru saja dimulai di ujung utara dunia.

1
Alia Chans
Alurnya menarik banget thor, apalagi karakter Qingran yang tenang tapi penuh strategi.Penulisannya juga bikin penasaran dengan keputusan Kaisar selanjutnya. Semangat terus berkarya thor/Smile/
Xi Yue Qing: siap... terimakasih 🤩
total 1 replies
Nur Yani
lanjut kk
Nur Yani
lanjut kakak
Xi Yue Qing: asiap... ditunggu update nya🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!