Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Hangat dan Panggilan Baru
Seminggu kemudian.
Sinar matahari sore menyusup lemah melalui jendela kamar mandi apartemen pengawasan. Uap hangat memenuhi ruangan kecil itu, membuat permukaan cermin menjadi buram. Arthur Rutherford berbaring santai di dalam bak mandi yang penuh busa. Kepalanya bersandar di tepian keramik dengan mata terpejam, menikmati belaian air hangat yang perlahan mengikis sisa ketegangan otot dari hari-hari penuh tekanan kemarin.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa menjadi manusia biasa. Bukan sebagai monster, bukan pula sebagai konsultan pembunuhan. Hanya seorang pria muda berusia dua puluh lima tahun yang sedang menikmati mandi sore. Mengingat ia tertangkap empat tahun lalu pada usia dua puluh satu tahun, ingatan tentang kenyamanan seperti ini terasa begitu jauh.
"Enak juga hidup normal," gumamnya pelan sambil menyunggingkan senyum kecil.
Ia menggerakkan jari-jarinya di dalam air, menciptakan riak-riak kecil. Dalam kepalanya, bayangan wanita dari khayalan semalam kembali muncul, lengkap dengan senyum lembut, genggaman tangan yang hangat, serta sebuah rumah kecil dengan taman yang asri. Bukan penthouse mewah, bukan pula genangan darah di atas karpet. Hanya sebuah kehidupan yang bersahaja. Ia mengambil handuk kecil, meletakkannya di dahi, lalu mendesah panjang. "Kalau bisa begini terus, aku rela tidak akan pernah membunuh orang lagi."
Tiba-tiba, pintu kamar mandi dibuka dengan satu entakan keras.
Brak!
"Rutherford! Keluar sekarang!"
Arthur tersentak. Air di dalam bak beriak hebat karena gerakannya yang kaget, membuat handuk kecil di dahinya meluncur jatuh ke dalam air. Manuel Vin sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang. Ia masih mengenakan jaket kulitnya, dengan napas yang sedikit tersengal.
Arthur menatapnya dengan satu mata terbuka setengah, berekspresi datar. "Manuel, aku sedang berendam. Ini momen intim antara aku dan busa mandi. Kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu seperti orang normal?"
Manuel tidak memedulikan protes itu. Ia melangkah masuk, mengabaikan uap panas dan pemandangan Arthur yang hanya tertutup busa tipis. "Kasus baru. Besar. Dan kali ini melibatkan seorang Senator. Mereka membutuhkan kita sekarang juga."
Arthur menghela napas panjang, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke tepi bak. "Bisa tunggu lima menit? Aku sedang berusaha merasakan apa itu hidup damai. Kau datang seperti mantan istri yang sedang marah."
Manuel memutar bola matanya jengkel. "Keluar, atau aku tarik sumbat pembuangan airnya."
Arthur tertawa kecil, suaranya terdengar rendah dan sarkastik. "Keras sekali. Baiklah, baiklah. Beri aku handuk. Jangan sampai aku keluar tanpa sehelai benang pun dan membuatmu trauma seumur hidup."
Manuel melempar handuk dengan kasar ke arahnya sambil membalikkan badan. Arthur bangkit perlahan, membiarkan air menetes dari tubuhnya yang atletis. Sambil mengeringkan badan, ia kembali bercanda. "Kau tahu, di penjara aku hanya mandi air dingin menggunakan gayung. Bak mandi ini sudah sangat mewah bagiku. Kalau kau menggangguku setiap kali aku sedang menikmatinya, aku bisa saja kembali menjadi pembunuh karena stres."
"Lucu sekali," kata Manuel datar. "Namun, kasus kali ini sama sekali tidak lucu."
Arthur keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang, sementara rambut hitamnya masih basah menetes. Setelah mengenakan kaus hitam longgar dan celana olahraga, ia duduk di sofa ruang tamu. Manuel ternyata sudah menyiapkan sebuah map tebal di atas meja.
"Ceritakan," kata Arthur sambil menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari-jari tangan. "Senator siapa? Dan kenapa mereka membutuhkan monster seperti aku lagi?"
Manuel duduk di depannya, wajahnya tampak sangat serius. "Senator Elias Grant, lima puluh delapan tahun. Seluruh keluarganya ditemukan tewas di rumah mewah mereka di Hamptons kemarin malam. Istri, dua anak, dan seorang pengawal pribadi. Semuanya dieksekusi dengan cara yang rapi, sangat mirip dengan gaya profesional, tetapi memiliki simbolisme psikologis yang rumit."
Arthur mengangkat sebelah alisnya, pertanda bahwa minatnya mulai terbangkitkan. "Simbolisme seperti apa?"
Manuel membuka map tersebut, lalu mendorong beberapa foto tempat kejadian perkara ke hadapan Arthur. "Setiap korban ditinggalkan dengan satu kartu remi yang diletakkan di atas tubuh mereka. Kartu King of Spades di dada Senator, Queen of Hearts pada sang istri, serta Jack dan Ten untuk kedua anak mereka. Sementara sang pengawal pribadi mendapatkan kartu Joker."
Arthur mengambil foto-foto itu satu per satu. Mata hijaunya menyipit fokus, dan ekspresi santainya lenyap seketika, digantikan oleh tatapan dingin seorang predator.
"Pembunuhnya sangat pintar," gumam Arthur sambil mengamati sudut pemotongan kartu yang sangat presisi. "Menggunakan tema kartu remi berarti dia memandang kejahatan ini sebagai sebuah permainan. King dan Queen mewakili kepala keluarga yang mengendalikan segalanya. Jack dan Ten adalah generasi muda atau bidak masa depan. Sementara Joker disematkan untuk pengawal yang dianggap sebagai lelucon karena gagal melindungi mereka. Rumahnya terkunci dari dalam, bukan? Tidak ada tanda paksa masuk, dan kamera pengawas mati tepat sebelum kejadian."
Manuel mengangguk, sedikit terkejut karena Arthur bisa menebak detail operasionalnya. "Benar. FBI sudah turun tangan, tetapi mereka menemui jalan buntu. Senator Grant adalah kandidat kuat untuk pemilu gubernur mendatang, sehingga tekanan dari otoritas atas sangat besar. Mereka meminta kita, atau lebih tepatnya kemampuan analisismu, untuk ikut bergabung."
Arthur menyandarkan punggungnya ke sofa, menyunggingkan senyum miring meskipun sorot matanya tetap serius. "Jadi aku naik kelas dari pembunuh berantai menjadi konsultan Senator. Lucu juga hidup ini. Seminggu lalu aku masih mendekam di sel, sekarang aku bisa mandi busa dan langsung disuruh menangkap pembunuh politisi."
Ia diam sejenak, menatap foto keluarga Grant yang sempat tersenyum bahagia di dalam salah satu bingkai gambar. "Secara psikologis, ini sangat mendalam. Pembunuh ini tidak bergerak karena dendam personal yang dangkal. Dia ingin menghancurkan citra keluarga yang sempurna di mata publik. Mungkin ada rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik kemewahan keluarga ini, entah itu korupsi, perselingkuhan, atau trauma masa lalu."
Manuel mengusap wajahnya yang tampak kelelahan. "Kita harus berangkat ke Hamptons besok pagi-pagi sekali. Kau ikut?"
Arthur menatap langit-langit ruangan beberapa saat. Bayangan kehidupan normal yang ia impikan sejak seminggu lalu kembali berputar di benaknya, sebuah rumah kecil, wanita yang tersenyum hangat, dan anak-anak yang berlarian. Namun, realitas menyentaknya kembali melalui berkas kasus baru yang memanggilnya pulang ke dunia kegelapan.
Ia menghela napas panjang. "Aku ikut. Namun, kali ini aku meminta syarat baru."
"Apa?"
"Aku boleh bercanda seenaknya, dan kau tidak boleh marah kalau aku berasumsi bahwa keluarga politisi ini mungkin jauh lebih busuk daripada diriku yang dulu."
Manuel tertawa sinis, meskipun ia tidak bisa menyangkal kebenaran ucapan itu. "Setuju. Namun, kalau kau mulai bertingkah aneh, aku sendiri yang akan menembak kakimu."
Arthur menyeringai lebar. "Santai, Manuel. Aku masih ingin menikmati mandi busa besok-besok. Aku tidak mau lumpuh."
Mereka menghabiskan sisa sore itu untuk membedah setiap detail teknis kasus. Arthur menganalisis setiap foto dan catatan kecil dengan tingkat kecerdasan yang menyeramkan. Sesekali ia menyelipkan lelucon sarkastik yang membuat Manuel menggelengkan kepala, tetapi di balik humor gelap itu, terdapat lapisan analisis psikologi yang sangat tajam. Hal itu membuat Manuel semakin yakin bahwa meskipun Arthur berbahaya, untuk saat ini dia adalah aset terbaik yang mereka miliki.
Malam pun semakin larut menyelimuti kota. Arthur kembali melangkah ke kamar mandi untuk mengisi kembali bak mandinya dengan air hangat. Ia memutuskan untuk berendam sekali lagi sambil memetakan pola pikir sang pelaku di dalam kepalanya. King of Spades. Queen of Hearts. Simbolisme yang sangat matang.
"Siapa pun kau," gumam Arthur pelan memecah keheningan air hangat, "kau sedang bermain kartu dengan orang yang salah."
Di ruang tamu, Manuel duduk sendirian di meja kerja. Ia menatap map kasus dengan guratan kekhawatiran yang mendalam. Kasus ini jelas bukan sekadar tentang pembunuhan massal biasa. Ini melibatkan pusaran kekuasaan, rahasia tingkat tinggi, dan mungkin ancaman yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Sementara itu, jauh di sudut mewah Hamptons, sang pembunuh yang meninggalkan kartu remi masih berkeliaran dengan bebas, mungkin sedang tersenyum puas menyaksikan badai kekacauan yang berhasil ia ciptakan.
Arthur akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, lalu tersenyum tipis ke arah Manuel. "Besok pagi kita berangkat. Namun, sebelum itu, aku mau memesan pizza terlebih dahulu. Kerja otak seorang jenius membutuhkan asupan energi yang cukup."
Manuel hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. "Kau ini sebenarnya monster atau manusia biasa?"
Arthur hanya tertawa ringan sambil melangkah menuju dapur. "Kadang-kadang, aku sendiri juga bingung, Manuel."