NovelToon NovelToon
KAISAR 100.000 DUNIA

KAISAR 100.000 DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tawaki

Kaisar Tertinggi sang Kaisar Xuan Wu penguasa 100.000 Dunia. Perang Terakhir itu menyebabkan Jiwa nya bereinkarnasi ke tubuh lemah seorang pemuda berna Lin Fan. Lin Fan pemuda dari keluarga Lin cabang. hidup keseharian nya selalu mendapat penyiksaan dari sepupu nya Lin Hao. Lin Fan dulu sudah mati yang ada sekarang adalah Lin Fan dengan jiwa Kaisar Xuan Wu. dengan pengetahuan masa lalu sebagai Kaisar dia mulai merangkak dari Bocah Sampah mejadi kultivator hebat di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tawaki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Teman Baru

Fajar menyingsing di gerbang utara Kota Qingyun. Kabut tipis masih menyelimuti jalanan batu beraspal, memberikan nuansa misterius pada pagi yang penting itu.

Di sana terlihat, terparkir tiga kereta kuda besar berwarna biru langit, masing-masing ditarik oleh sepasang Kuda Angin—binatang spiritual tingkat rendah yang mampu berlari tanpa lelah selama berhari-hari.

Di sisi kereta, terdapat lambang Akademi Langit Biru: seekor elang perak yang mencengkeram bola dunia.

Lin Fan berdiri di samping keretanya, membawa tas punggung sederhana berisi pakaian ganti, sisa pil, dan gulungan Sutra Ketenangan Jiwa Kosong. Ibunya, Nyonya Li, memeluknya erat-erat, air matanya mengalir deras.

"Jaga dirimu, Fan'er," isak ibunya. "Jangan lupa makan teratur. Jangan berkelahi jika tidak perlu."

"Aku janji, Bu," kata Lin Fan lembut, mengelus rambut ibunya yang mulai beruban. "kelak aku akan kembali sebagai orang yang bisa membuatmu bangga. Jaga kesehatanmu."

Setelah melepaskan diri dari pelukan terakhir, Lin Fan menaiki kereta kedua. Di dalamnya sudah ada beberapa penumpang lain. Suasana awalnya canggung. Para remaja dari klan-klan berbeda saling memandang dengan kewaspadaan, menilai potensi rivalitas masa depan.

Selain Lin Fan, ada empat orang lain di kereta itu:

Zhang Wei dari Klan Zhao, yang duduk di sudut dengan tangan terlipat, wajahnya dingin dan tertutup.

Mei Ling, gadis cantik dari Keluarga Pedagang Mei, yang tampak gugup namun matanya cerdas mengamati sekeliling.

Bao Da, pemuda bertubuh kekar dari Klan Besi, yang sedang mengunyah daging kering dengan lahap.

Dan seorang gadis kecil berwajah bulat bernama Xiao Yu, yang berasal dari klan petani biasa, duduk meringkuk di pojok dengan mata lebar penuh kekaguman.

"Hai!" sapa Bao Da tiba-tiba,

mulutnya masih penuh makanan. Ia menepuk bahu Lin Fan dengan keras, hampir membuatnya terhuyung.

"Kau Lin Fan, kan? Yang memecahkan rekor lari? Gila! Aku Bao Da. Senang bertemu denganmu!"

Lin Fan tersenyum tipis, menggosok bahunya yang sedikit sakit. "Senang bertemu juga, Bao Da. Kekuatanmu terlihat solid."

Bao Da tertawa bangga. "Tentu saja! Aku berlatih mengangkat batu sejak usia lima tahun! Tapi teoriku... yah, aku hampir gagal di situ. Untung soal esainya tentang 'Cara Mematahkan Tulang Lawan' itu mudah bagiku."

"Nama saya Mei Ling. Ayah saya berkata bahwa kekuatan fisik saja tidak cukup di ibu kota. Kita butuh informasi dan koneksi." Matanya yang tajam menatap Lin Fan.

"Dan kau, Lin Fan, kau memiliki keduanya. Nilai sempurna di teori dan fisik. Siapa gurumu?"

Pertanyaan itu menjebak. Jika Lin Fan menjawab "otodidak", mereka akan curiga. Jika ia berbohong menyebut nama guru fiktif, itu bisa terbongkar.

Lin Fan memilih jawaban setengah benar. "Saya belajar dari pengamatan alam dan buku-buku tua di perpustakaan klan. Tidak ada guru khusus. Hanya rasa ingin tahu yang besar."

Mei Ling mengerutkan kening, sepertinya tidak sepenuhnya percaya, tapi ia mengangguk hormat. "Rasa ingin tahu adalah modal terbaik untuk pedagang. Mungkin kita bisa bekerja sama nanti. Saya punya akses ke pasar gelap ibu kota jika kalian butuh bahan langka."

Zhang Wei tetap diam, namun telinganya terbuka lebar. Ia mendengar tawaran Mei Ling. Koneksi pasar gelap... pikirnya. Ini bisa berguna.

Tiba-tiba, pintu kereta terbuka lagi. Seorang pria paruh baya dengan jubah biru akademi masuk. Ini adalah Pengawas Chen, pemimpin konvoi untuk kelompok ini.

"Selamat pagi, calon-calon akademisi," kata Pengawas Chen dengan suara berat.

"Perjalanan ke Ibu Kota akan memakan waktu tiga hari melalui Jalur Utara. Harap tetap di dalam kereta atau di area pandang pengawal. Jangan turun sembarangan. Hutan di sepanjang jalur ini tidak ramah terhadap pemula."

Kereta mulai bergerak. Roda-rota berderit di atas batu, dan konvoi berangkat meninggalkan Kota Qingyun.

Sepanjang hari pertama, suasana di dalam kereta perlahan mencair. Bao Da bercerita tentang latihan kerasnya, Mei Ling berbagi tips tentang nilai tukar batu spirit di berbagai kota, dan Xiao Yu mendengarkan dengan antusias.

Lin Fan sebagian besar diam, mengamati. Ia menggunakan Persepsi Hampa-nya untuk memantau lingkungan luar kereta. Ia bisa merasakan getaran tanah, arah angin, dan keberadaan makhluk hidup di sekitar jalur.

Ada sesuatu yang aneh.

Di kejauhan, sekitar dua kilometer di sebelah kiri jalur, terdapat sekumpulan energi vital yang bersembunyi. Bukan binatang liar. Binatang liar tidak bisa menyembunyikan aura mereka dengan begitu rapi. Ini adalah manusia. Atau mungkin, praktisi yang menggunakan teknik penyamaran.

Penyergapan? pikir Lin Fan. Terlalu dini. Lin Zheng pasti menunggu kita masuk ke Celah Naga Hitam, tempat yang lebih sempit dan sulit kabur.

Mungkin ini hanya perampok biasa yang mengincar konvoi akademi karena rumor harta benda para siswa kaya.

"Sudah malam," kata Pengawas Chen saat matahari terbenam.

"Kita akan berkemah di Pos Penjaga Batu Putih. Itu tempat aman yang dijaga oleh pasukan kerajaan."

Mereka turun dari kereta. Pos Penjaga Batu Putih adalah benteng kecil berbenteng batu di tengah hutan lebat. Api unggun dinyalakan, dan aroma sup daging hangat memenuhi udara.

Para siswa dari tiga kereta lainnya bergabung dengan mereka. Total ada 15 lulusan baru dari Kota Qingyun yang melakukan perjalanan bersama.

Di api unggun utama, Lin Hao duduk dikelilingi oleh pengawalnya. Ia melirik Lin Fan yang duduk terpisah bersama kelompok keretanya, lalu mendesis pada salah satu anak buahnya.

"Pastikan dia tidak tidur nyenyak malam ini. Beri dia 'hadiah' kecil."

Salah satu pengawal mengangguk, lalu secara diam-diam melemparkan sebuah kantong kecil berisi bubuk gatal ke arah api unggun dekat tempat Lin Fan duduk. Angin membawa asapnya langsung ke wajah Lin Fan dan teman-temannya.

Bao Da mulai menggaruk-garuk lehernya. "Aduh! Ada apa ini? Tiba-tiba gatal banget!"

Mei Ling juga merasa kulitnya perih. "Ini bukan gigitan serangga biasa. Ini racun kontak ringan!"

Xiao Yu menangis karena gatal di wajahnya.

Lin Fan menyadari sumbernya segera. Ia melihat pengawal Lin Hao yang tersenyum licik dari kejauhan. Kemarahan dingin muncul di dadanya. Mereka tidak hanya mencoba membunuhnya di jalan; mereka ingin mempermalukannya dan membuatnya menderita bahkan sebelum pertempuran sesungguhnya dimulai.

Lin Fan tidak panik. Ia mengambil botol kecil dari tasnya—sisa Air Spirit Murni yang ia campur dengan ekstrak daun mint lokal yang ia petik saat berhenti sebentar tadi.

"Minum lah," perintah Lin Fan pada Bao Da, Mei Ling, dan Xiao Yu. "Dan oleskan sedikit di kulit yang gatal."

Mereka menurut. Dalam hitungan detik, rasa gatal itu hilang, digantikan oleh sensasi dingin yang menenangkan.

"Wah! Benar benar manjur!" seru Bao Da, menggaruk-garuk dengan lega.

"Lin Fan, kau punya obat ajaib!"

Mei Ling menatap Lin Fan dengan rasa hormat baru. "Kau membawa antidotum? Kau sudah menduga akan ada serangan racun?"

"Bukan menduga," "Hanya bersiap-siap. Di dunia ini, kebajikan sering dibalas dengan racun. Jadi, kita harus selalu membawa penawarnya." kata Lin Fan tenang, matanya menatap tajam ke arah Lin Hao.

Lin Hao, yang melihat reaksi mereka, menggeram kesal. Rencana kecilnya gagal total. Lin Fan tidak hanya kebal, tapi ia juga terlihat seperti pahlawan di depan teman-teman barunya.

Pengawas Chen, yang memperhatikan keributan kecil itu, berjalan mendekat. Matanya menyapu Lin Hao, lalu Lin Fan. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi ekspresinya menunjukkan bahwa ia mencatat segala sesuatu.

"Malam ini jaga keamanan bergiliran," perintah Pengawas Chen. "Lin Fan, Zhang Wei, Bao Da. Kalian tiga ambil jaga pertama. Sisanya tidur."

Ini adalah ujian tak tertulis. Pengawas ingin melihat bagaimana para pemimpin alami berinteraksi.

Lin Fan, Zhang Wei, dan Bao Da duduk di tepi perkemahan, menghadap kegelapan hutan.

Zhang Wei akhirnya berbicara, suaranya rendah. "Kau tahu siapa yang mengirim racun itu, kan?"

Lin Fan mengangguk. "Lin Hao. Dia tidak bisa menerima kekalahannya."

"Dia bodoh," kata Zhang Wei dingin.

"Menggunakan trik rendah seperti itu di depan pengawas akademi hanya akan membuatnya dicap tidak bermoral. Tapi hati-hati. Ayahnya, Tetua Lin Zheng, lebih pintar. Dia tidak akan menyerang secara frontal."

"Kau sepertinya mengenal mereka dengan baik," komentar Lin Fan.

"Klan Zhao dan Klan Lin adalah rival bisnis," jawab Zhang Wei singkat. "Kami tahu kotorannya masing-masing."

Bao Da menguap lebar. "Ah, politik klan itu rumit. Aku lebih suka pukulan langsung. Tapi hei, Lin Fan, kalau ada masalah, panggil aku. Tinjuku siap membantu."

Lin Fan tersenyum. Ia baru saja mendapatkan dua sekutu potensial: Zhang Wei, yang memiliki informasi dan sikap pragmatis, dan Bao Da, yang memiliki loyalitas sederhana dan kekuatan fisik. Mei Ling juga sudah menunjukkan minat untuk berkolaborasi.

Aliansi kecil ini terbentuk secara alami di bawah bintang-bintang malam itu.

Namun, di balik kehangatan api unggun, Lin Fan tetap waspada. Ia merasakan kehadiran yang mengintai dari kegelapan hutan yang lebih dalam. Bukan pengawal Lin Hao. Sesuatu yang lebih besar. Lebih liar.

Celah Naga Hitam masih jauh, pikir Lin Fan. Tapi bahaya sudah mulai mengepung.

Ia menutup matanya sejenak, memasuki keadaan hampa sebagian untuk memperkuat indranya. Ia akan menjaga teman-teman barunya malam ini. Karena bagi Lin Fan, kekuatan sejati bukan hanya tentang bertahan hidup sendiri, tapi tentang melindungi mereka yang berdiri di sisinya.

Besok, mereka akan memasuki wilayah yang lebih berbahaya. Dan Lin Fan yakin, Lin Zheng tidak akan menunggu sampai Celah Naga Hitam. Serangan pertama yang sesungguhnya mungkin akan datang besok pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!