NovelToon NovelToon
Addicted

Addicted

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:254.3k
Nilai: 4.8
Nama Author: Arzeerawrites

Raihan, mahasiswa yang sempurna harus berurusan dengan seorang gadis yang memiliki kasta jauh lebih rendah darinya namun berprinsip kuat.

Rena sudah terbiasa disakiti oleh Raihan yang tak lain adalah suaminya. Namun bukan berarti Ia menjadi lemah dan tenggelam dalam kesedihan terus menerus. Ia bisa bangkit dan menjalani kehidupan seperti biasanya.

Saat Rena sibuk dengan dirinya sendiri, Raihan mulai menyadari seberapa penting kehadiran Rena dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Addicted 26

Raungan motor Raihan dan ketiga sahabatnya terdengar memasuki wilayah kampus.

Mereka melajukan motor memasuki area parkir paling ujung yang sudah lama mereka kuasai.

Keempat lelaki itu turun dari kuda besi mereka masing-masing. Lalu mereka melepas pelindung kepala, hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya menahan jerit histeris terutama kaum perempuan. Padahal mereka melepas helm layaknya orang pada umumnya.

Tak lama, Denrio dan teman-temannya datang. Saat Raihan akan melangkah keluar dari area parkir, Edric menahannya.

"Lihat-lihat! sejak kapan Denrio tidak bawa motor dan malah menumpang di motor temannya?" ujar Edric yang baru disadari oleh Raihan, Sergi, dan Gion.

"Dia jatuh miskin mungkin," ujar Raihan dengan senyum miring nya. Ia senang ketika musuhnya merasa sulit.

"Sebentar lagi kau akan ditantang balapan, Rai. Bila dia menang pasti minta motor padamu lagi,"

"Tidak punya malu. Menantangku balapan terus tapi sering kalah," Raihan menyahuti kalimat Sergi.

"Dan kau bodoh, Rai. Untuk apa memberikan dia motor? masih ada kesepakatan lain,"

"Kalau aku menang, aku yang dapat motor. Dan aku lebih sering menjadi pemenang daripada dia,"

"Dia yang bodoh, karena sering kalah tapi kesepakatannya memberi motor,"

Raihan mengangguki ucapan Gion. Raihan sering keluar menjadi pemenang jadi yang bodoh adalah Denrio karena dia yang buat kesepakatan tapi dia yang sering kalah.

Raihan menatap kepergian Denrio dan teman-temannya usai meletakkan motor. Denrio sempat menatap Raihan dengan tajam seperti biasa, baru setelahnya Ia pergi.

******

Carra memasuki ruangan Xander. Ia akan membicarakan perihal posisi yang masih kosong di kafe. Ia senang sekali saat ada lelaki tampan yang melamar pekerjaan di kafe. Rekan-rekan kerjanya yang tampan kebanyakan sudah memiliki pujaan hati.

Pikirnya, barangkali Ia dengan lelaki kemarin yang mencari pekerjaan di kafe, berjodoh. Kemarin Denrio sempat cerita sedikit mengenai penyebabnya bisa melamar pekerjaan di sini. Carra jadi tahu latar belakang lelaki itu yang hidup berkecukupan. Hanya saja sedang diberi pelajaran oleh orangtuanya.

"Kemarin ada yang datang mencari pekerjaan di sini, Tuan."

"Pastikan sesuai dengan kualifikasi..."

"Minta dia untuk bawa CV dan application letter nya," Imbuh Xander.

Carra mengangguk dan keluar dari ruangan bertepatan dengan masuknya Della, istri Xander.

Della tampak tersenyum menyapa Carra sebelum benar-benar keluar dari ruangan Xander. Mereka sudah saling mengenal sejak beberapa hari yang lalu dan Della ingat betul apa yang dikatakan oleh Carra bahwa di kafe ada yang sedang gencar mencari perhatian dari suaminya. Oleh sebab itu, Ia jadi sering datang ke kafe.

"Kamu sering datang ke sini. Ada apa sebenarnya?"

"Kafe ini sedang mengalami penurunan. Jadi aku ingin tahu saja apa yang kamu lakukan untuk mengembalikannya seperti semula,"

Biarpun terdengar ada yang aneh, namun Xander mengangguk saja. Ia membebaskan istrinya untuk datang kapan pun.

Biasanya Della tidak pernah ikut campur. Ia hanya mendukung dari rumah, selebihnya membiarkan Xander untuk menyelesaikan permasalahan ladang usahanya seorang diri.

"Aku tidak melihat Rena. Dimana dia?"

"Dia hadir hari ini. Mungkin sedang sibuk di belakang,"

"Aku ingin melihat-lihat kafemu ya?"

"Silahkan, aku tidak pernah melarang."

Della keluar dari ruangan Xander untuk melihat-lihat keadaan kafe. Beberapa hari ini pengunjung berkurang seperti kata Xander.

Sepertinya karena ada kafe yang baru buka tidak jauh dari kafe milik Xander. Baru beberapa hari lalu melakukan grand opening. Meski begitu, Xander yakin kafe nya akan kembali meraih omzet yang banyak lagi.

Rena sedang mengelap meja setelah membuat jus yang dipesan oleh pengunjung.

Della nampak memperhatikan Rena. Mencoba untuk menilai sendiri sosok gadis itu. Dilihat dari sikapnya selama ini yang selalu menyapa dengan sopan, Ia sedikit tidak percaya dengan ucapan Carra. Namun di zaman sekarang ini, ada beberapa wanita yang terlihat baik tapi tetap saja bisa berubah menjadi pengganggu kebahagiaan orang.

"Bagaimana kerja di sini? nyaman?"

Rena terkejut tatkala Della tiba-tiba datang dari arah kirinya. Ia segera menoleh dan tersenyum seraya mengangguk.

"Nyaman, Nyonya."

"Sudah nyaman, jangan cari masalah ya," sarkas Della dengan cara yang halus memperingati Rena.

Meskipun Ia belum pernah melihat langsung bagaimana Rena bersikap terhadap Xander, tapi tidak ada salahnya Ia percaya dengan ucapan Carra.

"Iya, Nyonya." Rena tersenyum lagi. Ia tidak akan mengecewakan Xander dan Della. Ia sangat berterima kasih pada mereka berdua yang telah memberikannya kesempatan untuk bekerja di kafe sehingga Ia bisa bertahan hidup.

"Selain bekerja di sini, kamu bekerja dimana lagi?"

"Hanya di sini, Nyonya."

"Ah masa?"

Rena mengangguk yakin atas jawabannya. Ia tidak lagi bekerja di lain tempat, hanya di kafe, sejak menikah.

Della bertanya seperti itu karena Carra pernah bertemu dengannya lagi dan mengatakan fakta-fakta yang diketahuinya tentang diri Rena.

Tadinya hanya Nathalie yang tahu kalau Rena bekerja di rumah bordil. Tapi entah darimana Carra juga tahu akan hal itu bahkan beberapa kali sengaja mempermalukan Rena di hadapan teman-teman kerjanya.

Della menjauh dari Rena dan kembali ke ruangan suaminya. Sedari tadi Carra memperhatikan Istri boss nya yang bicara dengan Rena. Ia penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Carra menghampiri Rena.

"Hey, Jalang!"

Bukan hanya Rena yang menoleh, teman-teman mereka pun juga. Rena kembali merasa dipermalukan oleh Carra.

"Dia bukan jalang, Carra." bantah Nathalie yang akan selalu membela Rena.

"Dia bekerja di sarang nya jalang,"

Nathalie menggeram kesal. Kalau Ia tidak ingat sedang berada di tempat kerjanya, Ia tidak akan segan menampar mulut kurang ajar Carra yang telah menghina sahabatnya.

"Semua sudah tahu kalau itu adalah masa lalu Rena,"

"Masa lalu? aku yakin dia masih bekerja di sana untuk menjual dirinya,"

Rena lebih memilih untuk bungkam. Ia baru saja diperingatkan oleh Della agar tidak mencari masalah. Kalau Ia membalas perkataan Carra lalu lepas kendali, bisa-bisa Ia dianggap mengabaikan ucapan Della dan tidak menutup kemungkinan posisinya sebagai pekerja di sini akan terancam dikeluarkan.

"Dia sudah berhenti sejak menikah, bodoh!" Nathalie tak bisa menahan makiannya untuk Carra. Rena menatap Nathalie dengan pandangan memohon agar segera menghentikan pertengkaran verba ini. Beberapa teman mereka yang kebetulan sedang berada di dekat mereka langsung memperhatikan.

Kebetulan kafe hanya diisi oleh sedikit orang. Dan mereka semua sudah dilayani dengan baik. Carra dan Nathalie berdebat di balik meja counter.

"Ada yang mau menikahi jalang seperti mu?"

"Kamu akan terkejut setelah tahu siapa suami Rena." Nathalie menyeringai puas setelah berhasil mengungkapkan fakta itu. Selama ini hanya Ia yang tahu bahwa Rena sudah menikah.

Carra mengangkat sebelah alisnya, lalu memandang Rena dari atas hingga bawah dengan tatapan jiji.

"Jodohnya sama-sama kotor. Aku yakin, karena jodoh adalah cerminan diri,"

"Hati-hati saat bicara. Coba berkaca! kamu sudah baik belum? kalau belum, segera perbaiki! supaya kamu dapat jodoh yang baik dan tidak kotor!" ujar Nathalie dengan menekan dua kata terakhir. Ia mengulangi apa yang diucapkan Carra tadi.

Carra mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Ia menatap Nathalie penuh permusuhan sementara Nathalie merasa sangat puas setelah membalas Carra.

"Ada apa ini? kenapa tidak bekerja? itu ada pengunjung yang baru datang, segera layani."

Semuanya tersentak kaget saat Della menginterupsi mereka dengan suara tenang nya. Mata Della mengarah pada dua orang pengunjung kafe yang baru saja tiba.

Carra menunjuk Rena dan Nathalie dengan tegas lalu mengadu pada Della,

"Mereka mempermalukan aku, Nyonya."

Tanpa harus digertak, pegawai lain sudah kembali bekerja. Mereka tidak ada urusannya dengan perdebatan tadi. Sementara Della menatap Rena dan Nathalie bergantian.

"Apa yang kalian lakukan? tidak ada yang boleh bertindak seenaknya di sini! kalian sama-sama pekerja,"

 --------

Hai guysss aku dateng lageee. Sepi nih, komen nya mana? lanjut ga?

1
pia septiana
bagus 😊😊
Subiyanti Rsn
bagus,cuma kosa katanya kadang ada yg gemana?
Pe_fina
addicted buat dibaca nih😄
Seriani Yap
Up dong
Seriani Yap
Semangat
Seriani Yap
Up
Up
Seriani Yap
Up
unun muslimah
lanjutkan kk 💪😍
Seriani Yap
Semangat
Seriani Yap
Lanjut
Seriani Yap
Up lagi thor
Seriani Yap
Semangat trus ya thor
Seriani Yap
Please Up thor
nyimas aisyah
baru Tau Ada orang yg otaknya rusak sprti denrio . Crist hancurkan motor qdenrio masukkan k penjara jangan ganggu dear kasian dear dia jg susah krn denrio
Seriani Yap
Up
Seriani Yap
Semangat
Semangat
Semangat
Seriani Yap
Huh.. Denrio kok ga kapok ya..
Denrio ga seperti rayhan yg sudah bisa cari uang sendiri
Seriani Yap
Semangat
Ahmad Fauzi
kenapa jadi begini seh,ortu jadi ikut campur,Reihan juga mudah emosi seh,moga z opa Christ g ngelakuin hal buruk sama denrio
Seriani Yap
Semangat
Semangat
Semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!