Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbuh Bersama
Maximilian menutup matanya. Sakit.
"Aku masih belum menyangka... jika putriku yang kukira sudah mati, kini kembali hidup di dalam raga wanita lain."
Hening.
Chloe akhirnya menoleh. Matanya sembab. Tapi tidak ada air mata. Air mata itu seakan sudah habis.
"Daddy..." bisiknya. "Kenapa harus tubuh Chloe? Kenapa harus tubuh anak dari wanita yang pernah meninggalkan Daddy?"
Maximilian menghela napas. Tangannya terangkat, ragu, lalu akhirnya ia mengusap rambut Chloe pelan.
"Karena semesta tahu, nak. Kalau bukan kamu... tidak ada yang bisa bertahan di tubuh ini."
Ia menatap mata Chloe. Semalam Chloe sudah menceritakan semuanya kepada ayahnya. Tentang apa yang dialami pemilik asli tubuh barunya ini.
Tentang Chloe Weiss yang dikurung di rumah sakit jiwa oleh ayah dan ibu tirinya.
Tentang siksaan. Tentang suntikan gila. Tentang rasa lapar.
Hingga akhirnya jiwa Chloe yang asli menyerah. Dan ia menyerahkan raganya kepada seseorang... Queen Daisy yang sangat menginginkan kehidupan kedua.
Maximilian mengepalkan rahangnya. "Lalu apa rencanamu setelah ini, nak?" tanyanya. Suaranya rendah namun berbahaya.
Chloe menatap ke arah jendela. "Rencanaku?" bisiknya.
Ia menarik selimut, menutupi kakinya yang diperban. Luka goresan kaca semalam itu masih terasa sakit.
"Rencanaku hanya dua, Daddy," suaranya pelan tapi tegas.
"Rencana pertama, aku ingin membalaskan dendam kematian Ibu. Dendam pemilik tubuh ini. Aku ingin merenggut semua harta kekayaan Ibu yang selama ini dinikmati oleh orang-orang serakah itu." Ia mengepalkan tangannya.
Maximilian tersenyum tipis. "Apa seluruh harta yang dimiliki Daddy belum cukup untukmu, nak?" tanya pria paruh baya itu sambil menaikkan sebelah alisnya.
Chloe menatap ayahnya. "Semuanya sudah lebih dari cukup, Daddy. Harta Daddy, nama Daddy... semua itu akan menjadi milikku. Karena hanya aku satu-satunya anak Daddy."
Maximilian tertawa pelan. "Bahkan nyawa Daddy pun untukmu, nak."
Chloe membalasnya dengan senyum tipis. Lalu ia kembali menarik napas. Matanya menatap lurus ke mata Maximilian.
"Tapi harta yang aku maksud... itu bukan punya Daddy. Tapi itu warisan dari Ibu. Dari Irina Weiss."
DUG
Nama itu membuat rahang Maximilian mengeras.
Chloe melanjutkan. Suaranya dingin. "Selama lima tahun ini, Serena dan Alexander menikmati semuanya. Mansion di Geneva. Saham perusahaan Weiss Group. Beserta dengan cabang-cabangnya."
Ia tertawa pahit. "Mereka mengira dengan membawa Chloe ke rumah sakit jiwa, tidak akan ada yang menuntut. Tapi mereka salah, Daddy. Aku akan datang dan merenggut semuanya. Membuat Serena, Alexander, dan kedua anaknya menyesal hidup di dunia ini. Aku punya utang nyawa, Daddy. Dan aku akan membayarnya dengan nyawa."
Maximilian bersedekap. "Dan rencana kedua?"
Chloe kembali menoleh ke jendela. "Rencana kedua..." bisiknya. "Aku ingin Kalajengking Merah musnah. Sampai ke akar-akarnya."
Ia mengepalkan tangannya dengan kuat. "Mereka yang sudah membunuhku dengan cara yang tragis. Darah dibalas dengan darah. Nyawa dibalas dengan nyawa."
Maximilian terdiam lama. Lalu ia berdiri. Berjalan ke arah jendela, menatap ke luar. Taman belakang mansion besarnya itu terlihat sangat indah, dengan berbagai macam bunga cantik yang bermekaran.
"Itu sangat berbahaya, nak," katanya pelan. "Kamu tahu itu."
"Aku tahu," Chloe mengangguk. "Makanya aku tidak minta Daddy ikut."
Ia tersenyum tipis. "Aku cuma minta satu hal."
"Apa?"
"Jangan halangi aku, Daddy. Kalau aku jatuh... biarkan aku jatuh. Tapi kalau aku bisa berdiri lagi... tolong tepuk tangan untukku."
Maximilian memejamkan mata, lalu mengangguk berat. "Baik." Suaranya serak. Ia melangkah ke arah putrinya, duduk di tepi ranjang, meraih tangan kurus Chloe dan menggenggamnya dengan lembut.
"Tapi ingat, kamu tidak pernah sendirian. Ada Daddy. Ada Elsa. Dan juga ada anggota Klan Black Kobra yang selalu setia."
Chloe tersenyum. Kali ini tulus. "Terima kasih, Daddy."
"Iya, sayang... Apapun itu, asalkan kau bahagia. Tapi jangan pernah meninggalkan Daddy untuk kedua kalinya," ucap Maximilian.
Mata Chloe berkaca-kaca. "Kali ini aku berjanji. Aku tidak akan meninggalkan Daddy lagi."
Tok.... Tok....
Pintu diketuk.
"Tetua, Nyonya... apa saya boleh masuk?" suara Elsa dari luar.
Ayah dan anak itu langsung mengusap air mata di sudut mata mereka.
"Elsa sudah datang. Daddy pergi dulu. Sebentar lagi ada meeting penting... Ingat, jangan terlalu banyak bergerak. Tubuh barumu itu masih sangat lemah," ucap Maximilian kepada putrinya sambil beranjak berdiri.
Chloe hanya mengangguk. Lalu Maximilian keluar dari kamar putrinya.
KLIK
Pintu terbuka.
Elsa masuk. Wajahnya tegas seperti biasa, tapi matanya lembut saat melihat Chloe.
Di tangannya ada nampan berisi teh jahe hangat dan perban baru.
"Nyonya," sapa Elsa pelan. "Aku membawakan teh jahe hangat untuk Nyonya. Diminum ya, supaya tubuh Nyonya yang baru ini bisa kuat seperti tubuh sebelumnya."
Chloe menatap Elsa. "Kau mengejekku?"
"Eeh, tidak, Nyonya..." Elsa buru-buru meletakkan nampan di atas nakas. Panik. "Saya serius! Teh jahe ini resep dari nenekku. Paling manjur buat nguatin badan!"
Chloe mendengus. "Lalu kalau bukan mengejek, itu apa namanya, huh..."
"Hehe... Lupakan, Nyonya," Elsa menggaruk kepalanya. Canggung.
Ia duduk di sisi ranjang. Mengambil cangkir teh dan meniupnya pelan. Lalu menyodorkannya ke Chloe.
"Nih, minum selagi hangat," suaranya berubah lembut.
Chloe menerima cangkir itu. Hangat.
"Elsa..."
"Ya?"
"Terima kasih ya," Chloe menunduk. "Karena dari dulu sampai sekarang, kamu selalu setia kepadaku."
Elsa langsung salah tingkah. "Ah... apaan sih, Nyonya. Lebay."
Tapi pipinya merah. Ia berdehem. "Tugas saya memang menjaga Nyonya. Walaupun saya pernah gagal dengan tanggung jawab dan sumpahku itu," ucap Elsa menunduk sedih.
Chloe tersenyum tipis. "Kau tidak gagal. Akulah yang ceroboh... Sekarang jangan panggil aku Nyonya. Aku tidak suka panggilan itu."
Elsa mengangkat kepala. Kaget. "Lalu... harus panggil apa?"
Chloe menyeruput teh jahe. Hangatnya turun ke dada. "Panggil aku Chloe. Atau... Daisy. Terserah. Tapi jangan Nyonya."
Ia menatap Elsa. "Kita sudah seperti saudara, El. Kita tumbuh bersama, latihan bersama, sekolah bersama, menjalankan misi bersama."
Elsa langsung diam. Matanya berkaca-kaca. "Tumbuh bersama..." bisiknya. "Dari kau masih cupu. Jatuh dari tembok latihan... terus nangis manggil aku."
Chloe tertawa kecil. "Terus kau yang gendong aku ke ruang medis. Sambil ngomel, dasar Nyonya manja."
"Karena emang manja!" Elsa ikut tertawa. Tapi suaranya bergetar. "Tapi hebat. Kau tumbuh jadi wanita terkuat yang pernah aku kenal."
Ia mengusap pipinya kasar. Menghapus air mata. "Baiklah. Kalau Nyonya... eh Chloe tidak mau dipanggil Nyonya, ya sudah. Mulai sekarang aku panggil Kak Chloe, gimana?"
"Hmm... terserah kau." Chloe menyeruput tehnya lagi. "Oh ya, apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta semalam?"
Dengan cepat Elsa mengangguk. "Baru saja aku mendapatkan laporan dari mata-mata yang semalam aku kirim ke Geneva untuk memantau mansion keluarga Weiss. Dia bilang, dua hari lagi Vivian Weiss, putri Serena dan Alexander, akan menikah."
DUG
Tangan Chloe yang memegang cangkir berhenti di udara.
"Menikah?" Suara Chloe pelan. Tapi sedingin es. "Dengan siapa?"
"Dengan salah satu konglomerat di kota Geneva. Namanya belum diketahui, Kak... Sepertinya keluarga itu cukup berpengaruh," jawab Elsa.
Chloe meletakkan cangkir pelan. KLET. Suara keramik mengenai nakas itu membuat Elsa merinding.
Chloe tertawa. Pelan. Tanpa senyum. "Dua hari... mereka memberiku waktu dua hari."
Elsa mengerutkan dahi. "Maksud Kak Chloe?"
Chloe berdiri. Berjalan tertatih ke jendela. Kakinya masih sakit, tapi ia abaikan. "Mereka buru-buru, El. Pernikahan dikebut. Undangan disebar mendadak. Itu bukan pesta. Itu tameng."
Ia menatap keluar. Taman belakang mansion yang indah. "Serena dan Alexander takut aku muncul dan menuntut warisan Ibu. Jadi mereka menikahkan Vivian dengan keluarga konglomerat. Supaya harta keluarga Weiss aman. Biar kalau aku nuntut... ada yang membantunya dan tidak ada lagi yang bisa aku ambil."
Hening.
Elsa mengepalkan tangan. "Kurang ajar. Licik banget."
Chloe berbalik. Matanya tajam. Tidak ada rapuh. Tidak ada air mata.
"Bagus."
"Bagus?" Elsa kaget.
"Iya, bagus." Chloe tersenyum. Senyum Daisy yang dulu membuat musuh gemetar. "Jika mereka ingin bermain cepat... kita akan bermain lebih awal."
Ia berjalan ke lemari. Membuka pintu. Di dalamnya ada gaun-gaun hitam. Elegan tapi berbahaya.
"Elsa?"
"Ya, Kak?"
"Siapkan aku gaun pengantin yang sama persis seperti milik Vivian..."
Chloe menoleh. "Besok malam kita akan ke Geneva."
---
Jangan lupa dukungannya ya guys 🙏 🙏 😊 🥰.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,