NovelToon NovelToon
Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.

Kesimpulan Yu: dia pasti model.

Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.

Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.

"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Sepuluh Juta

Lima belas menit ternyata benar-benar lima belas menit.

Begitu suara shower berhenti, Yu langsung mundur ke dekat pintu kamarnya, seolah jarak dua meter bisa menyelamatkan harga dirinya. Ia sudah menaruh penggaris besi di atas meja, tetapi matanya masih beberapa kali turun ke punggung tangan sendiri.

Tidak gatal. Tidak panas. Tidak gelisah.

Kulitnya tenang.

Terlalu tenang.

Pintu kamar mandi terbuka. Sim Zhenyu keluar dengan kaus putih bersih dan celana training hitam. Rambutnya masih basah, handuk kecil tersampir di leher. Aroma bensin yang tadi melekat padanya sudah hilang, digantikan wangi sabun mint yang dingin.

Ia berhenti ketika melihat Yu masih berdiri di lorong.

"Masih mau ribut?"

Yu mengangkat dagu. "Aku mau kejelasan."

"Bagus." Zhen berjalan ke ruang tengah, mengambil ponselnya dari meja, lalu duduk di sofa paling ujung. Sebelum duduk, ia mengelap permukaan sofa dengan tisu basah yang entah muncul dari mana.

Yu menatap gerakannya. "Kamu selalu begitu?"

"Selalu apa?"

"Mengelap sofa sendiri."

"Kalau ada orang asing baru masuk rumahku jam dua pagi, iya."

"Aku yang orang asing?"

Zhen menatapnya datar. "Aku yang tinggal di sini duluan."

Yu hampir membalas, tapi ponsel Zhen sudah tersambung ke admin. Rani menjawab dengan suara panik yang terlalu jelas terdengar karena Zhen menyalakan speaker.

"Kak Zhen, maaf banget. Data sistem dari pemilik lama memang tertulis penyewa perempuan untuk kamar kedua. Saya baru tahu Kakak belum menerima pemberitahuan."

"Saya menerima pemberitahuan sekarang," kata Zhen.

Yu menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum. Nada Zhen begitu datar sampai terdengar lebih tajam daripada orang marah.

Rani cepat-cepat menjelaskan bahwa kamar kedua sudah kosong tiga bulan, pemilik unit meminta segera disewakan, dan semua dokumen Yu sudah lengkap. Kalau salah satu pihak keberatan, kontrak bisa dibatalkan besok pagi.

Zhen menatap Yu. "Mau batal?"

Yu terdiam.

Harga sewa itu paling masuk akal. Lokasinya aman. Kamar bisa dikunci. Dan yang paling memalukan, tubuhnya masih mengingat satu detik sentuhan tadi seperti menemukan obat yang tidak sengaja jatuh dari langit.

"Aku sudah bayar deposit," kata Yu akhirnya.

"Deposit bisa dikembalikan," jawab Zhen.

"Aku nggak suka pindah dua kali dalam dua hari."

Zhen memandangnya beberapa detik, lalu berkata pada Rani, "Buat addendum. Area pribadi masing-masing. Jadwal bersih-bersih jelas. Tidak bawa tamu tanpa izin."

Yu berkedip.

Rani terdengar lega. "Baik, Kak. Besok saya kirim."

Telepon ditutup.

Zhen berdiri. "Aturan pertama, jangan sentuh barangku."

"Aturan pertama juga, jangan masuk rumah jam dua pagi tanpa bilang."

"Ini rumahku."

"Sekarang rumah share."

Mereka saling menatap. Di luar jendela, hujan sudah berhenti, tapi udara di ruang tengah masih seperti menyimpan listrik.

Zhen akhirnya mengambil helmnya. "Aku tidur."

"Kamu nggak mau tahu namaku?"

Langkahnya berhenti.

Yu sendiri tidak tahu kenapa ia bertanya. Mungkin karena ia kesal pria itu bisa menyebut aturan panjang tanpa merasa perlu mengenal orang yang harus menaatinya.

Zhen menoleh sedikit. "Chua Yulin. Di KTP tertulis begitu."

Yu tercekat.

"Admin kirim data penyewa," lanjutnya. "Selamat tidur, Chua Yulin."

Ia masuk ke kamar utama dan menutup pintu.

Yu berdiri sendirian di ruang tengah, merasa kalah tanpa tahu pertandingan apa yang baru saja dimulai.

Keesokan paginya, Yu menemukan aturan kedua sampai kelima tertempel di pintu kulkas.

Buang sampah sebelum pukul 20.00.

Lap meja setelah makan.

Jangan meninggalkan rambut di saluran kamar mandi.

Tidak memakai speaker di atas jam 22.00.

Tulisan tangannya rapi, miring tipis, dan menyebalkan.

Yu membaca semuanya sambil memegang gelas air. "Ini bukan roommate. Ini kepala asrama."

Pintu kamar utama terbuka.

Zhen keluar dengan hoodie hitam, tas laptop di bahu, dan wajah orang yang tidur empat jam tapi tetap terlihat seperti iklan skincare mahal. Ia melirik gelas di tangan Yu, lalu wastafel, lalu meja.

"Coaster ada di laci."

Yu melihat dasar gelasnya yang meninggalkan sedikit embun di meja.

Sabar, Yu. Baru hari kedua. Jangan bunuh orang.

Ia mengambil tatakan gelas dari laci dan meletakkannya dengan gerakan yang sengaja pelan.

"Puas?"

"Lumayan."

Zhen membuka kulkas, mengambil botol air, lalu ponselnya menyala di meja. Layar menghadap ke atas. Yu tidak berniat melihat. Sungguh. Tapi nama pengirim muncul besar-besar, dan matanya bergerak sendiri.

Nia Sentul

Z, jadwal malam ini tetap. Transfer Rp 10.000.000 sudah masuk. Jangan telat, ada tamu VIP.

Yu membeku.

Sepuluh juta.

Malam ini.

Tamu VIP.

Otaknya, yang semalam kurang tidur dan masih sakit hati, langsung bekerja ke arah paling salah.

Zhen mengambil ponsel itu sebelum pesan kedua muncul. Ia mengetik balasan singkat, wajahnya tidak berubah.

"Kamu baca?" tanyanya tanpa menoleh.

"Nggak."

"Kamu menjawab terlalu cepat."

"Aku cuma lihat sekilas."

"Sekilas yang panjang."

Yu meneguk air. Salah satu aturan belum tertulis sepertinya harus ditambahkan: jangan kepo pada roommate tampan yang mungkin punya pekerjaan malam misterius.

Zhen memasukkan ponsel ke saku. "Aku keluar. Ada kuliah."

"Kamu kuliah?"

Ia berhenti di dekat pintu, menoleh dengan ekspresi seperti Yu baru bertanya apakah manusia perlu oksigen.

"Menurutmu aku apa?"

Pertanyaan itu seharusnya mudah.

Namun pesan Rp 10.000.000 tadi berputar-putar di kepala Yu. Tinggi 189 cm, wajah seperti model majalah, pulang jam dua pagi, bau bensin yang bisa saja dari mobil klien, ada wanita bernama Nia mengatur jadwal malam, ada tamu VIP, dan bayaran sepuluh juta.

Yu menatapnya dari atas sampai bawah.

"Freelancer?" jawabnya hati-hati.

Alis Zhen naik sedikit.

"Bidang apa?"

"Bidang... jasa."

Keheningan jatuh.

Zhen menatapnya lama sekali, lalu berkata, "Kamu aneh."

Ia pergi sebelum Yu sempat membela diri.

Begitu pintu tertutup, Yu menutup wajah dengan kedua tangan.

"Chua Yulin, otakmu kotor."

Tetapi siang itu, bukti-bukti baru datang sendiri.

Pertama, seorang pet sitter mengantar seekor border collie hitam putih bernama Burger. Anjing itu masuk dengan ekor bergoyang, langsung mengendus koper Yu, lalu duduk manis di depan pintu kamar Zhen seperti prajurit menunggu komandan.

"Kak Zhen pesan grooming kemarin," kata pet sitter itu. "Burger anak baik banget. Cuma kalau Kak Zhen balapan malam, biasanya kami titip antar pagi."

Balapan.

Yu menangkap kata itu, tapi otaknya yang sudah telanjur membuat teori hanya memilih bagian yang cocok.

Tentu saja. "Balapan" mungkin kode. Orang-orang zaman sekarang aneh-aneh.

Burger mendekatinya dan meletakkan dagu di lutut Yu. Mata anjing itu bulat, cerdas, dan terlalu polos untuk rumah penuh rahasia.

"Hai, Burger," bisik Yu, mengusap kepalanya. "Majikanmu kerja apa sih sebenarnya?"

Burger menggonggong sekali.

"Model?" tebak Yu.

Burger menggonggong lagi.

Yu mengangguk serius. "Aku tahu."

Kedua, sore harinya, saat menjemur handuk di balkon kecil, Yu melihat beberapa pakaian Zhen yang sudah tergantung rapi. Semua dipisah berdasarkan warna. Kaus hitam, kaus putih, jaket tipis, lalu satu T-shirt dengan logo mencolok di bagian dada.

Sentul International Circuit.

Di bawahnya ada tulisan kecil: Z Racing Team.

Yu menyentuh ujung jemuran itu dengan dua jari, bukan karena ingin menyentuh barang Zhen, tapi karena tulisan itu terasa seperti petunjuk dalam novel misteri murahan.

Racing team.

Mungkin memang pekerjaan hiburan. Model untuk event otomotif? Umbrella boy? Tidak, biasanya umbrella girl. Tapi dengan wajah seperti itu, apa pun bisa dijual.

Ia membayangkan Zhen berdiri di dekat mobil sport, rambut basah, wajah dingin, lalu orang-orang kaya membayar sepuluh juta untuk ditemani foto atau makan malam setelah acara. Semakin dibayangkan, semakin masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Yu menurunkan tangan cepat-cepat ketika Burger menggonggong dari belakang.

"Apa?" bisik Yu. "Aku cuma analisis."

Burger memiringkan kepala.

Malamnya, Zhen pulang sebelum jam sepuluh. Ia membawa kantong belanja berisi makanan anjing, roti gandum, dan cairan pembersih lantai. Sangat tidak cocok dengan teori Yu, tapi teori yang bagus memang harus tahan terhadap gangguan kecil.

Zhen melihat Burger duduk di kaki Yu sambil menikmati usapan kepala.

"Dia biasanya nggak dekat dengan orang baru," katanya.

Yu menarik tangannya, jantungnya aneh sendiri. "Dia yang datang."

"Aku nggak bilang kamu salah."

Kalimat sederhana itu membuat Yu kehilangan jawaban beberapa detik. Zhen berjalan ke dapur, mencuci tangan sangat lama, lalu mulai menyusun belanjaan.

Ponselnya bergetar lagi.

Yu, yang sedang duduk di karpet bersama Burger, melihat layar menyala dari jarak dua meter.

Nia Sentul

Besok malam ada sesi tambahan. Fee sama, Rp 10.000.000.

Yu langsung membuang muka, tapi terlambat.

Zhen menoleh.

"Kamu baca lagi."

"Layar kamu terang sekali."

"Kamu duduk jauh."

"Mataku sehat."

Zhen memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Bagus kalau begitu. Pakai untuk baca aturan kulkas."

Ia mengambil ponsel dan masuk kamar.

Yu menatap pintu kamar itu, lalu menatap Burger.

"Itu pasti pakaian kerja model..." gumamnya, mengingat T-shirt Sentul yang masih tergantung di balkon.

Burger menggonggong pelan, seolah setuju, atau mungkin menertawakan manusia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Yu menghela napas.

Ya. Pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!