NovelToon NovelToon
7 Life Crystals Book I

7 Life Crystals Book I

Status: tamat
Genre:Teen / Action / Fantasi / Petualangan / Chicklit / Tamat
Popularitas:104.6k
Nilai: 4.6
Nama Author: Koibumi Alana

Demi perdamaian Crymane, terbentuklah sebuah tradisi mencari Tujuh Kristal Kehidupan beserta pengendalinya, dan yang mengadakannya ialah adidaya Crymane, Kerajaan Woerlt.

Yula Athhra, putri bungsu Kerajaan Hearthose yang berusia 12 tahun, terpilih menjadi rekan pertama Putri Kerajaan Woert, Lacus Wallt, untuk menemukan ketujuh kristal kehidupan tersebut.

Bagaimana perjalanan Yula dalam mengumpulkan ketujuh kristal kehidupan tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koibumi Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Alasan Keikutsertaan Pangeran Yoshizu?

“Heeh?” kaget Yula.

Orang yang bernama Yoshizu itu pun berdiri, menepuk-nepuk pinggulnya yang sakit, lalu berjalan ke arah Lacus dengan langkah terpincang. Tiga langkah Yoshizu akan menghampiri Lacus, Esha langsung berdiri di depan Lacus, bermaksud memberi batas antara kakaknya dengan Tuan Putri Woerlt. Yula melakukan hal yang sama, ia masih memberikan tatapan curiga.

“H-hei? Kenapa kalian berdua membuat pertahanan? Aku bukan orang jahat.”

“Kalau bukan orang jahat kenapa mengikuti orang dari belakang diam-diam?” timpal Yula. Matanya menatap Yoshizu tajam.

Yoshizu menghela napas lelah dan menyerah. Ia mundur selangkah. Padahal Ia hanya ingin menyapa Tuan Putri yang ingin ditemuinya.

“Aku hanya berharap hadir di depan Tuan Putri saat ia butuh pertolongan. Kau tahu? Seperti pangeran yang menyelamatkan sang putri yang telah ditakdirkan untuknya!”

“Aa~ cerita dongeng lama,” ejek Yula.

“Kau bermaksud bersikap keren di depan Tuan Putri?” kesal Esha.

Esha tak tahan dengan sikap kakaknya yang sangat suka memamerkan kemampuan yang dimiliki, meski ia tahu hal itu terlihat keren di matanya, sejak kecil hingga kini. Tapi ia tetap kesal dengan sikap Yoshizu yang ringan tanpa rasa bersalah sedikit pun telah menjadi penguntit dalam perjalanan Putri Woerlt.

“Ah, ayolah~. Bukan ini yang kuinginkan,” ungkap Yoshizu sesal.

Lacus sedari tadi hanya tersenyum, sedikit terhibur akan sikap curiganya Yula dan reunian keluarga Duraxson. Dan lagi, ia terlihat senang akan kehadiran Yoshizu yang ia sangka akan bertemu di kerajaan namun kenyataannya tidak.

“Sepertinya rencanamu gagal, Yoshizu,” ungkap Lacus kemudian. “Melakukan hal seperti itu sangat mudah diketahui oleh teman kecilku,” Lacus mengelus kepala Yula, “jangan pernah meremehkan rekan pilihanku, mereka akan sangat mudah menjatuhkanmu seperti tadi. Kalau Raja Durasec tahu anak pertamanya, yang sangat pantas mendapatkan posisi raja dikalahkan seorang anak kecil, mau taruh di mana harga dirinya?”

Yoshizu langsung terbungkam. “Aku mengakui kesalahanku, Tuan Putri,” ujarnya penuh penyesalan dengan membungkukkan badan. “Mohon maafkan kesalahan hamba.”

Lacus tersenyum lebar dan mengangguk. “Dimaafkan! Lalu, apa tujuanmu menemuiku, Pangeran Yoshizu? Seharusnya kamu menemuiku di kerajaan. Segitu takutnyakah bertemu dengan ayahandamu? Menghindari pernikahan?” sindir Lacus.

Yula bersiul kecil. “Mulai deh kata pedas ala Putri Lacus,” gumamnya.

Esha mengabaikan hal itu. Ia malah sangat terhibur dengan ekspresi tertindasnya Yoshizu saat diomeli oleh Lacus, seakan bernostalgia saat masa kecil Yoshizu sering mendapat ceramah dari ayahanda mereka.

Namun kemudian wajah Yoshizu berubah. “Tentu saja hamba menghindari pernikahan dengan seorang gadis yang sama sekali belum kutemui. Bagaimana pun sebagai seorang pria, hamba sangat mendambakan tuan putri yang begitu memesona sejagat Crymane.”

“Jangan menggoda!” kesal Yula. “Jangan mengulur waktu! Jawab pertanyaan Kak Lacus, ngapain kamu di sini?” desaknya.

“Kalau kau tak memberikan jawaban yang sebenarnya, aku sendiri yang akan menendangmu sampai ke Durasec. Biar paman memenjarakanmu seumur hidup!” tambah Esha.

Yoshizu bermuka masam. “Eeeh, kenapa kalian semua jahat padaku? Aku hanya ingin menyapa tuan putri karena tak sempat saat di kerajaan.”

“Alasan!” timpal Yula masih tak percaya. Ia mengeluarkan suara geraman kucing yang menghadapi ancaman di hadapannya.

“Baiklah. Aku punya alasan, hanya itu yang bisa kukatakan,” jawab Yoshizu. “Dan aku hanya bisa memberitahukannya pada Anda, Tuan Putri.” Kali ini Yoshizu bicara dengan tatapan serius namun senyuman ramahnya masih menghiasi wajah tampannya. “Bisa beri kami waktu bicara berdua?” tanya Yoshizu pada Yula.

Yula terdiam, seakan ia mengerti akan keseriusan Yoshizu saat ini. Lacus memegang pundaknya, memberikan senyuman padanya seperti mengisyaratkan semua baik-baik saja tanpa lisan. Yula pun memberi jalan lewat untuk Lacus tanpa kata.

Lacus berjalan menghampiri Yoshizu, gerak tangan laki-laki itu mempersilakan sang putri jalan lebih dulu dan ia selangkah menyusul di belakangnya. Mereka berdua bicara tak jauh sekitar sepuluh meter dari Yula dan Esha.

“Kau yakin mengizinkan Yoshizu mendekati Tuan Putri?” heran Esha.

Yula melirik Esha, kemudian bola matanya menatap lurus ke arah Lacus dan Yoshizu.

“Ada waktunya aku tak mengurusi urusan Kak Lacus. Dan lagi ... sepertinya ada suatu hal yang serius, hanya Kak Lacus yang boleh tahu. Jika tidak Yoshizu sudah menemui Kak Lacus di Durasec tanpa harus bersembunyi seperti kucing.”

Esha masih tak mengerti. Perasaannya masih kesal dengan sikap kakak angkatnya itu, jika memang ia yang selama ini mengawasi Lacus di kerajaan seperti apa yang dikatakan Yula sebelumnya, mengapa Yoshizu tidak langsung saja menemui Lacus dengan cara yang normal dan menemui orang tuanya seperti layaknya seorang anak yang sudah lama tak pulang dari perantauan. Malah sebaliknya, hanya mengawasi dari jauh dan berencana akan menemui Lacus di saat waktu yang tepat, hanya untuk bicara berdua.

Selama ini Yoshizu adalah orang yang sangat ia kagumi. Sosok kakak yang selalu menjadi panutan yang dengan senang hati membantunya belajar, berlatih menggunakan pedang, tidak memandangnya sebelah mata, dan kapan saja akan meredamkan amarahnya. Namun di usia ke delapan belas, Yoshizu memilih untuk berpetualang dan meninggalkan kerajaan tanpa restu raja.

Setahun kemudian ia kembali ke istana, bukannya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya tapi untuk mengajak Esha pergi bersamanya. Hal itu ditentang keras oleh ayahandanya. Raja Durasec telah berjanji pada dirinya untuk tidak mengizinkan Esha sejengkal pun keluar dari kerajaan. Yoshizu pun kembali meninggalkan istana dan pergi seorang diri.

“Apa yang diinginkan Yoshizu saat ini?” gumam Esha.

“Penasaran?” tanya Yula. “Aku bisa menggunakan telinga kelinciku untuk mendengarkan percakapan mereka,” tawarnya bercanda mengungkapkan magica-nya sebagai telinga kelinci.

Esha berdecak lidah. “Kau suka sekali menguping dan ikut campur urusan orang lain?”

Yula menggembungkan pipi dengan kesalnya. “Ternyata susah mengajakmu berteman. Gak ramah sama sekali!” Ia pun menoleh pergi ke arah kereta mereka.

Yula duduk di atas bilik kereta, masih mengamati gerak-gerik Yoshizu. Ia masih curiga dengan sikap laki-laki itu yang bisa membuat ekspresi Lacus berubah-ubah, tersenyum, tertawa kecil dan juga wajah yang serius namun tidak terlihat tegang. Yula tak ingat seorang pun pangeran kerajaan yang mendekati Lacus seakrab ini. Ia jadi penasaran sejak kapan Lacus berkenalan dengan anak sulung Raja Durasec itu. Belum lagi pandangan Lacus terhadap Yoshizu sangatlah berbeda.

Esha sedari tadi juga ikut kembali ke kereta, namun ia berdiri di samping Hearty sambil mengelus leher kuda itu. Namun matanya tetap mengawasi Yoshizu. Dalam hati ia bertanya-tanya ada keperluan apa Yoshizu dengan Putri Lacus sehingga percakapan hanya boleh mereka berdua yang tahu. Jika benar hal itu sangat penting, berarti itu percakapan yang beresiko dan tak sembarang orang yang boleh ikut campur. Sebagian hatinya percaya akan Yoshizu, tapi ia tak tahan saat melihat kakaknya itu menggoda seorang gadis. Tidak ada alasan khusus hanya saja ia tak suka dengan sikap Yoshizu yang satu itu.

“Esha,” panggil Yula. Esha hanya mengadah kepala ke arah Yula tanpa suara. “Yoshizu itu seperti apa orangnya?” tanya Yula kemudian.

“Kau tertarik padanya?”

“Tidak. Aku hanya heran kenapa Kak Lacus terlihat sangat nyaman dengannya.”

“Menurutmu begitu?” tanya Esha heran.

Di mata Esha, baginya keramahan Putri Lacus merupakan hal yang biasa yang diberikan kepada siapa pun di dekatnya. Ia heran dengan pernyataan Yula barusan. Dari mana gadis itu dapat melihat kenyamanan Tuan Putri itu di dekat kakaknya yang tukang gombal? Bukannya itu karena keahlian kakaknya membuat siapa saja gadis di dekatnya merasa nyaman dan terpesona?

“Bukan ilmu magica, aku dapat membaca perasaan seseorang dari mimik wajah, bahkan seseorang tersenyum menutupi kesedihannya, tampak tenang menutupi kebohongannya. Aku juga telah mengenal Kak Lacus sejak kecil, jadi aku tahu apa pun ekspresinya.” Yula terdiam sebentar lalu melanjutkan perkataannya. “Jika dilihat lebih jauh, mereka berdua bahkan terlihat seperti sepasang kekasih.”

Esha terkejut mendengar hal itu. Kedua matanya menatap ke arah Yoshizu dan Lacus. Memang terlihat sangat akrab, tapi ia tak menyangka akan sejauh itu hubungan mereka berdua. Bahkan Yoshizu saat masih di kerajaan tak pernah membicarakan seorang gadis dengan serius di depannya.

“Sejak kapan?” gumam Esha tak percaya.

“Hm, aku juga mempertanyakan hal yang sama di kepalaku,” ujar Yula. “Sejak kapan mereka berkenalan? Membuatku sebaaal!” Yula kembali mengembungkan pipi. Ia merasa telah ditipu oleh Yoshizu yang diam-diam mengakrabkan diri pada kakak kesayangannya. “Jadi gimana?” tanya Yula kembali.

Esha pun menjawab pertanyaan Yula. Setiap kata yang ia lontarkan membuatnya teringat masa-masa kecil saat bersama dengan Yoshizu.

“Yoshizu ... ia anak yang paling tua, empat tahun lebih tua dari Seiger. Calon terkuat untuk menggantikan posisi raja. Ia sangat peduli terhadap siapa pun, akan menolong siapa saja tanpa pandang bulu. Ia tak pernah berbicara maupun bertindak kasar. Tindakannya yang bijak dan adil membuatnya disenangi rakyat. Bahkan ia selalu memiliki ide yang bagus dalam keadaan genting. Ia menjadi sosok yang tak tergantikan di Durasec. Jika ada masalah di Durasec, ia yang pertama turun ke lapangan. Tak peduli masalah itu ringan atau berat. Ia mudah membaur, rakyat sangat mengagumi keramahannya.

“Namun tiba-tiba saja sikapnya mulai aneh. Aku tak tahu pasti kapan, ia seakan menutupi sesuatu, merahasiakan suatu hal yang penting. Dan ia pun pergi dari kerajaan setelah bertengkar argumen dengan paman. Seingatku ia pergi dengan sedikit bekal dan menunggangi kudanya. Ia bahkan pernah mengajakku pergi bersamanya....”

Kalimat terakhir terdengar dengan suara lirih. Entah kenapa Yula merasa merinding mendengar kalimat itu. “Eh, kawin lari?” gumamnya merinding.

Dahi Esha berkerut. “Kau jangan membayangkan hal lain!” ujarnya kesal.

Yula menggaruk kepalanya. “Yaaah, aku jadi teringat dongeng romantis yang aku baca di perpus istana. Karena tak direstui raja, sang pangeran membawa kabur sang putri dan mereka kawin sambil lari.”

Esha menepuk jidatnya. “Kawin lari itu bukan menikah sambil berlari, bodoh! Mereka melakukan pernikahan tanpa pendamping maupun orang tua,” jelasnya geram.

Yula tertegun dengan polosnya. “Eh, bukan ya? Jadi itu hanya kiasan? Ooh....”

“Kau ini kecil-kecil sudah membaca cerita untuk orang dewasa?” heran Esha.

“Waktu itu aku gak tahu, sudah selesai baca baru aku ngerti. Seharusnya buku harus diberi peringatan di sampulnya, dibaca khusus untuk siapa, gitu. Jadi kan yang masih di bawah umur tak sesat membaca hal-hal begituan.”

“Kau sudah membaca sampai hal apa saja?” tanya Esha curiga.

Yula mengingat-ingat cerita yang ia baca itu. “Sampai selesai, sampai mereka punya dua anak. Dan mereka bahagia selamanya.” Yula pun bertepuk tangan. Kemudian berhenti. Kedua matanya kembali memperhatikan Lacus dengan Yoshizu. Melihat Lacus ia malah teringat kakak sulungnya. Apa Kak Kagari juga kawin lari?

Sesaat tanpa disadari Yula memperlihatkan wajah sedihnya.

Kediaman Yula membuat Esha terheran. Anak periang seperti Yula juga bisa membuat wajah sedih seperti itu. Namun ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yula.

“Kalau kau mencemaskan Tuan Putri tak ada artinya. Karena biarpun begitu Yoshizu orang yang bisa dipercaya.”

“Kalau memang seperti itu, aku bisa sedikit tenang.”

“Kau terlalu protektif terhadap Putri Lacus.”

Yula menolehkan pandangan pada Esha. “Memang itu tugasku!” Ia pun tersenyum memperlihatkan sederetan gigi putihnya.

Setelah berbincang, Lacus dan Yoshizu tampak berjalan ke arah kereta. Selang itu Yoshizu masih bercerita hal-hal lucu yang membuat Lacus tertawa. Yula turun dari kereta untuk menyambut Lacus.

“Ah, maaf ya, lama meminjam tuan putri kalian,” ujar Yoshizu ringan pada Yula.

Yula tidak membalas candaan Yoshizu, ia hanya diam menatap Yoshizu tajam. Ia sedang mencoba menilai sikap laki-laki itu sekali lagi. Yoshizu jadi salah tingkah dibuatnya. Tak lama Yula pun membuang muka dan merasa kesal sendiri. Ternyata benar, saingan besarku!, ungkapnya dalam hati. Yula sangat belum bisa melepaskan kakaknya jatuh ke pelukan laki-laki mana pun.

Lacus hanya bisa tersenyum geli melihat sikap Yula terhadapnya dan terganggunya akan kehadiran Yoshizu.

“Oh, iya. Kudengar kalian akan pergi ke Kota Samber. Kebetulan aku juga mau ke sana. Apa boleh aku ikut?” tanya Yoshizu.

Yula dan Esha sama-sama terkejut. Sebelum Yula mengeluarkan suara Lacus langsung menjawab. “Ah, kebetulan sekali, ya? Semakin banyak teman dalam perjalan akan semakin seru, bukan?”

“Kak Lacus!” kaget Yula.

“Ada masalah?” tanya Lacus dengan senyuman ramah, namun tatapannya sangat menusuk.

Yula langsung mundur selangkah. “A-aah ... gak ada masalah kok....”

“Kalau Esha sendiri?” tanya Lacus pada Esha.

Esha menjawab dengan tenang. “Jika itu keputusan Tuan Putri tak ada masalah bagiku.”

“Berarti sudah diputuskan! Kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanan kita.”

Lacus mengajak Yula masuk ke bilik kereta. Lacus pun masuk dahulu, Yula masih terdiam, masih menatap Yoshizu tak percaya. “Yang benar saja,” gumam Yula. Ia pun masuk ke bilik, menutup pintu lalu duduk di sebelah kanan Lacus.

“Mohon kerjasamanya, ya, adikku tersayang,” ucap Yoshizu sambil mengelus kepala Esha dengan kasarnya.

Esha menepuk jatuh tangan Yoshizu di atas kepalanya, ia menghindar dan naik ke kereta. Yoshizu segera naik ke kereta. Ia mengambil tali kekang dari tangan Esha.

“Kali ini biar aku yang menjadi kusir kalian,” pintanya.

Esha melipat tangannya ke depan, menaikkan kaki kanannya ke kaki kiri. “Terserah kau saja,” balasnya dingin.

Yoshizu mengekang tali kuda, dan kedua kuda itu pun menarik kereta berjalan meneruskan perjalanan.

1
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
kasian esha
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangatt semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
ko we jadi sedih
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat Semangat Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Vivi
Semangat thor semangat
Nayla Syberia
namanya lacus tapi aku baca nya berkali-kali salah malah Lucas 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!