Dikhianati. Ditinggalkan. Ditindas.
Itu yang Miracle dapat setelah 5 tahun berjuang untuk Morgan mantan suaminya.
Tapi Miracle bukan wanita yang bisa diinjak lalu dibuang. Tiga tahun kemudian, namanya jadi momok di dunia bisnis. Dia kembali bukan untuk balikan. Dia kembali untuk membeli perusahaan itu. Dan untuk membuat Morgan berlutut di hadapannya.
Siapkah kamu menyaksikan seorang "Mantan Istri" merebut kembali tahtanya?
Kita ikuti sepak terjang mantan istri CEO...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12.Kotal Bekal.
Keesokan harinya Morgan sudah datang pagi sekali. Pukul. 07.55 WIB. Sebenarnya masih ngantuk, kemarin jam satu malam ia baru nyampe rumah. Terus begadang nggak bisa tidur. Akhirnya ia cuma duduk di ruang kerja nemenin foto lama.
Biarpun cuma foto lama tapi banyak membawa kenangan. Seandainya waktu bisa di undur kembali, dia tidak akan melakukan hal buruk yang menyakiti hati Miracle. Dulu ia buta hati, buta mata, sehingga dimanfaatin Arini.
Ahh...Morgan nangis di mobil kembali ingat masa lalu, ingat kebodohannya dan sikapnya yang kasar kepada Miracle.
Morgan masuk duluan sambil membawa map ditangannya. Map cukup tebal karena berisi laporan keuangan selama lima tahun.
Pagi ini Morgan kelihatan tambah kusut, kantong matanya jelas terlihat. Selalu saja dasinya berantakan. Dulu Morgan sangat peduli dengan penampilannya, semua harus matching, sekarang malah acak-acakan.
Ruangan Miracle berada di sebelahnya, yang pintunya dari kaca. Lampunya masih mati berarti orangnya belum datang padahal sudah pukul 07.59.
Teng, pukul. 08.00 WIB
Klik. Pintu terbuka.
Miracle masuk dengan langkah teratur. Wangi tubuhnya meninggalkan jejak. Dari outfittnya saja sudah terlihat, Miracle dari kalangan mana. Levelnya tinggi. Putri tunggal konglomerat terkaya nomer tiga se-Asia.
Morgan menyesal, kenapa ia lupa asalnya Miracle, mana bisa dibandingkan dengan dirinya atau Arini. Miracle begitu cantik, anggun berkharisma.
"Selamat pagi, Tuan Morgan." sapa Miracle seraya menaruh tasnya. Ia lalu duduk. Uhh...dasar si*lan selaju saja bersikap formal, dulu memanggil "Sayank" sekarang Tuan. gerutunya.
"Ada apa?"
"Ohh....tidak-tidak.. pagi Nyonya M.W. Ini laporan keuangan selama lima tahun." Morgan meletakkan map di meja Miracle.
"Terimakasih, semoga kerjaan mu tidak mengecewakan karena sebelumnya aku yang selalu membuat, kamu mana pernah peduli. Tapi dengan adanya teman wanitamu yang pintar mungkin ...."
'Miracle...tidak bisakah kamu memaafkan ku, aku salah. Kamu selalu menyudutkan ku."
"Hemm...kau pantas menerimanya." ucap Miracle seraya membuka laporannya.
Ia mulai mengecek halaman pertama. Lalu kedua. Selama lima menit tak ada komentar.
"Bagus, rapi." ucap Miracle akhirnya.
"Cuma itu?"
Miracle mendongak menatap Morgan dingin.
"Kamu mau saya puji, Tuan? setelah semalam kamu bikin semua direksi ketakutan?"
"Minimal profesional."
"Oh saya profesional." Miracle berdiri. Jalan muterin meja. Berhenti di belakang kursi Morgan, membungkuk sedikit tangan Miracle memegang punggung kursi.
"Profesional itu artinya kerja sesuai kontrak. Dan kontrak bilang... Anda lapor ke saya. Begitu? jawab!" ucap Miracle setengah teriak.
Jarak mereka terlalu dekat. Morgan bisa merasakan nafasnya. Aroma parfumnya seolah lengket dihidungnya.
"Tanda tangan di setiap halaman. Bukti kamu sudah baca dan setuju diaudit." bisik Miracle.
"Kamu nggak percaya aku?" Morgan menoleh hampir pipi Miracle tercium. Morgan berdebar.
"Saya percaya angka, Tuan. Bukan orang. Harus selesai jam lima, kalau belum selesai, kita lembur." ucap Miracle dingin, dia kembali ke kursinya. Morgan menatapnya dengan pikiran kacau.
Miracle duduk dengan acuh dan pasang earphone. Kemudian ia membuka laptop, seolah Morgan tidak ada.
Morgan menarik nafas panjang dan kembali membuka map. Segitunya Miracle menyiksa bathinnya, benar-benar Vampire. Tangannya gemetar memegang pulpen.
Beberapa kali ia menguap, matanya merah. Rasanya lama sekali jam berputar, otaknya terasa buntu, Miracle bagaikan dosen killer yang siap menghukumnya.
1 halaman. 2 halaman. 300 halaman.
Aahhh...
Sudah jam lima sore, lapar, untung ada kudapan sama sir mineral, bisa untuk ganjel perut. Dia masih di situ meselonjorkan kaki, dulu Miracle selalu pijitin kalau kakinya pegal, sekarang perempuan itu menoleh pun tidak.
Miracle berdiri perlahan, sekarang sudah pukul. 05.01 WIB.
"Saya pulang. Kunci pintunya dua kali, Tuan. Oh..ya, makasih sudah makan bekalnya meski sudah basi." ucap Miracle keluar.
"Haruskah kamu balas dendam?" Morgan menatap Miracle dengan kesal,
Klik. Pintu ketutup.
Miracle tidak merespon, tanpa mau menoleh.
Morgan membanting map, ia betul-betul kesal dengan kelakuan Miracle.
Ia mengurut dada, setelah agak tenang ia kembali menyelesaikan tanda tangan. Baru sadar ternyata Miracle tahu dia makan bekal basi itu. Dan itu lebih terhina daripada dimarahin di rapat. Dasar perempuan kejam! gerutunya geram.
Ia ingat malam sebelumnya, dalam mobil Alphard, Jam 11.24 WIB. Waktu itu hujan sangat deras. Perut Morgan dari tadi sudah minta diisi.
Wiper mobil tetap jalan, tapi Morgan nggak bisa liat jalan saking derasnya hujan.Tangan masih gemetar bukan karena rapat, tapi ingat kalimat terakhir Miracle.
"Kantor ini... kantor saya juga, uuhhh.."
Dadanya terasa sesak, seperti ditusuk sembilu, begini rasanya dihina.
"Kenapa... kenapa harus kamu, Mi?" bisiknya dalam hati.
Ia menangis, suaranya pecah, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun dia menangis di mobil. Hapenya di dashboard menyala terus. Ada notification, 27 chat group kantor dan semua membahas "Nyonya M.W"
"Nggak ada yang bahas aku.." keluhnya.
Morgan banting setir dan menepi ke pinggir. Dadanya sesak, ia meraung.
Bukan karena bangkrut. Tapi karena wanita yang dulu dia peluk pas demam, sekarang duduk 1 meter dari dia, bertemu tiap hari... ia sungguh benci situasi yang diciptakan oleh Miracle.
"ANJ*NG! KENAPA BALIK KALAU MAU NYIKSA AKU KAYAK GINI?!"
Morgan merasa Miracle mempermainkannya menekan mentalnya, perempuan itu seperti psychopaths yang menunggu mangsa.
Miracle sengaja menggiringnya ke ner*ka, demi balas dendam, ia yakin perempuan itu tertawa dibalik deritanya.
Morgan lalu mengeluarkan kotak bekal dari jok belakang. Dengan cepat dia buka bekal itu. Ya ampun sudah basi. Tapi dia tetap icip. Nasinya sudah keras, sambalnya kering. Dia coba makan satu suap. Pahit dan Asin.
"Enak banget masakan kamu..."
Tangisnya pecah lagi. Dia banting kotak itu.
Hujan nutupin suara tangisnya. Setelah agak tenang dia lagi memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
Jam 1 pagi dia baru nyampe rumah. Matanya tidak bisa dipejamkan. Sungguh tidak bisa tidur. Dia lalu masuk ke ruang kerja, duduk di ruang kerja sambil melihat foto-foto lama.
Dulu ia sangat menyayangi Miracle dan takut kehilangan. Tapi Lama-lama Miracle sering menganggapnya bodoh dan kurang teliti. Mereka sering bertengkar gara-gara sepele, Morgan mulai bosan di dikte setiap hari.
Ntah itu namanya keberuntungan atau nasib sial. Arini datang di saat ia haus kenyamanan̈ wanita itu memberi ke segaran duniawi.
Ia lengah dan semuanya hancur, ia lupa asalnya dan berani mengingkari janji sucinya.
Waktu itu ia terus menipu istrinya dan diam saat ibu dan adiknya menghina Miracle, yang lebih membuat Miracle seperti mayat hidup, Arini memprovokasi Miracle. Kesalahan itu sangat fatal, akhirnya Miracle minta cerai.
*****
ini yang namanya ingat wajah ea ingat rasanya....
tapi rasa itu tak selalu nyaman....