6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - SUARA DARI DALAM SUMUR
Jejak kaki basah itu berhenti tepat di bibir sumur tua belakang balai desa.
Rini membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan. Di hadapannya, sumur itu menganga gelap seperti mulut raksasa yang siap menelan. Tutup kayunya yang sudah lapuk miring, setengah terbuka, dan dari celahnya keluar hawa dingin yang menusuk tulang, padahal malam itu tidak berangin sama sekali.
Jejak kaki itu... bukan jejak kaki biasa. Bentuknya panjang, jari-jarinya terlalu runcing, dan air yang menetes darinya berwarna kehitaman, bukan bening. Jejak itu masih basah, artinya apapun yang lewat di sini, baru saja lewat beberapa detik yang lalu.
"Siapa di sana?" Suara Rini hampir tidak terdengar. Ia sendiri tidak yakin apakah ia benar-benar ingin mendapat jawaban.
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jangkrik yang tiba-tiba mendadak diam. Hening. Hening yang tidak wajar. Seolah seluruh desa mati itu menahan napas bersama Rini.
Tes... tes... tes...
Suara tetesan air dari dalam sumur. Pelan, teratur, menggema.
Rini memberanikan diri melangkah satu langkah lebih dekat. Senter kecil di tangannya yang ia pinjam dari posko KKN bergetar hebat. Cahayanya menyorot bibir sumur yang berlumut tebal. Lumutnya berwarna hitam kehijauan, dan di antara lumut itu, Rini melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Cakaran. Bekas cakaran kuku yang dalam, mengarah ke dalam sumur. Seolah seseorang berusaha keras untuk keluar, tapi ditarik kembali ke bawah.
Jantung Rini berdegup begitu kencang sampai terasa sakit. Ia teringat cerita Pak Lurah siang tadi. Pak Lurah bilang, jangan pernah mendekati sumur belakang balai desa setelah maghrib. "Itu bukan sumur air, Nduk. Itu sumur tumbal," kata Pak Lurah dengan wajah pucat.
Saat itu Rini dan teman-teman KKN lainnya hanya menganggap itu takhayul desa. Tapi sekarang...
"...tolong..."
Rini terlonjak kaget. Suara itu lirih, hampir seperti bisikan angin, tapi jelas terdengar berasal dari dalam sumur.
"...tolong... dingin... aku kedinginan..."
Itu suara perempuan. Suara yang sangat familiar. Rini memutar otak. Suara itu... suara itu mirip sekali dengan suara Maya, teman KKN-nya yang hilang dua hari lalu!
"Maya? Maya itu kamu?" Rini setengah berteriak, setengah menangis. Ia melupakan semua rasa takutnya. Maya adalah sahabatnya. Mereka berangkat KKN bersama dari kampus.
"...Rini... Rini... bantu aku..." Suara itu kini terdengar lebih jelas, menangis.
Tanpa pikir panjang, Rini berlari ke bibir sumur dan menyorotkan senternya ke bawah. Cahaya senter menembus kegelapan yang pekat.
Air di dalam sumur itu tidak seperti air biasa. Hitam. Pekat seperti oli. Tidak memantulkan cahaya sama sekali. Bau anyir yang tadi hanya samar, kini menyengat hidung, membuat Rini ingin muntah. Bau darah busuk bercampur bangkai.
Dan di tengah-tengah air hitam itu...
Rini melihatnya.
Sebuah wajah pucat. Rambut panjang basah menutupi sebagian wajahnya. Wajah itu mendongak, menatap tepat ke arah Rini. Matanya putih sepenuhnya, tanpa bola mata hitam. Bibirnya robek menyeringai lebar.
Itu bukan Maya. Itu bukan manusia.
Rini ingin menjerit, tapi suaranya tercekat. Kakinya lemas. Tubuhnya tidak bisa bergerak. Wajah itu terus tersenyum, semakin lebar, semakin lebar, sampai rahangnya hampir terlepas.
Lalu, dari dalam air hitam, sebuah tangan pucat yang kurus dengan kuku-kuku panjang hitam perlahan-lahan terangkat ke atas. Mengarah kepada Rini. Memanggil.
"Sini... temani kami di bawah... dingin sekali di sini sendirian..."
Tiba-tiba Rini merasakan ada yang menyentuh bahunya dari belakang!
"ARGHHH!"
Rini menjerit sekeras-kerasnya dan terjatuh terduduk. Senter di tangannya terlepas, menggelinding, dan jatuh ke dalam sumur. PLUNG! Cahaya senter itu tenggelam dalam air hitam dan padam. Gelap total.
"Rini! Rini! Kamu kenapa?!"
Ternyata yang menyentuh bahunya adalah Bayu, ketua kelompok KKN mereka. Wajah Bayu panik, napasnya terengah-engah karena berlari.
"Bayu?!" Rini menangis histeris dan langsung memeluk Bayu erat-erat. Tubuhnya gemetar hebat.
"Aku dengar kamu teriak! Kamu ngapain di sini malam-malam?! Kan udah dibilang jangan ke sumur ini!" Bayu memarahi, tapi suaranya penuh kekhawatiran.
Rini tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menunjuk ke arah sumur dengan tangan gemetar.
Bayu menyalakan senter HP-nya dan menyorot ke dalam sumur. Kosong. Airnya memang hitam, tapi tidak ada wajah, tidak ada tangan. Hanya air yang tenang.
"Nggak ada apa-apa, Rin. Kamu halu karena kecapean kali," kata Bayu, mencoba menenangkan, meski wajahnya sendiri pucat.
"Tidak! Aku lihat! Ada perempuan di dalam! Dia bilang... dia bilang 'satu sudah masuk, tinggal empat lagi'!" Rini berteriak histeris.
Mendengar kalimat itu, wajah Bayu langsung berubah pucat pasi seperti kertas. Senter HP di tangannya sampai hampir jatuh.
"Kamu... kamu dengar itu juga?" bisik Bayu pelan, suaranya bergetar.
Rini mengerutkan kening. "Juga? Maksud kamu apa?"
Bayu menelan ludah. Ia melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang lain.
"Semalam... aku mimpi. Mimpi ada perempuan tua di balai desa. Dia duduk di pojokan sambil menghitung. Dia bilang... 'Satu sudah masuk sumur, tinggal empat lagi yang harus ikut. KKN ini tumbal terakhir...'"
Darah Rini seketika surut dari wajahnya. Satu sudah masuk. Mereka berlima yang KKN di desa ini. Maya sudah hilang dan dianggap masuk sumur. Tinggal empat lagi. Itu berarti... mereka berempat yang tersisa!
Dari dalam sumur yang gelap itu, tiba-tiba terdengar lagi suara tawa melengking. Bukan satu, tapi banyak. Tawa perempuan, anak kecil, dan laki-laki bercampur menjadi satu. Tawa yang berasal dari kedalaman yang tidak bisa dijangkau cahaya.
Bayu dan Rini saling pandang. Tanpa aba-aba, mereka berdua lari tunggang langgang meninggalkan sumur itu, kembali ke posko KKN.
Mereka tidak sadar, di bibir sumur yang mereka tinggalkan, sebuah jejak tangan basah berwarna hitam kini bertambah. Dan di dalam air hitam itu, cahaya senter Rini yang tadi tenggelam, menyala kembali sendiri di kedalaman, bergoyang pelan seperti ada yang memainkannya.
Malam itu, teror di Desa Mati baru saja dimulai.
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐