Seorang pemuda pendiam meninggal dunia dan terlahir kembali sebagai bayi di dunia sihir yang persis seperti RPG kesayangannya. Ia menyimpan ingatan masa lalu, tapi di mata semua orang hanyalah anak desa biasa tanpa bakat apa pun. Padahal di dalam dirinya terpendam kekuatan langka: penguasa api, air, tanah, angin, dan petir sekaligus.
Diam-diam ia berlatih, pergi ke ibu kota, membentuk tim dengan sahabat dari berbagai ras, dan perlahan naik pangkat. Namun di balik kedamaian, kegelapan kuno sedang bangkit. Akankah kekuatan terbesarnya cukup melawan Raja Iblis, dan bisakah ia mengubah takdir dunia ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Menara di Tengah Lembah
Seluruh anggota tim tertegun memandang pemandangan yang terbentang di hadapan mereka. Di tengah lembah yang luas itu, menjulang tinggi sebuah menara batu raksasa yang tingginya mencapai hampir dua ratus meter. Bentuknya lurus dan kokoh, dibangun dari batu hitam yang memancarkan kilau samar, dengan ukiran-ukiran rumit melingkar di setiap lapisannya—pola yang dulunya melambangkan keseimbangan dan kesatuan kelima elemen alam, namun kini terlihat memutar terbalik dan berwarna gelap.
Di puncak menara itu, pusaran energi raksasa berwarna ungu pekat berputar dengan kecepatan yang semakin cepat. Ia terlihat seperti lubang angin besar yang menarik segala sesuatu di sekitarnya: daun-daun kering, debu, bahkan cahaya langit pun tersedot masuk ke dalamnya. Setiap kali pusaran itu berputar, ia mengirimkan gelombang energi yang terasa seperti goncangan halus namun menekan ke seluruh tubuh siapa pun yang berdiri di dekatnya.
“Ini dia… Pilar Penyeimbang yang telah berubah menjadi sumber kehancuran,” gumam Kapten Valerius dengan suara berat, matanya tidak berkedip memandang menara itu. “Dari jarak sejauh ini saja tekanannya sudah sekuat ini, aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika kita mendekatinya lebih jauh.”
Rey melangkah maju sedikit, mengangkat kotak penunjuk arah yang dibawanya. Cahaya keemasan di dalam kotak itu kini bersinar sangat terang hingga menerangi wajah mereka, dan ujung cahayanya mengarah tepat ke dasar menara, seolah memanggil mereka untuk mendekat. Ia bisa merasakan dua jenis energi yang bertabrakan di tempat itu: satu energi murni yang tersembunyi jauh di dalam inti pilar, dan satu lagi energi gelap yang melingkupinya seperti selubung tebal, berusaha menekan dan menguasainya sepenuhnya.
“Di dalam sana masih ada sisa kekuatan aslinya,” bisik Rey kepada Sylfia yang berdiri di sampingnya. “Energi kuno yang menjaga keseimbangan belum sepenuhnya mati, hanya terkurung dan ditekan. Jika kita bisa menembus selubung energi gelap itu, ada kemungkinan kita bisa mengembalikannya ke fungsi semula.”
“Tapi itu tidak akan mudah,” jawab Sylfia sambil mengamati lingkungan sekitar dengan pandangan waspada. “Lihat sekeliling kita—lembah ini tidak kosong. Kita sedang diawasi.”
Benar saja. Seolah mendengar kata-kata itu, dari balik bebatuan besar dan sisa bangunan yang hancur di sekeliling lembah, mulai muncul lebih banyak sosok makhluk yang telah terkontaminasi. Kali ini bentuknya lebih besar dan lebih mengerikan dibandingkan yang mereka temui sebelumnya. Ada yang bertubuh seperti beruang namun memiliki cakar sepanjang pedang, ada yang seperti burung besar dengan sayap yang terlihat seperti jaringan energi gelap, dan juga makhluk yang bentuknya kabur, terbuat dari campuran debu dan kabut yang bergerak seperti asap hidup.
Mereka mengelilingi lembah dari jarak yang cukup jauh, tidak langsung menyerang, tapi hanya berdiri mengawasi dengan mata yang bersinar ungu, seolah menunggu perintah atau saat yang tepat untuk melancarkan serangan.
“Ini sudah menjadi wilayah kekuasaan mereka sepenuhnya,” kata Morin, penyihir senior itu, suaranya terdengar tegang. “Jumlahnya terlalu banyak untuk kita lawan satu per satu. Jika mereka menyerang secara serentak, kita akan kesulitan mempertahankan diri sekaligus mendekati menara itu.”
Kapten Valerius segera menyusun strategi dengan cepat. “Kita bagi tugas. Morin dan dua penyihir lainnya akan membentuk lapisan pertahanan sihir untuk menahan gelombang serangan dan melindungi tim. Para prajurit akan membentuk barisan luar untuk menahan makhluk yang mendekat. Rey, Sylfia, dan aku akan bergerak maju menuju pintu masuk menara—karena kepekaan dan kemampuan kalian, kita yang paling berpeluang menembus ke dalam.”
Ia menatap seluruh anggota tim dengan pandangan yang mantap. “Ingat, jika situasi menjadi terlalu berbahaya dan kita tidak bisa melanjutkan, kita mundur bersama. Keselamatan seluruh tim tetap lebih penting daripada tujuan apa pun. Tapi selama kita masih bisa melangkah, kita akan berusaha mencapai tujuan kita.”
Setelah semua siap, dengan isyarat tangan Valerius, pertarungan pun dimulai. Gelombang sihir pelindung berwarna keperakan segera meluas mengelilingi posisi mereka, membentuk kubah yang memantulkan goncangan energi dari arah menara. Di luar kubah itu, makhluk-makhluk yang mengawasi tiba-tiba mengeluarkan raungan menggelegar dan melesat menyerang secara bersamaan.
Suara benturan senjata, ledakan energi, dan raungan makhluk memenuhi seluruh lembah. Para prajurit bergerak dengan terlatih, membentuk dinding pertahanan yang kokoh, sementara penyihir melepaskan serangan yang terarah untuk memukul mundur makhluk yang terlalu dekat. Meskipun jumlahnya banyak, makhluk-makhluk itu hanya bergerak mengikuti naluri gelap tanpa strategi, sehingga tim masih bisa mempertahankan posisi meskipun tenaga mereka mulai terkuras perlahan.
Di tengah kekacauan itu, Rey, Sylfia, dan Kapten Valerius mulai bergerak maju, berjalan menyusuri jalur yang terbentuk sementara. Rey memancarkan lapisan energi angin dan tanah yang melindungi mereka dari gumpalan energi gelap yang melayang di udara, sedangkan Sylfia menyorotkan cahaya lembut yang membuat makhluk-makhluk yang lewat sedikit tertekan dan menjauh dari jalur mereka.
Semakin dekat mereka mendekati menara, semakin kuat tekanan yang terasa. Napas menjadi lebih berat, langkah terasa seperti berjalan melawan arus air yang deras, dan suara di sekitar terasa semakin teredam seolah terbenam di dalam air. Ukiran di dinding luar menara itu kini terlihat sangat jelas—semua garis yang dulunya melambangkan keseimbangan kini berputar searah jarum jam, menyerap segala kekuatan hidup yang ada di sekitarnya.
Setelah berjuang melangkah sekitar dua ratus meter, mereka akhirnya berdiri tepat di depan pintu masuk utama menara. Pintu itu terbuat dari logam hitam yang sangat besar dan tebal, tertutup oleh selaput energi ungu yang berdenyut terus-menerus. Di tengah pintu terlihat lubang kunci berbentuk lingkaran yang terbagi menjadi lima bagian—sesuai dengan lambang kelima elemen alam.
“Ini dia penghalang terakhir sebelum masuk ke dalam,” kata Valerius sambil mengangkat pedangnya yang memancarkan cahaya perak. “Aku akan mencoba memecahkan selaput energi ini, tapi kekuatannya sangat besar. Bersiaplah untuk melindungi diri jika ia memantulkan serangan.”
Valerius mengerahkan seluruh kekuatan sihir dan tenaganya, lalu mengayunkan pedangnya yang diselimuti cahaya terang ke arah selaput energi itu. Saat cahaya pedang menyentuh lapisan ungu, terjadilah ledakan hebat yang mengirimkan gelombang kejut ke segala arah. Valerius terpental mundur beberapa langkah, napasnya terengah-engah dan wajahnya terlihat pucat, sedangkan selaput energi itu hanya bergetar sebentar dan kembali utuh tanpa kerusakan berarti.
“Tidak mungkin menembusnya dengan kekuatan biasa saja,” ujar Valerius sambil memegang dadanya, terlihat kelelahan. “Ini bukan hanya penghalang fisik atau sihir biasa—ia terhubung langsung dengan inti energi di dalam pilar itu. Hanya sesuatu yang selaras dengan sifat aslinya yang bisa membukanya.”
Rey melangkah maju, matanya menatap lubang kunci berbentuk lima elemen itu. Ia merasakan tarikan kuat dari dalam lubang itu, seolah memanggil kekuatan yang sama dengan yang ia miliki. Ia mengingat kembali penjelasan dalam naskah kuno yang dibacanya: “Pintu penjaga hanya terbuka bagi mereka yang membawa kesatuan kelima unsur, yang bisa membedakan kegelapan dari cahaya dan mengembalikan keseimbangan yang terpecah.”
“Aku yang akan mencobanya,” kata Rey tenang.
Tanpa menunggu jawaban, ia mengangkat kedua tangannya perlahan. Ia memusatkan kesadarannya jauh ke dalam dirinya sendiri, mengumpulkan energi air yang menenangkan, tanah yang kokoh, api yang memberi kehidupan, angin yang mengalir bebas, dan akhirnya energi cahaya yang melambangkan keseimbangan. Kelima jenis energi itu muncul di telapak tangannya dalam bentuk bola cahaya yang berwarna-warni, berputar secara harmonis tanpa saling bertabrakan.
Saat ia mendekatkan bola energi itu ke lubang kunci, terjadilah perubahan yang menakjubkan. Selaput energi ungu itu mulai bergetar hebat, lalu perlahan memudar dan menarik diri menjauh. Lubang kunci itu bersinar terang dengan warna yang sama dengan energi yang dibawa Rey, dan pintu logam besar itu mulai terbuka perlahan dengan suara gesekan batu yang dalam dan berat, membuka jalan masuk ke dalam kegelapan menara kuno itu.
Kapten Valerius dan Sylfia menatap kejadian itu dengan takjub, menyadari bahwa Rey memiliki hubungan yang jauh lebih dalam dengan tempat ini daripada yang mereka bayangkan sebelumnya.
“Kau benar-benar adalah kunci yang dicari tempat ini,” bisik Sylfia dengan nada kagum.
Rey menoleh dan tersenyum tipis, matanya penuh keteguhan. “Sekarang jalan sudah terbuka. Tapi tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai di dalam sana. Kita harus bergerak cepat sebelum makhluk-makhluk di luar berhasil menerobos pertahanan tim dan mengikuti kita masuk ke dalam.”
Dengan hati yang siap menghadapi apa pun yang ada di balik pintu itu, ketiganya melangkah masuk ke dalam kegelapan menara, meninggalkan suara pertarungan di luar dan melangkah menuju sumber rahasia serta kekuatan yang telah mengubah nasib seluruh wilayah ini.