"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 | Berkeliling Kota Gibo
Kaki ramping Kalara membawanya menapaki jalanan kota Gibo yang ramai dan dipenuhi orang-orang yang melakukan keseharian mereka masing-masing. Berbalut dress setengah paha tanpa lengan dan berkerah tinggi yang terbuat dari kulit dan dilengkapi boots dibawah lutut sama terbuat dari kulit hewan, Kalara tampil serupa dengan orang-orang disana. Minus tinggi badan, sikap dan kulitnya yang putih bak susu. Yah, nyaris semua berbeda. Orang dikota itu memang memiliki kulit yang sedikit gelap dengan rambut yang berwarna hitam atau coklat dan memiliki mata yang kebanyakan berwarna hijau.
"Ternyata Emer masih sepuluh tahun ya?" tanya Kalara pada Emer yang berjalan disampingnya dengan tatapan tajam dan alis yang senantiasa menukik.
Emer menatap tajam Kalara, "Apa urusanmu dengan umurku?"
Kalara menggeleng, "Hanya saja tidak menyangka kalau Emer baru berusia sepuluh tahun. Kukira Emer sudah berusia tujuh belas atau delapan belas tahun. Kalau begitu, kamu panggil aku kak Kala, oke?"
"Cih! Tidak mau."
Kalara melipat bibirnya dan menurunkan alisnya. Rambut hitamnya yang panjang diikat kuda dan bergerak kekanan dan kekiri berlawanan dengan gerakan kakinya. Kalara menyapa penduduk disana dengan senyuman secerah matahari, membuat orang-orang tertegun sekilas sebelum membalas. Bahkan beberapa diantara mereka menghentikan Kalara dan memberinya makanan ringan. Menerimanya dengan senang, Kalara memakannya disepanjang jalan selepas berjalan-jalan dalam waktu yang cukup lama.
"Kamu mau?" tawar Kalara sembari menyodorkan sekantung manisan buah pada Emer yang hanya mendengus dan membuang muka.
Menerima penolakan Emer, Kalara tidak sedih atau kecewa. Jadi Kalara melanjutkan makannya dan berjalanannya. Sampai langkahnya terhenti ketika melihat keramaian disebuah lapangan. Ia meraih lengan baju Emer dan menariknya pelan. Layaknya adik menarik lengan sang kakak, padahal sebaliknya.
"Ada apa disana?" tanya Kalara.
"Pertarungan pedang." Jawab Emer dengan acuh.
Mata Kalara berbinar dan beralih menatap kearah Emer. "Ayo kesana! Ayolah~"
"Tidak."
"Ayolah! Kumohon~ Izinkan aku melihat kesana." Pinta Kalara.
"Ck, kau sangat merepotkan. Sebentar saja," kata Emer sembari melangkah menuju keramaian.
Baru beberapa langkah dengan Kalara mengikutinya, ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kalara. Menilai penampilannya yang layaknya bayi, Kalara bisa terjepit diantara kerumunan-kerumunan disana. Jadi, Emer mengambil langkah kebelakang Kalara dan menjaga Kalara agar tidak terdesak yang lain. Mencapai penampakan yang ada ditengah kerumunan, Kalara mendapati 3 orang berbadan besar berdiri diatas arena yang cukup luas dengan pedang ditangan masing-masing tangan dua orang yang berada diantara pria yang bertangan kosong. Sepertinya, dia seorang wasit. Mendapati itu, mata Kalara tidak bisa tidak memancarkan rasa keingintahuannya yang besar. Dua orang itu mulai mengayunkan pedang. Menggerakkannya dan menangkis serangan satu sama lain.
"Apa ini?" tanyanya.
"Pertarungan Pedang khas kota Gibo. Tidak berbahaya. Lihat saja dan jangan banyak tanya." Kata Emer.
Kalara kembali memfokuskan pandangannya pada pertarungan. Ketika pedang salah satunya terhempas, sorakan menggema, dan Kalara melebarkan senyumannya. Menampilkan deretan giginya yang kecil dan putih dengan kagum.
"Woo! Sangat keren!"
"Broo! Itu keren!"
"Hebat!"
"Jangan khawatir, kalahkan lain kali sobat!"
"Kekhawatiran! Selesaikan saja!"
Secara teknis pria itu berkata dengan angkuh, "Ayo! Siapa lagi yang mau kalah? Maju kedepan dan ambil pedang kalian. Siapapun, akan kuhadapi!"
Merasa tidak ada yang menarik lagi, Emer yang sejak tadi memejamkan mata dengan gaya cool berujar, "Ayo pergi."
Namun, ketika ia menoleh ketempat Kalara, sosok gadis itu tak lagi disana. Menatap khawatir, Emer berpikir jika Kalara terdesak dan bahkan mungkin bisa terinjak. Jika itu terjadi, Lupar akan menghajarnya habis-habisan dan menjemurnya dibawah matahari tanpa makan dan minum selama sebulan!
"Woah~ Siapa dia?"
"Berani sekali!"
"Tidak mungkin, bukan?"
"Bukankah dia yang dibawa nona Lupar?"
Mendengar ucapan terakhir, Emer mengangkat kepalanya dan membelalak saat melihat Kalara berdiri diarena dengan pedang besar ditangannya. Pedang itu terlihat besar ditangan Kalara, namun bagi pria-pria itu, pedang yang digenggaman tangannya berukuran normal. Pria-pria besar itu memusatkan perhatiannya pada Kalara, termasuk Clad, pria didepannya yang memiliki kulit gelap dan rambut hitam legam. Sementara maniknya memiliki warna hijau gelap dan sedikit memiliki kilatan cahaya didalamnya.
"Siapa ini? Hey, menyingkirlah." Kata Clad.
"Bertarung denganku." Kata Kalara membuat Clad terdiam sesaat sebelum tertawa terbahak sembari memegangi perutnya yang jelas terlihat, jika dipukul dengan menggunakan tongkatpun sepertinya tidak akan kesakitan sedikitpun.
"Haha! Lucu sekali!"
Emer dengan kesal melangkah besar dengan Kalara yang sedikit terhuyung dicengkramannya. Sejak Clad menertawakan Kalara tadi, Emer tanpa kata menarik Kalara pergi dengan cepat. Clad itu cukup berbahaya dan sangat merepotkan. Jadi, jangan berurusan dengan pria itu!
Tapi si bodoh kecil ini berniat menantang Clad dengan pedang!
"Bisakah kamu berhenti menarikku? Rasanya sakit." Kata Kalara.
Emer melepaskan cengkraman pada tangan Kalara yang benar saja. Memerah dan cukup jelas dikulit tangan Kalara yang sedikit terasa panas. Mengusapnya pelan, Kalara menatap Emer yang memiliki ekpresi dingin. Kalara terdiam selama beberapa saat sebelum memisahkan belahan bibirnya.
"Kamu, ... membenciku ya?" tanya Kalara.
Mendengar pertanyaan Kalara, Emer meliriknya tajam dan mendengus dengan nada dingin "Ya!"
"Kenapa?"
Emer dengan acuh mengedikkan bahunya, "Entah. Aku hanya membenci kalian orang luar. Apa ada masalah dengan itu?"
Kalara terdiam dan menggeleng, "Suka atau benci itu tergantung dengan hati. Dan hati seseorang, hanya bisa dikendalikan oleh orang itu sendiri. Bahkan jika kamu membenciku atau membenci kami orang luar. Itu bukan masalah."
"Tutup mulutmu dan kembali. Sudah sore, waktunya tinggal didalam rumah."
Ketika Kalara memandang keatas, langit memang berangsur-angsur menampakkan keagungan warna kemerahan. Sementara matahari perlahan meninggalkan sisi bumi yang ditempatinya untuk menyambut pagi bumi disisi lainnya.
"Ada apa dengan malam?" tanya Kalara.
Emer menatapnya dan bergumam penuh kebencian. "Mereka akan datang."
...⭐...
"Ayo dimakan." Kata Lupar sembari mendorong sepiring nasi dan daging pada Kalara.
Diruang berkumpul itu, Kalara, Lupar, Emer dan Kal nampak duduk mengelilingi meja makan dan makan dengan tenang. Makanan dengan aroma yang menggugah selera itu membuat Kalara melahapnya dengan senyuman lebar. Sangat lezat!
Dia bergumam, "Sangat lezat! Bibi sangat pandai memasak!"
Pujian Kalara membuat Lupar tersenyum, "Benarkah? Seenak itu?"
"Iya! Sangat enak!" puji Kalara.
Dentingan alat makan terdengar. Sebelum Kalara kembali membuka bibirnya, "Disini cukup gelap ya?"
Lupar menghentikan makannya. "Kota ini cukup terisolasi dan kami sama sekali tidak menguasai sihir. Kami hidup dengan berburu dan bercocok tanam. Mereka orang luar kota bahkan mungkin tidak tahu kami ada. Jadi kami sendiri juga tidak pernah keluar. Dan memanfaatkan barang-barang yang ada untuk membuat lentera. Ketika kami tahu setidaknya bayangan itu takut dengan cahaya."
"Kota ini memang cukup gelap karena kami tidak mampu membuat cahaya yang sama seperti saat siang hari." Kata Lupar dengan wajah sedikit sedih.
"Itu bagus." Bisik Kalara berbicara pada angin.
Ketika ia mendongak, wajah yang biasanya memancarkan kehangatan dan senyuman selembut angin itu kini menampilkan wajah datar dengan tatapan tajam. Nyaris dingin dengan mata birunya yang seakan bercahaya dimalam yang gelap. Sangat dingin dan misterius, sebelum satu sudut bibirnya terangkat. Pupil matanya menatap tajam keujung mata. Menyuratkan ancaman, dan menyiratkan ejekan.
gak ketebak