Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 025
Mawar Putih Melati
Nathanael sudah duduk di sana, membaca berita bisnis dari tablet, seolah ia tidak punya hubungan apa pun dengan bunga yang setiap pagi muncul di kamar Louisa.
Louisa berdiri di dekat pintu kamar sambil memegang ponsel.
Pesan Stella masih terbuka.
Coba tanya orang yang serumah.
Orang yang serumah itu mengangkat mata dari tablet. "Kamu mau sarapan?"
Louisa berjalan ke meja makan, menarik kursi, tetapi tidak langsung duduk.
"Aku mau tanya sesuatu."
"Tanya."
"Bunga itu dari kamu?"
Bu Sari yang sedang menuang teh di dapur langsung bergerak lebih pelan. Suara air yang jatuh ke cangkir mendadak terdengar terlalu jelas.
Nathanael meletakkan tablet di meja.
"Kamu tidak suka?"
Louisa menatapnya. "Itu bukan jawaban."
"Kalau kamu tidak suka, besok tidak perlu ada."
Kalimat itu terdengar seperti kalimat bisnis. Bersih. Efisien. Padahal isinya membuat pipi Louisa terasa hangat.
"Aku tidak bilang tidak suka."
"Berarti boleh tetap ada?"
Louisa membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Nathanael menunggu dengan wajah terlalu tenang. Tidak ada senyum menang. Tidak ada godaan terang-terangan. Ia hanya menatapnya seolah keputusan tentang bunga di meja kerja Louisa benar-benar berada di tangan Louisa, bukan di tangan orang yang jelas-jelas sudah membuat pengaturan dengan florist sejak tiga hari lalu.
"Bunganya berbeda tiap hari," kata Louisa akhirnya.
"Supaya kamu tidak bosan."
"Kamu benar-benar yang kirim."
Nathanael tidak berkata iya. Ia juga tidak berkata tidak.
Ia hanya mengambil cangkir teh dari Bu Sari, mendorongnya ke depan Louisa, lalu berkata, "Minum dulu. Tehnya panas."
Bu Sari menunduk sangat dalam untuk menyembunyikan senyum.
Louisa duduk pelan. Jantungnya masih tidak sepenuhnya tenang. Ada sesuatu yang aneh dari menerima perhatian yang tidak menuntut ucapan terima kasih besar. Selama bertahun-tahun, kalau ia melakukan sesuatu untuk Kevin, ia selalu menunggu tanda kecil bahwa Kevin melihatnya. Satu pesan. Satu senyum. Satu kalimat, kamu ingat ya.
Nathanael melakukan sebaliknya.
Ia mengirim bunga, lalu bertingkah seperti bunga itu bisa tumbuh sendiri di meja.
Setelah sarapan, Louisa kembali ke kamar dan melakukan satu hal yang seharusnya tidak perlu.
Ia menekan tombol video call ke Stella.
Stella mengangkat pada dering kedua. Wajahnya memenuhi layar, rambut diikat tinggi, satu tangan memegang kopi susu, ekspresinya terlalu polos untuk dipercaya.
"Ci Lou, pagi-pagi kangen aku?"
"Kamu benar-benar tidak kirim bunga?"
Stella mengerjap dua kali. "Aku? Bunga apa ya?"
"Stel."
"Aku ini perempuan sibuk. Aku punya perusahaan media, punya meeting, punya hidup."
"Kamu juga punya hobi ikut campur."
"Itu bukan hobi. Itu panggilan moral."
Louisa mengangkat vas bunga ungu muda ke depan kamera. "Ini."
Stella mendekat ke layar, pura-pura menilai dengan serius. "Cantik. Taste-nya bagus. Tidak terlalu norak, tidak terlalu mahal kelihatan, tapi jelas bukan beli dadakan di lobby mal."
"Kamu tahu pengirimnya."
"Aku tahu kualitas bunga."
"Stella."
Stella menyesap kopi. Matanya berbinar, tetapi mulutnya tetap memasang garis polos. "Ci, kalau suatu hari ada orang yang mengirim bunga tanpa kartu, menarik kursi saat kamu sarapan, tahu kamu lupa makan saat fokus, dan tinggal serumah dengan kamu, menurutmu siapa tersangka utamanya?"
Louisa memalingkan wajah dari layar.
"Dia tidak mengaku."
"Ko Nath kalau mengaku langsung, nanti bukan Ko Nath namanya."
Louisa kembali menatap layar. "Jadi memang dia?"
Stella langsung mengangkat alis. "Aku tidak mengatakan apa pun."
"Barusan kamu bilang Ko Nath."
"Aku menyebut nama kakakku secara umum. Tidak ada kaitan dengan investigasi bunga."
"Kamu buruk sekali jadi saksi."
"Aku justru saksi yang sangat loyal."
Louisa ingin menahan senyum, tetapi gagal.
Stella melihat itu dan melembut sedikit. "Ci, kalau kamu suka bunganya, terima saja dulu. Nggak semua hal harus langsung dibalas. Kadang ada orang yang bahagia cuma karena akhirnya punya izin menaruh sesuatu yang indah di meja kamu."
Kalimat itu membuat Louisa terdiam.
Stella seperti sadar ia hampir bicara terlalu banyak. Ia buru-buru mengangkat kopi. "Oke, aku ada meeting. Kalau ada bunga bentuk hati raksasa baru hubungi aku. Itu pasti bukan selera Ko Nath."
Panggilan terputus.
Louisa menatap layar yang kembali gelap. Di meja, bunga ungu muda itu diam dalam vas kaca. Tidak meminta jawaban. Tidak memaksa arti.
Hari itu ia menggambar lebih lama.
Ia menggambar kelopak ungu, lalu tangan yang menarik kursi, lalu sebuah cangkir teh yang uapnya naik tipis. Ketika sore datang, ia membuka LINE Webtoon lagi, tetapi tidak membaca terlalu jauh. Pikirannya beberapa kali kembali ke meja makan, ke cara Nathanael berkata, kalau kamu tidak suka, besok tidak perlu ada.
Seolah ia tidak mau mempertahankan apa pun yang membuat Louisa tidak nyaman.
Seolah keinginan Louisa lebih penting daripada keinginannya sendiri untuk memberi.
Malamnya, Nathanael pulang lebih larut. Louisa sedang menajamkan pensil ketika ia mengetuk pintu kamar yang terbuka.
"Boleh masuk?"
"Boleh."
Nathanael berdiri di dekat pintu, tidak melewati batas karpet. Matanya turun ke sketsa bunga di meja.
"Bagus."
"Masih kasar."
"Tetap bagus."
Louisa memutar pensil di antara jari. "Besok bunganya masih ada?"
Nathanael menatapnya.
Pertanyaan itu keluar lebih ringan daripada yang ia kira. Tetapi setelah terucap, Louisa baru menyadari bahwa ia sedang meminta sesuatu tetap datang.
"Kalau kamu mau," jawab Nathanael.
Louisa menunduk ke sketsanya. "Aku mau."
Tidak ada suara beberapa detik.
Ketika ia mengangkat kepala, Nathanael sudah menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Terlalu lembut untuk sekadar lega, terlalu tenang untuk disebut bahagia biasa.
"Baik," katanya.
Besok paginya, Louisa bangun lebih awal dari alarm.
Ia tidak langsung membuka ponsel. Tidak memeriksa pesan. Tidak melihat Instagram. Ia turun dari tempat tidur, merapikan rambut seadanya, lalu berjalan ke meja kerja dengan langkah yang pelan karena takut harapannya terdengar terlalu jelas.
Vas kaca itu sudah ada.
Airnya jernih.
Daunnya hijau tua.
Louisa belum menyentuhnya, tetapi aromanya sudah sampai lebih dulu.
Wangi itu menariknya kembali ke hari kelulusan SMA Penabur. Saat itu ia membeli buket kecil dari florist dekat sekolah, memilih sendiri kuntum putih yang paling bersih, lalu menyelipkan melati di antaranya karena penjual berkata kombinasinya terlihat tulus. Louisa membawa bunga itu sepanjang hari, menyembunyikannya di balik map ijazah, menunggu Kevin selesai foto dengan keluarga dan teman-temannya.
Sore turun.
Kevin pergi lebih dulu karena urusan keluarga.
Louisa pulang dengan buket yang belum sempat diberikan. Malamnya, ia meletakkan bunga itu di meja belajar dan berkata pada diri sendiri, lain kali saja. Tapi tidak ada lain kali. Kelopaknya layu satu per satu, jatuh di samping buku latihan UTBK yang belum ia buka.
Sekarang, bertahun-tahun kemudian, bunga yang sama berdiri di meja kerjanya dalam air jernih. Bukan layu. Bukan terlambat. Bukan sisa dari kesempatan yang gagal.
Segar.
Seolah seseorang mengembalikan hari itu dan mengganti akhirnya.
Di tengah vas, beberapa kuntum putih berdiri dengan kelopak bersih, lembut, dan wangi yang membuat waktu berhenti di dada Louisa.
Mawar putih melati.