Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23
Bu Ratna masuk seperti badai.
Ia bahkan tidak menunggu perawat mempersilakan. Vina berjalan di belakangnya, wajah pucat, tubuh masih lemah, tapi matanya tetap menyimpan kebencian yang sama. Dimas tidak terlihat. Mungkin ia tidak tahu ibunya dan istrinya sedang datang mencari keributan di ruang observasi pasien hamil.
Raka berdiri di sisi ranjang.
"Keluar."
Bu Ratna berhenti, tapi hanya sebentar.
"Tuan Raka, saya datang bukan untuk membuat masalah. Saya datang menuntut keadilan."
"Di ruang observasi istri saya?"
"Istri Anda yang memulai."
Maya duduk perlahan. Raka langsung menoleh.
"Berbaring."
"Saya bisa bicara."
"Kamu harus istirahat."
Maya menatap Bu Ratna. "Kalau saya berbaring, dia akan bilang saya pura-pura."
Raka tidak suka jawaban itu, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menekan tombol panggil perawat.
Bu Ratna mengeluarkan ponsel, membuka sesuatu, lalu menunjukkan layar kepada Maya.
"Somasi ini kamu kirim? Vina baru kehilangan bayi. Kamu tega mengancamnya hukum?"
Maya melihat layar itu.
"Somasi itu dikirim karena Vina menyebarkan video saya untuk mempermalukan."
Vina langsung menangis. "Aku sedang sakit, Bu. Kenapa Ibu masih jahat?"
Kata Bu itu terdengar seperti ejekan. Selama ini Vina memanggilnya Ibu hanya saat ingin terlihat sopan.
Maya menarik napas.
"Vina, kamu sakit sekarang. Tapi saat mengirim video itu, kamu sadar."
"Aku hanya mengirim file yang Mama minta!"
Bu Ratna menoleh cepat. "Vina!"
Ruangan sunyi sesaat.
Raka menatap mereka berdua. Senyum tipis muncul di wajahnya, tapi tidak ada hangat sedikit pun.
"Terima kasih atas pengakuannya."
Vina baru sadar.
Wajahnya semakin pucat.
Bu Ratna panik. "Dia sedang emosi. Ucapannya tidak bisa dijadikan apa-apa."
Raka mengangkat ponselnya. "Bima."
Pintu terbuka. Bima masuk, entah sejak kapan sudah menunggu di luar.
"Ya, Pak."
"Pastikan rekaman CCTV rumah sakit bagian lorong dan ruangan ini diamankan."
"Baik, Pak."
Bu Ratna membelalak. "Anda merekam kami?"
"Rumah sakit merekam area publik. Anda yang memilih datang ke sini."
Perawat masuk bersama petugas keamanan.
"Maaf, keluarga pasien tidak boleh membuat keributan," kata perawat.
Bu Ratna menunjuk Maya. "Dia yang membuat keributan dalam keluarga kami!"
Maya tiba-tiba merasa sangat lelah.
Perutnya masih sedikit tidak nyaman. Kepalanya pening. Tapi melihat Bu Ratna berdiri dengan kemarahan yang selalu sama, ia merasa sesuatu di dalam dirinya akhirnya selesai.
Ia turun dari ranjang.
Raka langsung memegang lengannya.
"Maya."
"Sebentar."
Ia memakai sandal rumah sakit, berdiri menghadap Bu Ratna.
"Dulu saya diam karena Dimas. Saya pikir kalau saya sabar, rumah tangga anak saya akan tenang. Kalau saya mengalah, Vina akan menghormati saya sedikit. Kalau saya tidak melawan, Bu Ratna akan berhenti."
Bu Ratna mencibir. "Drama lagi."
"Tidak." Suara Maya tetap pelan. "Ini terakhir kali saya menjelaskan."
Vina menggenggam tasnya.
Maya menatapnya.
"Kamu kehilangan bayi. Saya tidak akan memakai itu untuk melukaimu. Tapi jangan memakai sakitmu untuk menghapus perbuatanmu. Kamu ikut memaksa saya menerima Pak Burhan. Kamu ikut mengincar rumah saya. Kamu mengirim video saya bekerja untuk ditertawakan. Kamu membiarkan ibumu menghina kandungan saya."
Air mata Vina jatuh. Tapi Maya tidak tahu apakah itu penyesalan atau marah karena terbongkar.
Bu Ratna berkata dingin, "Kamu merasa kuat karena ada Raka Wijaya."
Maya mengangguk.
"Iya."
Jawaban itu membuat semua orang terkejut, termasuk Raka.
Maya melanjutkan, "Saya memang lebih kuat karena ada suami saya. Tapi bukan karena uangnya. Karena untuk pertama kalinya, ada orang yang mengatakan saya tidak salah ketika saya disakiti."
Raka menatapnya.
Maya menoleh ke Bu Ratna lagi.
"Dan sekarang, sekalipun Mas Raka tidak berdiri di sini, saya tetap akan bilang: cukup."
Bu Ratna mengangkat dagu.
"Kamu pikir bisa memutus hubungan dengan Dimas?"
"Saya tidak memutus hubungan ibu dan anak. Tapi saya memutus kebiasaan kalian memakai hubungan itu untuk menginjak saya."
Vina tiba-tiba berkata, "Kalau Mas Dimas memilih aku, Ibu jangan menyesal."
Maya tersenyum kecil, sedih.
"Dimas sudah lama memilih. Saya hanya baru berhenti pura-pura tidak melihat."
Bu Ratna melangkah maju, wajahnya merah.
Petugas keamanan bergerak.
Raka juga.
Tapi Maya yang lebih dulu mengambil gelas air di meja kecil. Ia tidak menyiramkannya. Ia hanya memegang gelas itu dan berkata tenang, "Bu Ratna, kalau Ibu maju satu langkah lagi, saya akan berteriak bahwa Ibu menyerang pasien hamil di rumah sakit. Kamera ada. Saksi ada. Suami saya ada. Kali ini cerita tidak akan bisa Ibu putar."
Bu Ratna berhenti.
Untuk pertama kali, ketakutan jelas muncul di matanya.
Maya meletakkan gelas kembali.
"Silakan keluar."
Vina menangis lebih keras. "Mama, ayo."
Bu Ratna masih ingin bicara, tapi Raka menatap petugas keamanan.
"Antar mereka."
Keduanya akhirnya keluar, diikuti perawat yang meminta maaf berkali-kali.
Begitu pintu tertutup, kekuatan Maya langsung habis. Ia hampir jatuh, tapi Raka menangkap pinggangnya.
"Keras kepala."
"Saya sudah selesai."
"Kamu hampir pingsan."
"Tapi saya tidak pingsan."
"Itu bukan prestasi."
Maya bersandar pada lengannya, napasnya pendek. "Saya takut tadi."
"Aku tahu."
"Tapi rasanya lega."
Raka membantunya kembali ke ranjang. Kali ini Maya menurut saat ia menyuruhnya berbaring.
Raka menutup selimut sampai ke pinggangnya.
"Mulai sekarang, kalau ingin melawan, beri tahu aku dulu."
"Supaya Mas melarang?"
"Supaya aku berdiri lebih dekat."
Maya menatapnya.
Ia tidak tahu kenapa kalimat sesederhana itu lebih membuatnya ingin menangis daripada semua hinaan Bu Ratna.
"Mas Raka."
"Hmm."
"Terima kasih tidak menghentikan saya."
"Aku hampir."
"Tapi tidak."
"Karena kamu benar." Ia menatap pintu yang baru saja dilalui Bu Ratna dan Vina. "Ada beberapa batas yang harus kamu ucapkan sendiri."
Maya tersenyum lelah.
Setelah observasi dua jam, dokter mengizinkan Maya pulang. Kondisinya stabil, tapi ia harus istirahat penuh sehari. Raka membawa Maya keluar lewat jalur VIP agar tidak bertemu siapa pun.
Di mobil, Maya tertidur.
Raka menatap wajahnya yang pucat.
Bima berkata pelan, "Pak, Bu Maya tadi luar biasa."
Raka tidak menjawab langsung.
Lama kemudian, ia berkata, "Ya."
Ada kebanggaan di suaranya.
Sesampainya di apartemen, Raka menggendong Maya meski ia setengah sadar memprotes. Kali ini Maya terlalu lelah untuk menang.
Ketika diletakkan di ranjang, ia membuka mata.
"Mas Raka."
"Tidur."
"Saya belum sikat gigi."
"Nanti."
"Saya bau rumah sakit."
"Aku juga."
Maya tersenyum samar.
"Mas Raka tidak jijik?"
Raka menatapnya.
"Aku melihatmu menghadapi Bu Ratna dengan sandal rumah sakit. Sulit untuk jijik."
Maya tertawa pelan, lalu meringis karena perutnya terasa tertarik.
Raka langsung panik.
"Sakit?"
"Tidak. Karena tertawa."
"Jangan tertawa dulu."
"Mas melarang saya tertawa?"
"Untuk malam ini."
Maya memejamkan mata.
Raka berdiri hendak pergi, tapi tangannya ditahan.
"Jangan ke ruang kerja."
Ia berhenti.
Maya tidak membuka mata. Mungkin karena lelah, suaranya terdengar jujur.
"Duduk saja sampai saya tidur."
Raka menatap tangannya yang digenggam.
Ia duduk.
"Baik."
Malam itu, Maya tertidur dengan tangan masih memegang jari Raka.
Dan Raka, untuk kedua kalinya, tidak pergi ke ruang kerja.
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍