NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012: Tanah Ini Tidak Dijual

Sebelum tangan Sari mencapai anak itu, kakinya tersangkut lumpur.

Rasa nyeri naik dari betis sampai pinggang. Tubuhnya tertarik turun, air masuk ke hidung, dan untuk satu detik yang mengerikan, ia teringat kain kafan.

Tidak.

Belum.

Sari menggertakkan gigi, menarik kaki kuat-kuat, lalu meraih lengan kecil yang muncul di permukaan.

Anak itu ringan.

Terlalu ringan.

Tubuhnya basah kuyup, rambutnya menempel di wajah, dan bibirnya pucat. Ia tidak menjerit. Hanya mengeluarkan suara serak pendek, seperti burung kecil yang kehabisan napas.

"Pegang leher Tante," kata Sari.

Anak itu tidak merespons.

Sari mengaitkan satu tangan di bawah ketiaknya, lalu berusaha berenang kembali ke tepi. Air waduk tidak dalam seperti danau besar, tapi cukup untuk menyeret tubuh yang lemah. Setiap gerakan membuat dada Sari panas.

Di tepi, Nadia berteriak meminta bantuan.

"Bu Maya! Tolong!"

Beberapa pekerja berlari. Bu Maya turun sampai lututnya masuk air, mengulurkan bambu panjang. Sari meraih bambu itu dengan tangan gemetar.

"Tarik pelan!" seru Nadia.

Mereka menarik.

Sari hampir kehilangan pegangan pada anak itu, tetapi ia memeluknya lebih erat. Lututnya menghantam batu saat sampai tepi. Nyeri menyambar, tapi ia tidak peduli.

Begitu anak itu terangkat ke tanah, Nadia langsung memeriksa napasnya.

"Dia sadar. Tapi hipotermia ringan mungkin. Bawa ke tempat kering."

"Jangan rumah sakit jauh," kata Sari sambil terengah. "Cek dulu air masuk paru-paru atau tidak."

Nadia menatapnya. "Ibu, jangan ikut memberi instruksi medis."

"Ibu memberi instruksi panik."

Bu Maya menyelimuti anak itu dengan kain sarung dari gudang. Pekerja lain membawa air hangat. Anak perempuan itu duduk di pangkuan Sari, menggigil hebat. Matanya besar, hitam, dan kosong.

"Namamu siapa, Nak?" tanya Sari lembut.

Anak itu menatapnya.

Tidak menjawab.

"Tidak apa. Kamu aman."

Anak itu justru menggenggam ujung baju Sari lebih kuat.

Nadia menyentuh punggung anak itu. Anak itu langsung tersentak, tubuhnya kaku.

Nadia cepat menarik tangan. Ia bertukar pandang dengan Sari.

Reaksi itu bukan hanya karena hampir tenggelam.

Bu Maya datang membawa sandal pink yang ditemukan dekat batu. "Ini punya dia."

Sari melihat sandal itu. Ukurannya kecil, bersih, bukan sandal anak kampung yang biasa main di sekitar waduk. Baju anak itu juga bagus. Kaos putih dengan bordir kecil, celana pendek denim, jam tangan anak di pergelangan.

"Dia bukan anak sekitar sini," kata Bu Maya pelan.

Sari mengangguk.

Dari jalan atas terdengar suara mobil berhenti mendadak. Lalu beberapa orang berteriak.

"Lintang!"

Anak dalam pelukan Sari langsung gemetar lebih kuat.

Seorang pria berlari menuruni jalan semen. Usianya mungkin akhir empat puluhan atau awal lima puluhan, tapi tubuhnya tegap. Kemeja putihnya basah keringat, lengan digulung, wajahnya pucat dengan ketakutan yang tidak dibuat-buat.

Di belakangnya ada dua pria lain, salah satunya memakai seragam driver.

Pria itu berhenti beberapa langkah dari Sari saat melihat anak itu.

"Lintang."

Suaranya pecah.

Anak itu menoleh pelan. Matanya mengenali pria itu, tapi tubuhnya tidak langsung bergerak.

Pria itu berlutut. Ia ingin menyentuh, tetapi berhenti di tengah jalan, seperti takut membuat anak itu makin takut.

"Nak, Om di sini."

Om.

Bukan Papa.

Sari mencatat dalam hati.

Lintang menatap pria itu beberapa detik, lalu menunduk lagi ke dada Sari.

Luka di wajah pria itu makin jelas. Bukan luka fisik, melainkan rasa bersalah yang tiba-tiba ditamparkan.

"Apa dia menelan air?" tanyanya pada Nadia, mungkin karena melihat cara Nadia memeriksa.

Nadia menjawab profesional. "Dia sadar, napas ada, tapi harus diperiksa di rumah sakit. Tubuhnya dingin dan shock. Jangan paksa dia bicara dulu."

Pria itu mengangguk cepat. "Baik. Mobil siap. RS terdekat?"

"RS swasta di Bogor lebih dekat dari Jakarta. Jangan bawa terlalu jauh."

"Darto," pria itu menoleh pada driver, "siapkan."

"Baik, Pak Arman."

Arman.

Sari menatap pria itu.

Pria bernama Arman itu menoleh padanya. Baru saat itu ia benar-benar melihat kondisi Sari: pakaian basah, rambut menetes, bibir pucat, tangan memeluk Lintang dengan erat meski tubuhnya sendiri menggigil.

Ia menundukkan kepala sedikit.

"Saya Arman. Wali Lintang. Terima kasih sudah menyelamatkan dia."

"Nanti saja terima kasihnya. Bawa anak ini dulu."

Arman mengangguk.

Ia mengulurkan tangan pada Lintang. "Lintang, kita ke dokter, ya?"

Lintang tidak bergerak.

Sari menunduk. "Kamu mau Tante ikut sampai mobil?"

Lintang mengangguk sangat kecil.

Arman melihat anggukan itu. Matanya berubah, antara lega dan sakit.

Sari mencoba berdiri, tetapi tubuhnya goyah. Nadia langsung menopang.

"Ibu!"

Arman juga refleks maju, tapi berhenti sebelum menyentuh. Ia terlihat cukup peka untuk tidak sembarangan.

"Ibu juga harus diperiksa," kata Nadia tegas.

"Nanti."

"Tidak ada nanti."

Sari ingin membantah, tetapi Lintang masih memegang bajunya. Anak itu tampak takut jika ia dilepas.

Akhirnya mereka berjalan bersama ke mobil. Sari dibantu Nadia, Lintang dibungkus sarung dalam pelukannya, Arman di samping mereka dengan tangan siap tapi tidak memaksa.

Di dekat mobil hitam, Pak Warto dan beberapa warga sudah berkumpul. Tadi entah dari mana mereka muncul. Wajah Pak Warto tampak antara penasaran dan ingin mencari bahan cerita.

"Aduh, ada anak jatuh? Anak siapa itu?"

Arman menoleh.

Tatapannya tenang, tapi cukup dingin untuk membuat Pak Warto mundur setengah langkah.

Tidak ada bentakan.

Tidak perlu.

Beberapa orang memang membawa wibawa seperti pagar besi.

Sari melihat itu, lalu kembali fokus pada Lintang.

Di kursi belakang mobil, Lintang akhirnya mau pindah dari pelukan Sari ke selimut kering, tetapi tangannya masih memegang jari Sari.

Nadia ikut naik untuk memeriksa selama perjalanan. Sari hendak mundur, tetapi Lintang menggenggam lebih kuat.

Arman membuka pintu depan. "Bu Sari, kalau tidak keberatan, ikutlah. Saya akan antar kembali setelah dari rumah sakit."

Sari menatapnya.

"Anda tahu nama saya?"

Arman berhenti sepersekian detik.

Darto di depan tampak kaku.

Arman menjawab tenang, "Pak RT pernah menyebut pemilik kebun ini."

Sari tidak tahu apakah itu benar. Tapi saat itu bukan waktu untuk memeriksa.

Ia masuk.

Mobil melaju.

Sepanjang perjalanan, Lintang tidak bicara. Ia hanya menatap jendela, lalu sesekali menatap Sari. Nadia memeriksa suhu tubuh dan napas. Arman duduk di kursi depan, berkali-kali menoleh ke belakang.

"Dia tadi bersama siapa?" tanya Sari akhirnya.

Arman menjawab setelah jeda pendek. "Pengasuhnya. Kami sedang ada urusan di proyek atas bukit. Lintang seharusnya berada di area kantor sementara."

"Pengasuhnya di mana?"

Wajah Arman mengeras. "Sedang dicari."

Nadia menatap ibunya sekilas.

Sari tidak bertanya lagi di depan anak.

Di rumah sakit, nama Arman membuat proses berjalan cepat. Terlalu cepat untuk orang biasa. Petugas langsung membawa Lintang ke ruang pemeriksaan. Nadia ikut sebentar untuk membantu menjelaskan kronologi medis, lalu keluar.

Sari duduk di kursi tunggu dengan pakaian basah yang mulai dingin. Seorang perawat memberi selimut. Arman berdiri di depannya.

"Bu Sari juga perlu diperiksa."

"Saya baik-baik saja."

Nadia muncul dari pintu dan langsung berkata, "Tidak. Ibu tidak baik-baik saja. Dia baru keluar dari rumah sakit setelah keracunan berat dan salah dinyatakan meninggal."

Arman menatap Sari.

Untuk pertama kalinya, ketenangan pria itu retak.

"Salah dinyatakan meninggal?"

Sari memejamkan mata. "Cerita panjang."

"Kalau begitu semakin harus diperiksa."

"Pak Arman, saya tidak punya tenaga untuk debat dengan orang baru."

"Saya juga tidak berniat debat." Ia menoleh pada perawat. "Tolong periksa Bu Sari juga. Semua biaya saya tanggung."

Sari membuka mata. "Tidak perlu."

"Perlu," kata Nadia dan Arman bersamaan.

Mereka saling menatap, lalu Nadia mengangguk kecil seolah menemukan sekutu.

Sari kalah jumlah.

Satu jam kemudian, Lintang dinyatakan tidak mengalami aspirasi berat, tetapi harus dipantau. Sari mengalami kelelahan, hipotermia ringan, dan luka memar di lutut. Nadia memarahinya sepanjang perawat membersihkan luka.

Arman menunggu sampai semua selesai.

Saat Sari keluar, ia berdiri dari kursi.

"Sekali lagi, terima kasih."

"Jaga Lintang baik-baik."

Kalimat itu membuat wajah Arman berubah.

"Saya akan."

Sari menatapnya. "Anak yang hampir tenggelam biasanya menangis keras. Dia tidak. Dia takut disentuh. Dia terlalu kurus. Saya bukan dokter anak, tapi saya pernah membesarkan tiga anak. Ada yang salah."

Arman tidak membela diri.

Itu membuat Sari sedikit terkejut.

Laki-laki biasanya cepat tersinggung saat dianggap lalai.

Arman justru menunduk, seperti menerima pukulan yang pantas.

"Saya akan cari tahu."

Dari ruang observasi, suara kecil terdengar.

"Tante..."

Sari menoleh.

Lintang duduk di ranjang, selimut sampai dada, matanya mencari.

Arman dan Sari sama-sama membeku.

Itu mungkin kata pertamanya setelah kejadian.

Sari mendekat. "Iya, Tante di sini."

Lintang menatapnya lama.

Lalu berbisik, hampir tidak terdengar.

"Jangan pergi dulu."

Sari merasakan sesuatu di dadanya melunak.

Arman berdiri di belakang, diam.

Di luar jendela rumah sakit, sore turun pelan. Di tempat lain, Hendra mungkin sedang sibuk mempertahankan pabrik berkaratnya.

Sari tidak memikirkan itu.

Untuk saat ini, dunianya menyempit pada tangan kecil yang menggenggam ujung selimut dan mata anak yang terlalu takut untuk usianya.

"Baik," kata Sari.

"Tante tidak pergi dulu."

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!