Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Dua pengawal Rendy yang tersisa berdiri membeku, tubuh mereka gemetar hebat dan tidak berani maju selangkah pun.
Nayla perlahan membuka kedua matanya. Ia seketika terperanjat hebat melihat dua pria yang tadi menyiksanya kini terkapar di lantai.
Sementara itu, Darius masih duduk dengan tenang di kursi barnya, merapikan sedikit kerah kemeja hitamnya yang sama sekali tidak kusut.
"K-Kau..." Rendy mundur dua langkah dengan wajah yang pucat pasi bagai mayat. "B-Bangsat... berani sekali kau menyentuh orang-orangku?!"
Darius perlahan bangkit berdiri dari kursi barnya. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi menjulang memberikan bayangan intimidasi yang pekat ke arah Rendy.
"Rendy Wijaya..." panggil Darius dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk semua orang meremang. "Kau bilang satu kata darimu bisa menghancurkan hidupku?"
"J-Jangan mendekat! Kau tidak tahu siapa keluargaku! Jika ayahku tahu..."
PLAK!
Satu tamparan keras dari Darius mendarat mulus di pipi Rendy. Tamparan itu begitu bertenaga hingga membuat Rendy tersungkur ke lantai, dua giginya patah dan darah segar menyembur dari mulutnya.
"Aaagghh!" Rendy memegangi pipinya yang memar dan bengkak, menatap Darius dengan mata yang dipenuhi ketakutan.
Darius berlutut di samping Rendy, menyambar kerah baju pemuda itu, lalu mendekatkan wajahnya. Sorot matanya yang dingin menatap lurus ke dalam pupil mata Rendy yang bergetar.
"Dengar baik-baik, Anak Manja," bisik Darius datar di dekat telinga Rendy. "Malam ini aku mengampunimu. Tapi jika sekali lagi aku melihatmu menindas orang lain..."
Darius menepuk pipi Rendy yang berdarah dengan santai. "...Aku akan memastikan kau dan keluargamu akan lenyap dari muka bumi ini."
Darius melepaskan cengkeramannya, membuat kepala Rendy terkulai lemas ke lantai. Pemuda itu mengangguk-angguk panik sambil menangis ketakutan, sama sekali kehilangan keangkuhannya.
Darius lalu berdiri, mengambil tisu dari meja bar untuk mengelap tangannya, lalu melemparkannya ke atas tubuh Rendy.
Ia lalu membalikkan badan dan menatap Nayla yang masih berdiri mematung di samping Julian.
"Nona Nayla, Anda tidak apa-apa?" tanya Julian dengan sopan, mencoba memecah keheningan.
Nayla seketika tersadar dari rasa syoknya. Ia memegang dadanya yang berdebar kencang, lalu menatap Darius dengan pandangan yang penuh rasa takjub dan sedikit rasa penasaran yang mendalam.
"S-Saya tidak apa-apa... Terima kasih banyak, Tuan Mahendra... dan..." Nayla mengalihkan pandangannya pada Darius.
Wanita itu lalu membungkukkan tubuhnya dengan anggun. "Terima kasih banyak atas bantuan Anda, Tuan. Jika bukan karena Anda, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada saya malam ini."
Darius menatap Nayla sekilas. Paras wanita itu sangat cantik dengan garis wajah yang tegas dan mandiri, tipe wanita karir kelas atas.
"Sama-sama," jawab Darius dengan singkat dan datar. "Tempat ini sudah tidak menyenangkan lagi. Ayo pergi, Julian."
"Baik, Tuan," sahut Julian dengan sigap tanpa ragu.
Saat Darius dan Julian melangkah menuju pintu keluar, Nayla buru-buru menyusul dari belakang. "T-Tunggu, Tuan!"
Nayla merogoh tas tangannya dengan jemari yang masih sedikit gemetar, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berukir tinta emas.
Ia lalu melangkah mendekat dan menyerahkannya langsung kepada Darius dengan kedua tangannya.
"Nama saya Nayla Alessia, pemilik Alessia Fashion Boutique," ucap Nayla dengan tulus dan penuh hormat. "Bolehkah saya mengetahui nama anda, Tuan? Saya benar-benar ingin membalas budi Anda suatu hari nanti."
Darius menatap kartu nama di tangan Nayla. Ia kemudian mengambil kartu nama itu dengan santai, menyimpannya di dalam saku kemejanya.
"Darius," jawab Darius pendek tanpa menyebutkan nama belakangnya. "Tidak perlu dipikirkan. Aku hanya tidak suka melihat pria kasar."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Darius melanjutkan langkah kakinya melewati pintu keluar, diikuti oleh Julian.
Nayla berdiri sambil memperhatikan punggung tegap Darius yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam menuju mobil sedan Maybach hitam.
"Darius..." gumam Nayla lirih, mengulang nama itu di dalam hatinya. Senyuman tipis tanpa sadar terukir di bibirnya. "Sepertinya dia bukan pria sembarangan."
Setelah kepergian Darius dan Julian, suasana di dalam bar justru semakin sesak oleh rasa kebingungan yang membakar.
Keheningan perlahan-lahan pecah, digantikan oleh bisik-bisik riuh dari para pengunjung kelas atas dan para pebisnis yang menyaksikan seluruh kejadian itu.
"Tunggu... kalian lihat tadi?" bisik seorang pria paruh baya dengan suara bergetar. "Julian Mahendra... pemilik Mahendra Global Holdings... baru saja pada pemuda itu?"
"Aku tidak salah lihat, kan?" sahut wanita pengusaha di sebelahnya. "Seorang Julian Mahendra... bersikap seperti seorang pelayan di hadapan pemuda berkemeja hitam itu?!"
Rendy Wijaya yang masih tergeletak di lantai dengan wajah memar dan mulut berdarah, merintih kesakitan saat para pengawalnya yang babak belur berusaha membantunya berdiri.
‘Darius...? Siapa sebenarnya pemuda itu?!’ batin Rendy dengan tubuh gemetar hebat.
Bahkan ayahnya, sang pemilik Wijaya Development, selalu membungkuk hormat dan bicara dengan sangat hati-hati setiap kali berhadapan dengan Julian Mahendra.
Jika Julian saja tunduk pada pemuda bernama Darius itu, lantas setinggi apa kedudukan orang yang baru saja ditamparnya tadi?
Sementara itu, mobil Maybach hitam yang di kemudikan Julian kembali membelah jalanan Ibukota. Sambil mengemudi Julian sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, memperhatikan Darius yang duduk tenang di kursi belakang.
"Tuan," ucap Julian dengan nada penuh kehati-hatian. "Mengenai Wijaya Development... apakah Anda ingin saya menghancurkan mereka besok pagi?"
Darius yang menyandarkan kepalanya di kursi belakang menggeleng pelan. "Tidak perlu. Jangan buang-buang energimu untuk hal tak berguna."
"Baiklah, Tuan," jawab Julian dengan patuh sambil mengangguk paham.
Keheningan kembali menyelimuti mobil Maybach tersebut yang melaju tenang membelah kegelapan malam Ibukota.
Cahaya lampu-lampu jalanan Ibukota memantul berkali-kali di kaca mobil, membiaskan wajah dingin Darius yang tengah menatap lurus ke depan.
"Julian," ucap Darius pelan, memecah keheningan dengan suara yang sangat datar. "Apa kau tau siapa itu Adelina Atmadja?"
Julian sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Sebagai CEO Mahendra Global Holdings, ia tentu mengenal betul keluarga-keluarga besar di Ibukota, termasuk Keluarga Atmadja.
"Tentu saja, Tuan," jawab Julian dengan nada penuh penghormatan. "Dia adalah putri dari Argani Atmadja, direktur utama Atmadja Holdings."
Julian menjeda ucapannya sejenak, lalu mengamati ekspresi Darius yang tetap tenang tak bergeming di kursi belakang.
"Nona Adelina adalah salah satu wanita tercantik di Ibukota, Tuan," lanjut Julian dengan nada penuh penghormatan yang tegas.
Darius menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan makna. "Salah satu wanita tercantik..."
"Maaf jika saya terlalu lancang, Tuan," ujar Julian sambil memutar kemudi perlahan. "Mengapa Anda tiba-tiba bertanya tentang Nona Adelina Atmadja?"
Darius menyandarkan punggungnya lebih rileks, sambil menatap ke luar jendela mobil, melihat bayangan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi menjulang.
"Keluarga Adhitama telah mengatur pernikahan antara diriku dan Adelina Atmadja," sahut Darius dengan datar, lalu menyunggingkan senyum miring.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya