NovelToon NovelToon
Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Mama Kembali: Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Mengubah Takdir
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.

Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.

Lalu Yong Ing meninggal.

Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.

Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.

Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.

Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.

Dan itu baru tiga hari pertama.

Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.

Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029: Satu Lawan Lima

Jeritan perempuan itu membuat Marco bergerak lebih dulu.

"A Kau!" Jason menarik lengannya. "Kita baru sampai. Uang habis. Badan remuk. Jangan tambah masalah."

Marco tidak langsung menjawab. Matanya tetap ke gang gelap di samping warung. Di sana ada suara kaki terseret, suara kain robek, lalu laki-laki tertawa kasar.

"Itu bukan masalah," kata Marco pelan. "Itu orang minta tolong."

Jason ingin memaki.

Tetapi jeritan itu datang lagi.

Kali ini ada suara perempuan menangis dalam bahasa Jawa yang terputus-putus. Jason tidak mengerti semua katanya, tetapi rasa takut tidak perlu diterjemahkan.

Ia meletakkan sendok.

"Bayar dulu," katanya.

Marco hampir tersandung karena bingung. "Sekarang?"

"Kalau kita mati, jangan sampai pemilik warung bilang kita makan tidak bayar."

Marco menatapnya satu detik, lalu melempar uang receh ke meja. Mereka berlari masuk ke gang.

Gang itu sempit, basah, dan bau selokan. Lampu rumah di ujung jalan mati setengah. Di bawah cahaya kuning yang bocor dari warung, Jason melihat lima laki-laki mengepung sepasang suami istri.

Si laki-laki memakai kemeja putih yang sudah kusut. Ia memeluk tas kulit di dada, wajahnya pucat. Perempuan di sampingnya memegang kain selendang, rambutnya berantakan, satu sandal hilang.

"Tasnya sini!" teriak salah satu preman.

Laki-laki itu mundur. "Ini uang dagang. Tolong."

Preman paling tinggi tertawa. "Justru karena uang dagang, kami mau."

Jason mendengar kata uang dagang.

Entah kenapa, api di dadanya langsung naik.

Seharian ia ditipu orang dengan senyum, tiket palsu, dan kata-kata manis. Sekarang ada lima orang memakai cara yang lebih kasar untuk merampas hasil kerja orang lain. Di kepala Jason, wajah Margaret muncul: buku cokelat, angka rapi, suara yang berkata uang tidak boleh lari dari tangan.

Uang orang lain juga tidak boleh dirampas begitu saja.

"Oi!" Jason berteriak.

Lima kepala menoleh.

Marco menarik napas pendek. "Jay, hitung dulu."

"Sudah."

"Ada lima."

"Aku bisa lihat."

"Kita dua."

"Mereka yang kurang."

Marco sempat memejamkan mata, seolah sedang menyesali seluruh perjalanan hidupnya.

Preman paling dekat mengangkat dagu. "Mau apa?"

Jason melangkah maju. "Mau bayar nasi goreng dengan tenang. Kalian berisik."

Satu preman tertawa dan maju sambil mengayunkan tangan.

Jason tidak mundur.

Ia menangkap pergelangan laki-laki itu, memutar tubuhnya setengah langkah, lalu menghantam dada lawannya dengan bahu. Orang itu jatuh ke dinding dengan suara keras, udara keluar dari mulutnya seperti ban bocor.

Yang kedua menyerbu dari samping.

Jason menunduk, lututnya naik cepat.

Laki-laki itu terlipat sambil memegang perut.

"Dua," kata Marco.

"Jangan hitung seperti pedagang!" bentak Jason.

Tetapi Marco sudah bergerak. Ia mengambil tutup tong kayu di dekat dinding, menangkis pukulan ketiga, lalu menyapu kaki lawannya. Suaranya kering, cepat, tanpa gaya. Orang itu jatuh duduk di tanah basah dan belum sempat bangun ketika Marco menendang tong kosong ke arahnya.

Sisa dua orang ragu.

Mereka mungkin terbiasa menakuti pedagang, menendang orang mabuk, atau mencuri dari orang yang takut. Mereka tidak terbiasa bertemu lelaki Semarang yang marah karena ditipu tiket sepanjang hari.

Preman paling tinggi mengeluarkan pisau kecil.

Perempuan itu menjerit lagi.

Jason berhenti tertawa.

Ia mengambil karung kosong dari tanah, melemparkannya ke wajah orang itu, lalu menerjang sebelum pisau sempat menemukan arah. Tangan kanan Jason memukul pergelangan lawan. Pisau jatuh dan berputar di lantai gang. Tangan kirinya menghantam rahang orang itu.

Preman tinggi itu roboh.

Yang terakhir berbalik hendak lari.

Marco mengejar dua langkah, menabrakkan bahunya ke punggung orang itu, lalu menindihnya dengan lutut.

"Lima," katanya.

Jason berdiri di tengah gang, napasnya berat, rambutnya menempel di kening. Telapak tangannya sakit. Lututnya juga sakit. Tetapi dadanya terasa luas, seperti semua rasa malu karena ditipu sepanjang hari akhirnya menemukan lubang untuk keluar.

Laki-laki berkemeja putih itu memeluk istrinya. "Terima kasih. Terima kasih."

Jason melambaikan tangan, sok santai. "Pergi dulu. Cari tempat ramai."

"Nama kalian?"

"Tidak penting."

Marco menatap Jason cepat. Jason membalas dengan tatapan yang berarti: jangan sebut nama, jangan tambah urusan.

Pasangan itu ragu, tetapi suara orang mulai terdengar dari ujung gang. Pintu-pintu rumah terbuka sedikit. Mereka akhirnya berlari keluar gang, masih saling memegang erat.

Jason baru hendak mengikuti ketika kakinya menendang sesuatu.

Tas kulit.

Di dekat tong kayu, ada juga satu buntalan kain cokelat yang tadi dijatuhkan preman. Marco membuka sedikit ujungnya, lalu wajahnya berubah.

"Jay."

"Apa?"

Marco tidak menjawab. Ia membuka lebih lebar.

Di dalamnya ada uang.

Banyak.

Bukan uang lecek untuk beli nasi, bukan uang jalan yang harus dihitung sampai receh. Lembaran rapi, beberapa diikat karet, beberapa bercampur dengan gelang emas, cincin, kalung, dan dua jam tangan.

Jason jongkok.

Seluruh dunia seperti diam satu detik.

"Ini punya pasangan tadi?" bisiknya.

Marco membuka tas kulit. Di dalamnya ada dompet kecil, beberapa nota toko, uang dalam amplop, dan kartu nama. Tetapi buntalan kain cokelat berbeda. Isinya campur, seperti hasil rampasan dari banyak orang.

"Preman ini bukan baru sekali," kata Marco.

Dari ujung gang terdengar suara orang makin dekat. Ada yang berteriak dalam bahasa Jawa. Ada yang menyuruh panggil hansip.

Jason dan Marco saling pandang.

Kalau mereka tinggal, urusan bisa panjang. Mereka orang luar, baru sampai, tidak kenal siapa pun, membawa uang besar yang tidak jelas asalnya. Kalau semua dijelaskan, belum tentu ada yang percaya. Kalau pergi, mereka membawa barang panas.

Jason menggigit bibir.

"Bawa dulu."

"Jay."

"Bawa dulu!" bisik Jason. "Nanti kita pikir. Kalau ditinggal di sini, yang datang duluan belum tentu orang baik."

Marco membungkus ulang kain cokelat. Jason mengambil tas kulit. Mereka keluar lewat gang samping sebelum orang-orang sampai ke tempat lima preman tergeletak.

Mereka berlari tanpa tahu arah.

Solo malam itu seperti labirin. Jalan kecil bertemu jalan lebih kecil. Toko tutup, pintu kayu, tembok lembap, suara becak jauh, bau dupa dari satu sudut yang sepi. Setelah berbelok tiga kali, mereka melihat bangunan kelenteng tua dengan halaman samping yang gelap.

Pintunya tidak terkunci. Mungkin sisi itu sudah lama tidak dipakai.

Mereka masuk ke sebuah ruang samping yang berdebu. Ada meja tua, lampion pudar, dan patung kecil yang wajahnya tertutup bayangan. Jason menahan napas, lalu menunduk sebentar.

"Maaf numpang," gumamnya.

Marco ikut menunduk. "Jangan marah. Kami juga tidak tahu harus ke mana."

Mereka duduk di lantai, punggung menempel dinding. Untuk beberapa menit, hanya napas mereka yang terdengar.

Lalu Jason membuka buntalan kain.

"Hitung."

Marco menatapnya. "Sekarang?"

"Kalau aku tidak tahu jumlahnya, aku tidak bisa takut dengan benar."

Mereka menghitung dengan tangan gemetar.

Uang tunai: Rp 32.700.000.

Gelang emas: empat.

Cincin: enam.

Kalung: dua.

Jam tangan: dua.

Jason duduk terpaku.

Tadi siang ia rugi Rp 2.100.000 dan merasa langit runtuh. Sekarang di depannya ada uang lebih dari tiga puluh juta rupiah, belum termasuk emas.

Ia tiba-tiba tertawa.

Tawanya kecil dulu, lalu makin besar sampai bahunya bergetar.

"A Kau," katanya, "kita kaya."

Marco tidak tertawa.

Ia mengambil satu gelang emas, melihatnya di bawah cahaya lampion pudar, lalu meletakkannya kembali.

"Ini bukan uang kita."

"Tadi kita yang ambil dari perampok."

"Perampok mengambil dari orang lain."

"Kalau tidak kita ambil, orang lain juga ambil."

"Mama tidak akan suka jawaban itu."

Nama Margaret membuat tawa Jason berhenti.

Ia menatap uang itu. Di kepalanya, suara Margaret muncul lagi, jauh lebih menakutkan daripada lima preman tadi: dari mana uangnya, siapa pemiliknya, kenapa kau bawa pulang, apa bukti kau tidak mencuri?

Jason menelan ludah.

"Kita bisa bilang kita menemukan."

Marco menatapnya datar.

"Baik. Itu bodoh."

"Sangat bodoh."

Jason mengusap wajah. "Kalau bilang jujur, Mama akan marah."

"Kalau bohong, Mama akan tahu."

Itu juga benar.

Mereka akhirnya memasukkan uang kembali ke tas kulit, sementara emas dan jam tangan tetap di buntalan kain. Marco menyelipkan kartu nama dari tas kulit ke buku cokelat Margaret.

"Kenapa itu?"

"Bukti ada pemilik tas."

Jason meraih kartu itu. Di atas kertas tebal tertulis nama seorang pedagang batik dari Solo: Hartono. Alamatnya di area Pasar Klewer.

"Batik," gumam Jason.

"Besok pagi cari orangnya?"

Jason tidak langsung menjawab. Matanya masih pada uang, lalu pada kartu nama, lalu pada pintu samping kelenteng yang gelap.

"Besok pagi," katanya akhirnya. "Malam ini kita hidup dulu."

Marco memeluk lutut, duduk dekat tas itu seperti penjaga.

Jason bersandar ke dinding. Tubuhnya sakit semua, tetapi matanya tidak bisa terpejam. Di depannya ada uang yang bisa mengubah nasib. Di belakang uang itu ada masalah yang mungkin lebih besar daripada lima preman.

Saat fajar mulai pucat, mereka keluar dari ruang samping kelenteng.

Di halaman depan, sepasang suami istri yang mereka selamatkan semalam sudah berdiri menunggu.

Laki-laki berkemeja putih itu kini memakai jas rapi. Wajahnya masih lelah, tetapi sikapnya tenang. Ia membungkuk kepada Jason dan Marco.

"Saya Hartono," katanya. "Saya berdagang batik di Pasar Klewer. Kalau kalian tidak datang semalam, saya dan istri mungkin tidak selamat."

Jason memegang tas kulit lebih erat.

Hartono mengangkat kartu nama baru dengan dua tangan.

"Saya tidak tahu bagaimana membalas nyawa," katanya pelan. "Tapi kalau kalian datang ke Pasar Klewer, cari saya."

Marco menoleh ke Jason.

Jason melihat kartu itu, lalu melihat matahari yang mulai naik di atas atap Solo.

Perjalanan yang semalam terasa seperti bencana mendadak membuka pintu yang sama sekali tidak ia kenal.

1
🌸nofa🌸
keren banget kak, nambah pengetahuan tentang pengelolaan keuangan keluarga. makasih dah rutin update🙏
Fauziah Daud
mantap.. trusemangattt
Fauziah Daud
karen
Ida Kurniasari
lanjut thor😍
Dewiendahsetiowati
crazy up thor
Dewiendahsetiowati
wah Margaret asetnya sudah berkembang banyak
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°HI@TUS🇮🇩
ini waktu up nya ngga salah liat kan ya/Shy/
Dewiendahsetiowati
mantab Margaret
Dewiendahsetiowati
belum mulai sudah tekor duluan,tapi tetap semangat Jason
Dewiendahsetiowati
Jason mulai bangkit lagi bersama Marco dan Toby
Dewiendahsetiowati
Margaret suka bener deh ngomongya🤣🤣
Dewiendahsetiowati
kasihan Jason
Dewiendahsetiowati
Ama the best deh aktingnya,Jason jadi bodyguard jadi tenaganya kayak Hulk dibutuhkan.Vanesa dan Margaret mulutnya bon cabe level 100.kelyarga kocak dan kompak🤣🤣
Dewiendahsetiowati
Oscar bikin ngakak 🤣🤣
Dewiendahsetiowati
ada main nih sama kakak iparnya
Dewiendahsetiowati
semua sudah berjalan kearah yang benar tinggal buang benalu yang ada dirumah👍👍
Dewiendahsetiowati
othornya taruh bawangnya kebanyakan,nyesek baca part Sophie😭😭😭
Dewiendahsetiowati
bagus Margaret tegas sama orang2 toxic
Dewiendahsetiowati
hadir thor
cinnamon
kapan up nya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!