NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 3: PESUGIHAN KANDANG BABI Bab 1: Tumbal Pertama

EPS 3: PESUGIHAN KANDANG BABI

Bab 1: Tumbal Pertama

Jam di hape Rendi nunjukin 01:17. Hujan baru aja reda, ninggalin jalan tanah menuju Desa Karangasem jadi becek dan licin. Motor bututnya batuk-batuk waktu nanjak di depan gapura desa yang catnya udah ngelotok. Tulisan "Selamat Datang" tinggal "Sel...tang". Di bawahnya, ada sesajen kecil: kembang telon, pisang raja, sama kemenyan yang masih ngebul tipis. Bau melati campur anyir langsung nyengat pas Rendi nurunin standar motor.

"Anjing, jam segini masih ada yang bakar menyan," gumamnya. Bulu kuduknya udah naik dari tadi, sejak dia belok dari jalan raya. Hawa desa ini beda. Berat. Kayak ada yang ngeliatin dari balik pohon bambu sepanjang jalan.

Rendi bukan orang baru di dunia beginian. Tiga tahun jadi jurnalis kriminal bikin dia kebal sama mayat, darah, sama jerit keluarga korban. Tapi tugas kali ini beda. Redaktur-nya maksa dia liputan ke Karangasem setelah 4 orang hilang dalam 2 bulan. Polisi bilang "orang hilang biasa". Warga bisik-bisik: "dijemput kandang babi".

Kandang babi. Dua kata itu yang bikin redakturnya matanya ijo. "Mistik, Ren. Pembaca kita suka. Angkat. Bikin merinding. Kalau bisa, live TikTok sekalian."

Rendi narik napas. Rumah yang dia tuju ada di ujung desa, paling pojok, deket sama hutan jati. Rumah Pak Warto. Satu-satunya orang yang anaknya balik, tapi nggak balik utuh.

Pintu kebuka sebelum Rendi ketuk. Pak Warto berdiri di kusen, kurus banget, matanya cekung, tapi tatapannya tajam kayak mau nancep. Umur 50-an, tapi keliatan 70. Di belakangnya, rumahnya gelap. Cuma ada satu lampu templok di meja.

"Mas Rendi dari kota?" suaranya serak, kayak orang nggak minum berhari-hari.

"Iya, Pak. Saya dari..."

"Masuk. Tapi lepas sendal. Jangan bawa becek ke dalam. Pamali."

Rendi nurut. Lantai tanah rumah itu dingin. Bau apak campur kencing kucing langsung nyerbu. Di pojokan, ada bale-bale bambu. Di atasnya, tiduran sesosok tubuh ditutup kain jarik lusuh. Kecil. Sekitar 8 tahun.

"Itu... anak Bapak?" Rendi nelen ludah.

Pak Warto ngangguk pelan. Dia nyalain rokok kretek, tangannya gemeter. "Namanya Wulan. Hilang tiga malam. Ketemunya di depan kandang babi Kaji Slamet. Pas subuh."

Kaji Slamet. Nama itu disebut di semua obrolan warga yang Rendi sadap di warung tadi. Orang paling kaya se-Karangasem. Punya sawah berhektar-hektar, ternak sapi, dan... kandang babi di belakang rumah gedongnya. Katanya, babinya gemuk-gemuk nggak wajar. Sebulan bisa panen 2 kali. Padahal nggak pernah keliatan beli pakan.

"Boleh saya lihat, Pak?" Rendi ngeluarin HP, niatnya foto.

"Jangan!" Pak Warto ngebentak, bikin Rendi kaget. "Dia... belum tenang."

Pelan-pelan, Pak Warto buka kain jariknya. Rendi refleks mundur setengah langkah. Pahit naik ke tenggorokannya.

Anak itu, Wulan, matanya kebuka. Melotot. Tapi yang bikin Rendi mual, kulitnya... gosong. Hitam legam kayak arang, retak-retak kayak tanah sawah musim kemarau. Rambutnya rontok. Bau sangit kebakar kecampur bau busuk nyengat banget. Tapi yang paling nggak masuk akal: di telapak tangan kanannya, ada jejak. Jejak kaki babi. Kecil, tapi jelas banget. Kayak dicap pake besi panas.

"Polisi bilang kebakaran," Pak Warto ketawa, pait. "Di mana kebakarannya? Rumah saya nggak kenapa-kenapa. Badannya nggak kena api, Mas. Badannya kayak... dimasak dari dalam."

Rendi mau muntah. Dia nutup idung. "Kandang babi Kaji Slamet... emang kenapa, Pak?"

Pak Warto ngisep rokoknya dalem-dalem. Asapnya ngebul, ngelingker di lampu templok. "Tiap malem Jumat Legi, dari kandang itu ada suara. Bukan suara babi. Suara orang nangis. Orang nggigil. Terus... suara ngorok. Gede. Kayak buto lagi kenyang."

"Terus anak-anak yang hilang..."

"Tumbal," potong Pak Warto. Matanya merah. "Kaji Slamet pesugihan. Babi ngepet. Tapi bukan dia yang jadi babi. Babinya yang nyari. Dia cuma nyiapin kandangnya. Tiap bulan purnama, harus ada yang 'sowan' ke kandang. Kalau nggak ada... ya babinya yang keluar nyari sendiri."

Grebek.

Suara itu dari atap. Kayak ada yang ngejatuhin goni pasir. Rendi sama Pak Warto spontan nengok ke atas. Grebek... srek... srek... Suara gesekan, kayak kuku nyakar genteng.

Pak Warto langsung matiin lampu templok. Gelap gulita. Cuma sisa bara rokoknya yang keliatan.

"Sstt..." bisiknya panik. "Diem. Jangan napas kekencengan."

Rendi merem, dengerin. Di atas genteng, suara itu berhenti tepat di atas mereka. Terus ada suara lain. Suara ngendus. Hufh... hufh... hufh... Kayak anjing ngendus, tapi berat, basah, sama gede. Bau anyir busuk tiba-tiba nembus dari sela-sela genteng. Bau darah sama tanah kuburan.

Jantung Rendi mau copot. Dia bisa ngerasain genteng di atasnya melengkung, kayak ada beban berat banget lagi jongkok di sana.

Satu menit. Dua menit. Rendi nggak berani kedip.

Terus... bruk. Suara lompat. Berat. Ke tanah, di samping rumah.

Hening.

Pak Warto nyalain lagi lampu templok, tangannya masih gemeter. Mukanya pucet. "Dia udah pergi. Tadi nyium bau orang asing. Bau kamu, Mas."

"Apa itu tadi, Pak?" suara Rendi bergetar.

"Penjaga," jawab Pak Warto lirih. "Kandang nggak pernah kosong. Kalo babinya keluar, penjaganya yang keliling."

Rendi ngeliat lagi ke Wulan. Mata anak itu kayaknya ngeliatin dia sekarang. Di kegelapan, Rendi bersumpah bibir gosong anak itu gerak. Bisikin satu kata yang nggak kedengeran, tapi Rendi tau artinya: giliranmu.

"Kaji Slamet rumahnya yang gedong, kan? Yang pagernya tinggi?" Rendi berdiri. Nekatnya sebagai jurnalis muncul lagi, ngalahin takutnya. "Saya mau ke sana sekarang."

"Gila kamu, Mas!" Pak Warto narik lengannya. "Jam segini? Malam Jumat Legi! Purnama! Kamu mau jadi tumbal kelima?!"

"Saya nggak percaya tumbal, Pak. Saya percaya bukti." Rendi ngecek baterai kamera. 80%. Cukup. "Kalau bener Kaji Slamet pelihara babi ngepet, saya yang bongkar. Besok nama Bapak ada di halaman satu."

Pak Warto nglepasin tangannya lemes. Dia ngliat Rendi kayak ngliat orang mati. "Ya udah. Kalo nekat. Tapi inget pesen saya, Mas Rendi."

Dia narik napas, terus ngomong pelan-pelan, berat: "Satu, jangan pernah nginjek tanah kandang kalo nggak diundang. Dua, kalau denger suara gamelan dari kandang, tutup kuping, lari. Tiga..."

Dia ndeket, bisik-bisik di kuping Rendi. Nafasnya bau tembakau sama pahit: "Kalo kamu liat babi tapi matanya kayak mata orang, jangan pernah tatap balik. Soalnya... sekali kamu tatap, dia tau kamu liat wujud aslinya. Dan wujud aslinya... nggak bakal biarin kamu hidup buat cerita."

Rendi angguk, meski tengkuknya dingin. Dia pamit, paksa senyum. Di luar, bulan purnama nongol utuh, gede banget, terangin jalan setapak menuju rumah gedong di ujung desa. Rumah Kaji Slamet.

Dari jauh, Rendi bisa liat. Di belakang rumah gedong itu, ada bangunan panjang dari kayu. Kandang babi. Gelap. Tapi di salah satu ventilasinya, ada cahaya. Merah. Kayak bara api.

Dan di telinganya, sayup-sayup kedengeran suara. Bukan gamelan.

Suara anak kecil ketawa. Hihihi... hihihi...

Sama persis kayak ketawa Wulan di foto yang dikasih Pak Warto tadi.

Rendi merinding dari ujung kaki ke ubun-ubun. Dia baru sadar, dia nggak bawa sendal keluar tadi. Kakinya nyeker, nginjek tanah Karangasem yang dinginnya nggak wajar.

Langkah pertama menuju kandang babi udah dia ambil.

Dan di atas genteng rumah Pak Warto, suara ngorok gede itu kedengeran lagi. Puas. Kayak habis nandain mangsa baru.

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!