Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.
Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.
Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Rumah Kosong di Ujung Lorong
Pemandangan anak-anak yang bermain di taman itu perlahan membawa pikiran Alden melayang jauh merentang waktu ke masa lalu.
Dulu, belasan tahun yang lalu, tempat ini tidak pernah sepi dari satu sosok yang sangat ia kenal di dalam hidupnya.
Sosok gadis cerewet yang selalu mengomel tanpa lelah setiap kali melihat Alden duduk melamun sendirian dengan wajah ditekuk di bangku taman itu.
Rumah gadis itu berada tepat di lorong samping taman, tidak sampai seratus langkah kaki dari tempat Alden sekarang duduk bersandar.
Anjani Lestari.
Nama itu bergetar hebat di dalam benaknya.
Dulu, setiap kali Alden berada di taman ini untuk meluapkan emosi, Anjani hampir selalu muncul entah dari mana, membawa senyuman khas yang terpatri kuat dan sulit sekali ia lupakan hingga hari ini.
Dorongan rasa rindu yang tiba-tiba memuncak dan menyesakkan dada membuat Alden spontan bangkit dari bangku kayu tersebut.
Tanpa berpikir panjang lagi tentang kondisi fisiknya, ia mulai melangkah mantap menyusuri jalan setapak yang sudah sangat akrab di dalam ingatannya.
Jalan yang dulu sering ia lewati bersama gadis itu, entah untuk berjalan beriringan atau sekadar menanggapi omelan Anjani dengan gurauan ringan yang menyebalkan.
Meskipun langkah kakinya perlahan terasa semakin berat karena rasa lelah yang mengintai, namun di saat yang sama, gerakannya justru semakin cepat didorong oleh rasa penasaran.
Jantung Alden mulai berdegup kencang, berkejaran dengan waktu, seolah tubuhnya sendiri menyadari sepenuhnya bahwa ia sedang berjalan mendekati sesuatu yang selama sembilan tahun ini ia kubur dalam-dalam di dasar kesadaran.
Rumah itu... kini terasa semakin dekat di ujung pandangan.
Bagai mesin waktu, setiap jengkal langkah yang ia ambil seolah membawa kembali serpihan-serpihan kenangan manis dan getir yang selama ini berusaha ia simpan rapat di sudut memori.
Kenangan itu terbukti tidak pernah benar-benar mati atau hilang; mereka hanya tertidur pulas oleh waktu.
Namun, semakin dekat ia menuju titik lokasi rumah itu, semakin banyak pula pertanyaan spekulatif yang bermunculan dan berputar-putar di dalam benaknya, membuat kepalanya berdenyut.
Bagaimana kabar penghuni rumah itu sekarang?
Apakah semuanya masih berjalan sama seperti yang terakhir kali ia ingat sembilan tahun lalu?
Atau justru struktur kehidupan di sana sudah berubah begitu jauh hingga tidak lagi bisa dikenali?
Alden mengembuskan napas pelan untuk mengurangi ketegangan di dadanya.
Lalu, muncul satu pertanyaan krusial yang sejak tadi mati-matian berusaha ia hindari, pertanyaan yang diam-diam membuat rongga dadanya terasa sangat sesak dan nyeri.
Apakah Anjani sudah menikah dan memiliki keluarga sendiri?
Sembilan tahun bukanlah rentang waktu yang singkat bagi seorang wanita.
Dalam jarak sepanjang itu, banyak hal besar bisa terjadi di dalam hidup seseorang. Banyak takdir kehidupan yang berubah arah secara radikal. Dan kemungkinan Anjani sudah bersanding dengan pria lain tentu saja terbuka sangat lebar.
Memikirkan kemungkinan pahit itu membuat langkah kaki Alden sempat melambat dan tertahan sesaat di atas aspal.
Namun, nuraninya segera berbisik bahwa ia sama sekali tidak memiliki hak untuk merasa kecewa atau patah hati.
Selama sembilan tahun pelariannya, bukan Anjani yang menjauh atau menghilang.
Dirinyalah yang secara sadar memilih pergi memutus benang merah.
Ia tidak pernah sekalipun mencoba menghubungi gadis itu lagi. Tidak pernah menanyakan kabarnya pada tetangga. Tidak pernah mencoba mencari tahu bagaimana hidup Anjani berjalan setelah ia tinggalkan. Bahkan nomor telepon, foto, dan segala pernak-pernik yang berkaitan dengan Anjani sengaja ia singkirkan satu per satu dari kamarnya dulu sebelum terbang ke Perth.
Bukan karena ia benar-benar ingin melupakan Anjani. Justru karena Alden tahu persis bahwa dirinya tidak akan pernah mampu melupakannya jika terus melihat peninggalan itu.
Maka, satu-satunya cara defensif yang bisa ia lakukan saat itu adalah menjauh sejauh mungkin secara geografis, berharap waktu dan jarak akan menghapus perasaan bersalah yang tak pernah sempat menemukan tempatnya.
Namun ternyata, teori itu salah besar. Waktu tidak pernah menghilangkan rasa. Waktu hanya mengajarkannya cara menyimpan rasa itu dengan lebih rapi dan dalam, hingga meledak saat tubuhnya ringkih seperti sekarang.
Dan yang paling sulit untuk didepak dari kepalanya bukanlah perasaannya yang tersisa, melainkan cara tragis bagaimana mereka menjauh dulu.
Tatapan mata Anjani yang penuh luka di hari terakhir. Kata-kata kejam terakhir yang keluar dari mulut Alden. Serta rentetan kesalahan fatal yang hingga hari ini masih ia sesali setengah mati.
Sesuatu yang selalu kembali hadir sebagai mimpi buruk setiap kali nama Anjani melintas.
Sesuatu yang membuatnya sadar bahwa kisah mereka masih menyisakan satu lembar halaman gantung yang belum pernah benar-benar selesai diberi titik penutup.
Anjani pasti sangat membenciku.
Pikiran intimidatif itu muncul begitu saja di kepalanya. Tajam, menyakitkan, dan seperti biasa, selalu berhasil menusuk bagian terdalam dari hatinya yang rapuh.
Bukankah memang ia sendiri yang memilih kabur meninggalkan tanah air?
Ia juga yang dahulu menginginkan dengan keras agar Anjani enyah dari kehidupannya.
Ia yang mengucapkan untaian kata makian yang seharusnya tidak pernah diucapkan oleh seorang manusia, serta memberikan perlakuan kasar yang menghancurkan harga diri gadis malang itu.
Penyesalan itu kembali datang merangsek, menghantam dadanya tanpa ampun hingga ia harus menghentikan langkah sejenak untuk meraup oksigen.
Meski sembilan tahun telah berlalu dan ego remajanya telah mati, sebagian dari eksistensi Alden nyatanya masih terjebak pada hari kelam itu, pada sebuah perpisahan egois yang tidak pernah bisa ia maafkan sendiri.
Namun, ketika siluet bangunan yang ia tuju mulai terlihat jelas di ujung jalan kompleks, seluruh pergolakan batinnya mendadak berhenti total.
Langkah kaki Alden melambat drastis, lalu berhenti sama sekali di atas trotoar.
Napasnya tercekat di tenggorokan. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi tidak percaya, campur aduk antara syok dan hancur.
"Ini..." Suaranya bergetar, nyaris tidak terdengar, lenyap ditelan udara sepi.
Rumah mungil yang selama sembilan tahun ini hidup dengan warna-warna hangat dan utuh di dalam ingatan indahnya, kini sudah tidak ada lagi. Atau setidaknya, itu bukan lagi rumah asri yang ia kenal dulu.
Bangunan fisik itu memang masih berdiri di atas sebidang tanah yang sama, namun seluruh kehangatan hidup yang dulu melekat erat padanya seolah-olah telah lenyap dikuras tanpa sisa.
Struktur atapnya tampak hancur dan rusak parah di beberapa bagian, menyisakan lubang-lubang menganga yang memperlihatkan langit-langit yang lapuk.
Dinding rumah yang dulu dicat bersih kini tampak kusam, menghitam oleh jamur, dan dipenuhi retakan menjalar yang mengerikan.
Rumput-rumput liar tumbuh tinggi tak beraturan hingga menutupi sebagian besar halaman depan yang dulunya rapi.
Tanaman merambat menjalar liar ke mana-mana tanpa kendali, melilit tiang teras seolah perlahan-lahan sedang menelan bangunan tua itu sedikit demi sedikit ke dalam perut bumi.
Pagar besi yang dahulu selalu terlihat kokoh, bercat putih, dan terawat kini dipenuhi oleh karat merah yang mengelupas; beberapa bagian engselnya bahkan telah bengkok dan nyaris roboh menyentuh tanah.
Jendela-jendela kayu di lantai satu dan dua tertutup rapat, berdebu tebal.
Tidak ada suara aktivitas dari dalam. Tidak ada pendar cahaya lampu. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan manusia. Yang tersisa di sana hanyalah kesunyian yang mencekam dan aroma kepunahan.
Alden menelan ludah susah payah, tenggorokannya terasa sekering gurun.
Perlahan dan dengan tungkai yang gemetar hebat, ia melangkah mendekati pagar besi yang sudah reyot itu.
Matanya menyapu dengan nanar setiap sudut halaman, mencari serpihan kecil apa pun yang masih ia kenali, sesuatu yang bisa meyakinkannya bahwa tempat mati ini memang rumah yang sama dengan rumah Anjani yang dulu.
Dan dalam detik-detik keheningan itu, kenangan-kenangan masa lalu pun kembali berhamburan keluar menyerang kepalanya.
Ia masih ingat betul halaman ini dulu dipenuhi oleh pot-pot bunga warna-warni yang dirawat Tante Rahayu, ibu Anjani.
Ia masih ingat jelas siluet sosok Anjani yang duduk di anak tangga teras sambil mengikat tali sepatu sebelum mereka berangkat sekolah bersama.
Semua memori itu terasa begitu hidup dan nyata, seolah baru saja terjadi kemarin sore.
Namun, realita fisik rumah di hadapannya sekarang tidak menyisakan jejak kehidupan yang sama sedikit pun.
Rumah itu tampak seperti bangunan mati yang telah bertahun-tahun ditinggalkan oleh pemiliknya, seolah para penghuninya pergi tergesa-gesa karena suatu hal dan bersumpah tidak akan pernah kembali lagi.
"Jadi... benar-benar nggak ada siapa-siapa lagi di sini..."
Suara Alden terdengar sangat lirih, hampir patah dan tercekat di akhir kalimat.
Ia tetap bergeming berdiri di sana dalam posisi tegak yang dipaksakan, memandangi rumah kosong itu tanpa berkedip sedikit pun, seolah jiwanya masih berharap bisa menemukan satu keajaiban atau tanda kecil yang dapat membantah kenyataan pahit yang sedang berdiri tepat di hadapannya.
Namun, tidak ada keajaiban pagi itu, yang ada hanya sunyi yang tuli.
Perasaan Alden mendadak gamang dan kosong, seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat berhasil ia temukan kembali.
Jika rumah ini saja sudah kosong melompong dan ditinggalkan tak terurus begini, lalu ke mana lagi ia harus melangkah untuk mencari keberadaan Anjani di kota sebesar Jakarta ini?
Sembilan tahun telah berlalu. Terlalu banyak waktu yang terbuang sia-sia. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Dan tiba-tiba, Alden dihantam oleh sebuah kesadaran yang menakutkan bahwa betapa sedikitnya informasi yang ia ketahui tentang gadis itu setelah mereka melewati masa remaja.
Ia tidak memiliki nomor telepon terbarunya. Ia tidak tahu alamat kerabatnya. Ia tidak tahu di mana Anjani melanjutkan kuliah atau di perusahaan mana ia bekerja sekarang. Ia tidak tahu apa pun.
Anjani seakan-akan telah menghilang sepenuhnya dari muka bumi tanpa meninggalkan jejak fisik sedikit pun, selain kenangan abstrak yang masih tersimpan rapi di dalam hati dan kepala Alden yang mulai melemah.
Alden menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga paru-parunya yang terasa menyempit, namun udara sejuk Minggu pagi itu terasa tidak cukup untuk meredakan rasa sesak dan nyeri yang perlahan memenuhi dadanya.
Setiap jengkal langkah yang membawanya kembali ke tempat ini justru seolah menegaskan satu kenyataan kejam yang selama ini berusaha ia hindari bahwa mungkin... ia memang benar-benar sudah terlambat.
Waktunya yang tinggal sepuluh bulan tidak akan pernah cukup untuk mencari seseorang yang telah hilang tanpa jejak.
Dan saat pikiran putus asa itu muncul ke permukaan, sebuah suara halusinasi yang sangat dikenalnya kembali hadir berdengung kencang dari sudut ingatannya yang paling dalam.
"Alden, ini kan yang dulu kamu inginkan? Supaya aku pergi sejauh mungkin dari hidup kamu. Supaya kamu nggak perlu lagi merasa terganggu atau risih oleh keberadaan aku di dekatmu."
Dadanya langsung mengencang hebat laksana diikat tali baja.
Alden memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dahi dan rahangnya mengeras menahan gempuran emosi.
Suara itu tidak benar-benar ada di sana, ia tahu itu hanya proyeksi rasa bersalahnya. Namun, kenangan terkadang memiliki cara yang teramat kejam untuk kembali hidup dan menyiksa manusia di saat kondisi fisiknya sedang berada di titik terendah.
Nggak, Jani... Aku salah. Dulu aku bodoh, batin Alden berteriak pilu, rahangnya gemetar.
Aku sangat menyesal atas semua ucapanku dulu. Aku ke sini cuma ingin minta maaf...
Angin pagi berembus agak kencang, melewati lorong sepi di samping rumah kosong itu, menerpa wajah pucat Alden, namun dinginnya angin tetap tidak mampu mengusir rasa sesak yang terus mengendap dan mengkristal di dalam dirinya.
Kepala Alden sedikit menunduk layaknya seorang pesakitan di ruang sidang takdir. Jemarinya mengepal erat tanpa sadar di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih.
Pada detik itu, di depan rumah yang hancur, ia membiarkan dirinya mengakui sesuatu yang selama sembilan tahun ini selalu ia sangkal dan tekan dalam-dalam bahwa bukan kehilangan sosok Anjani yang paling menyakitkan dari skenario ini, melainkan kenyataan pahit bahwa ia sendirilah yang dengan sadar dan kejam mendorong gadis itu pergi dari hidupnya.
Dan kini, ketika akhirnya maut mengintai dan ia ingin memperbaiki semuanya sebelum mati, yang tersisa untuknya hanyalah sebuah rumah kosong yang hancur dan penyesalan sedalam samudra yang datang terlalu terlambat.
bersambung...
bantu follow dan baca ya🙏