Jangan lupa baca novel Sihir Tafriq dan Misteri Desa Getih, biar gak bingung.
Kasih adalah seorang gadis cantik dan juga baik hati. namun di balik kecantikannya, ia memikul sebuah kutukan. dimana siapapun yang menikahinya, maka tidak akan pernah selamat.
Semua pria akan mati sebelum dapat merasakan malam pertama mereka...
Siapakah Kasih... dan kutukan apa.yang sedang di pikulnya.
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hendra
"Aku adalah Raja kegelapan. Sejak ia dalam kandungan, aku sudah menyegelnya, dan jangan pernah mencoba untuk mendekatinya," ucap sosok itu dengan nada penuh penekanan.
Perlahan sosok itu berdiri dengan gerakan yang cukup lamban, tetapi mampu membuat Hendra hampir pingsan. Sebab bayangannya saja memenuhi ruangan.
"Jika kau berani menyentuhnya. Maka kau akan menyesal, dan kematian akan menunggumu!" ucapnya dengan penegasan. "Dia adalah permaisuriku... Tak siapapun boleh merebutnya!"
Sosok itu menyeringai. Dan akhirnya membuat Hendra berteriak kencang.
"Aaaaaaaa..."
Plaaak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Hendra, dan itu berhasil membangunkannya.
"Pa!"
Santi mengguncang bahu Hendra. Lampu langsung di nyalakan.
Tak!
Ruangan tampak terang. Dan kini terlihat Hendra yang berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi.
Hendra beranjak duduk. Napasnya terasa berat dan tersengal. Keringat dingin membasahi kaos putihnya.
“Mimpi... Papa mimpi buruk...”
“Sudah, papa minum dulu.” Santi bergegas menyodorkan air putih dalam gelas.
Hendra meneguknya hingga habis. Tangannya gemetar, dan matanya secara otomatis melirik ke arah box bayi.
Di sana Kasih masih tidur dengan nyenyaknya.
Akan tetapi selimutnya sedikit terbuka.
Sedangkan di bagian organ inti bayi itu...Tanda lahir berwarna biru tersebut tampak semakin membesar.
"Kamu mimpi apa, Pak?" tanya Santi dengab rasa penasaran, sembari menyentuh pundak suaminya dengan lembut dan penuh kehangatan.
Saat Santi menyentuh Hendra. Kasih menggeliatkan tubuhnya, dan membuka matanya.
Hendra menatap mata bayi tersebut. Ia tersentak kaget, sebab Kasih memancarkan kecantikan yang luar biasa, dan itu membuat ia melupakan tentang mimpinya yang tadi sangat mengerikan.
"Papa mimpi apa?" tanya Santi sekali lagi.
Hendra menoleh ke arah sang istri. Kemudian menggelengkan kepalanya.. "Tidak ada apa-apa, Ma. Mungkin karena terlalu banyak nonton dracin," jawabnya dengan berkilah.
Kemudian ia beranjak dari ranjangnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.
Hendra membasuh wajahnya. "Mungkin hanya mimpi," gumamnya. Ia berusaha menepis semuanya.
****
Lima tahun berlalu... Kasih tumbuh menjadi gadis kecil.yang semakin cantik dan menggemaskan. Tubuhnya gempal dan padat. Setiap orang yang melihatnya akan merasa tertarik padanya.
"Ya ampun, San... Anakmu kok cantik sekali," celoteh Nora saat mereka bertemu di arisan para ibu sosialita.
"Tentu dong. Perawatannya saja mahal," celetuk Santi dengan bangga..
Para teman-teman arisan Santi tak memungkiri jika Kasih memang cantik.
Sedangkan Kasih tumbuh menjadi gadis kecil yang penurut. Dan tidak banyak tingkah seperti anak lain yang seusianya.
Saat hari menjelang petang, Hendra datang menjemput mereka. "San... Jangan pulang dulu, Dong. Kita masih ada satu acara yang belum kelar. Masa kamu sudah pulang sih?" keluh Nora.
"Iya, San... Nanti saja, lewatkan Maghrib sekalian." Lena ikut menimpali.
"Tapi... Ini jadwal Kasih untuk mandi, maoan dan istirahat," tolak Santi dengan halus.
"Titip sama suamimu dulu, atau baby sister." Jena menyarankan.
Hendra yang mendengarnya mendadak terkejut. Tetapi ia perlahan mengulas senyum yang cukup manis.
"Tak apa, Ma. Biar papa yang urus Kasih. Mama bersenang-senanglah dengan teman mama." ucap Hendra dengan nada yang sangat meyakinkan.
"Tuh, kan... Mas Hendra saja setuju.. Ayo dong..." ajak Nora dengan rayuan mautnya.
"Ya sudah... Tapi papa pastikan Kasih sudah tidur saat jam delapan malam ya..." pesan Santi.
"Siap, Ma... Tidak ada yang bisa menolak perintah Ratuku..." sahut Hendra, dan membawa pulang Kasih ke rumah.
Santi akhirnya kembali bersama teman arisannya. Sebenarnya sudah sangat lama ia tidak bergabung dengan mereka. Seba sibuk mengurus Kasih hingga tumbuh menjadi gadis yang sangat menggemaskan.
Sementara itu, Hendra dan kasih sudah tiba di rumah. Pria itu menggendongnya. Tetapi ada yang berbeda, gendongan itu bukan sebagai seorang yang melindungi. Melainkan maksud yang lain.
Setelah menyiapkan semuanya. Kini Kasih waktunya akan tidur. Hendra menepuk-nepuk bokong seperti biasa dilakukan para orang tua pada biasanya saat akan menidurkan anak.
Tetapi tidak untuk Hendra. Ia memiliki tujuannya yang lain.
Saat tepukannya berubah irama. Hendra menatap Kasih dengan tatapan jalang. Tanpa Santi dirumah, merupakan kesempatan baginya untuk melampiaskan semua niatnya.
Namun, baru saja tangannya mendarat di bagian bokong, suara desis itu kembali berbunyi, dan berasal dari organ inti Kasih.
Ssssshh!
"Hah!" Hendra tersentak kaget. Dan menjauhkan tangannya dri bokong Kasih. Ia merasakan bulu kuduknya meremang.
"Apa cuma perasaanku saja, ya?" gumamnya.
Saat bersamaan, dari arah pintu luar kamar, terlihat satu bayangan berwarna merah dan berekor panjang melintas dengan cepat.
"Hah!"
Hendra kembali tersentak kaget. Ia beranjak dari kamar Kasih. Lalu keluar untuk melihat siapa.yang memasuki rumahnya.
Saat berada diambang pintu. Ia tak menemukan siapapun. Hanya saja, tiba-tiba ada yang seperti menendangnya tanpa bayangan.
Buuugh!
Bokongnya di tendang oleh sesuatu, dan ia tersungkur di lantai rumah.
Braaaak!
"Aaaarrgh!" ia meringis kesakitan.
Taaak!
Pintu terkunci dari dalam, dan tidak tahu siapa yang melakukannya.
Hendra terkejut. Dan ia merasakan bulu kusuknya meremang. Ia beranjak bangkit, dan ingin membuka pintu tersebut. Tetapi kakinya seperti merasa dirantai sesuatu.
"Siiaaal! siapa yang melakukannya!" maki Hendra. Dan ia berusaha meraih pintu kamar tetapi tetap tidak dapat bergerak.
Saat bersamaan, Santi pulang dengan membawa banyak makanan makan malam.
"Pa... Kamu kenapa? Kasih sudah tidur?" cecar Santi, sembari membantu Hendra untuk bangkit.
"I—itu, Ma. Pintunya terkunci dari dalam. Tadi papa merasa ada yang menendang bokong papa dan Kasih terkunci di dalam," jawab Hendra sengab wajah memucat.
Sanyi yang mendengar ucapan suaminya mengerutkan keningnya, kemudian berjalan ke arah pintu.
Kleeek!
Pintu terbuka, dan terlihat Kasih sedang tidur dengan lelapnya, dan berselimut hingga ke dada.
"Bisa dibuka, Kom. Gak ada terkunci. Perasaan papa kali. Kurang minum air putih," sahut Santi.
"Tidak, Ma... Tadi beneran, pintunya terkunci sendiri," Hendra ngotot dengan pendapatnya.
"Sudahlah, Pa. lebih baik papa ganti pakaian, dan kita makam malam. Nanti langsung istirahat," potong Santi, lalu membwa makanan cepat saji ke meja makan.
Hendra menggelengkan kepalanya. "Apa iya cuma perasaanku saja?" gumamnya dalam hati.
Sedangkan sosok Kalajengking berwarna merah kehitaman yang bersembunyi di balik pintu kamar itu kembali mengecil dan masuk ke dalam tubuh gadis kecil.
Kasih menggeliatkan tubuh nya dengan mata yang masih terpejam. Tetapi ia kembali lagi untuk tidur. Ia seolah tidak mengerti apa yang sedang terjadi..
Sedangkan Hendra memilih untuk pergi ke kamar mandi. Pria itu mencuci wajahnya berulang kali.
Nafasnya masih terasa berat. Deru di dadanya bergemuruh. Sembari menatap cermin, ia menepuk pipinya sebanyak dua kali. "Aku bermimpi..." gumamnya lagi. Dan Ia berharap kejadian yang baru saja menimpanya hanyalah sebuah halusinasi belaka.
****
dr ikut Rayyan dan skrg ikut sama Farhan ( anak nya )