Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Bab 12
Pendopo. Pukul 07.00.
Setelah selesai mandi, Lusi berjalan ke pendopo. Ki Sarowang sudah duduk di sana, bersila di atas tikar pandan yang sudah lusuh dimakan usia. Di hadapannya, sebuah pedupaan kecil mengeluarkan asap cendana yang menenangkan. Matanya terpejam. Tangannya diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan membuka ke atas.
Lusi berhenti di anak tangga pendopo. Ia tidak berani naik. Ia hanya berdiri di sana, menunggu.
“Melbuo, Nduk.”
(Masuk, Nduk.)
Suara Ki Sarowang tanpa membuka mata.
Lusi naik ke pendopo, lalu duduk bersila di hadapan kakek buyutnya. Udara di sini berbeda. Lebih berat. Lebih pekat. Seperti ada lapisan tak kasat mata yang memisahkan pendopo dari dunia luar.
"Mbah..."
“Kowe wis sarapan?”
(Kamu sudah sarapan?)
"Sudah, Mbah."
"Bagus." Ki Sarowang membuka matanya. Mata keemasan itu menatap Lusi dengan intensitas yang membuat bulu kuduknya berdiri.
“Sakdurunge kowe mulai poso mutih, tak takoni pisan ngkas jawaben sing jujur.”
(Sekarang, sebelum kamu mulai puasa mutih, Mbah mau tanya sekali lagi. Dan kamu harus jawab dengan jujur.)
"Apa, Mbah?"
“ Ngopo kowe mklih semar Mesem?
(Kenapa kamu milih Semar Mesem?)
Lusi terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu. Kenapa ia memilih Semar Mesem? Kenapa bukan santet yang bisa membuat Irawan mati seketika? Kenapa bukan teluh yang bisa membuatnya menderita secara fisik?
Karena...
"Aku mau dia ngerasain apa yang aku rasain, Mbah."
"Rasain apa?"
"Rasa... nggak berdaya." Suara Lusi bergetar, tapi ia menahannya. "Rasa dipermainkan. Rasa dibodohin. Rasa... jatuh cinta sama seseorang yang ternyata cuma nganggep lo sebagai objek. Aku mau Irawan ngerasain itu, Mbah. Aku mau dia cinta mati sama aku. Aku mau dia nggak bisa hidup tanpa aku. Aku mau dia..."
“Dadi babumu?”
(Jadi budakmu.)
Kalimat itu diselesaikan oleh Ki Sarowang. Bukan sebagai pertanyaan. Sebagai pernyataan.
Lusi mengangguk. "Iya, Mbah."
Ki Sarowang tersenyum tipis, senyum yang sulit diartikan. "Dendam itu api, Nduk. Kalau kamu bisa kendalikan, dia jadi penerang. Kalau kamu nggak bisa... dia bakal bakar dirimu sendiri."
"Aku bisa, Mbah."
"Kita lihat saja." Ki Sarowang menghela napas panjang. "Tiga hari ke depan, kamu cuma makan nasi putih dan air putih. Nggak boleh pakai garam. Nggak boleh pakai gula. Nggak boleh ngomong kasar. Nggak boleh marah. Nggak boleh membenci."
"Mbah... yang terakhir itu..."
"Mbah tahu." Mata Ki Sarowang menatapnya tajam. "Itu yang paling sulit buat kamu. Tapi justru itu ujiannya, Nduk. Semar Mesem adalah ilmu pengasihan. Energinya harus suci. Kalau kamu melakukan ritual ini dengan kebencian, ilmunya nggak akan sempurna. Bahkan bisa berbalik."
Lusi menunduk. "Aku ngerti, Mbah."
"Bagus. Sekarang, mulai puasamu. Dan ingat..." Ki Sarowang meletakkan tangannya di atas kepala Lusi. "...Mbah ada di sini. Kalau ada apa-apa, panggil Mbah. Mbah akan dateng. Meskipun kamu di Jogja, meskipun kamu di ujung dunia. Darah kita terhubung, Nduk. Itu ikatan yang nggak bisa diputus oleh jarak."
Lusi merasakan kehangatan mengalir dari telapak tangan kakek buyutnya. Kehangatan yang aneh. Bukan kehangatan fisik seperti api. Tapi kehangatan yang menenangkan. Seperti sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela.
"Makasih, Mbah."
Tiga hari berlalu.
Hari-hari puasa mutih dijalani Lusi dengan disiplin yang mengejutkan.
Pagi: bangun sebelum matahari terbit, mandi air dingin dari sumur, sarapan tiga kepal nasi putih.
Siang: tidak makan apa pun. Hanya duduk di kamar, membaca kitab Semar Mesem, menghafalkan mantra-mantra yang harus ia ucapkan nanti.
Sore: membantu Bi Tun di dapur bukan memasak, karena ia tidak boleh menyentuh makanan selain nasinya sendiri. Ia hanya membantu mencuci piring, menyapu halaman, atau sekadar duduk menemani Bi Tun mengupas singkong.
Malam: makan tiga kepal nasi lagi, lalu duduk di pendopo bersama Ki Sarowang. Mereka jarang bicara. Hanya duduk bersama, menatap langit malam, mendengarkan suara jangkrik dan gemericik air sungai di bawah bukit.
Di malam ketiga, sesuatu terjadi.
Lusi sedang duduk di pendopo ketika tiba-tiba ia melihat bayangan di antara pepohonan. Bayangan hitam. Besar. Berbentuk seperti manusia, tapi terlalu tinggi setidaknya dua setengah meter. Ia berdiri di antara dua pohon pinus, menatap ke arah pendopo.
"Mbah..."
“Aku wes weruh.”
(Aku lihat.)
Suara Ki Sarowang tenang.
“De’e mung liwat tok, Nduk. Ora bakal ganggu.”
(Dia cuma lewat, Nduk. Nggak bakal ganggu.)
"Apa itu, Mbah?"
"Khodam leluhur. Penjaga rumah ini. Kamu nggak perlu takut. Dia cuma memastikan kamu baik-baik aja."
Lusi menatap bayangan itu lagi. Sekarang ia bisa melihat lebih jelas. Sosok itu memakai pakaian seperti prajurit Jawa kuno beskap hitam, blangkon, dan keris yang terselip di pinggang. Tapi wajahnya... wajahnya tidak ada. Hanya gelap. Hanya bayangan.
"Kenapa dia muncul, Mbah?"
"Karena dia merasakan sesuatu di dirimu, Nduk. Api warisan. Itu menarik perhatian mereka."
"Mereka?"
"Khodam-khodam leluhur. Mereka melayani keluarga kita selama ratusan tahun. Mereka tahu siapa kamu. Mereka tahu kenapa kamu di sini."
Lusi menelan ludah. "Apa mereka akan... bantu aku?"
Ki Sarowang tersenyum. "Itu tergantung kamu, Nduk. Khodam nggak akan bantu orang yang cuma mengandalkan kekuatan mereka. Kamu harus kuat sendiri dulu. Buktikan ke mereka kalau kamu layak."
Bayangan di antara pepohonan itu perlahan memudar. Menghilang seperti asap yang tertiup angin. Tapi Lusi masih bisa merasakan kehadirannya. Dan bukan cuma satu. Ada beberapa. Berdiri di kegelapan, menatapnya dengan mata yang tidak terlihat.
"Mereka selalu ada di sini, Nduk," bisik Ki Sarowang. "Setiap saat. Setiap waktu. Mereka melihat. Mereka menunggu. Mereka menilai."
"Menilai apa, Mbah?"
"Menilai apakah kamu benar-benar pantas mewarisi ilmu ini."
Malam itu, Lusi tidur dengan perasaan diawasi. Tapi anehnya, ia tidak takut. Justru ia merasa... dilindungi.
Hari keempat. Pagi. Waktunya kembali ke Surabaya.
“Yakin kowe ra gelem di terne simbah?”
(Kamu yakin nggak mau Mbah anter?)
Lusi menggeleng sambil mengangkat ranselnya. "Aku naik bus aja, Mbah. Nggak apa-apa."
Mereka berdiri di depan gerbang rumah gerbang kayu jati hitam dengan ukiran naga dan garuda. Pagi itu matahari bersinar cerah, menyinari seluruh lembah dengan warna keemasan yang indah.
Ki Sarowang menatap cicitnya dengan mata yang sulit diartikan. Ada kebanggaan di sana. Tapi ada juga kesedihan. Dan kekhawatiran.
"Nduk..." suaranya berat.
“Iling opo sing mbah ajari. Ritual Semar mesem kuwi…”
(Ingat apa yang Mbah bilang. Ritual Semar Mesem itu…)
"Nggak bisa berhenti di tengah jalan. Aku inget, Mbah."
"Dan Pati Geni..."
"Satu hari satu malam. Nggak makan, nggak minum, nggak tidur, nggak bicara."
"Kalau kamu gagal..."
"Aku tahu risikonya, Mbah." Lusi menggenggam tangan kakek buyutnya. Tangan keriput itu terasa hangat, sama seperti tiga hari yang lalu. "Tapi aku nggak akan gagal."
Ki Sarowang menatapnya lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia merogoh saku bajunya dan mengeluarkan liontin perak.
Liontin berbentuk matahari dengan tujuh sinar.
"Ini..." Lusi terkejut. "Ini punyaku! Aku kira ilang di..."
"Ditemukan Bi Tun di dalem ranselmu. Mungkin jatuh waktu... malam itu." Ki Sarowang tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menggenggam liontin itu sebentar, lalu menyodorkannya ke Lusi. "Pakai ini. Jangan dilepas lagi."
Lusi mengambil liontin itu. Jemarinya bergetar sedikit. "Kenapa, Mbah?"
"Liontin ini bukan perhiasan biasa. Itu warisan dari eyang buyutmu. Ada doa di dalamnya. Ada perlindungan. Selama kamu pakai ini, Mbah bisa... merasakan kamu. Kalau ada apa-apa, Mbah akan tahu."
Lusi menatap liontin itu. Matahari dengan tujuh sinar. Simbol yang selama ini ia anggap cuma hiasan. Ternyata lebih dari itu.
"Makasih, Mbah." Ia memasang liontin itu di lehernya, menyelipkannya di balik jilbab. "Aku janji nggak bakal lepas lagi."
Ki Sarowang mengangguk. "Sekarang, pergi. Sebelum busnya berangkat."
Lusi mencium tangan kakek buyutnya lama, lebih lama dari biasanya. Lalu ia berbalik, berjalan menuruni jalan setapak menuju jalan raya.
"Lusi!"
Ia berhenti. Menoleh.
Ki Sarowang masih berdiri di depan gerbang. Wajahnya basah bukan karena hujan. Tapi karena air mata.
"Ingat, Nduk. Apa pun yang terjadi... kamu nggak sendirian."
Lusi menelan ludah. Tenggorokannya terasa tersekat. Tapi ia tidak menangis. Ia hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya.
Dan di sepanjang perjalanan menuju terminal, liontin di lehernya terasa hangat. Seperti pelukan. Seperti bisikan. Seperti suara kakek buyutnya yang berkata: Aku di sini. Selalu.
[BERSAMBUNG….]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥