Rania seorang gadis manja berusia 18 tahun yang manis dan memiliki wajah cantik dengan rambut hitam panjangnya. Dia baru saja kehilangan cinta pertamanya karena kecelakaan. Semenjak kejadian itu, dirinya berusaha untuk berubah menjadi lebih kuat dan mandiri.
Hardin seorang pria dingin berusia 24 tahun yang sulit dijamah wanita. Pemilik hotel bintang 5 dan juga supermarket besar. Kecintaannya terhadap kue membawanya bertemu si gadis manja yang manis dan menjadikannya kekasih.
Akibat kesalah pahaman, Hardin harus berusaha mendapatkan kembali hati gadis nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Sayang
Halloo semua. Semoga kalian suka ya sama novelku. Ini novel pertama aku dan alurnya sengaja kubuat lambat di awal agar jelas. Jangan lupa favorite kan ya. Dan juga tinggalkan komen yang positif biar aku makin semangat nulisnya.
Setelah sekian jam berkutat dengan tumpukan dokumen, akhirnya tiba waktunya makan siang. Dan Hardin teringat kalau dia belum membalas pesan kekasihnya itu.
H : Waalaikumsalam. Maaf ya aku baru balas chat kamu, tadi begitu sampe kantor langsung di hadapin sama kerjaan.
H : kamu masih di sekolah? udah makan siang belum?
H : oya, kamu pulang sekolah jam berapa? aku jeput nanti ya. Gak boleh nolak.
Setelah membalas chat Rania, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 2. Hardin pun memutuskan untuk keluar ruangan dan mengajak Harry makan siang bareng.
"Selamat siang pak. Bapak baru mau makan siang.?" tanya sekretaris itu tetap dengan nada yang dilembut lembutkan terkesan menggoda ditambah senyum yang dibuat semanis mungkin.
Hardin hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab pertanyaan si sekretaris ganjen. Dia melanjutkan langkahnya ke arah ruangan Harry. Begitu sampai di depan pintu dia langsung membuka dan masuk ke dalam.
"Makan yok man. Lu belum makan kan?"
"Belum sih. Tapi lagi nanggung ni man sedikit lagi siap." jawab Harry sambil terus menatap layar laptopnya.
Hardin mendekat dan langsung menarik tangan Harry tanpa memperdulikan si empunya tangan.
"Aahh...sialan lu. Dikit lagi siap tu kerjaan gue." gerutunya.
Hardin terus menarik tangan sahabatnya sampai mereka keluar hotel. Hardin memutuskan makan diluar tapi tetap dekat dari hotel. Setelah duduk, mereka pun memesan dan menunggu pesanan sambil mengobrol santai.
...Di sekolah...
triinting
triinting
triinting
Hp Rania bunyi tiga kali menandakan ada pesan masuk. Sebenarnya dia enggan membukanya, tapi takut kalau itu pesan penting apalagi kalau itu kabar dari bunda. Diam siam dia membuka hp dibawah meja. Dia tersenyum setelah melihat dan membaca isi chat yang masuk dan segera membalasnya.
R : Iya gak apa apa kok. Aku masih di sekolah dan udah makan siang. (sent)
R : Oke. Aku pulang jam dua ya kak 😊(sent).
Uhuuk..uhuk..uhuk
Hardin terbatuk karena buru buru menghabiskan makanannya sampai kesedak. Diambilnya gelas dan menghabiskan air yang ada di dalamnya.
"Woi..pelan pelan aja kali makannya. Gak bakal ada yang berani ngambil makanan lu." ucap Harry.
"Gue buru buru man." jawabnya sambil menyuap makanan lagi dengan suapan penuh.
"Buru-buru mau ngapain lu ha.?"
"Mau jeput cewek gue lah. Emangnya lu jomblo, gak ada yang bisa di jeput." Hardin berbicara dengan mulut penuh dan tersenyum meremehkan sahabatnya.
"Wah parah lu man. Gue bukan jomblo, cuma belum nemu yang tepat aja. Gue yakin kok bentar lagi juga bakalan ketemu sama bidadari gue yang lebih cantik dari pada cewek lu tu." dia kesel karena dikatai jomblo, padahal dia emang jomblo.
"Dih...gak bakalan ada yang bisa ngalahi kecantikan Rania ku."
Begitu nasi didalam piringnya sudah habis, dia langsung beranjak dari kursi dan segera meninggalkan sahabatnya yang bengong.
"Pak dul ya man. Entar gue transfer." teriaknya begitu di depan pintu restaurant tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
(Pak dul sama dengan pake dulu)
"Dih CEO tukang ngutang lu." balasnya tak kalah kuat.
Hardin langsung memacu mobilnya menuju sekolah Rania. Tiba tiba dia teringat kalau dia gak tahu dimana sekolah gadisnya itu. Dia menepikan mobil dan mengirim chat.
H : Sekolah kamu dimana? jalan apa?
Sambil menunggu balasan, Hardin menjalankan mobilnya dengan perlahan.
Triinting
R : Aku sekolah di sekolah Kebangsaan kak. Alamatnya di jalan perintis kemerdekaan. Kalo kakak udah sampai kabari aku ya.
Setelah mendapat alamat sekolah Rania, dia pun kembali memacu mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan sedang ramai. Tak lama kemudian dia pun tiba di sekolah dan menepikan mobilnya.
Dia lihat jam masih menunjukkan pukul dua kurang 5 menit. Diambillnya hp untuk memberi kabar pada Rania jika dia sudah menunggu di dekat gerbang sekolah.
H : kakak sudah sampai ya. Di dekat gerbang sekolah kamu mobil warna hitam. (sent)
Teet...teet...teeet
Suara yang sangat ditunggu tunggu oleh tiap siswa termasuk tiga dara manis.
"Leha, mana buku yang mau gue pinjam.?" Rania bertanya pada Leha.
"Nih beb. Ada 5 pelajaran nih yang kemaren banyak catatannya."
"Astogee...banyak banget siih. Bisa keriting ni jari nyalinnya."
"Yaudah sih pelan pelan aja Ran. Karena menurut gue tu catatan penting juga untuk persiapan ujian kita."
"Jalan yuk guys." Miskah merangkul pundak kedua sahabatnya.
"Heheheh." Rania hanya menanggapinya dengan cengiran khasnya.
"Oke gue tau jawabannya, lu gak bisa ya kan?" Miskah menebak karena sudah hapal betul dengan sahabatnya itu.
"Hehe..Iyaa nih. Tapi sebagai gantinya gue bakal kenali kalian sama cowok gue, karena dia udah di depan tuh. Gimana.?"
"Wokeeeeh." jawab mereka berdua serempak.
Mereka bertiga pun berjalan menuju gerbang. Rania menoleh ke kanan dan ke kiri dan akhirnya melihat mobil Hardin. Dia pun berjalan mendekati dan Hardin pun keluar dari mobil.
"Hai kak. Udah lama.?" tanya nya.
"Gak kok, baru sekitar 15 menit yang lalu." Hardin menatap Rania sambil tersenyum manis.
"Ehem..eheem. Ada dua cewek manis juga lho disini. Berasa nyamuk deh kita." Miskah mengganggu kegiatan yang mulai sekarang menjadi kebiasaannya.
"Eh iya. Kak kenalin ini sahabat sahabat aku." Rania memperkenalkan dua gadis manis di belakangnya.
"Miskah. Sahabat Rania yang paling kece."
"Juleha. Panggil aja Leha."
"Gue Hardin."
"Cakep amat sih kak Hardin. Ada adiknya gak buat aku. Aku masih jomblo nih." siapa lagi yang ganjen diantara mereka bertiga selain mbak Miskah.
"Ya elah Miis. Jaim dikit napa sih luu. Baru kenal juga, malu maluin Rania aja deh." gerutu Leha melihat keganjenan sahabatnya yang gak tau malu itu.
"Lah emang napa? gak salah kan gue nanya gitu, lagian gue juga kan emang jomblo. Kali aja si kak Hardin punya adik atau teman yang gantengnya kayak dia. Ya kan kak?"
Sedangkan yang ditanya hanya mengkerutkan kening dan tersenyum sedikit. Rania ku emang paling beda. Gak bakalan ada yang bisa ngalahin gadis ku ini. Ucap Hardin dalam hati sambil menatap lembut ke arah Rania.
"Yaudah...kalian udah kenal kan. Sekarang gue mau pulang dulu. Bye." Rania melambaikan tangan pada sahabatnya dan masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Hardin.
"Aaaa...sweet banget sih kaaak. Jangan lupa ya kak sama pesan aku tadii." ucap Miskah sambil sedikit menjerit.
Hardin pun melajukan mobilnya dengan perlahan. Awalnya mereka hanya saling diam dan suasana di mobil sangat hening. Sampai akhirnya Rania bertanya pada Hardin untuk memecah kesunyian.
"Tadi gak susah kan kak nyari sekolah Ran?"
"Enggaklah. Kan aku juga sedikit banyak tau jalan." sambil matanya tetap fokus melihat kearah depan.
"Oya, kakak tadi udah makan.?"
"Tadi pas kamu balas chat kakak, kakak lagi makan."
"Ran...kakak boleh minta sesuatu gak.?" sambungnya sambil menoleh sedikit ke arah Rania.
"Eumm...minta apa kak.?"
"Mulai sekarang kamu manggilnya jangan kakak ya. Kita kan udah pacaran, masa manggilnya kakak."
"Jadi aku manggilnya apa dong.?"
"Ya terserah kamu mau manggil apa. Tapi yang bagus ya panggilannya jangan yang aneh aneh." ucap Hardin tertawa kecil.
"Emmh...gimana kalo aku panggilnya mas aja.?" Rania merasa malu mengucapkan kata mas, pasti mukanya sekarang sudah memerah.
"Boleh juga tuh. Kalau gitu aku manggil kamu sayang aja ya."
Blush
Muka Rania pasti semakin merah karena panggilan Hardin untuknya. Sedangkan Hardin yang melihat itu merasa geram dan bawaannya mau cubit pipi Rania aja.
"Oke fix ya. Kamu panggil aku mas dan aku panggil kamu sayang. Setuju kan sayang.?"
"Eh...emm ii..iya deh mas." jawab Rania sambil menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Dan akhirnya mereka putuskan panggilan itu merupakan panggilan sayang mereka.
Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa like dan komen ya.