Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Kamar periksa itu luas, bersih, dan mewah dengan pencahayaan lembut, peralatan medis modern, serta aroma antiseptik yang samar bercampur parfum mahal milik Drake. Nathalie duduk gelisah di kursi pasien, tangannya saling meremas di pangkuan.
Drake duduk di kursi kerjanya dengan jas dokter putih yang rapi, terlihat tampan dan berwibawa. Dia terlihat lebih muda dari kebanyakan dokter senior, tapi aura kekuasaannya sangat terasa. Ia menatap Nathalie dengan mata tajam yang penuh arti, seolah sudah tahu apa yang terjadi.
“Apa yang sedang kamu keluhkan?” tanya Drake dengan suara tenang profesional, meski ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Nathalie meremas tangannya semakin kuat hingga buku jarinya memutih. Wajahnya memerah karena malu. Bagaimana ia bisa mengatakan yang sebenarnya? Bahwa ia sakit di bagian intim karena baru saja berhubungan intim secara kasar dan berulang dengan pria di depannya ini? Lidahnya terasa kelu. Ia hanya menunduk, menatap lantai marmer mengkilap tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Melihat keterdiaman Nathalie, Drake bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekat dengan langkah mantap, lalu menunjuk ranjang pasien yang empuk dan bersih di samping meja periksa.
“Naiklah, aku akan memeriksamu,” titahnya dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Nathalie mengangguk pelan. Dengan langkah tertatih yang masih terlihat jelas, ia berjalan menuju ranjang dan naik ke atasnya dengan hati-hati. Selangkangannya berdenyut sakit saat ia menggeser tubuh.
Drake mendekat, berdiri di samping ranjang sambil memandanginya dari atas. “Buka bajumu ke atas,” pinta Drake dengan suara rendah.
Nathalie menurut dengan tangan gemetar. Ia menyibak kaosnya ke atas, memperlihatkan perut mulus yang rata dan kulit putihnya yang masih memar samar di pinggul. Udara dingin ruangan membuat bulu kuduknya merinding.
Drake mengambil stetoskop dari lehernya, menghangatkan ujungnya sebentar di telapak tangan, lalu menempelkannya ke perut Nathalie. Ia mendengarkan dengan serius, memindahkan stetoskop ke beberapa titik sambil tangan satunya menekan pelan perut perempuan itu.
“Kamu terlihat baik-baik saja, tidak ada masalah di perutmu" kata Drake setelah beberapa saat. Nada suaranya tenang, tapi matanya berkilat penuh arti saat menatap wajah malu Nathalie.
Nathalie menggigit bibir bawahnya. Wajahnya semakin panas. “Bukan perutku yang sakit, tapi itu……” ucapannya terhenti di tengah jalan. Suaranya hampir hilang, tenggorokannya tercekat karena malu yang luar biasa.
Drake memicingkan matanya, pura-pura tidak mengerti. Ia meletakkan stetoskop kembali ke meja dan menatap Nathalie lekat-lekat.
“Apanya yang sakit?” tanyanya dengan nada yang sedikit lebih rendah, seolah ingin mendengar langsung dari mulut perempuan itu.
Nathalie berdecak kesal, campuran antara malu dan kesakitan yang sudah tak tertahankan. Air matanya menggenang di pelupuk. Dengan suara yang nyaris bergetar, ia akhirnya menyerah.
“Anuku yang sakit!” serunya sambil menunjuk ke arah selangkangan dan bagian intimnya dengan tangan gemetar. “Sakit sekali… apalagi saat buang air kecil. Rasanya perih dan panas. Aku takut terjadi infeksi”
Ruangan menjadi hening sejenak. Drake menatap Nathalie dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran antara kepuasan sebagai pria dan profesionalisme sebagai dokter. Senyum tipis kembali muncul di bibirnya. Ia sudah menduga ini. Bahkan, ia menikmati melihat perempuan yang semalam masih virgin kini datang meminta pertolongannya karena luka akibat dirinya sendiri.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?” kata Drake pelan sambil mendekat. Tangannya menyentuh paha Nathalie dengan lembut, tapi ada kekuatan tersembunyi di balik sentuhan itu. “Buka celanamu. Aku perlu memeriksa lebih teliti.”
"Kenapa harus di buka?" seru Nathalie.
"Bagaimana aku bisa memeriksanya kalau kamu tidak mau membukanya" ucap Drake penuh arti.
Nathalie ragu sejenak, tapi rasa sakit yang terus-menerus membuatnya menurut. Ia membuka resleting jeans-nya dengan tangan gemetar, menurunkan celana hingga ke lutut.
Drake memakai sarung tangan medis, lalu dengan gerakan profesional namun penuh keintiman, ia memeriksa bagian intim Nathalie yang masih bengkak dan agak meradang.
“Masih ada iritasi dan sedikit robekan,” jelas Drake sambil menyentuh dengan hati-hati. Jari-jarinya menyentuh titik sensitif itu, membuat Nathalie mengejang kecil dan menggigit bibir menahan desahan kesakitan. “Ini normal setelah aktivitas yang cukup intens dan kasar, terutama untuk yang pertama kali. Aku akan beri obat antibiotik, salep, dan pereda nyeri yang lebih kuat.”
Saat memeriksa, Drake sengaja melambatkan gerakannya. Matanya menatap wajah Nathalie yang memerah dan berusaha menahan rasa malu. Namun, dia meraskan gejolak gairah dalam tubuhnya melihat daging kecil berwarna pink itu.
“Besok-besok lebih hati-hati,” bisik Drake sambil melepas sarung tangan. “Atau… kalau mau, aku bisa mengajari cara yang lebih lembut.”
Nathalie tidak menjawab. Ia buru-buru menarik celananya kembali, dia memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mendumel kesal.
Drake hanya tersenyum melihat reaksi perempuan di hadapannya. Ia menulis resep dengan tenang, tapi di dalam pikirannya, ia sudah merencanakan pertemuan selanjutnya.
"Nanti malam datanglah ke apartemenku. Alamatnya aku kirim ke nomor mu nanti" ucap Drake.
"Tidak, terima kasih" ucap Nathalie dan pergi meninggalkan Drake.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam telah larut ketika Drake kembali ke apartemen penthouse nya yang mewah di pusat kota. Lampu kota berkelap-kelip seperti lautan bintang di bawah kaca jendela besar yang memanjang dari lantai ke langit-langit. Ia baru saja selesai melakukan operasi darurat di rumah sakit, jas dokter putihnya masih tergantung rapi di ruang ganti, namun pikirannya tidak berada di sana.
Ia duduk di sofa kulit hitam yang empuk, kemeja hitamnya sedikit terbuka di bagian dada. Segelas whiskey berkualitas tinggi sudah berada di tangannya. Pikirannya terus tertuju pada Nathalie. Drake tersenyum tipis mengingat bagaimana perempuan itu mengejang kecil saat jarinya menyentuh bagian intim yang masih bengkak.
Ia mengambil ponselnya, membuka aplikasi pesan, dan mengetik dengan jari yang panjang dan terawat.
“Datanglah ke apartemen di jalan Veteran"
Pesan itu dikirim. Centang biru langsung muncul, artinya pesan terkirim dan sudah dibaca. Drake menunggu beberapa menit tapi tidak ada balasan. Senyum di bibirnya perlahan memudar.
Ia mencoba mengirim pesan lagi.
“Nathalie, jawab pesanku"
Masih tidak ada balasan. Drake mulai kesal. Ia meletakkan gelas whiskey-nya di meja kaca dengan agak kasar, lalu mencoba menghubungi nomor Nathalie. Nada sambung terdengar beberapa kali.
Tuuut… tuuut… tuuut…
Tidak diangkat.
“Kemana dia?” gumam Drake kesal. Alisnya bertaut, rahangnya mengeras. Ia tidak terbiasa diabaikan. Sebagai pemilik rumah sakit dan dokter sukses, hampir semua orang selalu menjawab panggilannya dengan cepat. Tapi Nathalie? Perempuan yang baru saja ia temui malah berani menghilang.
Drake mencoba menghubungi sekali lagi. Kali ini nada sambungnya berbeda. Langsung masuk ke kotak pesan suara. Ia mencoba lagi tapi hasilnya sama.
Akhirnya, dengan kesabaran yang sudah hampir habis, Drake membuka aplikasi pesan sekali lagi. Ia melihat status nomor Nathalie.
“Pesan tidak terkirim. Nomor ini telah memblokir Anda.”
Drake menatap layar ponselnya dengan mata menyipit. Wajah tampannya yang biasanya tenang dan berwibawa kini berubah gelap. Amarah mulai mendidih di dadanya.
“Sial!” umpatnya marah sambil melempar ponsel ke sofa di seberang. Ponsel itu memantul dan jatuh ke karpet tebal. “Berani sekali dia memblokir nomorku!”
Drake berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemennya yang luas. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Ia bukan pria yang mudah ditolak. Semalam Nathalie menyerahkan tubuhnya dengan mata berkaca-kaca demi uang. Pagi tadi ia datang ke rumah sakitnya dengan langkah tertatih karena luka yang ia buat. Dan sekarang perempuan itu berani memblokirnya?
Rasa posesif yang kuat menyelimuti dirinya. Ia sudah merasakan betapa sempit dan hangatnya tubuh Nathalie, betapa manis suara erangannya meski penuh perlawanan, dan betapa polosnya perempuan itu sebelum ia sentuh. Drake tidak ingin melepaskan begitu saja.
Ia mengambil ponsel cadangan dari laci meja kerjanya dan mencoba menghubungi dari nomor lain. Tetap tidak tersambung. Kemungkinan Nathalie sudah memblokir semua nomor asing yang masuk ke ponselnya.
Drake menuang whiskey lagi ke gelasnya, kali ini lebih banyak. Ia meneguknya dalam satu kali tegukan, merasakan cairan panas itu membakar tenggorokannya. Matanya menatap pemandangan kota malam di luar jendela, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
“Nathalie Grace… kamu pikir bisa lari dariku semudah itu?” gumamnya dengan suara rendah yang penuh ancaman. Senyum dingin muncul di bibirnya.