NovelToon NovelToon
Jatuh Dalam Bara

Jatuh Dalam Bara

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melati Lestari

Sekar tidak seharusnya hidup lagi.

Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.

Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.

Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.

Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.

Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.

Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001

Lahir Kembali

Angin malam di atap gedung itu berbau hujan, karat, dan beton basah.

Sekar berdiri di tepi pagar pembatas dengan kedua tangan gemetar. Di bawah sana, lampu-lampu Jakarta tampak seperti ribuan mata yang menonton tanpa mau menolong. Suara klakson dari jalan raya terdengar jauh, pecah oleh desir angin yang makin lama makin dingin.

Di depannya, Om Budi menatapnya dengan wajah yang tidak lagi punya rasa bersalah.

"Sekar, kamu jangan keras kepala," katanya. Nada suaranya masih memakai kelembutan palsu seorang paman, tapi matanya sudah lain. "Surat itu tinggal kamu tanda tangani. Oma kamu sudah tua. Kamu pikir dia sanggup terus melawan kami?"

Tante Rina berdiri di sampingnya sambil memeluk tas branded yang dulu dibeli dari uang warisan ayah Sekar. Bibirnya mengerucut, seolah Sekar yang sedang membuat masalah.

"Anak perempuan sendirian jangan sok kuat," ucap Tante Rina. "Kami ini keluarga. Kalau harta itu jatuh ke tangan orang luar, kamu mau tanggung jawab?"

Orang luar.

Sekar hampir tertawa, tapi tenggorokannya terlalu sakit. Selama bertahun-tahun, mereka datang ke rumah Oma Lien dengan wajah manis, membawa buah, memeluknya di depan tetangga, lalu pulang dengan alasan meminjam uang. Ketika Oma menolak, mereka menyebutnya pelit. Ketika Sekar mulai memblokir akses mereka ke rekening keluarga, mereka menyebutnya anak durhaka.

Malam ini, mereka tidak lagi memakai topeng.

Sekar menggenggam ponselnya erat-erat. Layarnya retak karena terjatuh saat ia ditarik paksa keluar dari lift. Di layar itu masih ada satu panggilan tidak terjawab dari Kevin.

Kev.

Nama itu membuat dadanya tertekan begitu dalam hingga ia sulit bernapas.

Di kehidupan ini, ia bahkan belum sempat mencintainya dengan benar.

Kevin Senja Halim. Lelaki yang dulu hanya ia kenal sebagai anak berambut biru yang sering lewat di koridor sekolah dengan wajah dingin dan anting perak di telinga kiri. Lelaki yang semua orang sebut berbahaya, tidak punya masa depan, tidak pantas didekati.

Sekar juga pernah mempercayai jarak itu.

Ia pernah berjalan melewatinya tanpa berani menoleh terlalu lama. Ia pernah mendengar gosip tentang Kevin berantem di tempat biliar, lalu memilih diam seperti orang lain. Ia pernah berpikir hidup mereka tidak akan pernah bersinggungan.

Sampai semuanya terlambat.

Sampai ia tahu, setelah hidupnya mulai runtuh, bahwa Kevin diam-diam menjaga makam orang tuanya setiap tanggal kematian mereka. Sampai ia mendengar dari Bryan bahwa Kevin pernah menyimpan foto lamanya dari acara tari di televisi, foto seorang gadis kecil dengan riasan panggung dan senyum gugup.

Sampai ia tahu bahwa lelaki yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia itu, ternyata pernah mencintainya begitu lama.

"Serahkan ponselmu," kata Om Budi.

Sekar mundur setengah langkah. Punggungnya menyentuh pagar pembatas yang dingin.

"Nggak," jawabnya.

Tante Rina mendecak. "Lihat? Anak ini memang sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik."

"Aku sudah kirim semuanya ke pengacara," Sekar berbohong. Suaranya tidak setegas yang ia inginkan, tapi ia memaksa dagunya terangkat. "Bukti transfer, pesan ancaman, rekaman kalian. Kalau terjadi sesuatu padaku, semuanya akan sampai ke polisi."

Wajah Om Budi berubah.

Untuk pertama kalinya malam itu, Sekar melihat ketakutan di mata pamannya. Kecil, cepat, tapi nyata.

Namun ketakutan orang serakah tidak membuatnya mundur. Ia justru menjadi lebih nekat.

"Kamu pikir kamu bisa mengancam saya?" Om Budi melangkah maju.

Sekar menekan tombol panggilan ulang dengan ibu jari yang basah oleh keringat. Ia tidak tahu apakah Kevin akan mengangkat. Ia tidak tahu apakah sinyal di atap ini cukup kuat. Ia hanya ingin, untuk sekali saja, suaranya sampai kepadanya.

Panggilan tersambung.

"Sekar?"

Suara Kevin terdengar pecah dari speaker ponsel. Rendah, tegang, seakan ia sudah berlari.

Mata Sekar panas seketika.

"Kev," bisiknya.

Om Budi melihat layar ponsel itu. Detik berikutnya, ia menerjang.

Sekar berusaha menghindar, tetapi Tante Rina menarik rambutnya dari belakang. Rasa sakit menjalar ke kulit kepalanya. Ponsel terlepas dari tangan, terpental ke lantai beton, masih menyala.

"Sekar!" suara Kevin berteriak dari sana.

Om Budi mencengkeram lengan Sekar. "Kamu yang cari masalah sendiri."

"Lepas!" Sekar meronta. Kukunya menggores tangan Om Budi, tapi lelaki itu hanya mengumpat.

Tante Rina menutup mulutnya dari belakang. Bau parfum mahalnya menusuk hidung Sekar, manis dan membuat mual. Kaki Sekar menendang kosong. Ujung sepatunya bergesekan dengan beton basah.

Di lantai, ponselnya bergetar. Suara Kevin masih memanggil namanya. Sekar ingin menjawab, ingin mengatakan jangan datang, ingin mengatakan maaf karena terlambat tahu, maaf karena di hidup ini ia terlalu bodoh untuk melihatnya.

Namun tangan Om Budi sudah mendorong bahunya.

Dunia miring.

Langit Jakarta berputar di atas matanya. Pagar pembatas menghilang dari punggungnya. Untuk satu detik yang sangat panjang, Sekar merasa tubuhnya ringan, seperti kelopak bunga yang terlepas dari tangkai.

Lalu suara Kevin pecah di telinganya.

"SEKAR!"

Ia jatuh.

Tidak ada rasa sakit pada awalnya. Hanya angin yang menghantam wajahnya, rambut yang menampar pipi, dan cahaya-cahaya kota yang berlari naik. Sekar menatap langit hitam dengan mata terbuka. Aneh, di detik terakhir itu, yang ia ingat bukan wajah Om Budi, bukan Tante Rina, bukan rasa takut.

Yang ia ingat adalah seorang anak laki-laki berambut biru di koridor sekolah, berjalan sendirian dengan tangan di saku, seolah seluruh dunia tidak layak ia lihat.

Kev, kalau ada kehidupan lain, aku akan menoleh lebih dulu.

Benturan itu menelan segalanya.

Gelap datang seperti air laut yang menutup kepala.

Namun kematian ternyata tidak langsung sunyi.

Sekar melihat potongan-potongan kejadian seperti kaca pecah yang melayang di ruang gelap. Ia melihat hujan turun di pemakamannya. Oma Lien duduk di kursi roda, wajahnya pucat, kedua tangan menggenggam foto Sekar sampai buku jarinya memutih.

Ia melihat Kevin berdiri di belakang kerumunan dengan kemeja hitam basah. Rambutnya tidak lagi biru, sudah hitam pendek, tapi anting perak itu masih ada. Wajahnya kosong. Terlalu kosong sampai Sekar ingin mengguncangnya.

Jangan seperti itu, Kev. Aku di sini.

Tapi ia tidak punya suara.

Hari berganti. Hujan berhenti. Rumput di makamnya tumbuh lebih hijau. Kevin tetap datang.

Kadang ia datang pagi buta, membawa bunga putih yang dibungkus koran. Kadang ia datang malam, duduk di samping batu nisan tanpa payung meski hujan turun deras. Ia jarang bicara. Ia hanya membersihkan daun kering dari nama Sekar, lalu menempelkan ujung jarinya di batu dingin itu.

"Mereka belum selesai," katanya suatu malam.

Suaranya serak, seperti orang yang sudah lama tidak tidur.

Sekar berdiri di hadapannya, tak bisa disentuh, tak bisa menyentuh. Ia menjerit sampai seluruh dadanya terasa robek, tetapi Kevin tidak pernah mendengar.

Kemudian potongan lain datang.

Om Budi dibawa polisi dengan tangan diborgol. Wajahnya pucat, mulutnya terus berteriak bahwa ia difitnah. Tante Rina pingsan di depan rumah mereka saat wartawan menyorotkan kamera. Tommy menunduk di balik jaket, menghindari sorot publik.

Sekar melihat rekaman suara diputar di ruang interogasi. Melihat bukti transfer, pesan WhatsApp, dokumen palsu, semuanya tersusun rapi seperti pisau yang ditancapkan satu per satu ke kebohongan mereka.

Di ujung ruangan, Kevin berdiri diam.

Bryan ada di sampingnya, menarik lengannya. "Bro, cukup. Mereka sudah masuk. Sekar pasti nggak mau lo hancur begini."

Kevin tidak menjawab.

Matanya hanya menatap kaca ruang interogasi. Di balik kaca itu, Om Budi gemetar.

"Dia mati sendirian," kata Kevin pelan. "Gue telat."

Bryan terdiam.

Sekar ingin menangis, tapi arwah tidak punya air mata.

Tidak, Kev. Kamu tidak telat. Aku yang terlambat menemukanmu.

Potongan terakhir datang dengan warna senja.

Di atap gedung yang sama, Kevin berdiri sendirian. Angin mengangkat ujung jaket hitamnya. Anting perak di telinganya berkilat sebentar terkena cahaya matahari yang hampir tenggelam.

Di tangannya ada sebuah foto lama. Sekar mengenal foto itu. Dirinya saat kecil, mengenakan kostum tari tradisional, pipinya merah karena riasan, senyumnya kaku di depan kamera televisi.

Kevin menatap foto itu lama sekali.

"Sekar," ucapnya.

Hanya namanya. Tidak ada kalimat panjang, tidak ada tangis keras. Justru karena itu, hati Sekar seperti diremas sampai hancur.

Jangan.

Sekar berlari, atau setidaknya ia merasa berlari. Ia menerobos angin, menerobos tubuhnya sendiri yang tidak lagi memiliki bentuk. Ia mengulurkan tangan ke arah Kevin.

Kev, jangan!

Kevin menutup mata.

"Kali ini gue yang datang ke lo."

Tubuhnya bergerak melewati pagar.

Sekar menjerit tanpa suara.

Gelap kembali menelan semuanya, lebih dingin dari sebelumnya. Ia merasa dirinya jatuh lagi, tetapi kali ini tidak ke tanah. Ia jatuh ke dalam suara, ke dalam cahaya putih, ke dalam bunyi bel sekolah yang nyaring dan menusuk.

Kring!

Sekar membuka mata.

Cahaya matahari menyerbu pandangannya. Bukan langit malam. Bukan atap gedung. Bukan makam basah.

Plafon putih. Kipas angin berputar pelan. Bau kapur tulis dan lantai yang baru dipel memenuhi hidungnya. Di luar jendela, terdengar suara anak-anak berseragam tertawa, kursi digeser, sepatu berdecit di koridor.

Sekar terengah.

Tangannya mencengkeram tepi meja.

Meja?

Ia menunduk. Di bawah telapak tangannya ada buku tulis bersampul biru muda. Di sudut kanan atas, tertulis namanya dengan tinta hitam.

Sekar Ayu Raganari.

Jantungnya berhenti berdetak selama satu detik.

Lalu ia melihat seragam putih abu-abu yang ia kenakan. Rok sekolah. Lencana SMA di dada. Rambutnya masih panjang, diikat rapi dengan pita hitam. Di pergelangan tangan, tidak ada bekas infus, tidak ada luka jatuh, tidak ada dingin kematian.

Di papan tulis, Bu Wati baru saja menulis jadwal pembagian kelas awal semester.

"Sekar?"

Suara Yola terdengar dari samping. Gadis itu mencondongkan tubuh, alisnya berkerut. Wajahnya jauh lebih muda dari ingatan Sekar, pipinya masih bulat, matanya masih penuh rasa ingin tahu anak SMA.

"Lo kenapa? Pucat banget. Sakit?"

Sekar menatapnya tanpa berkedip.

Yola. Masih memakai jepit rambut kecil warna kuning. Masih hidup dalam hari-hari yang belum dihancurkan oleh apa pun.

Bibit tangis naik ke tenggorokan Sekar. Ia hampir memeluk Yola, hampir menangis di tengah kelas. Namun suara Bu Wati membuatnya tersadar.

"Anak-anak, mulai besok ada beberapa siswa pindahan kelas yang akan bergabung. Saya harap kalian bisa menjaga suasana belajar tetap kondusif. Kalian sudah kelas dua belas, bukan anak kecil lagi."

Kelas dua belas.

Sekar menatap kalender kecil yang tergantung di dinding kelas.

September.

Hari pertama semester baru.

Napasnya tercekat.

Ini bukan mimpi biasa.

Ini hari itu. Hari saat hidupnya pernah berjalan ke arah yang salah. Hari ketika ia masih belum mengenal Kevin, belum tahu tentang Om Budi, belum tahu bahwa orang yang akan paling mencintainya justru orang yang paling ia jauhi.

Sekar mencubit punggung tangannya keras-keras.

Sakit.

Rasa sakit itu begitu nyata hingga matanya langsung basah.

"Sekar, serius, lo mau ke UKS?" Yola makin panik.

Sekar menggeleng pelan. Ia menekan telapak tangan ke dada, merasakan jantungnya berdetak cepat, hidup, hangat, keras kepala.

Ia kembali.

Entah surga mengasihaninya, entah waktu runtuh, entah doa Kevin sampai ke tempat yang paling jauh. Ia tidak tahu. Ia hanya tahu satu hal.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan Om Budi menyentuh Oma Lien.

Kali ini, ia tidak akan membiarkan Tante Rina tersenyum di depan makamnya.

Dan kali ini, ia tidak akan melewati Kevin Senja Halim seolah lelaki itu hanya bayangan di koridor sekolah.

Sekar menunduk, menyembunyikan air mata yang akhirnya jatuh ke halaman buku tulisnya. Setitik, dua titik, membuat tinta namanya sedikit melebar.

Yola menyodorkan tisu dengan bingung.

"Lo habis mimpi buruk?"

Sekar menerima tisu itu. Ujung jarinya masih gemetar, tetapi bibirnya perlahan bergerak membentuk senyum kecil.

"Iya," jawabnya lirih. "Mimpi yang panjang banget."

"Tentang apa?"

Sekar menatap keluar jendela.

Di koridor, beberapa siswa laki-laki lewat sambil tertawa. Tidak ada rambut biru di antara mereka. Belum. Kevin belum muncul hari ini. Menurut ingatannya, ia baru akan masuk ke kelas sebelah besok pagi, terlambat, dengan seragam berantakan, anting perak di telinga, dan tatapan dingin yang membuat semua orang otomatis memberi jalan.

Dulu, Sekar menunduk saat ia lewat.

Besok, ia akan menatapnya.

Besok, ia akan memanggil namanya.

Besok, kehidupan kedua Sekar benar-benar dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!