Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Putri Tanuwijaya
"Boleh aku masuk? Aku ingin menjenguk Felicia."
Suara Yesika Prasetyo terdengar sangat lembut, seolah di dalam ruangan tidak ada satu pun bukti yang sedang menunjuk ke arahnya.
Felicia memandang pintu selama dua detik.
"Masuk."
Jayden langsung menoleh. "Sayang."
"Biarkan," kata Felicia.
Itu bukan undangan ramah. Itu perangkap yang pintunya dibuka dari dalam.
Guru pendamping buru-buru merapikan map. Manajer klub menyembunyikan wajah paniknya dengan menatap layar tablet. Siswa panitia memegang ponselnya seperti benda itu bisa meledak kapan saja.
Pintu terbuka.
Yesika masuk dengan membawa buket bunga putih dan tas kertas dari toko buah mahal. Rambutnya terikat rapi, wajahnya pucat secukupnya, matanya sedikit basah. Kalau tidak ada nama "Y. Prasetyo" di layar beberapa menit lalu, siapa pun bisa percaya ia benar-benar datang karena khawatir.
"Felicia," katanya lirih. "Aku minta maaf baru datang. Aku dengar kabarnya dari grup OSIS."
Felicia tersenyum. "Cepat juga."
Jari Yesika di gagang buket menegang sepersekian detik. "Aku kebetulan masih di area rumah sakit. Papa meminta sopir menunggu karena banyak orang tua sponsor yang panik."
"Om Vincent perhatian sekali."
"Sponsor utama memang harus bertanggung jawab."
Nathan menatapnya dari samping ranjang. "Kalau begitu, keluarga Prasetyo akan membantu membuka rekaman parkir sponsor?"
Senyum Yesika tidak hilang, tetapi warna wajahnya berubah tipis. "Tentu. Kalau sekolah membutuhkan prosedur resmi, aku bisa bantu menyampaikan."
"Kami butuh sekarang."
Hening.
Jayden menyeringai. "Kok diam?"
Yesika menoleh padanya dengan ekspresi terluka yang sangat cantik. "Jayden, aku datang menjenguk orang sakit, bukan diinterogasi."
"Lo datang pas kami baru nemu bukti."
"Bukti apa?"
Pertanyaan itu terlalu cepat.
Calvin tertawa pelan. "Kak Yesika, kamu belum tahu bukti apa, tapi sudah takut ditanya?"
Yesika memandang Calvin. "Aku hanya tidak suka suasana menuduh. Felicia baru mengalami kecelakaan. Kalau isu ini melebar tanpa bukti lengkap, reputasi sekolah dan klub bisa rusak."
"Reputasi siapa yang paling kamu khawatirkan?" tanya Felicia.
Yesika mengalihkan pandangan kembali ke ranjang. Ia menaruh buket bunga di meja dengan gerakan lembut. Aroma bunga putih bercampur bau antiseptik. Terlalu manis untuk ruangan yang penuh luka.
"Aku khawatir pada kamu," jawabnya. "Kamu bisa saja salah paham karena trauma."
Sis langsung berteriak di kepala Felicia, "Gaslighting terdeteksi! Levelnya elegan, tapi tetap gaslighting!"
Felicia hampir tertawa.
"Trauma?" ulang Felicia.
Yesika menundukkan kepala sedikit. "Kamu jatuh dari kuda, kepalamu terbentur. Dokter bilang kamu gegar ringan, kan? Wajar kalau ingatanmu campur aduk."
Monitor di samping ranjang berbunyi teratur.
Nathan berdiri.
Gerakannya pelan, tetapi tekanan di ruangan langsung berubah. "Diagnosis medis Feli bukan alat untuk meragukan kesaksiannya."
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Kamu baru saja melakukannya."
Yesika menggigit bibir. Air mata tipis muncul di sudut matanya. Triknya bagus. Cukup rapuh untuk membuat orang merasa bersalah, cukup cantik untuk terlihat tidak berbahaya.
Felicia menunjuk kursi di dekat kaki ranjang. "Duduk."
Yesika terdiam.
"Atau kamu ingin berdiri agar lebih mudah kabur?"
Wajah guru pendamping menegang. Jayden tertawa singkat.
Yesika akhirnya duduk. Punggungnya tetap lurus. Tas kertas di pangkuannya tidak bergerak.
Felicia menoleh pada siswa panitia. "Tampilkan layarnya."
Siswa itu ragu, lalu membuka ponsel. Nama Y. Prasetyo muncul lagi di bawah pratinjau notifikasi.
Untuk pertama kalinya, ekspresi Yesika retak dengan jelas.
Hanya satu detik.
Tetapi satu detik itu cukup untuk semua orang.
"Y bisa siapa saja," katanya cepat.
"Benar," kata Sebastian. "Karena itu kami belum menyebut namamu di pernyataan resmi."
Yesika melihat ke arahnya.
Sebastian melanjutkan dengan suara datar, "Tapi nomor pengirim punya relasi pembayaran dengan akun bernama Y. Prasetyo. Pesan meminta Felicia dipindahkan ke kuda nomor tujuh. Waktunya cocok dengan revisi daftar. Bukti tidak lengkap, tetapi pola awalnya sudah terlalu rapi."
"Kalian tidak bisa menuduh keluarga Prasetyo hanya dari huruf depan."
"Maka bantu buka CCTV parkir sponsor," kata Nathan. "Sekarang."
Yesika menekan bibir. "Aku harus bicara dengan Papa."
"Silakan," kata Felicia.
Kata itu terlalu ringan.
Yesika membuka ponsel. Casing putihnya terlihat jelas di bawah lampu rumah sakit. Di sudut kanan bawah, ada bunga kecil berwarna pucat.
Felicia tidak mengatakan apa-apa.
Calvin melihatnya.
Sebastian juga melihatnya.
Nathan menatap mata Yesika, bukan casingnya.
Jayden sudah terlihat ingin merampas ponsel itu.
Yesika berdiri. "Aku akan menelepon di luar."
"Di sini saja," kata Felicia.
Yesika membeku.
"Katanya kamu ingin membantu klarifikasi. Kami semua perlu dengar."
Untuk beberapa detik, maskernya hampir jatuh. Bukan masker kain, melainkan masker sosial yang sudah ia poles bertahun-tahun. Lalu ia tersenyum lagi.
"Felicia, kamu benar-benar suka mempermalukan orang, ya?"
Nada itu lebih rendah. Akhirnya ada sedikit suara asli di sana.
Felicia menatapnya santai. "Aku suka melihat orang berhenti pura-pura."
Pintu kembali diketuk.
Kali ini ketukannya berbeda. Lebih berat, lebih dewasa, dan diikuti suara laki-laki yang membuat Calvin langsung menegakkan badan.
"Calvin, kamu di dalam?"
Calvin menoleh.
Wajahnya berubah.
Felicia mengenali suara itu dari ingatan tubuh lama dan dari data Sis.
Hendrick Tanuwijaya.
Sebelum siapa pun menjawab, pintu terbuka. Seorang pria paruh baya masuk dengan setelan gelap yang terlalu mahal untuk koridor rumah sakit, rambut tersisir rapi, wajah tampan yang membawa sisa kelembutan dan kelemahan dalam satu bingkai. Di belakangnya, Mama Wenny berjalan dengan langkah cepat, matanya merah seperti ia sudah menangis di mobil.
Di sisi lain, seorang pengacara keluarga membawa map hitam.
Calvin berdiri. "Papa. Mama."
Panggilan itu membuat ruangan berubah lagi.
Yesika, yang masih memegang ponsel, langsung menurunkan tangan. Guru pendamping tampak ingin menghilang dari ruangan. Manajer klub menunduk lebih dalam.
Hendrick melihat Felicia di ranjang.
Selama beberapa detik, tidak ada suara.
Tatapannya jatuh pada balutan pelipis, infus, bahu kiri yang ditahan penyangga, lalu wajah Felicia. Ada sesuatu yang bergerak di mata pria itu. Penyesalan, takut, rindu, atau campuran semuanya. Bagi Felicia, itu terlihat seperti barang rapuh yang terlambat sampai.
Mama Wenny menutup mulutnya. "Astaga..."
Felicia tidak menyapa.
Ia hanya memandang Hendrick seperti memeriksa barang lama di gudang.
Sis berbisik, kali ini tidak heboh. "Tuan Rumah, data hubungan biologis aktif. Hendrick Tanuwijaya, ayah kandung."
Tentu saja.
Pria itu menarik napas. "Felicia."
Calvin menoleh pada Felicia, lalu pada Hendrick. Cahaya di matanya berubah kacau. Ia sudah tahu ada sesuatu sejak lama, tetapi mendengar nama Felicia di mulut ayah tirinya dengan nada itu berbeda.
"Papa kenal Ci?" suaranya pelan.
Hendrick tidak langsung menjawab.
Itu jawaban.
Mama Wenny menggenggam lengan Calvin. "Cal..."
Calvin melepaskan tangan ibunya perlahan. "Apa ini?"
Felicia menatap Calvin. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk dunia ini, senyum main-mainnya pada Calvin tidak muncul. Bukan karena ia bersalah. Ia hanya tahu anak ini sedang berdiri di tepi sesuatu yang akan memotongnya.
"Tanya dia," kata Felicia.
Hendrick menutup mata sebentar.
Pengacara keluarga membuka map hitam. "Tuan Hendrick meminta saya membawa dokumen hasil pemeriksaan yang sudah selesai pagi ini. Beliau awalnya bermaksud menemui Nona Felicia setelah keadaan lebih tenang, tetapi video insiden di klub berkuda membuat situasi tidak bisa ditunda."
Guru pendamping hampir menjatuhkan mapnya.
Yesika memandang map itu dengan mata membesar. Detik sebelumnya ia sedang berada di pusat masalah Prasetyo. Detik berikutnya, bom yang jauh lebih besar meledak di ruangan yang sama.
Nathan melangkah setengah tubuh lebih dekat ke ranjang. Bukan menghalangi Felicia, hanya memastikan ia berada dalam jangkauan kalau tubuh Felicia bereaksi buruk.
Jayden berbisik kasar, "Apa maksudnya dokumen?"
Sebastian tidak bertanya. Matanya sudah bergerak ke kop surat laboratorium.
Hendrick akhirnya berbicara.
"Felicia bukan anak panti tanpa keluarga seperti yang selama ini tercatat."
Suara Mama Wenny pecah. "Hendrick..."
"Saya harus mengatakannya."
Calvin pucat.
Felicia bersandar di bantal, tenang sekali. Bahunya sakit. Rusuknya sakit. Kepalanya masih berat. Namun adegan ini cukup menghibur untuk membuat rasa sakit terasa jauh.
Hendrick memandangnya, lalu menunduk sedikit.
"Felicia Winarko adalah putri kandung saya."
Tidak ada yang bergerak.
Kalimat itu jatuh di ruang observasi seperti gelas kristal dilempar ke lantai marmer.
Guru pendamping menutup mulut.
Manajer klub hampir membungkuk otomatis.
Yesika kehilangan seluruh warna di wajahnya.
Jayden memandang Felicia, lalu Hendrick, lalu Calvin. "Tunggu. Jadi Sayang..."
"Keluarga Tanuwijaya," kata Sebastian, menyelesaikan dengan suara rendah.
Calvin menatap Felicia.
Pupilnya bergetar. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Panggilan "Ci" yang selama ini manis tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat.
Felicia mengangkat alis. "Kenapa? Baru sekarang sadar panggilanmu akurat?"
Kalimat itu seharusnya membuat orang tertawa.
Tidak ada yang tertawa.
Hendrick maju satu langkah. "Feli, Papa..."
"Jangan."
Suaranya tidak keras.
Namun Hendrick berhenti.
Felicia menatapnya dari ranjang rumah sakit, kecil, terluka, tetapi ruangan tetap terasa berada di bawah telapak tangannya.
"Aku belum memberi izin siapa pun memanggil dirinya Papa."
Wajah Hendrick memucat.
Di luar pintu yang masih setengah terbuka, suara langkah lain mendekat. Lebih ramai. Lebih tergesa. Ada suara wanita dewasa yang tajam, lalu suara laki-laki yang dibuat-buat tenang.
Guru pendamping menoleh panik. "Sepertinya keluarga Tanuwijaya yang lain juga datang."
Calvin memejamkan mata.
Mama Wenny berbisik, "Charles."
Felicia tersenyum tipis.
Bagus.
Hari ini ternyata banyak sekali orang yang ingin masuk ke kamarnya.