NovelToon NovelToon
Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Jantung Hatiku, Aku Hanya Ingin Kamu

Status: tamat
Genre:CEO / Wanita perkasa / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.

Dia hampir mati karenanya.

4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.

"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."

Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.

Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Perjalanan ke Kota Purnama

Akhir pekan itu, Naomi meninggalkan Jakarta menuju Kota Purnama dengan perasaan seperti masuk ke bab hidup yang sama sekali berbeda.

Darren duduk di sampingnya di kursi belakang mobil hitam, sementara dua mobil pengawal mengikuti dari jarak rapi. Olivia sebenarnya ingin ikut, tetapi Raymond melarang dengan alasan kunjungan pertama Naomi ke Rumah Besar harus "apa adanya". Naomi tidak sepenuhnya mengerti maksud kalimat itu, tetapi dari wajah Darren, ia tahu artinya tidak menyenangkan.

"Kalau kamu ingin mundur, kita bisa putar balik," kata Darren untuk ketiga kalinya sejak mereka keluar tol.

Naomi menoleh dari jendela. "Kalau kamu bertanya sekali lagi, aku akan mengira kamu yang ingin mundur."

"Aku ingin menculikmu ke Bali dan pura-pura tidak ada keluarga besar."

"Itu bukan solusi."

"Itu solusi yang menyenangkan."

Naomi tersenyum kecil, lalu kembali melihat pemandangan. Gedung-gedung Jakarta perlahan berganti kawasan industri, lalu jalan panjang dengan deretan pohon dan vila besar di balik pagar tinggi. Kota Purnama terasa lebih tua daripada Kota Megah, lebih diam daripada Jakarta, seperti tempat yang menyimpan rahasia di balik gerbang-gerbang besinya.

Ponsel Naomi bergetar. Pesan dari Olivia masuk, singkat tetapi hangat.

Mama Olivia: Jangan memaksakan diri untuk disukai semua orang. Hormati yang perlu dihormati, tapi jangan mengecilkan dirimu.

Naomi membaca pesan itu dua kali.

Darren ikut melihat dari samping, lalu tersenyum tipis. "Mama sudah memilih pihak."

"Kamu senang?"

"Sangat. Tapi itu juga berarti Papa akan pura-pura makin dingin."

"Kenapa?"

"Karena dia tidak suka kalah dari Mama, bahkan dalam hal menunjukkan kasih sayang."

Naomi menyimpan ponsel dengan hati sedikit lebih hangat. Setidaknya di antara tembok besar yang menunggunya, ada satu pintu yang sudah terbuka.

Darren membuka tablet. Di layar ada bagan keluarga yang Billy siapkan, terlalu rapi sampai terlihat seperti materi presentasi investor.

"Aku tidak mau kamu masuk tanpa peta," katanya.

Naomi menatap bagan itu. "Keluargamu punya struktur seperti perusahaan."

"Kadang lebih kejam dari perusahaan."

Darren menunjuk nama paling atas. "Engkong. Kepala keluarga besar. Usianya sudah tua, tapi semua orang masih menghitung napasnya sebelum mengambil keputusan."

"Kamu dekat dengannya?"

"Cukup. Dia keras, tapi setidaknya tidak munafik."

Jari Darren turun ke cabang lain. "Ini Arthur Wijaya. Sepupu ayahku dari cabang tua. Lima tahun lalu kecelakaan, sejak itu koma. Istrinya Helena Tjandra. Kamu akan bertemu dia hari ini. Kalau dia tersenyum terlalu manis, jangan percaya."

"Kedengarannya menyenangkan."

"Sangat." Darren menyentuh nama berikutnya. "Anak sulung Arthur adalah Ethan Wijaya."

Naomi melihat foto kecil di samping nama itu. Pria berwajah bersih, tenang, dan hangat. Senyumnya lembut, hampir menenangkan.

"Dia yang paling harus kuhindari?" tanya Naomi.

Darren tidak langsung menjawab. Itu cukup membuat Naomi menoleh.

"Ethan pintar," kata Darren akhirnya. "Terlalu pintar. Semua orang di Rumah Besar menganggap dia sopan, stabil, dan paling pantas memimpin cabang Arthur sampai ayahnya sadar. Dia tidak pernah menaikkan suara. Tidak pernah terlihat kotor. Justru itu masalahnya."

Naomi menatap foto itu lagi. "Kamu tidak percaya padanya."

"Tidak pernah."

"Kenapa?"

Rahang Darren mengeras sedikit. "Insting. Dan beberapa hal yang belum bisa kubuktikan."

Naomi tidak mendesak. Setelah semua yang mereka lalui, ia mulai mengerti bahwa di dunia Darren, tidak semua bahaya datang dengan suara keras.

"Ethan punya istri?"

"Natalia Tanoto. Sedang hamil besar. Dia baik." Suara Darren melunak sebentar. "Terlalu baik untuk rumah itu."

Naomi mencatat nama itu di kepala.

Darren melanjutkan, "Bryan Wijaya, adik Ethan. Banyak gaya, sedikit isi. Felicia, adik perempuan mereka, mulutnya tajam dan suka mencari panggung. Giselle, sepupu lain, lebih muda, sering memberontak. Dia tidak seburuk yang lain, tapi sulit ditebak."

"Dan Helena?"

"Helena menganggap semua orang yang tidak lahir dari keluarga setara sebagai noda di karpetnya."

Naomi tertawa pelan. "Kamu benar-benar pandai membuat orang ingin turun dari mobil."

Darren menutup tablet, lalu menggenggam tangannya. "Aku bukan menakutimu."

"Aku tahu."

"Aku hanya tidak mau kamu terluka karena aku telat memperingatkan."

Kalimat itu membawa mereka kembali pada luka lama, tetapi kali ini Naomi tidak membiarkannya menarik mereka terlalu jauh. Ia membalas genggaman Darren.

"Aku tidak rapuh, Dar."

"Aku tahu." Darren mencium punggung tangannya. "Tapi aku tetap ingin menjagamu."

"Boleh. Asal bukan mengurung."

"Aturan rumah tangga nomor empat?"

"Nomor empat."

Darren mengusap punggung tangannya dengan ibu jari. "Di Rumah Besar, makan malam keluarga biasanya wajib. Orang-orang bicara dengan sopan, tapi setiap kalimat punya duri. Kalau kamu tidak ingin menjawab, lihat aku. Kalau aku tidak melihat, injak kakiku."

Naomi menatap sepatunya. "Keras?"

"Sekeras mungkin."

"Itu aturan nomor lima?"

"Itu protokol darurat."

Naomi tertawa pelan, tetapi tawanya cepat mereda ketika Darren menambahkan, "Dan jangan pernah pergi sendirian ke taman belakang atau area danau pada malam hari."

"Kenapa?"

"Terlalu luas. Terlalu banyak sudut yang tidak terlihat kamera."

Naomi mengingat peta estate di tablet, lalu mengangguk.

Darren tersenyum, tetapi matanya tetap waspada ketika mobil mulai memasuki kawasan perbukitan Kota Purnama. Jalan melebar. Pagar-pagar rumah semakin tinggi. Tidak lama kemudian, mobil melewati gerbang batu besar bertuliskan Wijaya Estate.

Naomi menahan napas.

Di balik gerbang itu, terbentang kompleks luas yang lebih mirip resor pribadi daripada rumah. Jalan masuknya panjang, diapit pohon trembesi tua dan taman yang dipangkas sempurna. Di kejauhan, mansion utama berdiri megah dengan atap gelap, pilar tinggi, dan jendela-jendela besar yang memantulkan langit sore. Di sisi kanan, Naomi melihat danau buatan berkilau di antara taman, separuh tertutup pohon dan jalan setapak batu.

Tempat itu indah.

Dan entah kenapa, membuat tengkuknya dingin.

Darren merasakan perubahan tubuhnya. "Nao?"

"Aku baik-baik saja."

"Kalau tidak, bilang."

"Aku hanya..." Naomi mencari kata yang tepat. "Tempat ini seperti terlalu tenang."

Darren menatap mansion di depan. "Karena orang-orang di sini terbiasa menyembunyikan suara."

Mobil berhenti di depan tangga utama.

Beberapa pelayan berdiri rapi. Di atas tangga, seorang pria dengan kemeja putih dan rompi abu-abu menunggu. Wajahnya persis seperti foto di tablet, hanya lebih hidup. Tenang, bersih, hangat seperti batu giok yang dipoles. Angin sore menggerakkan ujung rambutnya, dan di tangannya ada sapu tangan abu-abu yang ia lipat perlahan.

Darren turun lebih dulu, lalu berdiri di sisi Naomi seperti perisai.

Naomi melangkah keluar.

Pria itu menuruni satu anak tangga, tersenyum lembut.

"Selamat datang," katanya, matanya berhenti pada Naomi. "Adik ipar."

Darren tidak tersenyum.

"Ethan," ucapnya dingin.

1
Wawan
Salam kenal untuk Naomi 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!