NovelToon NovelToon
OH MY BOSS

OH MY BOSS

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis / Nikahmuda / CEO / Single Mom / Tamat
Popularitas:596.9k
Nilai: 4.6
Nama Author: V Lestari

Kisah cinta rumit si gadis culun yang berusaha mengambil hati seorang direktur tampan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK ADA CINTA

Pelangi terkejut akan perkataan yang diucapkan oleh Andrew. Bagaimana tidak, jika Andrew mengajukan diri untuk menikahinya jika pernikahannya dengan Gilang nantinya akan gagal.

Namun, kemudian senyum jahil tersungging di wajah tampan Andrew yang ramah, membuat Pelangi mengelus dada karena lega.

"Jangan bercanda!" seru Pelangi, sambil memanyunkan bibirnya.

Pintu kamar mendadak terbuka, tepat saat Pelangi melayangkan pukulan di lengan Andrew. Gilang Andreas berdiri di ambang pintu dengan senyum sinis tersungging di bibirnya.

"Begini caramu bergaul dengan pria, tidak heran kalau akhirnya aku berakhir di ranjangmu," ujar Gilang.

Pelangi kemudian bangkit berdiri dan menghampiri Gilang. "Anda salah paham, aku dan Andrew hanya sedang ... heem, dia bercanda denganku, jadi aku--"

"Sudahlah, jangan menjelaskan apa pun!" Gilang mengibaskan tangan di depan wajah Pelangi. "Aku tidak peduli pada apa yang kamu lakukan."

Pelangi menunduk, membiarkan Gilang mengoceh ini dan itu. Setelah puas mengomel, Gilang meminta Andrew untuk keluar dari ruangan itu.

Andrew menurut. Ia bangkit dan berjalan menuju pintu. Saat melewati Pelangi, Andrew menyempatkan telapak tangannya untuk menyentuh puncak kepala Pelangi dan mengelusnya dengan lembut.

Pelangi menelan saliva. Diperlakukan selembut itu oleh seorang pria tampan tentu saja membuat Pelangi tersanjung dan deg-deg'an.

Setelah Andrew tidak berada di ruangan itu lagi, Gilang segera berjalan menuju ranjang berukuran sedang yang terdapat di tengah ruangan dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang itu.

"Jadi, kita akan menikah besok?" tanya Gilang, sambil menatap Pelangi dari atas ranjang.

Pelangi mengangguk. "Itulah yang dikatakan Pak Farhan."

"Oke, tidak masalah." Gilang mengubah posisinya, dari telentang menjadi tengkurap, lalu berkata, "Bangunkan aku jam sembilan," pintanya, dengan suara tidak jelas, karena mulutnya tertutup bantal.

***

Pelangi mengguncang tubuh Gilang dengan perlahan, saat jam yang menempel di dinding menunjukan pukul 21.00.

Gilang menggeliat, sebelum akhirnya membuka matanya dengan malas. "Pelangi," gumamnya, dengan ekspresi antara terkejut dan kagum melihat gadis yang tengah berdiri di hadapannya.

"Ya, Pak, ini aku." Pelangi menjawab dengan polos seperti biasanya.

Gilang mendorong tubuh gadis itu dengan cepat agar menjauh darinya, karena jika tidak demikian, ia takut godaan gila di dalam kepalanya untuk menarik Pelangi dan menyentuh gadis itu akan ia lakukan saat itu juga.

Pelangi terlihat luar biasa cantik dengan gaun pengantin berwarna putih yang ia kenakan. Rambutnya tergerai indah berhiaskan tiara kecil yang terlihat elegan.

Gaun yang dikenakan Pelangi bermodel Floor-lenght halter neck. Gaun polos mengembang pada bagian bawahnya dan berlapis kain tulle itu menempel pas di tubuh Pelangi yang ramping. Warnanya yang putih bersih membuat kulit Pelangi semakin terlihat bersinar dalam balutan gaun itu, sehingga tidak terlalu berlebihan jika Gilang merasa seperti sedang melihat bidadari.

"Ehem, sepertinya calon penganti pria sedang terpesona pada calon pengantin wanita. Apakah aku harus keluar dari kamar ini agar si calon pengantin pria dapat menarik calon pengantin wanita ke atas ranjang." Seorang desainer berwajah gagah, tetapi bertingkah kemayu terkekeh-kekeh di belakang Pelangi, menggoda Gilang yang terpana pada penampilan Pelangi yang memang terlihat luar biasa.

Gilang bangkit untuk duduk, sedikit terkejut karena ternyata ada orang lain di kamar itu selain dirinya dan juga Pelangi.

"Siapa dia?" tanya Gilang, menunjuk sang desainer yang sekarang tengah mengedip kepadanya.

"Dia desainer kiriman Pak Farhan," jawab Pelangi seadanya. "Aku harus mencoba gaun pengantin. Anda juga harus mencoba tuxedo yang telah disiapkan, Pak."

Gilang mengibaskan tangan sambil menggeleng. "Tidak usah. Aku harus pergi sekarang dan kamu harus ikut denganku." Gilang bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka. "Ganti pakaianmu, Pelangi." Teriakan Gilang terdengar dari dalam kamar mandi.

"Bantu aku, Miss," pinta Pelangi pada desainer yang masih berada di kamar itu untuk membantunya membuka gaun.

Desainer itu menghampiri Pelangi sambil mengoceh. "Calon suami yang aneh. Seharusnya dia berlama-lama menatapmu, mengagumimu dan memelukmu. Begitulah yang biasanya dilakukan calon pengantin pria saat melihat calon istrinya sedang fitting gaun pernikahan. Apalagi jika pengantinnya secantik dirimu, kamu sangat cantik bagai tuan putri."

Pelangi tersenyum mendengar perkataan desainer itu. "Tidak ada yang pernah mengatakan aku cantik sebelumnya."

"Bahkan ibumu atau ayahmu? Ah, tunggu saja, saat mereka melihat bagaimana cantiknya putri mereka, mereka pasti akan mengatakannya," ujar desainer itu, masih sibuk membuka resleting gaun yang Pelangi kenakan.

"Mereka tidak akan bisa mengatakan hal itu."

"Mereka tuna wicara? Aku turut prihatin."

"Mereka sudah meninggal."

Sang desainer terdiam. Ia kemudian membalik tubuh Pelangi dan menatapnya dengan iba. "Maaf, aku tidak tahu. Aku yakin, mereka pasti melihatmu dari atas sana. Mereka pasti bahagia karena sebentar lagi putri mereka akan menikah dengan pria tampan dan kaya. Aku harap pernikahan kalian bahagia, Nona."

Pelangi mengusap bulir yang mengalir dari sudut matanya. "Tidak apa-apa. Terima kasih telah menghiburku. Aku sangat terharu."

"Ooh, jangan menangis, Nona, Make-up di wajahmu bisa rusak. Bukankah kamu akan bepergian dengan calon suamimu." Desainer itu mengusap air mata Pelangi dan tersenyum tulus padanya. Ia sedih melihat keadaan Pelangi, saat dirinya memasuki kamar itu tadi, Pelangi tengah meringkuk di lantai tanpa bantal dan selimut. Sementara Gilang tidur dengan nyaman di atas ranjangnya. Seolah tidak peduli pada keadaan gadis yang akan menjadi istrinya.

Gilang yang sejak tadi mendengarkan percakapan antara Pelangi dan si desainer ikut merasa sedih dan iba pada Pelangi. Namun, perasaan itu cepat-cepat ia tepis.

***

Perjalanan menuju Apartemen Gisel berlangsung dengan cepat, karena Gilang tidak menemukan kemacetan di jalan.

Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Gilang segera memerintahkan Pelangi untuk turun dan mengikuti langkahnya.

Pelangi menurut, walaupun ia penasaran juga ke mana Gilang akan membawanya. Sejak tadi ia terus bertanya pada Gilang, tetapi percuma saja, pria itu tidak memberikan jawaban sama sekali.

"Sampaikan saja salamku pada Amara dan Bu Tika, katakan pada mereka bahwa aku sangat menyayanginya mereka. Lalu, jika Anda bisa, tolong minta Amara untuk mengambil semua barangku yang ada di kontrakan. Katakan padanya, bahwa dia boleh memiliki semua barang itu. Anggap saja sebagai warisan." Pelangi mengoceh dengan suara tercekat sepanjang perjalanan menuju unit apartemen Gisel. "Dan tolong, jangan sebar bunga di atas makamku. Aku alergi bunga," tambahnya, suaranya terdengar begitu sedih.

"Apa yang kamu bicarakan?" Gilang berhenti dan menoleh ke Pelangi. Wajahnya sedikit kesal, karena Pelangi berisik sekali sejak tadi.

"Anda akan menghabisi nyawaku, 'kan? Anda membawaku ke tempat tersembunyi, lalu menyekapku dan akhirnya menghabisi nyawaku agar kita tidak harus menikah besok." Pelangi mengucapkan hal itu dengan suara bergetar karena takut.

Gilang menggelengkan kepala mendengar perkataan Pelangi, ia tidak menyangka jika gadis itu berpikiran terlalu jauh dan terlalu mengada-ngada. Bagaimana bisa Pelangi menganggap ia akan melakukan kejahatan seperti itu.

Gilang kemudian mengetuk kepala Pelngi dengan tangannya. "Jangan terlalu banyak nonton sinetron!" komentar Gilang, lalu melanjutkan langkah.

Pelangi berlari kecil di belakang Gilang yang berjalan tergesa-gesa. "Jadi bukan begitu? Anda tidak akan menghabisiku?" tanyanya, dengan suara yang kembali riang seperti biasanya.

"Tidak."

"Lalu, mau apa kita di sini?"

"Aku akan menikah dengan Gisel malam ini juga. Aku rasa kamu harus tahu, itulah sebabnya aku mengajakmu untuk menyaksikan pernikahan kami."

Pelangi mengerjap bingung. "Anda akan menikah?"

Gilang kembali menghentikan langkah. "Iya."

"Anda tidak boleh menikah dengan Gisel!" Pelangi berteriak.

"Apa hakmu mengatakan itu padaku, hah? Kamu tidak berhak melarangku. Gisel itu kekasihku, wajar jika aku kemudian menikah dengannya. Sementara kita ... hubungan kita sangat tidak jelas, Pelangi.

" Tapi, Pak--"

"Ingat, mungkin besok kita akan menikah. Tapi, semua itu kulakukan demi kehormatanmu dan demi permohonan ayah. Aku tidak mencintaimu, Pelangi. Tidak ada cinta di antara kita."

Bersambung ....

1
Atik Karyana
Kecewa
Yuli Yanti
gisel....gisel dah d obral,d manfaatin alex lagi..
Ning's Kitchen New
sangat menarik
Novia Lestari: Terima kasih, Kak ☺☺
total 1 replies
Ida
bukan kabur tp menyelamatkan diri biar tidak babak belur🤣
dewi musnida
🤣🤣🤣🤣🤣😜😜😜
dewi musnida
segera perlihatkan saja sisi buruk gisel ke gilang yg bdoh itu thor. kesel aku.
dewi musnida
wow.... lucu thor, lanjut...... 🥰🥰🥰✊👌
Made Ringin
Kecewa
Novia Lestari: Terima kasih, Kak 🙏😊
total 1 replies
My Munding29
sejauh ini.okee kokk
Novia Lestari: waaah makasih banyak atas reviewnya, Kak ❣️❣️
total 1 replies
Wong Japung
👍👍👍👍👍👍
Novia Lestari: Terima kasih atas dukungannya, Kak.
yuk baca juga novel saya lainnya yang berjudul "LUNA, WANITA PENGGANTI" dijamin ceritanya juga nggak kalah seru dari OH NY BOSS ☺☺
total 1 replies
rika
samira ibu kandung popi?? 🤔🤔🤔
Novia Lestari: mungkin typo saya, Kak 🤭🤭🙏🙏
total 1 replies
rika
wahhhh.. ada misteri nya juga.. siapakah anak kandung samira ?? apakah pelangi ? gisel ? atau axel ??
Novia Lestari: hayooo siapakah anak kandung Samira, Kak. 🤭🤭
total 1 replies
Clareisya
aku kurang nyaman dengan kata "trims"
Novia Lestari: Siap, Kak.
kalau kalimat 'trims' posisinya adalah dialog, itu nggak masalah. karena dialog nggak harus pakai kalimat baku, kecuali di narasi, di narasi harus pakai kalimat baku. 🤭

Tapi, terima kasih sarannya, Kak. 🙏🙏
total 1 replies
Rihana.hana
ending yang bahagia untuk keluarga Andreas
dan ending yang menyedihkan untuk Gisel and the Genk..

btw..
soal visualnya mereka ,aku liat² wajah mereka pada serupa yaa sama para pasangan nya..
jangan ² mereka beneran jodoh di dunia nyata 🖤🖤
Rihana.hana
ahh sudah tamat kah? 🥺
rasa nya kok sedih yaa..

Selamat ber bahagia Gilang pelangi dan semua nya🤗🖤
Alfi Tazkia Putri Ariana
meski ending nya agak ngecewain tp za dah gak ap2 tp ttp semangat n q pengemar novel kak
Hawatus Syahro
ahir cerita yg mengenaskan dimana tokoh utamanya tak berdaya di kursi roda sangat di sayangkan alur cerita yg pertama indah harus berkhir kecewa....
Novia Lestari: nggak semua cerita berakhir happy, Kak. Salah satunya ini🤭
dan memang kebanyakan novel saya berakhir sad ending. Suka aja sama akhir yang model begitu, walaupun sesekali saya juga bikin cerita yang happy ending 🤣
Terima kasih telah berkenan membaca hingga akhir 🙏🙏
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Novia Lestari: siap, Kak. Terima kasih sudah membaca cerita ini 🙏🤗
total 1 replies
Rihana.hana
ayo semangat pelangi, ada Gilang dan lainnya di sisi mu.. termasuk aku😁
gemes sama Toni ..
Rihana.hana: sami sami mbak, aku suka novelnya..😚💞
total 2 replies
Tyarr Tinambunan
smangat pelangai
satu demi satu
kebahagiaan mu akan trcapai
terlebih Gilang harapan saya kpd outhor smoga Gilang sembuh seperti sedia kala
supaya pelangi semakin bahagia 🙏❤️
Novia Lestari: Terima kasih, Kak, sudah membaca cerita ini 🙏☺☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!