Sarah, seorang gadis yatim piatu yang sudah dari sejak kecil tinggal di sebuah pondok pesantren karena sebelum neneknya meninggal saat Sarah usia 5 tahun, nenek Sarah menitipkan gadis itu pada seorang Ustadzah supaya bisa tinggal di Pesantren sekaligus mendidik Sarah menjadi wanita sholehah yang paham ilmu agama.
Saat Sarah sudah dewasa, dia akan menikah dengan anak dari Kyai yang mengasuh pondok pesantren.
"Kamu jangan besar kepala dulu, Sarah. Saya memilih kamu itu atas keinginan Abi saya bukan atas keinginan saya sendiri!' ucap Farel bagai batu besar yang menghantam hati Sarah.
Dunia Sarah seakan hancur. Tubuh gadis itu yang awalnya berdebar-debar menjadi lemas tak bertenaga. Dia tidak menyangka jika Ustad Farel tidak benar-benar menginginkannya menjadi istri. Lalu bagaimana sekarang? Sarah bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Malam pengantin yang katanya indah hanyalah dalam mimpi saja....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jasmine murni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kemarahan Farel
Setelah pulang dari rumah Maya, Fani dan Sarah kembali ke rumah masing-masing baru saja Sarah sampai pondok pesantren dilihatnya suaminya sudah berdiri di depan pintu rumah.
Sarah bergegas melangkah menuju ke rumah mertuanya itu, "Assalamu'alaikum, Mas," ucap Sarah lembut.
"Wa'alaikumsalam. Dari mana?" tanya Farel sembari menatap intens ke arah istrinya itu.
"Aku dari rumah Maya, mas," jawab Sarah pelan.
Wajah Farel langsung berubah. Laki-laki itu lalu memalingkan wajahnya. Terlihat kalau dia tidak senang.
"Aku masuk dulu ya, Mas," pamit Sarah.
"Saya ingin bicara di kamar!" titah Farel lantas membalik badannya, masuk ke rumah menuju kamar mereka di ikuti oleh Sarah dari belakang.
Ada apa ya Mas Farel mengajakku bicara di kamar. Apa dia marah karena aku menjenguk Maya? Sarah membatin.
Sampai di kamar Farel langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat membuat Sarah kaget dan bingung.
"Kamu menemui Maya ada keperluan apa? Bukannya Maya tinggal bersama keluarga suaminya?" tanya Farel dingin.
"Maya sedang tidak enak badan Mas dan ternyata Maya sedang hamil muda," jawab Sarah.
Farel menoleh ke arah istrinya itu, "Itu bukan alasan kamu saja kan karena ustad Aldo hari ini pulang cepat?" tanya Farel dengan sinis.
"Loh, apa maksud mas?" tanya Maya bingung.
"Kamu punya hati juga sama ustad Aldo?" tanya Farel dengan tatapan mengintimidasi.
Sarah mengernyitkan dahinya, "Kenapa Mas bisa berpikir seperti itu?" tanya Sarah.
"Saya hanya ingin tahu saja kok. Kalau kamu tidak mau jawab ya sudah. Itu sudah lebih dari sebuah jawaban," tegas Farel lantas hendak keluar dari kamar dengan wajah sinis.
"Mas, kenapa Mas bisa berpikir seperti itu? Aku sama sekali tidak punya perasaan apa-apa sama Ustad Aldo!" jelas Sarah pelan namun dengan penekanan. "Aku bener-bener menjenguk Maya yang sedang tidak enak badan. Itu pun tidak sendirian. Aku ke sana bersama Fanny."
"Hhmm, tanpa meminta izin dahulu dariku? Suamimu?" Farel menatap tajam Sarah.
"Maaf, mas. Aku tadi sudah cari Mas ke mana-mana tapi tidak ada dan aku terburu-buru karena Fanny hendak pulang. Itu pun aku sudah minta ijin sama Umi. Dan lagi, kami di sana tidak lama, hanya beberapa menit saja," jelas Maya.
Farel diam saja lalu membuka gagang pintu, hendak keluar dari kamar.
"Mas tunggu. Maya sudah bahagia dengan suaminya, Ustadz Aldo. Aku yakin dengan kehamilan Maya ini membuktikan Ustad Aldo sudah menerima Maya sebagai istrinya dan itu tidak ada hubungan lagi denganku, mas," jelas Maya.
Farel langsung membuka pintu kamar meninggalkan istrinya yang belum selesai bicara tanpa bisa dicegah lagi oleh Sarah.
Sarah lalu duduk di sisi tempat tidur. Wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, "Kenapa mas Farel berpikir seperti itu? Bukannya dia yang masih belum bisa menerima aku sebagai istri."
***
Malam hari setelah selesai makan malam dan membantu di dapur, Sarah masuk ke kamar mereka. Wanita itu merapikan tempat tidur supaya terasa nyaman untuk mereka tidur. Maya lalu duduk di kursi di depan meja kaca rias. Menatap pantulan dirinya. Wanita itu mengusap lembut wajahnya.
"Aku memang tidak menarik. Apa karena itu mas Farel masih belum bisa bersikap layaknya suami padaku. Tidurpun jarang satu ranjang denganku. Hanya saat dia memberiku nafkah batin saja. Itupun bisa di hitung dengan jari di usia pernikahan yang hampir setengah tahun. Hhmm, sepertinya hanya aku yang mencintainya dan berharap bisa hamil anak darinya. Karena mas Farel mungkin saja tidak mengharapkan kehamilanku. Ya Allah, kenapa aku sampai su'udzon begini, " Sarah bergumam lalu mengusap kasar wajahnya. Tanpa dia sadari ada sepasang telinga yang masih bisa mendengarkan gumamannya.
Jadi Sarah benar-benar mencintaiku?
Sarah bangkit berdiri lalu duduk di sisi tempat tidur. Mengambil selimut lalu menutupi seluruh tubuhnya hingga ke leher. Sarah mulai memejamkan matanya setelah membaca doa tidur dan berzikir.
Tiba-tiba Sarah merasakan tempat tidurnya sedikit bergoyang. Sarah pun membuka matanya. Dia kaget ternyata suaminya yang baru saja naik ke atas tempat tidur.
Jantung Sarah langsung berdetak dengan kencang. Dia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi selanjutnya jika suaminya sudah mau tidur 1 ranjang dengannya.
"Mas," ucap Sarah gugup.
"Kamu belum tidur?" tanya Farel dengan suara yang lembut.
"Hhmm, aku baru mau tidur, mas," jawab Sarah.
"Bisa duduk sebentar?" tanya Farel.
Sarah mengernyitkan dahinya. Tapi tak urung wanita itu mengikuti perintah suaminya. Sarah lalu duduk tapi tidak menatap ke arah suaminya. Dia hanya menunduk saja.
Farel menyentuh dagu istrinya itu lalu mengangkatnya hingga pandangan mereka saling terkunci, "Tidak boleh su'udzon," ucap Farel lembut.
Sarah membulatkan matanya. Kenapa mas Farel berkata seperti itu. Apa dia mendengar gumamanku tadi? Bukankah tadi mas Farel tidak di kamar? Sarah membatin. Wajahnya langsung merona malu. Wanita itu lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Usia kamu berapa? Mas lupa."
Kenapa mas Farel tanya usiaku, ya. Ah iya mana mungkin juga mas Farel ingat sesuatu yang tidak penting.
"Hhmm, usiaku delapan belas tahun, mas."
Farel menatap Sarah lekat-lekat, "Apa kamu sudah siap untuk hamil? Merawat bayi di usia kamu ini?"
Deg. Jantung Sarah makin berdetak kencang. Wanita itu lalu menundukkan kepalanya.
Tentu saja aku siap, mas. Itulah sebabnya aku mau menerima saat pak Kyai Agung menawariku waktu itu. Tapi tentu saja aku ingin mempunyai anak dari laki-laki yang aku cintai dan juga mencintaiku. Andai cinta itu memang tidak ada, aku hanya bisa berharap ayah anakku itu adalah seorang suami yang baik. Yang akan menghargai istrinya dan menyayangi anaknya.
Farel mematikan lampu hingga membuat wajah Sarah pias dan tubuhnya sedikit bergetar. Sarah yang sudah mengerti kebiasaan suaminya hanya bisa menerima semua apa yang suaminya lakukan terhadapnya.
Dan tentu saja jika sudah seperti itu, maka rasa cinta Sarah akan menjadi bertambah terhadap suaminya itu. Semua sentuhan lembut dari suaminya mampu membuat hatinya yang goyah kembali kuat. Walau hatinya menyangkal tapi sisi hatinya yang lain meraya yakin.
Farel menyudahi malam panasnya dengan mengecup lembut pucuk kepala istrinya itu, "Terimakasih," bisiknya pelan namun membuat wanita itu merinding dan merona malu.
Farel bangkit lalu turun dari tempat tidur. Laki-laki itu masuk ke kamar mandi.
Mas Farel, kamu begitu lembut dan hangat saat memberiku nafkah batin saja. Andai kamu selalu hangat di setiap waktu. Ah, Sarah. Harusnya kamu bersyukur dengan apa yang suamimu itu lakukan bukannya selalu menuntut lebih. Sarah bermonolog.
Sarah kembali tersenyum. Rasanya begitu cepat dan dia selalu merindukan dan menginginkan kehangatan dari suaminya itu.
tetap semangat up'nya
semangat thor...biar crazy up ya
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤