Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Jalan Berbeda
Dentang lonceng perlahan menghilang.
Ribuan peserta kembali berkumpul di alun-alun utama Sekte Awan Langit.
Suasana yang sebelumnya ramai kembali berubah hening.
Xu Canghai berdiri di atas panggung batu sambil menyapu seluruh peserta dengan tatapan tenang.
Setelah memastikan semua telah kembali ke tempat masing-masing, ia mulai berbicara.
"Tahap pertama telah selesai. Kalian telah memperlihatkan bakat yang kalian miliki. Namun menjadi kultivator tidak hanya bergantung pada bakat."
Tangannya perlahan terangkat.
Di belakang panggung, puluhan murid sekte membawa beberapa peti kayu besar.
Mereka meletakkannya berjajar di tengah lapangan.
Para peserta mulai saling berpandangan.
Tidak sedikit yang menunjukkan rasa penasaran.
Xu Canghai melanjutkan,
"Di dunia kultivasi, seseorang akan menghadapi pilihan setiap hari. Ada pilihan yang benar. Ada pula pilihan yang tampak benar, tetapi justru membawa kematian."
Ia berhenti sejenak.
Tatapannya berubah lebih tajam.
"Karena itu, ujian kedua bukan menguji seberapa kuat kalian bertarung."
"Ujian ini akan menguji cara kalian berpikir."
Begitu kalimat itu diucapkan, bisikan langsung terdengar dari berbagai arah.
"Ujian berpikir?"
"Apa maksudnya?"
"Apakah kita harus menjawab pertanyaan?"
Xu Canghai mengangkat tangan.
Keributan kembali mereda.
"Sebentar lagi kalian akan mengetahui jawabannya."
Seorang murid sekte membuka peti kayu pertama.
Di dalamnya terdapat ratusan keping giok kecil.
Setiap keping memiliki nomor yang berbeda.
Xu Canghai berkata,
"Setiap peserta akan mengambil satu keping giok secara acak."
"Nomor yang sama akan membentuk satu kelompok."
"Setiap kelompok terdiri dari lima orang."
Mendengar kata kelompok, beberapa peserta langsung menghela napas lega.
Namun tidak sedikit pula yang mulai cemas.
Mereka tidak tahu akan mendapat rekan seperti apa.
Sementara itu...
Bai Hu justru mengangkat tangan.
Xu Canghai menoleh.
"Ada pertanyaan?"
Bai Hu membungkukkan badan dengan sopan.
"Tetua, apakah anggota kelompok dipilih secara acak?"
"Benar."
"Kalau begitu, berarti murid bisa saja mendapat rekan yang lebih kuat atau lebih lemah?"
Xu Canghai mengangguk.
"Itulah maksudnya."
Bai Hu kembali bertanya,
"Kalau ada anggota kelompok yang hanya mau mengandalkan orang lain, apakah seluruh kelompok akan ikut gagal?"
Beberapa peserta langsung menoleh.
Mereka baru menyadari pertanyaan itu memang penting.
Xu Canghai tersenyum tipis.
"Menurutmu bagaimana?"
Bai Hu berpikir beberapa saat sebelum menjawab.
"Kalau murid menjadi tetua sekte, murid akan tetap menghukum seluruh kelompok."
Xu Canghai mengangkat alis.
"Mengapa?"
Bai Hu menjawab dengan tenang.
"Karena membiarkan orang yang malas tetap berada di dalam kelompok juga merupakan kesalahan. Seorang kultivator harus mampu memilih rekan yang tepat, membimbing rekannya, atau mengambil keputusan ketika seseorang justru menjadi beban."
Begitu Bai Hu selesai berbicara...
Beberapa tetua langsung saling berpandangan.
Xu Canghai tersenyum lebih lebar.
"Jawabanmu menarik."
Ia tidak mengatakan benar ataupun salah.
Namun di dalam hatinya, ia kembali memberi nilai lebih kepada Bai Hu.
Anak itu tidak hanya berpikir tentang dirinya sendiri.
Ia juga memikirkan konsekuensi dari setiap keputusan.
Tie Niu menyenggol pelan lengan Bai Hu.
Dengan suara pelan ia berbisik,
"Kau benar-benar tidak bisa diam, ya?"
Bai Hu tertawa kecil.
"Aku hanya penasaran."
Tie Niu menggeleng.
"Kalau orang lain bertanya supaya mendapat keuntungan, kau bertanya supaya memahami aturan."
Bai Hu mengangkat bahu.
"Kalau sudah memahami aturan, peluang melakukan kesalahan juga lebih kecil."
Tie Niu tidak membantah.
Justru karena sifat seperti itulah Bai Hu selalu belajar lebih cepat dibanding anak-anak seusianya.
Satu per satu peserta mulai maju mengambil keping giok.
Suasana kembali dipenuhi rasa penasaran.
Tidak ada seorang pun yang tahu...
Dengan siapa mereka akan bekerja sama.
Bai Hu juga melangkah menuju peti kayu.
Ia memasukkan tangannya perlahan.
Mengaduk puluhan keping giok di dalamnya.
Kemudian mengambil satu secara acak.
Ketika ia membuka telapak tangannya...
Terlihat sebuah angka terukir jelas di atas keping giok itu.
Nomor Tiga Belas.
Di kejauhan...
Empat peserta lain secara bersamaan juga menatap keping giok yang memiliki angka yang sama.
Tanpa mereka sadari...
Mereka berlima akan menjadi rekan dalam ujian yang akan menentukan nasib mereka di Sekte Awan Langit.
Bai Hu membalik keping giok di tangannya beberapa kali.
Di permukaannya hanya terukir satu angka.
Tiga Belas.
Ia mengusap dagunya sambil bergumam pelan.
"Semoga bukan angka sial."
Tie Niu yang berdiri tidak jauh darinya kebetulan mendengar gumaman itu.
Ia berjalan menghampiri sambil memperlihatkan keping giok miliknya.
"Nomorku dua puluh satu. Sepertinya kita tidak satu kelompok."
Bai Hu tersenyum tipis.
Meskipun sedikit kecewa, ia tetap menganggukkan kepala.
"Tidak apa-apa. Justru ini lebih menarik. Kita jadi bisa melihat siapa yang lebih cepat menyelesaikan ujian."
Tie Niu tertawa kecil.
"Kalau begitu jangan kalah. Aku tidak ingin mendengar kau pulang dan gagal karena terlalu sibuk mencari makanan."
Bai Hu mendengus.
"Aku memang suka makan, tapi bukan berarti aku bodoh."
"Siapa yang bilang kau bodoh?"
Tie Niu menyeringai lebar.
"Aku hanya bilang kau terlalu mudah tergoda aroma daging panggang."
Bai Hu hendak membalas.
Namun suara Xu Canghai kembali menggema memenuhi lapangan.
"Peserta dengan nomor yang sama segera berkumpul. Kalian memiliki waktu satu batang dupa untuk saling mengenal. Setelah itu, ujian tahap kedua akan dimulai."
Seluruh lapangan langsung dipenuhi kesibukan.
Ratusan peserta mulai mencari anggota kelompok masing-masing.
Ada yang melambaikan tangan.
Ada yang memanggil nomor kelompok mereka.
Suasana yang semula tenang berubah riuh.
Bai Hu mengangkat keping gioknya.
"Kelompok tiga belas!"
Tidak lama kemudian...
Seorang pemuda bertubuh tegap berjalan mendekat.
Usianya sekitar lima belas tahun.
Kulitnya sedikit gelap karena sering berlatih di bawah matahari.
Di punggungnya tergantung sebilah golok besar.
Ia berhenti di depan Bai Hu lalu mengepalkan tangan memberi salam.
"Aku Han Lei. Nomorku juga tiga belas."
Bai Hu membalas hormat.
"Feng Bai Hu."
Han Lei memperhatikan tubuh Bai Hu sekilas.
Namun berbeda dengan peserta lain.
Ia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi meremehkan.
Justru ia berkata sambil tersenyum ramah,
"Sepertinya kita akan menjadi rekan. Semoga kerja sama kita berjalan lancar."
Bai Hu mengangguk.
"Aku juga berharap begitu."
Tidak lama kemudian...
Seorang gadis berpakaian hijau muda datang menghampiri.
Rambutnya diikat sederhana.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang tipis.
Tatapannya tenang.
Ia memberi salam singkat.
"Namaku Luo Xin."
Han Lei membalas lebih dahulu.
"Senang bertemu denganmu."
Luo Xin hanya menganggukkan kepala.
Terlihat jelas bahwa ia bukan orang yang banyak bicara.
Beberapa saat kemudian...
Seorang anak laki-laki bertubuh kurus berlari kecil sambil terengah-engah.
"Apa... kelompok tiga belas... di sini?"
Ia mengangkat keping giok di tangannya.
Nomornya sama.
Bai Hu melambaikan tangan.
"Di sini."
Anak itu mengembuskan napas lega.
"Syukurlah. Kukira aku akan terlambat."
Han Lei tertawa pelan.
"Namamu?"
Anak itu tersenyum malu.
"Aku Sun Qiao."
Dari cara bicaranya saja sudah terlihat bahwa ia sedikit gugup.
Kini tinggal satu orang lagi.
Mereka berempat menunggu beberapa saat.
Namun peserta terakhir belum juga muncul.
Han Lei mulai mengernyit.
"Jangan-jangan dia salah melihat nomor."
Belum sempat kalimatnya selesai...
Terdengar suara langkah tergesa-gesa.
Seorang pemuda berpakaian mewah datang sambil mendengus kesal.
Di pinggangnya tergantung pedang berhias batu giok.
Begitu melihat Bai Hu, wajahnya langsung berubah.
"Kau?"
Bai Hu mengenali wajah itu.
Dialah peserta yang sebelumnya mengejek tubuhnya saat ujian akar spiritual.
Bai Hu tersenyum kecil.
"Ternyata kita satu kelompok."
Pemuda itu mendecakkan lidah.
"Sial."
Han Lei langsung mengerutkan kening.
"Apa kalian saling mengenal?"
Pemuda itu menjawab lebih dulu.
**"Tidak ,Tapi aku tidak menyangka harus satu kelompok dengan anak yang hanya mengandalkan bakat."**
Suasana di antara mereka langsung berubah canggung.
Sun Qiao menundukkan kepala.
Luo Xin tetap diam.
Sementara Bai Hu memandang pemuda itu tanpa menunjukkan kemarahan.
Ia justru bertanya dengan tenang,
"Kalau menurutmu aku hanya mengandalkan bakat, apakah kau mengenalku dengan sangat baik. Padahal kita baru bertemu pagi ini. Bukankah itu kesimpulan yang terlalu cepat?"
Pemuda itu mendengus.
"Semua orang memujimu hanya karena kau memiliki Akar Spiritual Surgawi."
Bai Hu mengangguk pelan.
"Memang benar aku memiliki akar spiritual itu. Tetapi apakah kau pernah melihatku berlatih?"
Pemuda itu terdiam.
"Apakah kau pernah melihatku belajar alkimia? Pernah melihatku membaca kitab sampai larut malam? Atau pernah melihatku berlatih pedang?"
Bai Hu menggelengkan kepalanya sendiri sebelum melanjutkan.
"Tidak pernah, bukan? Kalau begitu, jangan menilai seseorang hanya dari apa yang kau lihat."
Nada suaranya tetap tenang.
ketenangan itu membuat pemuda tersebut tidak mampu membalas.
Han Lei yang sejak tadi memperhatikan akhirnya membuka suara.
Ia melangkah ke tengah mereka.
Tatapannya bergantian mengarah kepada Bai Hu dan pemuda berpakaian mewah itu.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi di antara kalian sebelumnya. Yang aku tahu, mulai sekarang kita berada dalam kelompok yang sama. Kalau sejak awal kita sudah saling bermusuhan, kita tidak perlu menunggu ujian dimulai untuk gagal."
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dengan suara tegas.
"Namaku Han Lei. Aku tidak ingin membawa kelompok ini menuju kekalahan hanya karena kesombongan salah satu anggotanya. Jadi mulai sekarang, tinggalkan urusan pribadi sampai ujian selesai."
Suasana kembali hening.
Bai Hu tersenyum tipis.
Ia menganggukkan kepala lebih dahulu.
"Aku setuju."
Semua mata kemudian beralih kepada pemuda berpakaian mewah itu.
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya ia mengembuskan napas panjang.
"...Namaku Zhao Mingze."
Meskipun nada suaranya masih terdengar dingin...
Setidaknya ia tidak lagi menunjukkan permusuhan secara terang-terangan.
Di atas panggung, Xu Canghai memperhatikan seluruh kejadian itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
"Menarik... ujian bahkan belum dimulai, tetapi kelompok tiga belas sudah menghadapi ujian pertama mereka."
Xu Canghai melangkah ke depan panggung batu.
Tatapannya menyapu seluruh kelompok yang kini telah terbentuk.
Ia dapat melihat berbagai macam ekspresi.
Ada kelompok yang langsung tertawa dan saling memperkenalkan diri.
Ada yang sudah mulai menyusun strategi.
Namun tidak sedikit pula yang saling menatap dengan penuh kewaspadaan.
Xu Canghai mengangguk pelan.
Inilah yang memang ingin ia lihat.
Kemampuan bekerja sama tidak pernah lahir ketika semua orang merasa nyaman.
Sering kali...
Justru muncul ketika seseorang dipaksa menerima orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
Ia mengangkat tangan.
Suasana kembali hening.
"Aku yakin sebagian dari kalian merasa senang dengan anggota kelompok yang didapat. Sebagian lagi mungkin merasa kecewa. Bahkan mungkin ada yang berpikir bahwa kelompoknya tidak akan mampu bersaing."
Tatapannya perlahan menjadi lebih tajam.
"Kalau memang begitu, berarti tujuan ujian ini sudah tercapai setengahnya."
Para peserta saling berpandangan.
Mereka tidak memahami maksud perkataan itu.
Xu Canghai melanjutkan.
"Di dunia kultivasi, tidak ada yang dapat memilih dengan siapa kalian akan bertarung atau bekerja sama. Ketika sekte mengirim kalian menjalankan misi, apakah kalian bisa meminta mengganti rekan hanya karena tidak menyukainya?"
Tidak ada yang menjawab.
"Tidak bisa."
Suara Xu Canghai bergema di seluruh alun-alun.
"Kalian mungkin berasal dari keluarga besar, keluarga kecil, bahkan ada yang datang seorang diri. Tetapi begitu menjadi murid sekte, semua perbedaan itu tidak lagi penting. Yang penting adalah apakah kalian mampu saling mempercayai ketika nyawa dipertaruhkan."
Ucapan itu membuat suasana menjadi jauh lebih serius.
Bahkan Zhao Mingze yang sejak tadi masih memasang wajah dingin perlahan menundukkan kepalanya.
Di sisi lain...
Han Lei memandang keempat rekannya satu per satu.
Kemudian ia berkata dengan suara tenang.
"Aku tidak tahu seperti apa ujian yang akan kita hadapi. Tetapi aku tidak ingin kita gagal karena sibuk saling mencurigai. Kalau ada sesuatu yang tidak kalian sukai, katakan sekarang. Lebih baik kita menyelesaikannya sebelum ujian dimulai."
Sun Qiao tampak gugup.
Ia mengangkat tangan perlahan.
"Aku... aku tidak pandai bertarung."
Semua orang menoleh kepadanya.
Anak itu langsung menundukkan kepala.
"Ayahku seorang tabib desa. Sejak kecil aku lebih banyak belajar mengenali tanaman obat daripada menggunakan senjata. Aku hanya bisa menggunakan belati untuk melindungi diri."
Ia menggenggam pakaiannya erat.
Wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya diri.
"Kalau karena aku kelompok ini gagal... aku minta maaf."
Belum sempat yang lain berbicara...
Bai Hu melangkah mendekat.
Ia berjongkok agar sejajar dengan Sun Qiao.
Lalu tersenyum.
"Kenapa kau meminta maaf bukankah ujian belum dimulai?"
Sun Qiao menatapnya bingung.
Bai Hu melanjutkan.
"Kalau kau pandai mengenali tanaman obat, berarti kau memiliki pengetahuan yang tidak dimiliki kami. Di dunia kultivasi, orang yang bisa menyelamatkan nyawa ,sering kali lebih berharga daripada orang yang pandai mengayunkan pedang."
Sun Qiao terdiam.
Matanya perlahan membesar.
Ia tidak pernah memandang kemampuannya dari sudut itu.
Han Lei ikut mengangguk.
"Aku setuju. Tidak semua orang harus menjadi petarung. Yang penting adalah kita tahu apa yang menjadi kelebihan masing-masing."
Mendengar dukungan itu, wajah Sun Qiao yang semula tegang akhirnya sedikit mengendur.
"Terima kasih..."
Luo Xin yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
Ia memandang Han Lei dengan tenang.
"Kalau begitu, aku juga akan jujur."
Semua menoleh kepadanya.
"Aku berlatih pedang sejak usia lima tahun. Aku cukup percaya diri dalam pertarungan satu lawan satu. Tetapi aku tidak pernah memimpin orang lain."
Han Lei tersenyum.
"Tidak masalah. Tidak semua orang harus menjadi pemimpin."
Kemudian ia menoleh kepada Bai Hu.
"Bagaimana denganmu?"
Bai Hu berpikir sejenak.
Ia mengusap dagunya sebelum menjawab.
"Aku bisa membuat pil sederhana. Aku juga cukup mengenal tanaman spiritual. Soal bertarung..."
Ia tersenyum kecil.
"...aku masih harus belajar banyak."
Han Lei menganggukkan kepala.
Jawaban itu terdengar sangat jujur.
Tidak ada sedikit pun usaha untuk membanggakan diri.
Padahal semua orang baru saja mengetahui bahwa Bai Hu memiliki Akar Spiritual Surgawi.
Kini tinggal Zhao Mingze.
Semua mata tertuju kepadanya.
Pemuda itu terdiam cukup lama.
Tatapannya sesekali mengarah kepada Bai Hu.
Kemudian ia mengembuskan napas pelan.
Nada suaranya tidak lagi setajam sebelumnya.
"Aku memang tidak menyukai sikapmu yang terlalu santai."
Bai Hu hanya tersenyum.
Zhao Mingze melanjutkan.
"Tetapi Han Lei benar. Kalau kita terus bertengkar, yang diuntungkan adalah kelompok lain."
Ia menatap Bai Hu secara langsung.
"Aku minta maaf atas ucapanku tadi."
Sunyi sejenak menyelimuti kelompok itu.
Bai Hu tidak langsung menjawab.
Ia justru melangkah maju dan mengulurkan tangannya.
Dengan senyum yang sama seperti biasanya ia berkata,
"Kalau begitu, mulai sekarang kita lupakan saja. Lagi pula, kita belum saling mengenal. Akan lebih baik kalau kita saling menilai setelah benar-benar bekerja sama."
Zhao Mingze memandang tangan yang terulur itu.
Beberapa detik kemudian...
Ia menggenggamnya.
"Baik."
Han Lei tertawa puas.
"Nah, begini lebih baik."
Tie Niu yang melihat kejadian itu dari kelompoknya sendiri tanpa sadar tersenyum.
"Dasar Bai Hu... bahkan orang yang mengejeknya pun akhirnya berdamai."
Pada saat itu...
Xu Canghai mengangkat tangan kanannya.
Seluruh alun-alun kembali hening.
Di belakang panggung, beberapa murid sekte mendorong sebuah gerbang batu besar hingga terbuka perlahan.
Di balik gerbang itu...
Terlihat sebuah hutan yang sangat luas.
Pepohonan menjulang tinggi.
Kabut tipis menyelimuti bagian dalamnya.
Dari kejauhan terdengar suara burung dan auman binatang buas.
Xu Canghai memandang seluruh peserta dengan wajah serius.
"Ujian tahap kedua tidak akan dilakukan di lapangan ini."
Ia menunjuk ke arah hutan di belakang gerbang.
"Mulai saat ini, setiap kelompok akan memasuki Hutan Kabut Hijau."
Begitu nama itu disebut...
Beberapa peserta langsung berubah pucat.
Jelas mereka pernah mendengar nama tempat tersebut.
Xu Canghai melanjutkan dengan suara tenang.
"Jangan khawatir. Binatang iblis berbahaya telah dibersihkan dari wilayah luar. Namun..."
Tatapannya menjadi tajam.
"...bukan berarti hutan itu aman."
Kelompok Bai Hu saling berpandangan.
Mereka tahu ujian yang sesungguhnya.. baru akan dimulai di hutan itu..
Bersambung
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut