Dia meninggal dalam kesengsaraan, dikhianati oleh suami dan sahabatnya sendiri. Tapi takdir memberinya tiket pulang ke masa lalu. Siren terbangun kembali di tubuh mudanya, lima tahun sebelum tragedi itu menghancurkan hidupnya. Kali ini, dia bukan lagi istri penurut yang naif. Dengan ingatan utuh tentang setiap kebohongan Fadli dan setiap rencana jahat Nia, Siren bersiap memainkan skenario baru. "Kalian pikir aku lemah? Tunggu saja sampai kalian melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali." Di kehidupan barunya, Siren tidak hanya fokus menghancurkan karir dan rumah tangga Fadli, tetapi juga membangun imperiumnya sendiri. Di tengah permainan kucing-kucingan yang penuh sarkasme dan ketegangan ini, hadir Arya Wijaya—konglomerat dingin yang di kehidupan sebelumnya ia abaikan. Arya bukan sekadar pelarian. Dia adalah sekutu cerdas yang menyadari perubahan drastis pada Siren. Bersama Arya, Siren mengubah air mata menjadi senjata, dan rasa sakit menjadi bahan bakar untuk bangkit. Siap-siap m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANCAMAN DIBALIK SENYUMAN
Jam dinding di ruang tunggu kantor notaris menunjukkan pukul delapan lima puluh. Aku duduk di sofa kulit berwarna krem, punggungku tegak, tangan bertumpu rapi di atas tas jinjing hitam. Di sebelahku, Fadli duduk dengan posisi yang sama sekali berbeda: bahunya membungkuk, kakinya gelisah bergoyang-goyang, dan matanya terus-menerus melirik ke arah pintu masuk seolah mengharapkan penyelamat yang tidak akan pernah datang.
"Kamu tenang sekali," gumamnya tiba-tiba, suaranya serak dan penuh ketidakpercayaan. "Besok kita resmi bercerai, asetku habis, dan kamu malah duduk di sini seperti sedang menunggu antrean dokter gigi."
Aku menoleh padanya perlahan, ekspresiku datar tanpa emosi.
"Karena ini bukan tragedi, Fadli. Ini adalah konsekuensi. Dan aku sudah mempersiapkan mental untuk konsekuensi ini jauh sebelum kamu menyadari bahwa hidupmu sedang runtuh."
"Tapi—" ia mencoba membantah, tapi kata-katanya tercekat saat pintu ruang notaris terbuka. Seorang pria paruh baya berjas abu-abu keluar, memegang berkas tebal. Ia menatap kami sekilas, lalu mengangguk sopan.
"Tuan Fadli, Nyonya Siren. Silakan masuk. Dokumen sudah siap ditandatangani," ucapnya profesional. Tanpa basa-basi. Tanpa simpati. Hanya prosedur hukum yang berjalan sesuai jadwal.
Fadli berdiri dengan langkah berat, seolah kakinya ditempeli timah. Aku bangkit lebih dulu, merapikan gaun kerja berwarna navy yang kupilih khusus hari ini—warna yang melambangkan otoritas, ketenangan, dan kekuatan. Bukan merah seperti kemarin. Merah adalah deklarasi perang. Navy adalah eksekusi.
Di dalam ruang notaris, udara terasa dingin dan steril. Meja kayu jati besar mendominasi ruangan, dengan dua kursi di sisi berlawanan dan satu kursi di tengah untuk notaris. Di atas meja, dokumen pra-cerai terbentang rapi, setiap klausul telah ditandai dengan stabilo kuning untuk memudahkan penandatanganan.
Notaris itu—Pak Darmawan, menurut nametag-nya—duduk di kursi tengah, menyesuaikan kacamata bacanya. Ia menatap kami bergantian, lalu berbicara dengan nada netral yang terlatih.
"Selamat pagi. Sebelum kita melanjutkan, saya wajib mengingatkan bahwa dokumen ini bersifat final dan mengikat secara hukum setelah ditandatangani dan dicap. Tidak ada pembatalan sepihak. Tidak ada banding emosional. Apakah kedua belah pihak memahami hal ini?"
"Aku paham," jawabku segera, suaraku jelas dan tegas.
Fadli menelan ludah keras. Matanya menatap dokumen itu seperti melihat vonis mati. "...Paham," bisiknya akhirnya, suara hampir tak terdengar.
"Baik," ucap Pak Darmawan.
"Mari kita mulai dari Pasal 1: Pembagian Aset Likuid. Nyonya Siren menerima delapan puluh persen dari total rekening bersama dan rekening pribadi Tuan Fadli yang terdaftar dalam lampiran. Tuan Fadli menerima dua puluh persen sebagai jaminan hidup dasar selama masa transisi. Apakah ada keberatan?"
Keberatan? Tentu saja ada. Tapi Fadli tahu bahwa keberatan apa pun hanya akan memperburuk posisinya. Ia menggeleng pelan, gerakan mekanis tanpa jiwa.
"Tidak keberatan," gumamnya.
"Pasal 2: Kepemilikan Properti," lanjut Pak Darmawan, jarinya menunjuk klausa berikutnya. "Rumah tinggal di kawasan Pondok Indah, apartemen di Sudirman, dan villa di Puncak menjadi hak milik penuh Nyonya Siren. Tuan Fadli wajib mengosongkan seluruh properti tersebut dalam waktu empat puluh delapan jam setelah penandatanganan ini. Barang-barang pribadi Tuan Fadli yang tidak dipindahkan dalam batas waktu tersebut akan dianggap barang tak bertuan dan dapat dibuang atau disita oleh Nyonya Siren tanpa kompensasi."
Fadli menarik napas tajam. Tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku-bukunya memutih. "Empat puluh delapan jam... itu terlalu singkat. Aku butuh minimal seminggu untuk—"
"Perjanjian ini sudah disepakati dan ditandatangani semalam, Tuan Fadli," potong Pak Darmawan, nadanya tetap profesional tapi mengandung peringatan halus. "Jika Anda merasa keberatan dengan tenggat waktu, seharusnya Anda menyampaikannya sebelum menandatangani dokumen awal. Sekarang, yang berlaku adalah apa yang tertulis di sini."
Aku menambahkan, suaraku lembut tapi tidak memberi ruang untuk negosiasi: "Fadli, kamu punya empat puluh delapan jam karena itu adalah batas maksimal kesabaranku. Jika kamu ingin lebih lama, silakan ajukan permohonan perpanjangan melalui pengacaramu sendiri. Tapi ingat, setiap hari tambahan akan dikenakan biaya sewa harian sebesar lima juta rupiah yang akan dipotong langsung dari sisa dua puluh persen asetmu."
Wajah Fadli pucat pasi. Lima juta rupiah per hari. Itu berarti jika ia membutuhkan tujuh hari, ia kehilangan tiga puluh lima juta dari bagian yang sudah minim itu. Ia menatapku, mencari celah, mencari belas kasihan, mencari apa pun yang bisa membuatnya merasa masih memiliki kendali.
Tapi tidak ada. Yang ia temukan hanyalah cermin dari kehancurannya sendiri.
"...Tidak apa-apa," bisiknya akhirnya, suaranya pecah. "Aku akan pindah dalam empat puluh delapan jam."
"Bagus," ucap Pak Darmawan, lalu melanjutkan ke pasal berikutnya. Proses penandatanganan berlangsung selama empat puluh menit. Setiap tanda tangan Fadli semakin lemah, semakin miring, semakin putus asa. Sementara tanda tanganku tetap stabil, presisi, dan penuh keyakinan.
Saat cap notaris finally ditempelkan pada halaman terakhir, suara 'duk' kecil itu terdengar seperti dentuman meriam di telinga Fadli. Ia menatap cap merah itu, lalu menatapku, matanya kosong. Seperti pria yang baru saja menyadari bahwa hidupnya telah berakhir, dan ia tidak bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya.
"Sekarang, secara hukum, perceraian ini sah," ucap Pak Darmawan, menutup berkasnya. "Selamat pagi, dan semoga kedua belah pihak menemukan kedamaian masing-masing."
Kedamaian? Bagi Fadli, kedamaian adalah ilusi. Bagiku, kedamaian baru saja dimulai.
Kami berjalan keluar dari kantor notaris dalam keheningan. Matahari pagi Jakarta menyinari trotoar, tapi rasanya tidak hangat bagi Fadli. Ia berhenti di depan mobil jemputannya—mobil sedan tua yang kini menjadi satu-satunya kendaraan yang masih ia miliki.
"Ren..." panggilnya, suaranya serak. Ia menatapku, matanya berkaca-kaca. " apa kamu benar-benar tidak merasa sedih? Sedikit saja?"
Aku berhenti, menatapnya langsung. Tidak ada kemarahan. Tidak ada kepuasan sadis. Hanya kejujuran yang dingin dan jernih.
"Fadli, kesedihan adalah emosi untuk sesuatu yang berharga. Kamu tidak lagi berharga bagiku. Kamu adalah pelajaran. Dan pelajaran tidak perlu diratapi. Mereka hanya perlu diingat agar tidak terulang."
Ia menelan ludah keras. Bibirnya bergetar. Lalu, tanpa sepatah kata lagi, ia masuk ke mobil dan menutup pintunya. Mesin menderu, dan mobil itu melaju pergi, membawa pria yang dulu kuanggap segalanya menuju kehidupan yang tidak lagi memilikiku.
Aku berdiri di trotoar, menatap mobil itu menghilang di tikungan jalan. Napasku dalam. Tenang. Bebas.
Ponsel bergetar di tangan. Pesan masuk dari Arya.
"Sudah selesai?"
"Sudah. Empat puluh delapan jam dimulai sekarang." — Balasku.
"Makan siang bersama saya jam dua belas. Restoran di lantai 45. Saya ingin merayakan kemenangan pertama Anda. Dan membahas langkah berikutnya."
Aku tersenyum. Bukan senyum kemenangan yang sombong. Tapi senyum lega. Senyum seseorang yang akhirnya memiliki sekutu yang tidak hanya menghargai strateginya, tapi juga manusianya.
"Siap, Tuan Arya. Sampai jumpa jam dua belas."
Langkahku ringan saat berjalan menuju mobil pribadiku. Udara pagi terasa segar. Langit biru terasa lebih luas. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup—baik kehidupan pertama maupun kedua—masa depan terasa seperti miliku sendiri. Bukan pinjaman. Bukan hadiah. Bukan hasil manipulasi orang lain.
Milikku. Sepenuhnya.
Permainan baru saja memasuki babak kelima. Dan aku tidak intend untuk berhenti sampai setiap bidak di papan catur ini bergerak sesuai kehendakku.