SCANDAL Part II: To Catch a Star
Sinopsis:
Bagi dunia, Galasky Ardayana (35 tahun) adalah definisi kesempurnaan. Aktor papan atas yang telah merajai layar kaca selama 12 tahun, pewaris tunggal Ardayana Group yang membangkang, dan pria lajang yang paling diinginkan se-Indonesia. Namun, di balik lampu spotlight, Gala adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan di masa kuliah membuatnya menutup pintu hati rapat-rapat, lebih memilih hidup sebagai "perjaka tua" daripada harus terluka lagi.
Namun, ketenangannya hancur saat Airaya Greline Pradipta (19 tahun)—putri dari sahabat karibnya sendiri, Elang Adytama—muncul kembali sebagai gadis dewasa yang luar biasa cantik... dan sangat berani.
Yaya tidak main-main. Dia tidak peduli dengan perbedaan usia 16 tahun. Dia juga tidak peduli kalau Gala adalah orang yang sering menggendongnya saat ia masih bayi. Bagi Yaya, Gala adalah satu-satunya pria yang harus ia taklukkan.
"Om Gala, jangan sok jual mahal. Daripada diledekin perjaka tua terus sama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5
....
Pagi itu, Gala bangun dengan kondisi tubuh yang remuk redam. Bukan karena jadwal syuting yang padat, tapi karena semalam dia habis-habisan melakukan push-up dan sit-up demi mengusir bayangan lingerie hitam Aira dari otaknya. Matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan suasana hatinya lebih buruk dari rating film gagal.
Gala menatap pantulan dirinya di cermin. "Gua ini aktor terbaik, pemenang Piala Citra, idola semua umur. Masa kalah sama bocah ingusan yang panggil gua 'Om'?" gumamnya menyemangati diri sendiri, meski tangannya masih sedikit gemetar saat memegang sikat gigi.
Gala punya rencana besar hari ini. Rencana yang dia yakini akan menyelamatkan nyawanya dan harga dirinya. Dia tidak akan membiarkan Aira memakai pakaian yang kurang bahan lagi. Titik.
Pukul 09.00 WIB, Gala sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan grosir di Tanah Abang. Ya, dia sengaja tidak pergi ke butik mewah langganannya. Dia butuh sesuatu yang sangat "tidak seksi". Dengan memakai topi, masker, dan kacamata hitam, Gala menyelinap di antara ibu-ibu yang sedang berburu diskon.
"Mbak, saya mau beli daster," ucap Gala dengan suara diberatkan agar tidak dikenali.
"Oh, buat istrinya ya Mas? Mau yang model apa? Yang ada belahan samping atau yang transparan?" tanya mbak penjual dengan semangat.
Gala bergidik ngeri. "Bukan! Saya mau daster yang paling panjang, paling longgar, paling tebal, dan kalau bisa... yang motifnya paling ramai dan aneh. Pokoknya daster yang kalau dipakai orang, langsung kelihatan kayak emak-emak mau ke pasar," tegas Gala.
Si mbak penjual mengernyit heran, tapi tetap melayani. Akhirnya, Gala keluar dari toko itu dengan menenteng tiga kantong plastik besar berisi daster batik motif bunga bangkai, daster gambar kartun sapi, dan daster bahan kaos yang tebalnya minta ampun.
"Nah, kalau begini kan aman iman gua," batin Gala puas.
Kembali ke apartemen, Gala mendapati Aira sedang duduk di meja makan sambil main HP, kali ini dia memakai kaos kegedean milik Gala yang dia curi dari jemuran yang untungnya masih cukup sopan meski bagian bawahnya tetap memperlihatkan paha mulusnya.
"Om dari mana? Kok bawa kantong plastik banyak banget? Habis borong baju buat Jesica ya?" tanya Aira dengan nada cemburu yang tidak disembunyikan.
Gala membanting kantong plastik itu ke atas meja makan. BRAK!
"Ini buat kamu. Mulai sekarang, selama orang tua kamu di China, ini seragam wajib kamu di dalam apartemen. Om nggak mau denger protes, nggak mau denger alasan," ucap Gala dengan nada otoriter layaknya sutradara lagi marah.
Aira mengernyit. Dia membuka salah satu plastik dan mengeluarkan daster batik warna cokelat tua dengan motif bunga yang sangat besar. "Om... ini beneran? Om nyuruh Yaya pake daster emak-emak ini? Ini bahkan lebih jelek dari daster Mbak Siti di rumah!"
"Pake atau Om telepon Ayah kamu sekarang supaya dia kirim kamu ke asrama putri di pesantren Jawa Timur," ancam Gala telak.
Aira langsung bungkam. Dia tahu ayahnya memang sedang sensitif soal pergaulannya. Dengan wajah cemberut dan kaki yang dihentak-hentakkan, Aira menyambar daster-daster itu dan masuk ke kamarnya.
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar terbuka. Aira keluar dengan daster batik cokelat tadi. Ukurannya sangat besar sampai menutupi mata kakinya, lengannya gombrang, dan potongan lehernya sangat tinggi.
Gala menahan tawa sekuat tenaga. Aira yang biasanya terlihat seperti model internasional, sekarang benar-benar terlihat seperti ibu-ibu habis kerokan yang siap belanja sayur di gang sebelah.
"Gimana, Om? Puas?" tanya Aira ketus.
"Sempurna. Sangat sopan. Sangat menutup aurat. Om bangga," jawab Gala sambil kembali menyeruput kopinya dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, Gala merasa dia memegang kendali.
Tapi Gala lupa satu hal: Aira adalah anak Elang dan araa. Genetik "pantang menyerah" dan "otak gesrek" itu mengalir deras di darahnya.
Sore harinya, Gala sedang asyik membaca naskah di ruang tamu. Tiba-tiba, dia mencium aroma wangi masakan yang sangat menggoda. Gala menoleh ke dapur dan melihat Aira sedang sibuk di depan kompor.
Tapi ada yang aneh. Daster longgar tadi... kenapa terlihat berbeda?
Aira ternyata tidak tinggal diam. Dia menggunakan ikat pinggang kecil miliknya untuk membentuk lekukan di daster itu. Bagian bawah daster yang kepanjangan dia ikat dengan simpul cantik di samping paha, sehingga daster itu berubah menjadi dress batik yang sangat modis dan tetap saja... memperlihatkan kakinya setiap dia melangkah.
"Om, makan yuk! Yaya masak nasi goreng spesial nih," panggil Aira dengan nada ceria, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Gala memijit pelipisnya. "Yaya... Om kan suruh pake dasternya yang bener."
"Loh, ini udah bener kok Om. Kan tertutup? Yaya cuma modifikasi dikit biar nggak keserimpet pas masak. Om mau makan nggak? Kalau nggak mau, Yaya kasih ke satpam depan aja, kebetulan satpamnya ganteng, mirip aktor Korea," goda Aira sambil menyendok nasi ke piring.
Mendengar kata "satpam ganteng", entah kenapa hati Gala sedikit terusik. "Nggak usah aneh-aneh. Sini piringnya."
Mereka makan dalam diam. Tapi Aira terus-terusan melakukan gerakan yang bikin Gala salah fokus. Mulai dari sengaja menjatuhkan sendok agar dia harus membungkuk, sampai pura-pura kepedasan dan menjulurkan lidahnya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.
"Om... pedes banget... haah... haah..." Aira menatap Gala dengan mata yang berkaca-kaca yang aktingnya ternyata juga bagus, turunan dari keseringan nonton drama Gala
Gala mencoba tetap tenang. "Minum airnya, Yaya. Jangan lebay."
"Om... lidah Yaya mati rasa... tolongin..." Aira tiba-tiba berdiri dan mendekat ke arah Gala. Dia memegang tangan Gala dan mengarahkannya ke pipinya. "Tuh kan panas banget pipi Yaya... Om pegang deh."
Tangan Gala yang besar bersentuhan dengan kulit pipi Aira yang halus. Gala terpaku. Sensasi hangat itu kembali lagi. Dia segera menarik tangannya seperti terkena setrum.
"Masuk kamar, Yaya. Tidur. Udah malem," perintah Gala dengan suara yang mulai goyah.
"Ih, kok disuruh tidur terus sih? Yaya mau nonton film Om yang baru itu loh. Katanya ada adegan Om ciuman sama Tante Jesica ya? Yaya mau liat, Om beneran jago ciuman atau cuma akting doang?" ucap Aira dengan wajah tanpa dosa.
Gala hampir tersedak ludahnya sendiri. "Nggak ada tonton-tontonan! Cepat masuk kamar!"
Malam semakin larut. Gala mengira penderitaannya sudah berakhir. Dia sudah bersiap tidur, mengenakan celana pendek dan kaos tipis. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Om Gala!!! Tolong!!! Om!!!" suara Aira terdengar sangat panik.
Gala langsung meloncat dari tempat tidur. "Ada apa?! Kecoak lagi?!" Gala membuka pintu dengan kasar, siap untuk menghalau serangga apa pun.
Tapi tidak ada serangga. Aira berdiri di sana sambil memegangi perutnya, wajahnya pucat dia pake bedak bayi banyak-banyak biar kelihatan pucat dan dia terlihat gemetar.
"Om... perut Yaya sakit banget... kayak ditusuk-tusuk... aduh..." Aira merosot jatuh di depan kaki Gala.
Gala yang dasarnya memang sangat peduli, langsung panik luar biasa. "Yaya! Kenapa? Salah makan? Atau lambung kamu kumat?" Gala berjongkok dan merangkul bahu Aira.
"Nggak tau Om... sakit banget... hiks... dingin..." Aira menggigil.
Gala tanpa pikir panjang langsung mengangkat tubuh Aira dalam gendongan bridal style. "Kita ke rumah sakit sekarang! Sabar ya, jangan pingsan dulu!"
Gala sudah mau lari ke arah pintu keluar, tapi tangan Aira menahan dadanya. "Jangan ke RS Om... Yaya takut jarum suntik... hiks... tidurin di kasur Om aja... selimutin yang tebal... mungkin cuma masuk angin parah."
Gala yang sudah tidak bisa berpikir jernih karena takut aira kenapa-napa, akhirnya menuruti. Dia merebahkan Aira di atas kasur besarnya. Dia menyelimuti Aira sampai dada, lalu duduk di pinggir kasur sambil memijat dahi Aira yang katanyapusing.
"Sakit banget, Sayang? Bagian mana?" tanya Gala lembut, suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.
Aira memejamkan mata, menikmati perhatian Gala. "Sini Om... elus perutnya... biasanya kalau Bunda yang elus langsung sembuh."
Gala ragu. Dia menatap perut Aira yang tertutup daster batik sapi. Tapi melihat rintihan Aira yang makin menjadi, Gala akhirnya menyerah. Dia memasukkan tangannya ke bawah selimut dan mulai mengelus perut Aira dengan gerakan memutar yang lembut.
Suasana kamar yang sunyi, aroma parfum Gala yang maskulin, dan sentuhan tangan Gala di perutnya membuat Aira merasa menang telak. Jantung Gala sendiri berdegup kencang. Dia sedang menyentuh perut anak sahabatnya di atas kasur pribadinya di tengah malam!
"bang. kalau lu liat ini, gua berani sumpah gua cuma lagi ngobatin anak lu..." batin Gala meratap.
Tiba-tiba, Aira membuka matanya. Rasa sakit yang tadi dia keluhkan hilang seketika, digantikan oleh tatapan mata yang sangat dalam. Dia menangkap tangan Gala yang sedang mengelus perutnya dan menggenggamnya erat.
"Om..."
"Ya? Masih sakit?" tanya Gala polos.
Aira menggeleng pelan. Dia menarik tangan Gala dan menempelkannya di dadanya, tepat di jantungnya yang berdetak sangat cepat. "Om ngerasa nggak? Jantung Yaya mau copot tiap deket Om."
Gala mematung. Dia baru sadar kalau dia baru saja masuk ke dalam lubang jebakan yang sudah disiapkan Aira dengan sangat rapi. "Yaya... kamu bohong ya soal sakit perut tadi?"
Aira tersenyum manis, senyum paling cantik yang pernah Gala lihat. "Kalau Yaya nggak pura-pura sakit, mana mau Om pegang-pegang Yaya kayak gini? Om kan sok jual mahal."
Gala menarik napas panjang, dia hendak marah, tapi posisi mereka sangat tidak menguntungkan. Wajah Aira hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Lampu tidur yang remang-remang membuat suasana jadi sangat intim.
"Kamu bener-bener nakal ya, Aira. Kamu tahu nggak ini bahaya buat kita berdua?" bisik Gala, suaranya kembali berat.
"Bahaya buat Om, atau bahaya buat masa depan Yaya?" tantang Aira. Dia menarik leher Gala sampai dahi mereka bersentuhan. "Om Gala... jujur deh. Semalam pas Om cium Yaya, Om ngerasa ada kembang api kan di perut Om? Nggak usah bawa-bawa teori biologi lagi, Yaya nggak percaya."
Gala menutup matanya rapat-rapat. Dia sedang berperang melawan dirinya sendiri. Satu sisi dia ingin mendorong Aira menjauh dan menceramahinya soal moral, tapi sisi lain—sisi pria dewasa yang sudah lama kesepian—ingin sekali menarik gadis ini lebih dekat.
"Pergi ke kamar kamu sekarang, Aira. Sebelum Om bener-bener lupa cara jadi orang baik," ancam Gala dengan suara yang nyaris hilang.
Bukannya takut, Aira malah semakin berani. Dia melepaskan genggaman tangannya di tangan Gala, lalu beralih merapikan rambut Gala yang berantakan. "Yaya nggak mau Om jadi orang baik malam ini. Yaya mau Om jadi Galasky yang jujur sama perasaannya sendiri."
Aira tiba-tiba mencium pipi Gala, lalu berbisik tepat di telinganya. "Om tau nggak? Ayah pernah bilang, kalau dia dulu dapetin hati bunda harus berusaha mati matian dulu, karena cinta harus di perjuangin kan om."
Gala tersentak. Dia teringat masa dulu Saat Elang lebih memilih menerobos api menyelamatkan araa, bagaimana dia yang waktu itu dalam. keadaan babak belur, dan dalam situasi rumit. elang bahkan hampir mati menjemput cintanya.
Gala segera bangkit dari kasur, membuat Aira sedikit terlonjak. Dia berdiri menjauh, membelakangi Aira dengan napas tersenggal.
"Keluar, Yaya. Sekarang. Sebelum Om telepon Ayah kamu detik ini juga!" Gala menunjuk pintu kamar dengan tangan gemetar. Kali ini dia benar-benar serius. Batas imannya sudah di titik nol.
Aira melihat wajah Gala yang sangat tegang. Dia tahu, kalau dia teruskan sekarang, Gala bisa benar-benar meledak dan mungkin akan mengusirnya. "Oke, oke... Yaya keluar. Jangan galak-galak dong Om, nanti cepat tua loh."
Aira turun dari tempat tidur, merapikan dasternya dengan santai. Sebelum keluar, dia berbalik dan mengedipkan mata. "Mimpi indah ya, Om Gala. Inget, di mimpi itu... nggak ada Ayah yang bawa parang, jadi Om bebas mau ngapain aja."
Cklek! Pintu tertutup.
Gala langsung ambruk di lantai. Dia meraup wajahnya dengan kedua tangan. "Tuhan... tolong hamba. Baru hari keempat dan gua udah hampir jadi kriminal."
Malam itu, Gala kembali melakukan push-up. Bukan lagi 100 kali, tapi 500 kali. Dia memaksa tubuhnya sampai benar-benar mati rasa agar bayangan aroma stroberi Aira dan sentuhan tangannya di perut gadis itu hilang dari ingatannya.
Sementara itu di kamarnya, Aira tersenyum lebar sambil memeluk guling. "Dikit lagi, Om. Dikit lagi tembok pertahanan Om bakal runtuh total. Siap-siap aja jadi pelabuhan terakhir Tuan Putri Adytama!"
langsung di kurung yeeee
🤣🤣🤣🤣🤣🤣om om mateng satu ini emang beda
di sini kesannya gala jadi tersangka yang paling jahat ya ?!
semngat beb , aku selalu menanti karya2 mu love you😘😘😘😘😘