NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Malam setelah Alexander mengucapkan janji suci itu, Aurora sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Kamarnya sudah gelap gulita, namun sepasang matanya masih menatap lurus ke langit-langit kamar dengan binar yang tak meredup. Sementara itu, seulas senyum manis terus terukir di bibirnya.

"Aku pasti akan menikahimu."

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya, berputar tanpa henti seperti melodi indah yang diputar berulang-ulang di dalam kepalanya.

"Aku benar-benar sudah gila," gumam Aurora pelan sembari menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya yang mendadak memanas. Namun tetap saja, senyuman itu tidak bisa disembunyikan.

Di luar kamar, jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Lily yang baru saja keluar untuk mengambil segelas air minum di dapur mendadak menghentikan langkahnya saat melihat siluet Aurora yang berjalan mondar-mandir di ruang tengah.

"Aurora?" panggil Lily memecah kesunyian malam.

Aurora langsung tersentak dan menoleh patah-patah. "E-eh? Iya, Lily?"

Lily menyipitkan matanya penuh selidik, lalu melangkah mendekat dengan senyum jahil yang terkembang lebar. "Kenapa kamu belum tidur jam segini? Jangan bilang... Alexander lagi?"

Wajah Aurora seketika merah padam. Karena terlanjur malu, ia refleks menyambar bantal sofa terdekat lalu melemparkannya tepat ke arah sang sahabat. Lily dengan lincah menghindar sambil tertawa puas melihat Aurora yang salah tingkah setengah mati.

---

Keesokan harinya, Aurora melangkah masuk ke area kampus dengan suasana hati yang luar biasa baik. Aura kebahagiaan terpancar begitu kuat dari dirinya. Sepanjang koridor, ia tidak bisa berhenti tersenyum ramah kepada siapa saja yang berpapasan dengannya.

Bahkan saat di dalam kelas, dosen mereka yang biasanya terkenal killer dan galak sampai menghentikan penjelasannya sejenak, lalu menatap Aurora heran. "Aurora Quinn, sepertinya Anda sedang mendapatkan kabar yang sangat baik hari ini?"

Pertanyaan itu spontan membuat teman-teman sekelasnya menoleh. Aurora yang terkejut hanya bisa menahan tawa, lalu menggelengkan kepala cepat untuk sopan santun.

Sepanjang sisa hari itu, New York terasa berkali-kali lipat lebih indah di mata Aurora. Langit musim gugur terlihat jauh lebih cerah, alunan musik yang mengalun dari earphone-nya terdengar lebih menyenangkan, dan bahkan aroma kopi di kafe tempatnya bekerja terasa jauh lebih nikmat dari biasanya.

Semua itu terjadi karena satu hal. Untuk pertama kalinya di dalam hidupnya yang penuh dengan kepahitan, Aurora benar-benar membiarkan dirinya percaya bahwa ia pantas dicintai sedalam itu oleh seseorang.

---

Sore harinya, lonceng di pintu kafe berdenting. Alexander melangkah masuk dengan setelan kemeja formalnya yang rapi. Seperti biasa, tanpa perlu diantar, pria itu langsung berjalan dan menduduki meja favoritnya di sudut ruangan.

Aurora segera berjalan menghampiri dengan buku catatan kecil di tangannya. "Mau pesan menu seperti biasa, Tuan CEO?" goda Aurora dengan nada bercanda.

Alexander tidak langsung menjawab. Pria itu justru menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap lekat-lekat ke arah Aurora tanpa mengalihkan pandangannya barang sedetik pun.

Ditatap seintens itu membuat Aurora mendadak gugup. "Kenapa, sih? Kok malah melihatiku begitu?"

Alexander mengulas senyum menawan yang teramat tipis. "Kamu cantik hari ini."

Aurora langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba menyembunyikan pipinya yang mulai merona. "Rayuan murahan."

Alexander tertawa renyah melihat respons defensif kekasihnya. "Tapi rayuan murahanku selalu berhasil membuat wajahmu memerah, kan?"

Aurora ingin sekali membantah kalimat itu, namun lidahnya mendadak kelu. Karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa semua perkataan Alexander mutlak benar. Pria itu selalu memiliki cara untuk meruntuhkan pertahanannya.

---

Malam harinya, mereka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki menyusuri trotoar di sekitar Times Square. Lampu-lampu papan reklame raksasa berkilauan dengan megah, memayungi ribuan orang yang berlalu-lalang memadati pusat kota. Namun, di tengah hiruk-pikuk New York yang bising, dunia seolah-olah sengaja dikecilkan, hanya menyisakan ruang untuk mereka berdua.

"Kalau saat ini kamu diberi kesempatan untuk meminta satu hal kepada dunia," ujar Alexander membuka obrolan di tengah langkah kaki mereka, "apa yang paling ingin kamu minta, Aurora?"

Aurora menghentikan langkahnya sejenak. Ia tampak berpikir serius, lalu menoleh menatap Alexander dengan senyuman paling tulus yang pernah ia miliki.

"Aku ingin waktu berhenti berputar sekarang juga," jawab Aurora lembut.

Alexander ikut menghentikan langkahnya, menatap Aurora dengan dahi berkerut halus. "Kenapa?"

Aurora menggigit bibir bawahnya pelan, mendadak merasa sedikit malu karena harus mengutarakan isi hatinya secara gamblang. "Karena... karena saat ini aku merasa sangat bahagia, Alex."

Deg.

Dada Alexander berdesir hebat mendengar pengakuan polos itu.

"Aku tidak tahu masa depan seperti apa yang sedang menunggu kita di depan sana," lanjut Aurora dengan binar mata yang meluapkan rasa syukur. "Aku juga tidak tahu rintangan apa yang akan terjadi nanti. Tapi untuk detik ini..." Aurora tersenyum manis, membiarkan angin malam menerpa wajahnya. "Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di seluruh dunia."

Alexander tertegun di tempatnya berdiri. Ia menatap gadis di hadapannya cukup lama, merekam setiap detail ekspresi bahagia yang terpahat di wajah Aurora ke dalam memorinya.

Tanpa memedulikan pandangan orang-orang di sekitar Times Square, Alexander melangkah maju dan langsung menarik Aurora ke dalam dekapan hangatnya. Ia memeluk tubuh mungil gadis itu dengan teramat erat, seolah ingin melindunginya dari segala hal buruk di dunia ini.

"Aku berjanji, Aurora," bisik Alexander tepat di pucuk kepala gadis itu, suaranya terdengar begitu berat dan penuh komitmen. "Aku akan melakukan apa pun untuk membuat kamu tetap bahagia seperti ini."

Aurora perlahan menutup kedua matanya, membalas pelukan itu dengan perasaan lega yang membuncah. Ia memercayai setiap bait janji yang keluar dari bibir pria yang dicintainya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!