Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Tamparan Pertama
"Bagus. Ceritakan semuanya."
Brandon Surya mengucapkan kalimat itu dengan suara rendah, tetapi Stella mendengarnya seperti janji. Ia duduk di tepi ranjang kamarnya, pintu terkunci, lampu meja menyala lembut di wajahnya yang masih menyimpan sisa iri dari annual dinner.
"Kak Cia bilang Mas Kevin masih dingin. Dia juga tidak yakin apa yang Mas Kevin pikirkan," bisik Stella. "Aku rasa hubungan mereka cuma tampak baik di luar."
Brandon tertawa pelan. "Tentu saja. Kevin tidak tahu cara memperlakukan perempuan."
"Tapi Kak Cia sekarang lebih pintar. Hati-hati."
"Semua perempuan punya titik lemah." Nada Brandon menjadi ringan. "Dia baru masuk keluarga Surya. Kalau dibuat merasa sendirian, dia akan mencari pegangan."
Stella menggigit bibir. "Kak Brandon mau apa?"
"Makan malam keluarga besok. Madam Liem sudah mengaturnya. Kamu cukup datang dan terlihat khawatir sebagai adik yang baik."
Keesokan malamnya, Felicia berdiri di depan pintu Surya Mansion untuk kedua kalinya dalam seminggu.
Ia mengenakan dress hijau gelap sederhana, rambut diikat rendah, makeup bersih. Tidak seformal annual dinner, tapi cukup rapi untuk menghadapi keluarga yang hobi menyembunyikan pisau di balik serbet.
Kevin berdiri di sampingnya.
"Kamu tenang sekali," katanya.
"Saya gugup."
"Tidak terlihat."
Felicia menoleh dan tersenyum. "Latihan dari kecil, mungkin."
*Kalau musuh sudah mengundang makan malam dua kali dalam seminggu, artinya mereka kehabisan cara atau terlalu percaya diri. Dua-duanya bisa dimanfaatkan.*
Kevin mendengar, dan kali ini ia tidak menahan Felicia. Ia hanya berkata, "Kalau perlu bukti, Adi standby."
Felicia mengangkat alis. "Mas Kevin tahu saya butuh bukti?"
"Wajahmu."
"Wajah saya lagi?"
"Terlalu tenang."
Felicia tertawa kecil. "Kalau begitu, mohon kerja samanya, partner kontrak."
Kata partner membuat Kevin diam setengah detik lebih lama.
Meja makan Surya malam itu lebih ramai. Selain Hendrik, Madam Liem, Brandon, Jessica, Richard Liem, dan beberapa tetua, Stella juga hadir bersama Linda dengan alasan mengunjungi keluarga ipar kakaknya. Albert tidak datang karena rapat luar kota, alasan yang membuat Felicia sedikit menghela napas lega.
Madam Liem menyambut mereka dengan senyum sempurna.
"Felicia, Mama senang kamu datang lagi. Setelah kejadian kemarin, Mama ingin suasana keluarga kembali hangat."
"Saya juga berharap begitu, Mama."
*Hangat seperti kompor mau meledak.*
Kevin menunduk sebentar, pura-pura membaca pesan.
Hidangan pertama berjalan aman. Terlalu aman. Itu membuat Felicia makin waspada.
Lalu Brandon bergerak.
"Felicia," katanya dengan nada ramah yang sengaja dibuat terdengar santai, "aku dengar kamu tertarik belajar investasi keluarga."
Felicia meletakkan sendok. "Oh?"
Stella langsung menunduk, wajahnya cemas. "Kak Brandon, jangan..."
Aktingnya lumayan.
Madam Liem mengangkat alis. "Ada apa?"
Brandon menghela napas seperti orang yang terpaksa membuka rahasia demi kebaikan keluarga. "Aku sebenarnya tidak enak bicara. Tapi sebagai kakak ipar, aku khawatir. Felicia kemarin sempat bilang padaku lewat Stella bahwa dia merasa Kevin terlalu dingin dan ingin belajar mengelola uang sendiri."
Semua mata beralih ke Felicia.
Kevin diam.
Felicia juga diam.
Brandon melanjutkan, "Tidak salah kalau istri ingin punya pegangan. Tapi keluarga Surya punya aturan. Jangan sampai ada yang memakai nama Surya untuk investasi sembarangan."
Richard Liem mendengus. "Benar. Apalagi kalau baru masuk keluarga dan belum paham bisnis."
Jessica menutup mulut, menunggu drama.
Stella menatap Felicia dengan mata berkaca. "Kak, Stella tidak bermaksud cerita. Stella cuma takut Kakak dimanfaatkan orang."
Felicia memandang Stella.
*Wah. Umpanku dimasak jadi sup fitnah. Kreatif juga.*
Kevin mengambil gelas air.
Brandon mengeluarkan ponsel. "Aku bahkan menerima pesan dari seseorang yang mengaku dekat dengan Felicia. Katanya dia ingin akses modal cepat. Aku tidak menuduh, tapi sebaiknya kita klarifikasi."
Ia menampilkan tangkapan layar ke tablet yang sudah disiapkan staf. Di layar, ada chat dengan nama kontak "Feli" berisi permintaan bantuan investasi pribadi dan kalimat ambigu seolah Felicia tidak puas dengan Kevin.
Bisik-bisik langsung menyebar.
Madam Liem memandang Felicia dengan prihatin palsu. "Felicia, kalau kamu butuh uang, katakan pada Mama. Jangan melakukan hal yang membuat nama Kevin tercoreng."
Kevin meletakkan gelasnya.
Suara kecil itu cukup membuat beberapa orang menegang.
Felicia justru tersenyum.
"Kak Brandon," katanya lembut, "boleh saya lihat nomor pengirimnya?"
Brandon tampak siap. "Nomornya disembunyikan demi privasi."
"Privasi siapa?"
"Sumberku."
"Sumber yang mengaku dekat dengan saya, tapi nomornya tidak bisa ditunjukkan?"
Richard menyela, "Intinya bukan nomor. Intinya apakah kamu pernah mengatakan hal seperti itu."
Felicia mengangguk. "Saya memang pernah bilang pada Stella bahwa Mas Kevin masih dingin."
Stella hampir tersenyum.
Felicia melanjutkan, "Karena itu memang karakter Mas Kevin. Dingin. Tidak banyak bicara. Tapi saya tidak pernah meminta Brandon membantu saya mengelola uang. Saya juga tidak pernah menghubungi siapa pun untuk modal pribadi."
Brandon bersandar. "Tentu kamu akan menyangkal."
"Betul. Karena tuduhanmu jelek sekali."
Ruangan hening.
Kevin menatap Felicia.
*Oke, saatnya. Jangan terlalu cepat. Biarkan mereka yakin menang dulu. Orang sombong kalau jatuh dari lantai lebih tinggi, bunyinya lebih enak.*
Kevin hampir tersenyum.
Felicia mengambil ponselnya. "Saya juga punya beberapa hal yang ingin diklarifikasi. Karena malam ini keluarga besar sedang membahas etika memakai nama Surya, mungkin Kak Brandon bisa menjelaskan ini."
Ia mengirim satu file ke Adi.
Beberapa detik kemudian, tablet di sisi Kevin menyala, lalu layar besar di ruang makan berganti sebelum Brandon sempat bereaksi. Tampilan chat palsu menghilang, digantikan deretan transaksi, foto CCTV, dan catatan utang dari beberapa kasino privat serta meja judi online luar negeri.
Nama yang muncul di bagian atas jelas.
Brandon Surya.
Wajah Brandon langsung berubah.
"Apa-apaan ini?"
Felicia memiringkan kepala. "Saya juga penasaran. Ini laporan pembayaran utang dari tiga bulan terakhir. Totalnya cukup menarik. Ada transaksi melalui rekening nominee, ada jaminan jam tangan, ada satu mobil sport yang statusnya digadaikan diam-diam."
Richard berdiri. "Matikan layar itu!"
Kevin tidak bergerak. Adi, yang berada di luar ruangan, jelas tidak menerima perintah dari Richard.
Hendrik menatap layar dengan wajah makin gelap.
"Brandon," katanya.
Brandon mencoba tertawa. "Pa, ini pasti manipulasi. Kevin yang membuatnya."
Felicia mengangkat tangan. "Sebentar, ada bagian paling lucu."
*Lucu untukku. Untuk dia mungkin kiamat cicilan.*
Layar berikutnya muncul. Foto Brandon di ruang VIP, wajahnya tegang, sedang menandatangani surat utang. Di pojok foto ada tanggal dan lokasi. Di bawahnya, bukti transfer dari rekening terkait salah satu perusahaan cangkang Liem.
Madam Liem menegang.
Hendrik berdiri perlahan. "Kamu memakai perusahaan keluarga untuk menutup utang judi?"
"Tidak, Pa. Itu bukan..."
"Jawab."
Suara Hendrik tidak keras, tapi seluruh meja membeku.
Brandon menatap Madam Liem, meminta bantuan. Untuk pertama kalinya malam itu, Madam Liem tidak langsung punya kata.
Felicia menatap Stella.
Wajah adik tirinya pucat. Jelas ia tidak menyangka jebakan malam ini akan berbalik sejauh itu.
"Kak Brandon," Felicia berkata manis, "tadi kamu bilang jangan sampai ada yang memakai nama Surya untuk investasi sembarangan. Saya setuju. Nama keluarga memang harus dijaga."
Beberapa tetua menunduk menyembunyikan senyum. Jessica melongo, antara takut dan menikmati.
Richard menunjuk Felicia. "Kamu sengaja mempermalukan keluarga!"
Kevin berdiri.
Kursinya bergeser pelan, tapi efeknya seperti palu diketuk.
"Dia membela diri."
Richard terdiam.
Kevin menatap Brandon. "Kamu menyerang istriku dengan bukti palsu. Dia menjawab dengan bukti asli."
Felicia merasa dada tubuh ini bergetar.
Istriku.
Ia tahu itu mungkin hanya posisi kontrak. Tahu Kevin mengucapkannya untuk melindungi di depan keluarga. Tapi tetap saja, kata itu jatuh hangat di tempat yang tidak ia siapkan.
*Aduh. Fokus, Cia. Jangan meleleh di tengah sidang keluarga.*
Kevin mendengar, dan telinganya kembali panas. Tapi kali ini ia tidak memalingkan wajah.
Hendrik menunjuk layar. "Pak Agus."
Pak Agus yang berdiri di sudut segera maju. "Ya, Pak."
"Ambil semua data ini. Audit divisi yang terkait Brandon. Sampai selesai, Brandon tidak boleh mengakses rekening proyek apa pun."
"Pa!" Brandon membanting telapak tangan ke meja. "Ini keterlaluan!"
"Yang keterlaluan adalah kamu membuatku terlihat bodoh di depan keluarga sendiri."
Kalimat Hendrik membuat Brandon pucat.
Madam Liem akhirnya bersuara. "Hendrik, Brandon masih muda. Anak muda bisa salah."
Felicia menyesap teh.
*Muda? Umurnya dua puluh tujuh, bukan balita ketumpahan susu.*
Kevin menutup tangan di mulut. Bahunya bergerak nyaris tak terlihat.
Hendrik menatap istrinya. "Cynthia, jangan membela sebelum audit selesai."
Madam Liem terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak Felicia mengenalnya, senyum wanita itu benar-benar hilang.
Stella mencoba menarik diri dari pusaran. "Kak Cia, aku tidak tahu akan jadi begini..."
Felicia menoleh. "Tentu. Kamu hanya khawatir."
Nada Felicia lembut.
Terlalu lembut.
Stella tidak berani menjawab.
Makan malam berakhir tanpa ada yang benar-benar makan. Para tetua pulang dengan wajah penuh bahan gosip. Dalam lima belas menit, kabar bahwa Brandon kehilangan akses proyek karena utang judi sudah beredar di grup internal keluarga. Belum viral ke publik, tapi cukup untuk membuat harga dirinya retak.
Di halaman Surya Mansion, Felicia baru masuk mobil ketika ponselnya bergetar.
***"Misi kecil selesai. Poin bertambah 100. Efek malu keluarga: tinggi. Efek amarah Madam Liem: sangat tinggi."***
Felicia menyandarkan kepala ke jok.
"Sangat tinggi?" gumamnya.
Kevin menoleh. "Apa?"
"Tidak. Saya cuma merasa malam ini belum selesai."
Kevin menatap pintu utama mansion. Di sana, Madam Liem berdiri di balik tirai lantai dua, memandang mobil mereka pergi.
"Memang belum," katanya.
Di dalam mansion, Cynthia Liem menoleh pada Richard dengan suara rendah.
"Mulai sekarang, jangan lagi pakai cara halus."
Richard mengangguk.
Mata Cynthia dingin.
"Felicia harus dibuat takut."