NovelToon NovelToon
HERE I AM "GHOST"

HERE I AM "GHOST"

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:366
Nilai: 5
Nama Author: chiechie kim

Park Soo-jin, siswi baru yang pindah ke SMA Haneul di Seoul, menghadapi beban berat: biaya sekolah dan pengobatan ayah yang terus menumpuk. Saat kehabisan pilihan, ia menemukan sebuah lowongan dengan bayaran tinggi—namun tugasnya tak terduga: menjadi pemburu hantu sekolah.

Di siang hari, ia adalah siswi biasa yang berusaha mengikuti pelajaran. Di malam hari, ia menyusuri koridor sepi, ruang kelas terbengkalai, dan lorong gelap untuk menenangkan arwah yang belum tenang. Awalnya hanya demi uang, perlahan Soo-jin menyadari tugas ini mengajarkannya lebih dari sekadar keberanian: setiap bayang memiliki kisah, dan setiap perjuangan punya makna.

Akankah ia mampu bertahan menyeimbangkan kehidupan sekolah dan rahasia kelam yang tersembunyi di balik tembok sekolahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Menuju Hutan

Satu minggu berlalu dengan tenang, tidak ada laporan gangguan atau tugas khusus yang harus mereka selesaikan. Akhirnya, momen istirahat yang layak pun tiba—seluruh angkatan kelas berencana pergi berkemah bersama ke kawasan hutan lindung di kaki gunung, salah satu tempat alam yang paling indah di Korea.

Pagi itu udara masih sejuk saat mereka berkumpul di halaman sekolah. Ransel besar sudah terisi perlengkapan, makanan, dan pakaian ganti. Min-woo, Seung-hyun, dan Soo-jin berjalan berdampingan menuju bus yang sudah menunggu.

“Rasanya aneh ya, berangkat ke hutan tanpa membawa jimat atau perlengkapan pembasmi hantu,” canda Seung-hyun sambil menaikkan tas ke bagasi bus.

“Kita butuh waktu untuk bernapas lega,” jawab Min-woo sambil tersenyum. “Kali ini kita hanya siswa biasa yang sedang berlibur.”

Soo-jin sudah duduk di jendela, melambaikan tangan saat melihat teman-teman lain berdatangan. “Konon hutan di sana sangat indah, penuh pohon pinus dan air sungai yang jernih. Semoga kita hanya bertemu hewan hutan saja, bukan hal lain.”

Mereka pun naik ke dalam bus, duduk berdampingan saat sopir menyalakan mesin dan kendaraan mulai bergerak perlahan meninggalkan gerbang sekolah. Bus itu melaju membelah jalanan kota, perlahan berubah menjadi jalan berkelok yang dikelilingi pepohonan hijau yang semakin lebat.

Bus berhenti di area parkir pinggir hutan, jalan masuk lebih dalam sudah tertutup batas kendaraan.

“Kita harus berjalan kaki sekitar satu jam lagi sampai ke area perkemahan,” pengumuman pembimbing terdengar jelas. “Jalanannya agak menanjak dan berkelok, jadi jaga langkahmu dan jangan terpisah.”

Mereka pun memikul ransel kembali, melangkah masuk menyusuri jalan setapak beralaskan tanah dan ranting kering. Pepohonan pinus yang tinggi menjulang menutupi sinar matahari, membuat udara terasa semakin sejuk dan segar, namun juga agak gelap di sela-sela rimbunnya dedaunan.

Soo-jin sesekali menoleh ke kiri dan kanan, matanya menangkap bayang-bayang pohon yang bergerak tertiup angin. “Jauh sekali ya… rasanya seperti kita masuk ke tempat yang benar-benar tersembunyi.”

“Tenang saja,” kata Seung-hyun sambil menyesuaikan tali tas di bahunya. “Pemandangannya pasti sepadan. Lagipula, semakin dalam kita pergi, semakin jauh dari gangguan sekolah.”

Min-woo berjalan di belakang mereka, matanya tetap waspada meski ia berusaha bersantai. Entah kenapa, semakin jauh mereka melangkah, suara burung dan serangga perlahan menghilang—hanya terdengar suara langkah kaki mereka sendiri yang bergema di antara pepohonan.

Langkah kaki mereka akhirnya terhenti di sebuah dataran luas yang dikelilingi pepohonan tinggi. Begitu tiba, hampir semua siswa langsung menjatuhkan tas beratnya ke tanah, lalu duduk berjejer di rumput sambil mengatur napas. Wajah mereka memerah karena lelah, keringat menetes di pelipis, dan bahu terasa perih memikul beban sepanjang jalan menanjak tadi.

“Wah… kaki rasanya mau copot,” keluh Seung-hyun sambil mengurut betisnya yang kaku. “Satu jam rasanya seperti berjalan seharian.”

Min-woo pun duduk di sebelahnya, menyeka keringat di dahi. “Jalan menanjaknya cukup curam. Tidak heran semua orang kehabisan tenaga.”

Soo-jin hanya bisa mengangguk pelan sambil memandangi sekeliling. Meski lelah, pemandangan di sana sungguh menenangkan: hamparan rumput hijau, udara yang segar, dan suara aliran sungai kecil yang terdengar samar dari kejauhan. Namun, di balik keindahan itu, ia merasa ada tatapan sunyi dari balik rimbunnya pohon—seolah hutan ini sedang mengawasi setiap orang yang baru saja masuk ke wilayahnya.

Setelah istirahat sebentar, Soo-jin berjalan bergabung dengan empat teman perempuannya—Hye-jin, Da-eun, Seo-ah, dan Yu-na. Mereka berempat sudah membongkar perlengkapan tenda besar yang akan dipakai bersama.

“Ayo kita pasang di sana, tempatnya datar dan tidak terlalu dekat dengan sungai,” tunjuk Hye-jin sambil membawa tiang tenda.

Mereka pun bekerja sama dengan riang: ada yang membentangkan alas tenda, ada yang menyusun tiang penyangga, dan ada yang memaku bagian pinggirnya ke tanah. Di tengah kesibukan itu, Yu-na tiba-tiba menunjuk ke arah belukar belakang mereka.

“Kalian lihat tidak? Tadi sepertinya ada orang berjalan di balik pohon itu,” katanya ragu.

Da-eun tertawa pelan. “Mana mungkin, semuanya ada di sini. Pasti itu rusa atau hewan lain saja.”

Soo-jin ikut menoleh ke arah yang ditunjuk, hanya melihat bayangan gelap pepohonan yang bergerak tertiup angin. Meski begitu, hatinya berdenyut pelan—ia yakin sekali hutan ini menyimpan sesuatu yang diam-diam mengamati kedatangan mereka.

Saat matahari mulai condong ke barat dan langit berwarna jingga kemerahan, guru pembimbing berpesan agar mereka mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun nanti malam. Soo-jin pun berangkat bersama Hye-jin, Da-eun, Seo-ah, dan Yu-na menyusuri pinggiran hutan untuk mencari ranting kering.

“Ayo jangan terlalu jauh masuk ke dalam,” ingat Soo-jin pelan, matanya tak lepas dari sekeliling. “Cukup di pinggir saja.”

Mereka pun sibuk memungut kayu yang berserakan di tanah. Awalnya suasana menyenangkan, tapi lama-kelamaan keheningan hutan terasa semakin berat. Tiba-tiba Da-eun berhenti bergerak, menatap ke arah semak belukar yang agak lebat.

“Kalian dengar tidak?” bisiknya. “Seperti ada suara orang memanggil nama kita… dari dalam sana.”

Semua terdiam mendengarkan. Angin berhembus pelan, dan samar-samar terdengar suara panggilan yang tidak jelas asalnya—bukan suara teman sekelas, dan bukan pula suara hewan.

Soo-jin segera menggenggam tangan Da-eun. “Itu bukan panggilan teman kita. Jangan jawab, dan jangan menoleh ke arah suara itu. Ayo kita kumpulkan kayu secepatnya lalu kembali ke tempat perkemahan.”

Saat teman-temannya sibuk menunduk memungut ranting kering, Soo-jin sekilas menoleh ke sisi yang lebih gelap. Di sana, berdiri sosok pria berpakaian kuno berwarna cokelat tua, tersembunyi di balik batang pohon besar. Ia diam sejenak, lalu perlahan mengangkat tangan dan melambaikannya ke arah Soo-jin, seolah memintanya mendekat.

Belum sempat Soo-jin memanggil teman-temannya, sosok itu berbalik badan dan berjalan perlahan masuk lebih dalam ke rimbunnya hutan. Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya—ia merasa sosok itu tidak bermaksud jahat, sebaliknya seolah ingin menunjukkan sesuatu yang penting.

Tanpa membangunkan teman-temannya, Soo-jin melangkah pelan mengikuti dari jarak aman. Ia berusaha tidak menimbulkan suara, namun semakin jauh ia berjalan, suara obrolan teman-temannya dan hiruk-pikuk perkemahan perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan hutan yang semakin pekat.

Sosok itu terus berjalan di depannya, sesekali menoleh sebentar untuk memastikan Soo-jin masih mengikutinya, lalu menghilang di balik tikungan semak belukar yang lebat.

Baru saja ia melangkah memutar tikungan, sosok itu lenyap seketika. Tidak ada jejak kaki di tanah empuk, tidak ada suara langkah, bahkan bayangannya pun seolah terserap oleh kegelapan pepohonan.

“Kemana dia pergi…” bisik Soo-jin pelan, matanya meneliti setiap sudut di sekelilingnya dengan cemas. “Aku kehilangan jejaknya.”

Ia berhenti di tempat, menoleh ke kiri dan kanan. Hutan di sini jauh lebih gelap, pohon-pohonnya terlihat lebih tua dan rapat, dan suara dari arah perkemahan sudah sama sekali tidak terdengar. Hanya ada hembusan angin yang berdesir di antara dedaunan, seolah berbisik hal yang tidak ia mengerti.

Soo-jin meremas ujung bajunya. Rasa penasaran tadi kini berubah menjadi kekhawatiran ia tidak tahu di mana posisinya sekarang, dan tidak tahu apakah sosok tadi benar-benar ingin menolongnya, atau justru memancingnya masuk lebih dalam.

1
chie_bapeer
❤️❤️❤️
chie_bapeer
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!