Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Sebulan kemudian.
Putusan perceraian antara Evan Cristian dan Carolin Baskara akhirnya resmi berkekuatan hukum tetap. Hari itu, Evan keluar dari pengadilan dengan perasaan lega. Tak ada lagi ikatan yang menghubungkannya dengan Carolin. Baginya, semua rintangan telah berakhir. Kini hanya ada satu tujuan yang ingin segera ia wujudkan, menikahi Laras.
Sore harinya, Evan pulang lebih awal.
Di tangannya terdapat sebuah map tebal berisi beberapa dokumen penting.
"Laras."
Wanita yang sedang menggendong Aurora itu segera menoleh.
"Iya, Tuan."
"Duduklah. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Laras menurut. Meski wajahnya tetap tenang, jantungnya berdegup semakin cepat. Entah mengapa, firasatnya mengatakan pembicaraan ini akan menentukan langkah berikutnya.
Evan membuka map tersebut.
"Aku sudah mengurus semuanya."
Laras menatap beberapa lembar dokumen yang disodorkan kepadanya. Matanya langsung membesar.
"Ini ... surat pengalihan hak kepemilikan rumah."
Evan tersenyum. "Mulai hari ini rumah ini menjadi milikmu."
Laras terdiam, rumah itu. Rumah yang dahulu merupakan milik Amelia. Rumah yang dirampas Evan melalui tipu daya. Kini justru dikembalikan kepadanya, meski dengan nama Laras.
Evan sama sekali tidak menyadari bahwa ia sedang mengembalikan rumah itu kepada pemilik aslinya.
"Terima kasih, Tuan." Ucap Laras pelan.
"Tidak perlu berterima kasih. Ada satu lagi."
Evan kembali mengeluarkan dokumen lain.
"Kamu baca yang ini."
Laras membuka halaman pertama. Wajahnya langsung menegang.
Di sana tertulis rancangan dokumen pengangkatan orang tua bagi Aurora yang akan diproses setelah pernikahan mereka.
"Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara. Begitu kita menikah, proses administrasinya akan segera diajukan. Nanti secara hukum kita akan menjadi orang tua sah Aurora."
Laras menggenggam dokumen itu erat. Artinya, satu-satunya syarat agar semua itu terjadi adalah dirinya harus menikah dengan Evan.
Evan menatapnya penuh harap.
"Aku ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Aurora. Kamu bersedia, kan?"
Laras memaksakan sebuah senyum.
"Saya ... Saya akan memikirkan semuanya baik-baik, Tuan."
Evan mengangguk puas.
"Aku akan menunggu jawabanmu."
Setelah mengatakan itu, Evan meninggalkan ruang tamu. Begitu langkah pria itu menghilang, senyum Laras perlahan lenyap. Ia menatap dokumen-dokumen di pangkuannya dengan tatapan kosong.
"Menikah lagi denganmu ... itu tidak akan pernah terjadi." Gumamnya lirih.
Namun, beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat tipis. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Elang. Keluarga Baskara telah resmi menyiapkan gugatan pidana terhadap Evan.
Kasus penggelapan aset perusahaan Hartono sedang dipersiapkan. Bukti demi bukti mulai dikumpulkan. Laras mengusap kepala Aurora yang tertidur di pelukannya.
"Sedikit lagi..." Bisiknya. "Kalau Evan benar-benar dipenjara ... Aku tidak perlu menikah dengannya. Aku akan tetap berada di sisi Aurora."
Dengan identitas Laras yang bersih dan tidak memiliki catatan kriminal, peluangnya untuk tetap merawat Aurora akan jauh lebih besar. Sedangkan, di sisi lain Carolin juga tidak akan bisa lepas begitu saja.
Jika penyelidikan mengenai Amelia dibuka kembali, semua kebohongan tentang pernikahan palsu, pengambilalihan perusahaan, hingga praktik ibu pengganti akan ikut terungkap. Dan Carolin, yang selama ini menikmati semua hasil kejahatan itu, berisiko ikut terseret ke dalam proses hukum.
Laras memeluk Aurora lebih erat. Tatapannya penuh kasih sayang.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang. Ibu akan membawa pulang semua yang menjadi hak kita."
Di balik ketenangan wajahnya, Laras tahu, badai besar sudah semakin dekat. Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang akan mampu menghentikan runtuhnya dunia yang selama ini dibangun Evan dan Carolin di atas kebohongan.
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,