Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Sesampainya di RS, Laras melangkah masuk perlahan. Hatinya terasa cemas, takut hasil nanti tak sesuai harapan. Ia mendaftar dan mengambil nomor antrean. Petugas di sana sudah mengenalnya baik karena sudah lama berobat di RS tersebut.
“Selamat pagi, Bu Laras. Sudah lama tak terlihat. Ada keluhan apa hari ini?” sapa salah satu petugas ramah.
“Hanya pemeriksaan rutin saja, seperti biasa dengan Dokter Bian,” jawab Laras sopan.
“Mohon maaf, Dokter Bian sudah tidak lagi di sini. Beliau pindah tugas sejak bulan lalu,” jelas petugas itu.
“Wah, saya belum tahu. Lalu apakah sudah ada dokter penggantinya?” tanya Laras terkejut.
“Ada, Bu. Dan sepertinya anda akan terpesona dengannya. Dokter baru ini masih muda dan tampan lho, lumayan buat cuci mata. Siapa tahu malah dia yang terpikat sama Bu Laras,” canda petugas itu.
“Ah, ada‑ada saja ceritanya,Sus. Tolong berikan nomor antreannya ya, saya agak terburu‑buru,” ujar Laras sambil tersenyum tipis dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tak lama kemudian ia sudah berdiri di depan ruangan dokter spesialis paru‑paru, menunggu bersama pasien lain. Sekitar lima belas menit berlalu, nama Laras akhirnya dipanggil oleh perawat.
Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk, berusaha menguatkan hati. Entah apakah kondisinya makin baik atau justru sebaliknya, belakangan ini ia sering merasa sesak napas dan cepat lelah, tanda bahwa paru‑parunya belum pulih sepenuhnya dari gangguan berat yang dideritanya.
“Selamat pagi, Dokter,” sapa Laras pada sosok yang sedang membaca berkas di meja.
“Selamat pagi, silahkan duduk. Apakah ini Bu Laras Ayu?” tanya dokter itu sambil mengangkat wajah.
Deg…
Jantung Laras berdetak kencang sekali. Di hadapannya kini berdiri Rizki, sepupu sekaligus sahabat dekat suaminya. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu di sini. Rasa cemas makin bertambah besar karena ia takut penyakit paru‑paru yang berat itu nanti akan diketahui Raka lewat dia.
Rizki pun tak kalah terkejut. Ia tak menyangka pasien yang akan diperiksa adalah istri sepupunya sendiri. Dan lebih tak terduga lagi, ternyata Laras mengidap gangguan paru‑paru yang cukup serius.
“Kamu yang akan diperiksa, Laras?” tanya Rizki untuk memastikan.
“I… iya, Kak,” jawab Laras dengan suara bergetar.
“Apakah ini pertama kalinya kamu berobat ke spesialis paru‑paru?” tanyanya lagi, ingin tahu seberapa serius kondisi yang dihadapi wanita itu.
“Ti… tidak, Kak. Aku sudah datang ke sini sejak masih kecil. Selama ini yang menangani adalah Dokter Bian,” jawabnya ragu‑ragu.
“Sejak kecil? Sudah berobat begitu lama?” Rizki tampak terkejut.
“Iya. Aku menderita penyakit paru‑paru bawaan sejak lahir,” akhirnya Laras mengaku, merasa tak ada gunanya lagi menyembunyikan hal ini dari Rizki.
“Kamu mau pemeriksaan rutin saja, atau ada keluhan baru?”
“Belakangan ini dada sering terasa sesak dan berat, napas jadi pendek, serta tubuh cepat sekali lelah,” jelas Laras.
“Baiklah, mari kami periksa dulu. Suster, tolong bantu persiapkan,” perintah Rizki.
Rizki mulai melakukan tugasnya dengan sangat teliti dalam dunia kedokteran. Tak lupa ia juga membaca skrining riwayat penyakit yang diderita Laras itu.
Setelah pemeriksaan selesai, mereka kembali duduk di tempat masing-masing yang sudah disediakan. Laras hanya diam menunduk, hatinya penuh rasa takut akan hasilnya, dan juga takut Rizki akan menyampaikan rahasia itu kepada Raka.
Rizki menarik napas panjang sambil menatap istri sepupunya tersebut. Wajah Laras tampak pucat dan lesu, membuatnya merasa iba.
Laras makin gugup di bawah tatapan itu, lalu memberanikan diri bertanya, “Bagaimana hasilnya, Kak?”
“Kondisi paru‑parumu makin serius. Apakah kamu mengabaikan saran dokter sebelumnya? Dokter Bian pasti sudah menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Apakah belakangan ini kamu terlalu banyak bergerak atau beraktivitas berat? Ingatlah, paru‑parumu lemah dan butuh istirahat. Jangan sampai kelelahan atau terlalu banyak pikiran. Makanan juga harus dijaga, dan obat harus diminum rutin. Apakah kamu sudah melakukannya dengan benar?” tanya Rizki pelan namun tegas.
Laras hanya menunduk diam. Sejak menikah, ia merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkar. Selama ini selalu dibatasi ketat oleh orang tua, kini ia merasa bebas dan kadang kurang menjaga diri. Ditambah lagi sikap Raka yang berubah lembut dan penuh perhatian, sering mengabulkan apa saja yang ia minta.
Bukan salah Raka jika kadang ia membiarkan Laras makan atau beraktivitas seperti orang lain. Raka sebenarnya hanya ingin menghapus batasan ketat yang dulu menindas istrinya. Ia sering mendengar cerita bahwa Laras dilarang melakukan hal‑hal sederhana, dan mengira orang tuanya terlalu berlebihan. Ia hanya ingin membuat istrinya bahagia, memberi kesempatan menikmati hal‑hal yang belum pernah dirasakan selama ini.
Setelah pemeriksaan selesai, Laras memohon kepada Rizki agar tidak menyampaikan hal ini kepada Raka. Permintaan itu membuat dokter muda itu terkejut.
“Kenapa harus disembunyikan? Lebih baik Raka tahu, supaya dia juga bisa membantu menjaga kesehatanmu,” ujar Rizki.
“Aku belum siap, Kak. Biarkan dulu. Aku tidak ingin semua orang melihatku dengan rasa iba. Aku berjanji, suatu hari nanti aku akan beritahu dia, tapi belum sekarang. Aku belum cukup kuat,” pinta Laras dengan suara lemah namun tegas.
Dengan berat hati Rizki menyetujui permintaan itu. Bagaimanapun itu adalah hak dan privasi pasiennya.
Dalam perjalanan taksi menuju kantor suaminya, Laras hanya duduk diam dan melamun. Ia terus teringat pesan Rizki mengenai paru‑parunya yang semakin parah dan harus dijaga ketat.
“Kenapa Tuhan, saat kebahagiaan baru saja mulai datang, harapan indah untuk hidup bersama orang yang ku cintai justru diambang kehancuran begitu cepat? Apakah aku tidak pantas bahagia dan dicintai? Jika memang waktuku singkat, berikanlah sedikit waktu lagi. Biarkan aku menikmati kebersamaan ini lebih lama.”
Air mata menetes tanpa disadari saat ia berdoa dalam hati.
“Maaf Bu, kita sudah sampai,” suara sopir membangunkannya dari lamunan.
“Ah… terima kasih Pak, maaf tadi melamun. Ini bayarannya,” jawabnya sambil mengusap wajah, lalu turun dari kendaraan.
Ia menghapus sisa air mata dan berjalan masuk ke gedung perusahaan. Di meja resepsionis ia bertanya tentang ruangan Raka. Karena sudah dikenal, petugas langsung memberi tahu jalan menuju ruang pimpinan.
Tok… tok… tok…
“Siapa?” suara Raka terdengar dari dalam.
“Maaf Pak, istri Bapak sudah datang ingin menemui,” jawab sekretarisnya dari luar.
“Silakan masuk,” jawab Raka singkat.
“Silahkan masuk, Bu Laras. Pak Raka sudah menunggu,” ujar sekretaris dengan sopan setelah membuka pintu.
“Terima kasih,” jawab Laras sambil tersenyum tipis namun ramah.
Ia melangkah masuk. Ini kedua kalinya ia berada di ruang kerja suaminya. Langkahnya tenang namun terasa berat karena kondisi tubuh. Ia berjalan perlahan mendekati Raka, dan tersenyum lembut kepada orang yang paling dicintainya itu.
“Hai Kak… apakah aku mengganggu pekerjaanmu?” tanyanya pelan.
“Sama sekali tidak. Lagipula kita sudah berjanji untuk makan siang bersama di luar,” jawab Raka sambil membalas senyum itu hangat.
“Ruang kerjamu bagus sekali, Kak,"ujar Laras sambil memandang sekeliling ruangan.
Pandangannya berhenti di meja kerja suaminya. Di sana terlihat bingkai foto seseorang yang sangat ia kenal.
Deg…
Dada Laras terasa kembali sesak saat melihat foto Rara yang masih berdiri rapi di sana. Rasanya seperti ada yang menekan napasnya, seolah bukti bahwa Raka belum benar‑benar melupakan wanita itu. Ia berusaha menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan suaminya.
Raka menyadari kemana arah pandang istrinya. Ia merasa bersalah karena lupa menyimpan foto itu, sehingga membuat hati Laras terluka. Meski Laras tidak mengucapkan sepatah kata pun, Raka paham betul ada rasa sakit yang tersembunyi di sana.
“Masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Kalau tidak keberatan, duduklah dulu di sofa sana,” ujar Raka sambil menunjuk sudut ruangan. “Tunggu sebentar ya. Kamu mau minum atau makan sesuatu? Biar aku pesankan.”
“Tidak perlu, Kak. Aku belum butuh apa‑apa,” jawab Laras pelan.
Raka kembali ke mejanya, sementara Laras duduk diam di sofa, sekilas memainkan ponsel namun pikirannya melayang jauh. Hampir setengah jam berlalu, baru Raka selesai. Ia berjalan mendekati istrinya yang masih duduk termenung, bahkan tidak menyadari kedatangannya.
“Hei...melamun saja? Ada hal yang mengganggu pikiranmu?” tanyanya sambil duduk di sebelah Laras.
“Ah… Kak Raka, kaget aku,” ujarnya tersentak.
Sejak tadi Raka sering melirik ke arahnya. Ia tahu bahwa Laras terus‑terusan melamun seperti sedang memikirkan hal berat. Sebagai suami, ia siap membantu menyelesaikan masalah apa pun yang dihadapi.
“Kalau ada masalah, ceritakan saja padaku. Jangan dipendam sendiri,” ujarnya lembut.
“Bukan masalah besar, Kak… hanya urusan kuliah saja,” jawab Laras berusaha menutupi kebenaran.
Pikirannya tetap tertuju pada penyakit paru‑parunya yang makin parah. Ia berusaha mengubah ekspresi wajahnya agar Raka tidak mulai curiga.
“Sudah selesai kan? Kalau begitu ayo berangkat saja. Aku sudah mulai lapar,” ujarnya cepat untuk mengalihkan pembicaraan.
Raka tersenyum melihat tingkahnya. Ada perbedaan jelas dengan Rara yang dulu sangat teliti soal makanan dan bentuk tubuh, sering kali terlihat rumit dan pilih‑pilih. Sebaliknya, Laras tidak pernah menolak ajakan makan. Baginya yang paling penting hanyalah bisa makan sampai kenyang dan bahagia.
“Ayo kita berangkat sekarang. Aku tak ingin dianggap suami yang tega membiarkan istrinya kelaparan,” ujar Raka sambil tersenyum.
Keduanya berjalan keluar ruangan dengan gembira, tangan tetap saling bergandengan erat.
Raka dan Laras masuk ke restoran yang sudah disepakati sebelumnya. Di dekat jendela sudah ada David dan Fitri yang menunggu. David langsung berdiri, menyambut sambil menepuk bahu sahabatnya.
“Hai, apa kabar? Lama sekali kita tak bertemu. Maaf ya aku tidak bisa datang ke resepsimu dulu, urusan di luar kota benar‑benar tidak bisa ditinggal,” ujar David sambil tersenyum.
“Tak perlu minta maaf, aku paham betul kamu sibuk. Yang penting sekarang masih sempat berkumpul,” jawab Raka santai.
“Sudah lama menunggu?”