Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 — “SARAPAN PERTAMA”
Suara azan Subuh yang berkumandang dari menara masjid utama Pesantren Al-Faruqi samar-samar menembus kesadaran Aurel. Namun, rasa lelah yang menumpuk dari rentetan acara pernikahan membuat tubuhnya enggan bergerak. Ia hanya menarik selimut bunga-bunga itu lebih tinggi hingga menutup telinga, lalu kembali terlelap dalam buaian hawa dingin pagi Arunika Timur.
Ketika matanya akhirnya benar-benar terbuka, kamar sudah terang benderang oleh pendar sinar matahari pagi yang menerobos sela-sela gorden.
Aurel mengerjap-erjap kaku. Ia meraih ponselnya di atas meja nakas.
Jarum jam digital menunjukkan pukul 07.15.
"Aduh, mampus!" jerit Aurel pelan seraya mendadak duduk tegak di atas kasur.
Rambut bergelombangnya mekar berantakan seperti sarang burung. Ia melirik ke arah sofa di sudut ruangan—tempat tidur Rasyid semalam—dan menemukan sofa itu sudah rapi kembali. Bantal dan selimutnya sudah dilipat presisi di atas sandaran. Rasyid sudah tidak ada di kamar.
Jantung Aurel berdegup kencang. Di rumah ayahnya, bangun jam tujuh pagi pada hari libur adalah hal biasa. Tapi ini di rumah kiai besar! Di lingkungan pesantren di mana semua orang kemungkinan besar sudah berkegiatan sejak pukul empat pagi!
"Habis aku... pasti ibu mertua mikir aku menantu pemalas," gumam Aurel panik.
Ia meloncat dari tempat tidur, berlari kencang ke kamar mandi untuk cuci muka dan menggosok gigi tanpa sempat mandi lengkap. Ia menyambar kardigan rajut warna krem, menyisir rambutnya dengan jari secara asal-asalan, lalu mengikatnya menjadi sanggul acak (messy bun) di belakang kepala.
Dengan napas agak terengah, Aurel membuka pintu kamar dan menuruni anak tangga kayu setengah berjinjit.
Suasana lantai bawah terasa hidup namun tenang. Aroma tumisan bawang merah, pandan, dan seduhan kopi hitam menyengat hidung, memancing selera makan.
Aurel berjalan ragu-ragu menuju arah dapur terbuka di bagian belakang rumah. Di sana, Nur Aini sedang berdiri di depan kompor gas, mengaduk panci berisi soto ayam hangat. Di dekat meja makan kayu jati, Salma sedang sibuk menata piring-piring porselen putih.
Dan di sudut meja dekat jendela tempat cahaya matahari masuk, duduk Rasyid.
Pria itu sudah tampak sangat segar. Ia mengenakan kemeja koko putih bersih, sarung tenun warna hijau zamrud yang anggun, dan peci hitam polos bertengger rapi di kepalanya. Di depannya terbentang lembaran kitab berulisan Arab gundul yang sedang ia baca dengan tekun seraya memegang cangkir keramik.
Begitu tumit sepatu rumah Aurel berbunyi di ambang pintu, ketiga orang di ruangan itu menoleh bersamaan.
Aurel membeku di tempatnya. Wajahnya mendadak terasa panas. "Anu... Bu... maaf banget... Aurel baru bangun," bisik Aurel dengan suara kecil yang kentara sekali menahan malu.
Salma yang sedang meletakkan sendok langsung menghentikan gerakannya. Gadis muda itu menatap penampilan Aurel—ramput sanggul acak-acakan, kaus oblong kebesaran yang agak miring di bahu, dan mata yang masih menyisakan sedikit jejak tidur—lalu bibirnya mengembang lebar.
Salma berusaha menahan tawa hingga bahunya bergetar pelan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, namun suara letupan tawa kecil tetap lolos.
"Salma," tegur Nur Aini lembut namun memberi isyarat mata peringatan. Nur Aini kemudian mematikan kompor dan membalikkan badan, menatap Aurel dengan senyum paling hangat yang pernah Aurel lihat.
"Nggak apa-apa, Aurel," kata Nur Aini tulus, melangkah mendekati menantunya itu. "Kamu pasti capek banget kemarin. Acara pernikahan itu menguras tenaga. Ibu sengaja nggak minta Rasyid bangunin kamu tadi subuh."
Aurel mengerjap. "Bapak Kiai... nggak marah, Bu?"
"Bah Abdul sudah pergi ke kompleks madrasah dari jam enam tadi buat ngajar santri senior, Mbak," potong Salma seraya menyeringai jahil dari balik meja makan. "Lagian di rumah ini nggak ada aturan menantu baru harus bangun jam empat pagi terus langsung nyapu halaman kok. Mas Rasyid aja yang sukanya bangun kepagian."
Rasyid menutup kitab tebalnya pelan. Pria itu menatap adiknya dengan pandangan datar yang sarat teuran tipis, membuat Salma langsung menjulurkan lidahnya dan berpura-pura sibuk merapikan serbet.
Rasyid kemudian menatap Aurel. Pandangan matanya meneliti raut cemas di wajah istrinya sebelum bibirnya mengukir senyum samar.
"Sini duduk, Aurel," panggil Rasyid halus.
Aurel menelan ludah, lalu melangkah pelan menuju meja makan dan menarik kursi di seberang Rasyid—posisi yang sama seperti malam mereka bertemu di restoran.
Begitu Aurel duduk, Rasyid menggeser sebuah cangkir keramik yang masih mengepulkan uap tipis ke arah Aurel.
"Minum dulu," kata Rasyid.
Aurel menatap isi cangkir itu dengan rasa curiga yang mendadak muncul. Cairan berwarna cokelat keemasan dengan sedikit busa di permukaannya.
"Ini... bukan jamu pahit kan?" tanya Aurel pelan, menatap Rasyid dari bawah celah poninya. "Kamu nggak sengaja nyuruh aku minum jamu penenang gara-gara aku bangun kesiangan?"
Salma kembali menyemburkan tawa pelan dari sudut dapur, sampai-sampai Nur Aini menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri bungsunya itu.
Rasyid menggeleng pelan, matanya memancarkan kehangatan yang geli. "Itu teh tubruk biasa. Pakai sedikit gula batu. Ibu yang buatkan tadi."
Aurel memiringkan kepalanya, menatap Rasyid sejenak untuk memastikan pria itu tidak sedang ngerjain dirinya. Setelah yakin, Aurel meraih tangkai cangkir itu, menempelkannya ke bibir, lalu menyesapnya perlahan.
Glek.
Mata Aurel mendadak membelalak seketika.
Rasa manis yang luar biasa pekat melanda lidahnya. Manis yang menyengat tenggorokan, seperti separuh isi toples gula ditumpahkan ke dalam satu cangkir teh hangat tersebut.
Aurel berusaha keras menelan cairan itu agar tidak menyemburkannya keluar, membuat tenggorokannya bergetar pelan saat menelan. Wajahnya mengernyit hebat seraya menatap cangkir itu dengan tatapan syok.
"Manis banget!" cetus Aurel polos tanpa filter, meletakkan cangkir itu agak kencang ke atas meja. "Ini teh atau sirup murni?!"
Nur Aini yang sedang membawa mangkuk soto ke meja tertegun sejenak, lalu menepuk jidatnya pelan. "Aduh! Ibu lupa! Rasyid... itu kan teh racikan khusus buat kamu! Ibu lupa kalau kamu kalau bikin teh gulanya tiga sendok makan!"
Salma sudah tidak sanggup menahan dirinya lagi. Gadis itu tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Mas Rasyid itu lidahnya lidah gula, Mbak Aurel! Kalau minum teh rasanya kayak minum biang gula!"
Aurel menoleh cepat ke arah Rasyid.
Pria yang biasanya tampak sangat berwibawa dan tenang di depan murid-muridnya itu kini tampak sedikit salah tingkah. Rasyid berdehem pelan, mengusap leher belakangnya seraya menatap cangkir teh tersebut.
"Saya... memang suka manis," aku Rasyid jujur dengan intonasi rendah, walau ada warna merah tipis yang menyelinap samar di ujung kedua telinganya. "Maaf, saya lupa kamu mungkin lebih suka teh tawar atau kopi."
Melihat ekspresi serba salah dari ustadz muda yang selama ini selalu terlihat sempurna dan tak tersentuh itu, rasa canggung dan panik di dada Aurel mendadak menguap tanpa sisa.
Sebuah letupan tawa renyah keluar dari bibir Aurel. Tawa yang lepas, jujur, dan hangat—pertama kalinya tawa itu tercipta secara alami di dalam rumah ini.
"Pantesan kamu tenang banget," goda Aurel seraya menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap Rasyid dengan binar jenaka. "Ternyata suplay gula ke otakmu berlebihan tiap pagi."
Rasyid menatap Aurel yang sedang tertawa. Binar mata cokelat terang milik istrinya yang berbinar jenaka di bawah pendar sinar matahari pagi membuat dadanya berdesir hangat. Sebuah kurva senyum tipis yang amat tulus terukir di bibir Rasyid.
"Kayaknya kita harus mulai belajar menyesuaikan selera masing-masing," kata Rasyid pelan, suaranya mengalun hangat di antara riuh tawa kecil di meja makan.
Aurel menghentikan tawanya pelan, menatap mata Rasyid. Di dalam mata pria itu, tidak ada sedikit pun celaan atas penampilannya yang berantakan atau jam bangun tidurnya yang kesiangan. Yang ada hanyalah rasa penerimaan yang utuh.
"Setuju," sahut Aurel pelan, senyum tipis masih tertinggal di bibirnya. "Dan aturan pertama: jangan pernah kasih aku teh racikan kamu lagi."
"Dicatat," balas Rasyid singkat.
Nur Aini meletakkan mangkuk-mangkuk soto ayam yang harum di tengah meja, menatap kedua anak muda di depannya dengan rasa syukur yang membuncah di dalam hati.
Sarapan pagi pertama di rumah keluarga Faruqi itu mungkin jauh dari kata sempurna menurut standar tradisi kaku, namun di atas meja kayu sederhana itu, sebuah jembatan kecil antara dua dunia yang berbeda baru saja terbangun dengan sangat manis.