Pernah gak sih, kamu sayang banget sama seseorang, tapi demi menjaga hati dan prinsip, kamu terpaksa bersikap sedingin es ke dia?
Itu yang dirasain Zaza. Waktu hatinya mulai telanjur jauh sama Rayyan, dia milih buat mundur perlahan. Gak ada chat basa-basi, gak ada modus pengen ketemu. Semua rindu dan riuhnya perasaan cuma dia tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati.
Rayyan pun sama. Dia kelihatan cuek dan gak peduli, padahal aslinya lagi berjuang mati-matian nahan rasa demi sebuah komitmen. Akhirnya, mereka berdua terjebak dalam kesunyian, sama-sama ngira kalau cinta mereka cuma bertepuk sebelah tangan.
Saling menjauh, tapi saling mendekat lewat doa apa mungkin cara sedekat ini malah bikin mereka makin jauh selamanya? Atau justru, menjaga jarak demi ibadah bakal berujung pada akhir yang gak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyulam Aksara di Kota Dingin
Epilog
Enam bulan sejak hari akad yang syahdu di masjid jami, Kota Malang sore itu kembali diselimuti kabut tipis. Di salah satu sudut teras rumah asri di kawasan Dinoyo, aroma kopi susu hangat berpadu dengan wanginya kue brownies yang baru saja matang dari oven. Di atas meja, sebuah laptop terbuka menampilkan halaman draf buku yang hampir selesai, bersanding dengan beberapa lembar sketsa desain sampul novel.
Zaza duduk bersandar di kursi rotan, membetulkan letak pashmina pink yang kini sering ia padukan dengan pakaian santai saat di rumah. Jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menuntaskan untaian kalimat terakhir untuk sebuah proyek jurnal kreatif bulanan yang sedang ia rintis. Ruang digital kecil yang ia bangun dengan cinta, sebuah wadah literasi yang dinamainya Penyulam Aksara.
Sebuah langkah kaki yang beritme santai terdengar mendekat dari arah pagar. Zaza menoleh, menyunggingkan senyum lembut di balik ketenangannya saat melihat sosok suaminya berjalan masuk.
Rayyan datang dengan jaket denim longgar, wajahnya tampak segar meskipun rambutnya sedikit acak-acakan sehabis menembus angin sore Malang. Namun, tidak ada lagi papan skateboard di tangannya; sebagai gantinya, ia membawa sebuah bungkusan kertas cokelat berisi beberapa perlengkapan bahan buket bunga pesanan pelanggan dari toko bunga kecil milik Zaza, RayyZa Florest (Rayyan Zaza).
"Assalamualaikum, Sayang," sapa Rayyan, meletakkan bungkusan itu di meja lalu mengecup lembut kening Zaza.
"Waalaikumussalam, Mas," jawab Zaza lembut, menutup laptopnya sedikit agar bisa memberikan perhatian penuh pada suaminya. "Bagaimana urusan di kampus tadi? Lancar?"
Rayyan mengangguk, mengambil cangkir kopi susu milik Zaza lalu meminumnya sedikit. "Alhamdulillah, bimbingan draf akhir sama dosen lancar. Oh ya, tadi aku mampir ke toko bahan sebentar buat ambil pita sama kertas wrapping pesananmu buat RayyZa Florest. Katanya besok ada pesanan buket besar, kan?"
Zaza tersenyum lebar, matanya melengkung indah. "Iya, alhamdulillah. Terima kasih ya, Mas, sudah repot-repot diambilkan."
Rayyan melirik ke arah layar laptop Zaza yang masih menyala redup, menampilkan logo Penyulam Aksara di sudut atas dokumen. Ia mengusap kepala Zaza yang terbalut pashmina dengan penuh rasa sayang. "Masih sibuk menyulam aksara di laptop? Novelmu yang berjudul Membatasi Rasa itu... kapan rencananya mau resmi diluncurkan?"
Zaza bersandar pada bahu kokoh Rayyan, menatap halaman drafnya dengan pandangan menerawang. "Insyaallah bulan depan, Mas. Semua bab sudah selesai aku tulis, tinggal merapikan beberapa detail terakhir saja. Aku masih sering gak menyangka, kisah pergulatan batin kita dulu sekarang benar-benar abadi di dalam lembaran buku ini."
Rayyan terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di atas kepala Zaza. "Iya, ya. Kalau diingat-ingat lagi masa kuliah dulu, kamu dinginnya minta ampun. Jangankan diajak mengobrol, disapa saja mukamu langsung datar kayak tembok perpus. Aku sampai sempat mengira kalau cintaku benar-benar bertepuk sebelah tangan karena perbedaan kasta keluarga kita."
"Kan sudah aku bilang, Mas... waktu itu aku bukannya ketus atau sombong," sahut Zaza sambil mencubit pelan lengan suaminya, membuat Rayyan tertawa kecil. "Aku hanya sedang memegang prinsip untuk membatasi rasa. Aku takut gejolak penasaran di dalam hati saat itu justru menjauhkan kita dari keberkahan. Makanya, semua riuh dan rindu itu cuma berani aku tumpahin di sepertiga malam, langsung ke Pemilik Hati."
Rayyan terdiam sejenak, menatap netra teduh istrinya dengan tatapan yang sarat akan rasa kagum dan syukur yang tak pernah habis. Ia menggenggam jemari Zaza, merajut kelingking mereka menjadi satu.
"Dan doa-doa di sepertiga malam itu yang akhirnya menuntun langkahku untuk ikut bersujud di atas sajadah yang sama, Za," bisik Rayyan dengan suara rendah yang menghangatkan hati. "Jarak yang kita jaga demi ibadah waktu itu, ternyata adalah cara langit untuk mendewasakan kita. Sekarang, aku sadar... membatasi rasa karena Allah tidak akan pernah membuat kita kehilangan. Justru, cara itu yang mengantarkan kita pada akhir yang paling indah dan berkah ini."
Zaza mengangguk pelan, menyatukan jemarinya di dalam genggaman erat Rayyan. Di luar sana, gerimis tipis khas Kota Malang mulai turun membasahi dedaunan di taman rumah mereka, membawa hawa dingin yang kian menusuk. Namun di teras kecil itu, di bawah naungan rida-Nya yang menetap kokoh, dua hati yang dulunya saling menjaga jarak dalam sunyi kini telah melebur sepenuhnya dalam kehangatan cinta yang hakiki, sebuah akhir penantian yang sempurna, di mana jarak telah usai menunaikan tugas ibadahnya.
beruntung kalo perjodohan itu mengarah kesana 😙
bikin abang rayyan bingung
si eneng berada dijalur lain sih 😁
. sampai kamu gak bisa meninggalkan sholat hehe