NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Persiapan Perang

“Saya akan menjemput anak-anak saya.”

Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti janji kosong.

Keesokan paginya, Ardi duduk di ruang rapat Kantor Hukum Prabowo & Rekan. Di depannya bukan meja operasi, melainkan tumpukan berkas: putusan lama perceraian, salinan KTP, KK, akta kelahiran Gatra dan Sari, SIP aktif, kontrak kerja, surat pengangkatan Profesor Klinis Tamu, bukti kepemilikan Kontrak Saham 2% Pesona, dan laporan publik tentang penghargaan untuk penyelamatan Hendri.

Pak Prabowo meletakkan semuanya dalam urutan rapi.

“Dokter Ardi, hak asuh anak bukan soal siapa yang paling sakit hati,” katanya. “Di Pengadilan Agama, yang dilihat adalah kemaslahatan anak. Kita harus membuktikan bahwa bersama Anda, Gatra dan Sari lebih aman secara fisik, psikologis, ekonomi, dan lingkungan.”

Ardi mengangguk.

Hartono duduk di sampingnya, tidak banyak bicara. Kehadirannya saja sudah cukup membuat tim hukum bergerak lebih cepat.

Pengacara muda membuka layar presentasi.

“Kekuatan pihak kita: pertama, Anda sudah memiliki SIP aktif dan pekerjaan stabil sebagai dokter spesialis di RSUD Soetomo. Kedua, posisi akademik Anda di UNAIR. Ketiga, aset signifikan dari saham Pesona. Keempat, reputasi publik setelah kasus Hendri dan Lancet. Kelima, dukungan keluarga kandung, terutama Pak Suroto dan Bu Endang.”

Slide berikutnya berubah.

“Kelemahan pihak lawan: Dewi tinggal dalam lingkungan yang melibatkan Rangga Pradana, seseorang dengan catatan hukum terkait kerusuhan rumah sakit dan masa percobaan. Ada dugaan hubungan Dewi dan Rangga berlangsung tidak sehat untuk anak-anak. Ada intervensi kuat dari Ibu Sumiati. Dan dari keterangan awal, Gatra menunjukkan keinginan tinggal bersama Anda.”

Nama Gatra membuat dada Ardi menegang.

“Jangan gunakan anak-anak sebagai senjata,” kata Ardi.

Pak Prabowo menatapnya. “Justru itu alasan kita harus rapi. Kita tidak akan memaksa Gatra bicara. Tapi jika hakim bertanya, suara anak harus dihormati sesuai usianya. Kita fokus pada lingkungan, bukti, dan kesiapan Anda.”

Hartono akhirnya bicara. “Rumah?”

“Itu poin berikutnya,” jawab pengacara muda. “Dokter Ardi masih tercatat tinggal di kost. Untuk hak asuh dua anak kecil, lebih kuat jika ada tempat tinggal stabil.”

Sore itu juga, Ardi menandatangani sewa apartemen sederhana di Surabaya.

Bukan unit mewah.

Tidak ada marmer berlebihan, tidak ada kolam pribadi, tidak ada pemandangan kota yang dibuat untuk dipamerkan. Hanya dua kamar tidur, ruang tamu kecil, dapur bersih, ventilasi baik, dan akses yang cukup dekat ke sekolah, rumah sakit, serta masjid lingkungan.

Tetapi bagi Ardi, unit itu lebih besar daripada ballroom hotel mana pun.

Satu kamar untuk Gatra dan Sari.

Ia berdiri di ambang pintu kamar kosong itu lama sekali.

Di lantai masih ada debu halus. Dindingnya putih polos. Jendela menghadap jalan kecil dengan pohon mangga di ujung kompleks. Tidak ada mainan. Tidak ada kasur anak. Belum ada bau minyak telon, belum ada tawa, belum ada langkah kecil berlari.

Belum.

Malamnya, Bu Endang dan Pak Suroto datang dari Mojokerto bersama Rani. Mereka membawa kardus berisi seprai, piring plastik anak, sajadah kecil, dan dua bantal bergambar awan yang dibeli Bu Endang di pasar.

“Ibu tidak tahu Gatra suka warna apa sekarang,” kata Bu Endang sambil mengeluarkan bantal. “Dulu dia suka biru.”

“Masih,” kata Ardi.

“Kamu tahu?”

Ardi tersenyum kecil. “Dia pakai kaus biru waktu video call.”

Bu Endang berhenti sebentar, lalu mengangguk cepat agar air matanya tidak jatuh.

Pak Suroto memasang rak kecil tanpa banyak bicara. Rani mengukur sudut kamar untuk meja belajar.

“Mas, anak umur empat tahun belum perlu meja belajar serius,” kata Rani.

“Dia suka menggambar,” jawab Ardi.

Rani menoleh, ekspresinya melembut. “Kamu ingat?”

“Saya ingat semua yang sempat saya lewatkan.”

Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi sebentar.

Bu Endang lalu berdeham dan kembali sibuk menata seprai. “Jangan terlalu sedih. Nanti anak-anak pulang, kamar ini harus terasa hangat, bukan berat.”

Ardi membantu memasang kasur kecil.

Mereka menaruh dua sikat gigi anak di kamar mandi. Dua handuk kecil. Satu rak buku kosong. Di dinding, Rani menempelkan stiker alfabet. Bu Endang menaruh Al-Qur'an kecil di rak tinggi, bukan untuk memaksa, tetapi sebagai doa diam.

Ketika semua selesai, kamar itu belum sempurna.

Tetapi sudah menunggu.

Keesokan harinya, tim hukum datang untuk inspeksi dan dokumentasi. Mereka memotret kamar, dapur, ventilasi, akses lift, area bermain kecil di lantai bawah, dan jarak ke sekolah terdekat. Semua dicatat.

“Ini bukan untuk pamer,” kata Pak Prabowo. “Ini untuk menunjukkan kesiapan.”

Ardi menatap dua bantal awan di kasur anak.

“Saya mengerti.”

Di meja makan kecil, berkas berikutnya dibuka.

“Saksi karakter,” kata Pak Prabowo. “Kita tidak cukup hanya membawa slip gaji dan sertifikat saham. Pihak Dewi pasti akan menyerang masa lalu Anda. Mereka akan mengatakan mantan narapidana tidak pantas memegang dua anak kecil.”

Bu Endang yang sedang menyusun gelas berhenti bergerak.

Ardi tetap menatap berkas.

“Mereka berhak mengangkat itu,” katanya. “Saya pernah diputus bersalah.”

“Benar,” jawab Pak Prabowo. “Tapi kita akan menunjukkan apa yang terjadi setelah itu. Dokter Fajar bersedia bersaksi tentang pekerjaan Anda di UGD. Dokter Hasan tentang kompetensi dan integritas medis. Pak Haji Qosim tentang Anda menyelamatkan nyawanya. Kolonel Joni tentang kasus Hendri. Hartono Harahap tentang bantuan hukum dan karakter Anda sebagai dokter yang menolong anaknya tanpa menawar.”

Rani menatap kakaknya. “Mas, itu banyak sekali orang.”

“Karena kali ini kita tidak bisa datang hanya dengan rasa rindu,” kata Ardi.

Pak Suroto yang sejak tadi diam akhirnya meletakkan obeng di atas meja.

“Bapak juga bisa bersaksi?”

Pak Prabowo menoleh dengan hormat. “Bisa, Pak. Tapi kesaksian keluarga biasanya dinilai lebih subjektif.”

“Tidak apa-apa,” kata Pak Suroto. “Kalau hakim bertanya siapa Ardi sebelum semua ini, Bapak ingin menjawab sendiri.”

Bu Endang mengusap matanya dengan ujung jilbab. “Ibu juga. Ibu pernah takut tetangga melihat Ardi pulang. Sekarang Ibu malu karena pernah takut. Kalau perlu, Ibu bilang itu di depan hakim.”

Ardi menunduk.

Kali ini, ruang kecil itu tidak hanya berisi dokumen.

Ia berisi orang-orang yang akhirnya berdiri di belakangnya.

Malam itu, setelah semua orang pulang, ia duduk sendirian di ruang tamu. Foto Gatra dan Sari diletakkan di meja kecil. Di sampingnya ada draft gugatan hak asuh.

Nama dokumen itu sederhana:

Permohonan Hak Asuh Anak.

Tetapi beratnya mengalahkan semua kontrak saham yang pernah ia tanda tangani.

Panel biru muncul perlahan.

[Tujuan keluarga jangka panjang terdeteksi.]

[Misi tersembunyi dimulai: Rumah untuk Gatra dan Sari.]

[Tipe: emosional jangka panjang.]

[Hadiah PM: tidak tersedia.]

[Hadiah khusus akan dibuka jika stabilitas keluarga tercapai.]

Ardi membaca panel itu tanpa bergerak.

Tidak ada PM.

Tidak ada angka besar.

Namun kali ini, ia tidak merasa rugi.

Tidak semua hal yang paling berharga bisa dihitung oleh sistem.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Pak Prabowo.

Besok pagi kami ajukan permohonan ke Pengadilan Agama Surabaya. Tahap pertama: mediasi.

Ardi membalas singkat.

Siap.

Ia lalu mengambil dua sikat gigi kecil dari kamar mandi, menatapnya sebentar, dan meletakkannya kembali dengan posisi lebih rapi.

“Ayah sudah siap,” bisiknya.

Di luar jendela, Surabaya bergerak seperti biasa.

Tetapi bagi Ardi, malam itu adalah malam sebelum perang yang paling pribadi.

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!