NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Original Plot Has Changed

Matahari pagi menembus kisi-kisi jendela Paviliun Bayangan Salju, memantulkan pendar emas pada lantai kayu cendana yang halus. Kompleks kediaman baru Ye Xinyue ini jauh berbeda dengan kamar sempitnya di Kediaman Fenghua. Di sini, empat pelayan pribadi berbaris rapi menunggu perintahnya, sementara sepuluh pengawal kekaisaran berkain hitam bersenjata lengkap berjaga di sekeliling taman batu.

Xinyue menyandarkan siku di atas meja rias, menatap bayangannya di cermin perunggu. Luka bakar di dadanya sudah memudar berkat salep herbal teratai putih. Namun, pikiran Xinyue tidak tertuju pada bekas luka itu, melainkan pada ingatan ingatan asing yang tersimpan di kepalanya sejak ia bertransmigrasi.

Ingatan tentang alur novel novel web romantisme kerajaan yang pernah ia baca sebelum mati karena serangan jantung di kantor hukumnya.

Seharusnya... ini bukan jalan ceritanya, batin Xinyue, jemarinya mengetuk-ngetuk meja secara teratur.

Dalam alur novel aslinya, pemeran utama wanita adalah seorang putri pejabat lemah lembut yang menjadi pion politik. Pada bab-bab awal ini, Selir Liang seharusnya mendominasi Istana Dalam dengan kejam, sementara Kaisar Zhao Fengting digambarkan sebagai tiran haus darah yang dingin, tidak percaya pada siapapun, dan mengeksekusi puluhan pejabat tanpa analisis hukum.

Lebih berbahaya lagi, dalam alur cerita awal, aliansi klan Liang di garis depan barat tidak pernah terbongkar secepat ini. Jenderal Liang seharusnya sukses melancarkan pemberontakan dua tahun kemudian, memicu perang saudara berdarah yang memusnahkan setengah dari populasi ibu kota.

"Tapi sekarang..." Xinyue menyunggingkan senyum tipis. "Sianida organik terbongkar di hari pertama. Kas korupsi militer dibekukan sebelum sempat dipakai. Dan tiran berdarah dingin itu... malah memberiku kekebalan hukum mutlak."

Alur cerita asli telah hancur total karena intervensinya sebagai mantan ahli audit forensik. Papan catur politik ini tidak lagi mengikuti naskah takdir, melainkan digerakkan oleh prinsip-prinsip hukum modern yang ia tancapkan di Istana Dalam.

"Nona Ye," suara Pelayan Mingzhu, pelayan setianya , memecah lamunan Xinyue. Xia membungkuk dalam-dalam seraya menyodorkan sebuah nampan perak berisi gulungan kertas beras berhias pita sutra merah tua. "Laporan terbaru dari Kementerian Keuangan dan Perbendaharaan Kerajaan baru saja tiba."

Xinyue mengambil gulungan tersebut, membukanya dengan sapuan jari yang tangkas.

Efek dari strategi pembekuan aset yang ia usulkan kemarin malam sudah mulai bekerja bagaikan efek domino. Tiga puluh toko emas, sepuluh gudang gandum, dan lima jalur perdagangan kain sutra milik faksi klan Liang di ibu kota telah disegel penuh oleh tentara kekaisaran. Lebih dari delapan ratus ribu keping perak berhasil disita sebelum sempat diselundupkan ke perbatasan barat.

Namun, bagian paling menarik dari laporan itu berada di lembar terakhir: Laporan Krisis Kediaman Fenghua.

Selir Liang yang sebelumnya menjadi penguasa tak resmi di Istana Dalam kini diasingkan di kediamannya sendiri. Seluruh pengawalnya diganti oleh pasukan khusus Kaisar, pasokan barang mewahnya dihentikan, dan faksi pendukungnya di antara para selir lain mulai berhamburan menyelamatkan diri.

Seorang pemeran antagonis utama yang kehilangan taringnya bahkan sebelum bab pertengahan dimulai, pikir Xinyue.

Tiba-tiba, pintu utama Paviliun Bayangan Salju terbuka. Langkah kaki mantap dan berat menggema di koridor. Zhao Fengting melangkah masuk tanpa pemberitahuan formal, mengenakan jubah harian berwarna merah marun berhias benang emas. Di belakangnya, Kasim Gao membawa sebuah peti kayu cendana berukir indah.

"Kau terlihat sangat sibuk untuk seseorang yang seharusnya beristirahat total," tegur Zhao Fengting, meski nada suaranya terdengar jauh dari kata marah.

Xinyue bangkit dan membungkuk singkat sebuah gerakan hormat yang sengaja dibuat minimalis sesuai batas jaminan hukum barunya. "Menjawab Yang Mulia, otak hamba tidak bisa beristirahat saat peta politik kekaisaran sedang bergeser."

Zhao Fengting memberi isyarat pada Kasim Gao untuk meletakkan peti kayu tersebut di atas meja, lalu melambaikan tangan agar seluruh pelayan mundur dan meninggalkan ruangan.

"Peta politik ini tidak hanya bergeser, Ye Xinyue," ujar Zhao Fengting seraya duduk di kursi utama, menatap gadis itu dengan binar mata yang teramat dalam. "Kau baru saja mematahkan tulang punggung klan Liang tanpa menembakkan satu anak panah pun ke perbatasan barat."

Kaisar tiran itu membuka peti kayu cendana tersebut. Di dalamnya terbaring sebuah segel batu giok putih berukir burung phoenix dan timbangan sebuah segel khusus yang belum pernah ada dalam sejarah kekaisaran.

"Gao membawa laporan dari perbatasan barat pagi ini," lanjut Zhao Fengting. "Prajurit garis depan yang mendengar bahwa gaji dan pasokan gandum mereka dipotong oleh Jenderal Liang mulai melakukan pembangkangan massal. Tiga komandan batalion utama telah menyatakan setia langsung kepadaku dan menolak perintah Jenderal Liang."

Xinyue mengangguk puas. "Prinsip dasar transparansi finansial, Yang Mulia. Ketika rakyat dan prajurit tahu hak mereka dicuri oleh pemimipin mereka sendiri, rasa setia kawan otomatis runtuh. Jenderal Liang kini hanyalah seorang jenderal tanpa pasukan."

Zhao Fengting memegang segel batu giok putih itu, lalu mengulurkannya pada Xinyue.

"Ini adalah Segel Pengawas Hukum Kerajaan," tegas Zhao Fengting, suaranya dipenuhi otoritas mutlak. "Mulai hari ini, kau memiliki wewenang untuk memeriksa seluruh pembukuan kementerian, memeriksa laporan forensik kejahatan istana, dan membatalkan keputusan pengadilan yang tidak memiliki bukti sah. Kau melapor langsung padaku, tanpa melewati Perdana Menteri atau Dewan Tetua."

Xinyue menatap segel giok di tangannya. Dalam novel aslinya, posisi kekuasaan seperti ini sama sekali tidak pernah ada. Seorang wanita di era ini biasanya dituntut untuk bertarung di balik tirai dengan racun, intrik busuk, dan kecemburuan. Namun kini, ia memegang instrumen hukum resmi yang sah di atas kertas kekaisaran.

"Yang Mulia memberikan kekuasaan yang sangat besar pada seorang selir tingkat rendah," tutur Xinyue, menguji batas komitmen sang penguasa. "Apakah Yang Mulia tidak takut hamba menggunakan segel ini untuk meruntuhkan kekuasaan Yang Mulia sendiri?"

Zhao Fengting tertawa rendah sebuah tawa yang sarat akan rasa percaya diri dan ketertarikan yang membakar. Ia maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Xinyue dapat merasakan kehangatan napas sang Kaisar di dahi dan pelipisnya.

"Kau boleh mencoba meruntuhkannya jika kau bisa, Rubah Kecil," bisik Zhao Fengting, jemarinya menyapu rambut hitam Xinyue yang terurai halus. "Tetapi ingat, aku adalah penguasa tempat ini. Jika kau ingin mengubah seluruh kekaisaran ini sesuai aturan hukummu... kau harus tetap berada di sampingku."

Xinyue menggenggam segel giok dingin itu erat-erat di jemarinya.

Alur cerita asli mungkin sudah hancur tak berbekas, tetapi di dunia baru ini, ia bukan lagi sekadar karakter figuran yang menunggu nasib buruk. Dengan tiran berkuasa di sisinya dan hukum di tangan kanannya, dialah yang kini memegang pena untuk menulis bab-bab selanjutnya.

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!