Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 KOTA QINGYUAN DAN PINTU GERBANG YANG RAMAI
Lin Mo melangkah turun dari bukit yang tinggi itu menuju lembah tempat Kota Qingyuan berdiri megah. Semakin mendekat, semakin jelas terlihat betapa besar dan makmur kota itu. Dinding kota yang dibangun dari batu batu besar yang dipotong rapi menjulang tinggi menembus langit. Di atas dinding itu berjejer prajurit bersenjata lengkap yang tampak waspada menjaga setiap gerbang yang masuk. Jalan lebar yang menuju ke gerbang utama dipadati oleh orang orang yang berjalan kaki, menunggangi hewan penunggang, maupun kereta kuda yang berjalan beriringan perlahan membawa barang dagangan dan penumpang.
Udara di sekitar gerbang kota terasa bercampur debu halus dan bau keringat serta bau hewan. Suara riuh rendah pembeli dan penjual, suara teriakan para pengangkut barang, dan suara derap langkah kuda terdengar saling bersahut sahutan menciptakan kegaduhan yang belum pernah dirasakan oleh Lin Mo selama tinggal di desa yang sepi. Namun meskipun pendengarannya kini jauh lebih tajam dari orang biasa, Lin Mo tidak merasa pusing atau terganggu. Ia tetap berjalan tenang dengan napas yang teratur dan hati yang damai. Lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan teratur, seakan menyaring segala kegaduhan di luar dan menjaga ketenangan di dalam hatinya tetap utuh.
Saat tiba di gerbang kota, barisan orang yang hendak masuk berjalan lambat dan teratur. Di pintu gerbang itu berdiri petugas yang memungut biaya masuk dari setiap orang yang datang. Lin Mo berdiri di ujung barisan dan menunggu gilirannya dengan tenang. Ia mengamati sekelilingnya dengan pandangan yang jernih namun rendah hati. Ia melihat banyak orang yang berpakaian bagus dan membawa senjata tajam di pinggangnya. Beberapa orang memancarkan hawa yang kuat dan berwibawa. Lin Mo menyadari bahwa di kota ini terdapat banyak sekali orang yang telah melatih lautan Qi di dalam tubuhnya. Sebagian besar dari mereka memiliki energi Qi yang jauh lebih kuat dan jauh lebih luas dibandingkan dengan lautan Qi miliknya yang masih kecil dan baru saja terbangun.
Namun Lin Mo tidak merasa rendah diri dan tidak pula merasa takut. Ia menyadari bahwa meskipun lautan Qi miliknya masih kecil, namun kemurniannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan banyak orang yang dilihatnya. Energi Qi mereka tampak kuat namun keruh dan kasar seakan bercampur dengan hawa nafsu dan keserakahan yang mendalam. Sedangkan lautan Qi miliknya jernih bagaikan air mata air yang belum tercampur debu sedikit pun. Dan itu adalah hal yang paling berharga dan paling sulit dicapai oleh siapa pun yang melatih energi Qi.
Tak lama kemudian giliran Lin Mo tiba. Petugas yang berdiri di meja pendaftaran menatap Lin Mo dari atas hingga ke bawah dengan tatapan yang merendahkan. Ia melihat pakaian Lin Mo yang lusuh dan penuh tambalan, tubuhnya yang kurus, dan wajahnya yang pucat namun jernih dan tenang.
Bayar biaya masuk ujar petugas itu dengan suara yang kasar dan tanpa menatap mata Lin Mo. Satu keping tembaga. Dan katakanlah dari mana kau datang dan untuk apa kau masuk ke kota Qingyuan.
Lin Mo mengeluarkan satu keping uang tembaga yang disimpannya dengan hati hati di saku baju dekat dadanya. Uang itu sedikit sekali jumlahnya dan hampir habis. Ia tahu bahwa uang yang dibawanya tidak akan bertahan lama di kota yang besar dan mahal ini. Namun ia tetap menyerahkannya dengan tenang dan sopan.
Aku datang dari desa di sebelah bukit ujar Lin Mo dengan suara yang tenang dan jelas. Aku masuk ke kota ini untuk mencari pekerjaan dan tempat tinggal sementara.
Petugas itu mencatat nama dan asal usul Lin Mo di atas selembar kertas lalu melambaikan tangan dengan kasar menyuruhnya masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lin Mo mengangguk pelan lalu melangkah masuk melewati gerbang kota yang besar dan kokoh itu.
Begitu masuk ke dalam kota, pemandangan yang tampak di hadapan matanya sungguh jauh berbeda dari desa tempat ia tinggal sejak lahir. Jalan jalan yang lebar dilapisi batu batu pipih yang rapi dan bersih. Di kedua sisi jalan berdiri rumah rumah dan toko toko yang terbuat dari batu dan kayu yang bagus. Atapnya berwarna warni dan dihiasi ukiran ukiran yang halus dan indah. Toko toko itu menjual berbagai macam barang yang belum pernah dilihat oleh Lin Mo sebelumnya. Ada senjata tajam yang berkilauan terkena cahaya matahari. Ada pakaian sutra yang lembut dan berwarna cerah. Ada ramuan ramuan obat yang aromanya harum dan tajam. Dan ada banyak sekali benda benda aneh yang terbuat dari batu batu berkilauan dan logam logam yang berharga.
Lin Mo berjalan perlahan menyusuri jalan utama kota itu. Matanya menatap sekeliling dengan penuh perhatian namun tidak terlihat serakah atau terpesona. Ia mengamati tata letak jalan jalan, tempat tempat penting, dan aliran air yang mengalir di sepanjang jalan kota itu. Ia juga mengamati orang orang yang berjalan di sekelilingnya. Ada pedagang yang berseru memuji dagangannya. Ada bangsawan yang lewat dengan kereta mewah dan diiringi pengawal yang banyak. Ada pula pemuda pemuda yang mengenakan pakaian seragam yang sama persis dan berjalan tegak dengan senjata di pinggang sambil berbicara dengan penuh semangat.
Dari percakapan yang terdengar di sepanjang jalan, Lin Mo memahami bahwa pemuda pemuda yang mengenakan pakaian seragam itu adalah murid murid dari Sekte Pedang Cahaya. Sekte itu adalah sekte terbesar dan paling berpengaruh di Kota Qingyuan. Sebagian besar orang yang memiliki kemampuan melatih lautan Qi di kota itu berafiliasi atau bergabung dengan sekte tersebut. Sekte itu memiliki kekuasaan yang sangat besar dan dihormati oleh seluruh penduduk kota.
Lin Mo menyadari bahwa jika ia ingin berkembang dan mencari petunjuk tentang masa lalu keluarganya, bergabung dengan sekte besar mungkin adalah jalan yang paling tepat. Namun ia juga menyadari bahwa masuk ke dalam sekte besar berarti ia harus tunduk pada aturan aturan yang ketat dan mungkin pula terlibat dalam persaingan yang licik dan penuh bahaya. Oleh karena itu ia memutuskan untuk tidak terburu buru mengambil keputusan. Ia akan mencari tempat tinggal dan pekerjaan sederhana terlebih dahulu agar dapat bertahan hidup di kota ini. Sambil bekerja dan hidup dengan tenang, ia akan terus melatih lautan Qi miliknya dan mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit sampai waktunya tiba untuk mengambil langkah yang lebih besar.
Saat matahari perlahan mulai terbenam dan cahaya kemerahan menyelimuti seluruh kota, Lin Mo tiba di bagian pinggir kota yang jauh lebih sepi dan jauh lebih sederhana dibandingkan dengan jalan utama yang dilewatinya tadi. Di sini rumah rumah terlihat lebih sederhana dan lebih tua. Jalanannya pun tidak sebersih dan selebar di tengah kota. Namun udaranya terasa lebih tenang dan lebih segar. Lin Mo berjalan perlahan menyusuri jalanan itu sambil memperhatikan papan papan pengumuman yang dipasang di pintu pintu rumah. Ia mencari pengumuman yang membutuhkan pekerja atau menyewakan kamar dengan harga yang murah.
Setelah berjalan cukup lama, Lin Mo akhirnya menemukan sebuah rumah tua yang menjual dan menyewakan kamar dengan harga yang sangat murah. Pemilik rumah itu adalah seorang nenek tua yang hidup sendirian dan membutuhkan bantuan untuk mengurus rumah serta melayani tamu yang datang menyewa kamar. Lin Mo berbicara dengan nenek tua itu dengan sopan dan tenang. Nenek itu menatap Lin Mo dengan pandangan yang tajam namun lembut. Ia melihat ketulusan dan ketenangan di mata pemuda itu yang tampak berpakaian lusuh namun berperilaku sangat baik dan sopan.
Nenek itu akhirnya setuju menerima Lin Mo tinggal di sana. Ia memberikan satu kamar kecil yang sederhana namun bersih dan kering di bagian belakang rumah. Sebagai gantinya Lin Mo harus membantu membersihkan rumah, mengambil air, memasak, dan melakukan pekerjaan berat lainnya. Uang sewa kamar pun dihapuskan cukup dengan tenaga yang dikeluarkan Lin Mo setiap hari. Bagi Lin Mo hal itu sungguh merupakan kabar yang sangat baik. Ia tidak memiliki banyak uang dan tidak memiliki tempat tinggal. Dengan cara ini ia dapat hidup tenang dan tetap memiliki waktu luang untuk melatih lautan Qi miliknya.
Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai dan nenek tua itu telah beristirahat, Lin Mo masuk ke dalam kamarnya yang kecil dan sederhana itu. Kamar itu hanya berisi sebuah tempat tidur kayu yang sederhana, sebuah meja kecil, dan sebuah kursi kayu yang sudah tua. Udara di dalam kamar itu bersih dan segar. Cahaya bulan purnama menyelinap masuk melalui jendela kecil yang terbuka perlahan.
Lin Mo duduk bersila di atas tempat tidur kayu itu. Ia menutup pintu kamar dan memastikan tidak ada orang yang akan mengganggunya. Setelah itu ia memejamkan mata dan membiarkan napasnya menjadi panjang dan teratur. Perlahan lautan Qi di dalam perut bawahnya berdenyut lembut dan teratur. Batu hitam yang selalu dibawanya dekat dadanya terasa hangat dan nyaman. Hawa sejuk yang halus menjalar dari batu itu menyebar ke seluruh tubuh, membersihkan dan memperlebar saluran saluran energi yang sempit dan tersumbat.
Energi Qi perlahan mengalir dari perut bawah menyusuri meridian tubuh yang semakin lama semakin lancar dan terbuka. Saat energi Qi itu menembus pori pori kulit, ia berubah wujud menjadi energi spiritual yang bersinar lembut berwarna putih keemasan. Cahaya itu samar namun murni dan hangat. Cahaya itu menyelimuti seluruh tubuh Lin Mo bagaikan selimut tipis yang melindunginya dari hawa dingin malam yang mulai menusuk.
Lin Mo merasakan bahwa setelah berjalan jauh dan terus melatih diri tanpa henti selama perjalanan, lautan Qi miliknya kini telah sedikit lebih luas dan sedikit lebih dalam dibandingkan saat ia masih berada di desa. Meridian di dalam tubuhnya pun semakin terbuka dan semakin bersih berkat bantuan batu hitam peninggalan leluhurnya. Energi spiritual yang muncul pun kini terasa sedikit lebih kuat dan sedikit lebih tahan lama dibandingkan sebelumnya.
Namun Lin Mo juga menyadari bahwa dibandingkan dengan murid murid Sekte Pedang Cahaya yang dilihatnya di jalan tadi, kemampuannya masih jauh tertinggal jauh di belakang. Mereka memiliki lautan Qi yang luas dan dalam serta energi spiritual yang kuat dan berkilau terang. Namun Lin Mo tidak merasa iri dan tidak pula berkeinginan mempercepat kemajuan dengan cara yang berbahaya. Ia tetap memegang teguh pesan leluhurnya. Kemurnian hati dan keseimbangan lautan Qi adalah hal yang paling penting. Kemajuan yang lambat namun kokoh jauh lebih berharga daripada kemajuan yang cepat namun rapuh dan mudah hancur seketika.
Malam itu berlalu dengan tenang. Cahaya putih keemasan samar terus bersinar dan menyelimuti tubuh Lin Mo di dalam kamar kecil yang remang remang itu. Di luar kamar angin malam berhembus lembut membawa aroma bunga dan dedaunan. Di dalam kamar lautan Qi yang murni dan jernih terus berdenyut lembut dan abadi. Lin Mo telah tiba di kota yang besar dan penuh tantangan. Ia tidak memiliki kekuasaan, tidak memiliki harta, dan tidak memiliki pelindung. Namun ia memiliki hati yang jernih, lautan Qi yang murni, dan tekad yang tak tergoyahkan. Dan dengan bekal itu, ia siap melangkah maju menempuh jalan yang panjang dan sulit demi mencari kebenaran dan memulihkan kehormatan keluarganya yang telah dirampas.