NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13

Malam itu Arga tidak bisa tidur.

Bukan karena obat dihentikan.

Karena kepalanya terlalu ramai.

Selama bertahun-tahun, ia percaya tubuhnya sendiri adalah penjara. Setiap pagi bangun dengan kepala berat, setiap siang kehilangan tenaga, setiap malam menunggu obat yang membuat dunia kabur. Orang-orang di sekitarnya bicara dengan nada lembut, tetapi selalu mengarah pada kesimpulan yang sama.

Arga sakit.

Arga harus tenang.

Arga jangan memikirkan perusahaan.

Arga jangan membuat Bima cemas.

Arga jangan membenci Ratna, karena Ratna sudah merawatnya.

Sekarang Alya datang dan membuka jendela dengan cara paling kasar.

Udara masuk.

Debu juga.

Ia duduk di ruang kerja kecil, menatap file yang sudah dicetak Alya. Pola tanggal, dosis, rapat keluarga, kunjungan Bima, laporan palsu. Semua belum sempurna, tetapi cukup untuk merusak tidur.

Alya masuk tanpa mengetuk.

Arga mengangkat alis. "Aturan kamar hanya berlaku untuk orang lain?"

"Ini ruang kerja."

"Ruang kerjaku."

"Yang baru kamu pakai lagi karena aku membuka kuncinya."

"Poin untukmu."

Alya meletakkan segelas air hangat di meja. "Minum."

"Aku bukan anak kecil."

"Anak kecil biasanya lebih patuh."

Arga mengambil gelas. "Kamu selalu datang dengan perintah."

"Kamu selalu menjawab sebelum melakukannya."

"Itu satu-satunya hiburanku."

Alya duduk di seberangnya.

Malam membuat wajahnya lebih tenang, tetapi bukan lembut. Cahaya lampu meja jatuh di sisi pipinya, menegaskan garis mata yang tidak mudah dibaca.

Arga berkata, "Kamu ingin bicara tentang kekuasaan."

"Iya."

"Malam ini?"

"Kamu tidak tidur."

"Kamu memantau?"

"Lilis melapor."

Arga menghela napas. "Baik. Bicaralah."

Alya membuka map baru.

"Pradipta Group punya tiga pusat kekuatan. Pertama, Bima sebagai pendiri dan pemegang saham terbesar. Kedua, Daren sebagai pewaris operasional yang menguasai direksi dan proyek berjalan. Ketiga, Ratna melalui jaringan rumah utama, yayasan, dokter, dan keluarga investor lama."

"Kamu baru beberapa hari di sini."

"Informasi publik cukup banyak kalau orang membacanya."

"Dan informasi nonpublik?"

"Akan kita ambil."

Arga menatapnya. "Kita lagi."

"Kamu keberatan?"

"Aku sedang menentukan apakah kata itu menguntungkan atau berbahaya."

"Keduanya."

Arga tersenyum samar. "Jujur sekali."

Alya menunjuk berkas. "Kalau kamu ingin hanya sembuh, kita fokus pada medis. Kita kumpulkan bukti, pecat dokter, bersihkan rumah, lalu kamu hidup tenang. Tapi kalau kamu ingin memastikan mereka tidak bisa mengulanginya, kamu harus masuk kembali ke struktur kekuasaan."

"Direksi?"

"Belum. Terlalu cepat. Mulai dari akses laporan. Rapat keluarga. Yayasan kesehatan. Proyek rumah sakit yang melibatkan Wiratama. Kamu muncul sedikit demi sedikit."

"Dengan tubuh seperti ini?"

"Karena tubuhmu seperti ini, mereka akan meremehkanmu. Itu berguna."

Arga menatap tangannya yang masih kurus.

"Aku tidak punya tenaga untuk perang panjang."

"Aku punya."

Kalimat itu keluar tanpa sombong.

Hanya fakta.

"Kenapa?" tanya Arga. "Kenapa kamu ingin sejauh ini? Jangan bilang karena kamu istriku. Kita sama-sama tahu pernikahan ini perjanjian."

Alya diam.

Arga menunggu.

Ia mulai mengenal diam Alya. Ada diam yang berarti ia tidak ingin menjawab. Ada diam yang berarti ia memilih jawaban yang tidak terlalu membuka luka.

Kali ini yang kedua.

"Karena aku tahu rasanya membangun jalan untuk orang yang salah," kata Alya akhirnya.

Arga tidak bergerak.

"Orang itu Rafi?"

Alya menatapnya.

"Aku tidak akan menjelaskan semuanya malam ini."

"Tapi jawabannya iya."

"Jawabannya: aku tidak ingin mengulang kesalahan."

"Dan menurutmu aku bukan orang yang salah?"

"Belum tentu."

Arga tertawa pelan. "Kamu tidak pandai menenangkan hati."

"Aku tidak melamar pekerjaan sebagai penghibur."

"Kamu melamar apa?"

"Rekan."

Kata itu membuat ruangan kembali hening.

Alya melanjutkan, "Aku tidak akan menjadi istri yang hanya duduk menunggu kamu sembuh. Aku akan bergerak. Aku akan menyingkirkan orang-orang yang mencoba membunuhmu pelan-pelan. Aku akan membuka jalur ke Bima, ke komisaris independen, ke audit. Kalau kamu ingin ikut, kamu harus belajar menahan emosi, membaca dokumen, dan muncul pada waktu yang tepat."

"Dan kalau suatu hari aku memegang kendali?"

"Aku punya syarat."

"Akhirnya."

Alya menatapnya lurus. "Aku tidak akan menerima perempuan kedua dalam pernikahan ini. Bukan atas nama bisnis. Bukan atas nama keturunan. Bukan atas nama tekanan keluarga. Kalau suatu hari kamu membutuhkan aliansi, cari cara lain."

Arga terdiam.

Dari semua syarat, ia tidak menyangka itu yang pertama keluar.

"Kamu pikir aku punya tenaga memikirkan perempuan kedua?"

"Hari ini tidak. Nanti, kalau kamu sehat dan berkuasa, orang akan memikirkannya untukmu."

"Kamu bicara seperti sudah melihatnya terjadi."

"Aku sudah melihat cukup banyak lelaki berubah saat kursi mereka naik."

"Rafi?"

Alya tidak menjawab.

Arga menerima itu sebagai jawaban.

"Syaratmu hanya itu?"

"Untuk pernikahan, iya. Untuk kekuasaan, nanti ada lagi."

"Kamu benar-benar tidak malu."

"Malu tidak menghasilkan perlindungan hukum."

Arga menatapnya lama.

"Kalau aku setuju, apa yang kudapat?"

"Hidupmu. Tubuhmu. Kesempatan untuk membuat Ratna dan Daren menyesal karena terlalu cepat menguburmu."

"Dan kamu?"

"Aku mendapat posisi yang tidak bisa digeser keluarga Wiratama atau Pradipta."

"Kamu ingin menjadi Nyonya Arga Pradipta?"

"Aku ingin nama itu berguna."

"Kamu tidak peduli padaku sebagai laki-laki?"

Alya menatapnya dari kepala sampai tangan yang masih gemetar.

"Saat ini, aku peduli kamu jangan pingsan sebelum percakapan selesai."

Arga tertawa. Kali ini lebih lepas, lalu batuk sedikit.

Setelah napasnya stabil, ia berkata, "Baik."

"Baik apa?"

"Tidak ada perempuan kedua. Tidak ada pernikahan bisnis lain. Tidak ada wanita simpanan yang disembunyikan di apartemen. Kalau suatu hari aku cukup bodoh melanggar, kamu boleh menghancurkanku lebih dulu sebelum musuhku."

Alya mengangkat alis.

"Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi aku suka melihatmu terkejut."

Alya hampir tersenyum.

"Dan soal kekuasaan?" tanya Arga.

"Kita bergerak pelan."

"Tidak." Arga menutup map. "Kalau mereka sudah membuatku seperti ini, bergerak pelan hanya memberi mereka waktu."

"Kamu tidak cukup kuat untuk bergerak cepat."

"Maka kamu bergerak. Aku muncul ketika perlu."

Alya menatapnya.

Itu bukan jawaban pasien.

Itu jawaban seseorang yang mulai memahami perannya.

"Langkah pertama?" tanya Arga.

"Audit rumah ini dan rekening operasional. Lalu hubungi orang yang bisa masuk ke struktur perusahaan tanpa memicu alarm."

"Siapa?"

"Satria Mahendra. Komisaris independen. Dulu pernah menolak proyek Daren karena konflik kepentingan."

Arga menyipitkan mata. "Dia tidak suka keluarga kami."

"Bagus. Orang yang tidak suka lebih mudah percaya ada kebusukan."

"Kamu kenal dia?"

"Tidak secara pribadi."

"Tapi kamu tahu dia bisa dipakai."

"Bekerja sama," koreksi Alya.

Arga tersenyum. "Kamu memakai kata halus kalau menyangkut orang yang belum kamu kalahkan."

"Kamu belajar cepat."

Mereka saling menatap.

Untuk pertama kalinya, ruangan itu tidak terasa seperti kamar orang sakit.

Lebih seperti ruang perang kecil.

Ponsel Arga tiba-tiba bergetar. Ia melihat layar.

Daren.

Alya melihat nama itu.

"Angkat," katanya.

Arga menekan tombol speaker.

Suara Daren terdengar hangat. "Arga, bagaimana kabarmu? Aku dengar kondisi rumahmu agak ramai."

Arga menatap Alya.

Alya menggeleng kecil: jangan banyak bicara.

Arga berkata, "Aku masih hidup."

Daren tertawa, tetapi tawanya kaku. "Syukurlah. Mama sangat khawatir. Alya mungkin terlalu bersemangat sebagai istri baru. Jangan sampai kamu kelelahan."

"Aku justru lebih sadar sejak dia datang."

Hening sebentar.

Daren berkata, "Bagus kalau begitu. Kita perlu bicara kapan-kapan. Ada banyak hal keluarga yang harus dijelaskan agar tidak terjadi salah paham."

"Bicaralah dengan istriku."

Alya menoleh cepat.

Daren juga terdiam.

"Istrimu?"

"Ya. Untuk sementara, semua yang menyangkut kesehatanku dan rumah ini melewati Alya."

Suara Daren berubah sedikit. "Kamu yakin?"

Arga menatap Alya, lalu berkata, "Sangat."

Telepon selesai tidak lama setelah itu.

Alya menyilangkan tangan. "Kamu sengaja."

"Apa?"

"Melempar Daren padaku."

"Kamu bilang nama kita harus berguna."

"Aku tidak bilang jadikan aku tameng dalam lima menit."

"Rekan, bukan?"

Alya menatapnya tajam.

Arga tampak puas.

Di luar, malam semakin larut.

Di dalam ruang kerja kecil itu, perjanjian mereka tidak ditandatangani di atas kertas.

Tapi keduanya tahu, sejak telepon Daren tadi, mereka sudah berdiri di sisi yang sama.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!