"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Kekecewaan
"Alfian....." sahut Diego.
Alfian menghela nafas dan kemudian berjalan menghampiri teman-temannya.
"Alfian gue nggak ikut-ikutan dan juga baru tahu ketika Yogi mengatakan yang sebenarnya," sahut Valery takut Alfian salah paham.
"Sama gue juga gak ikut-ikutan dan nggak tahu apa-apa," sambung Kania.
"Gue, tahu tetapi bukan gue yang ngerjain,' sahut Diego.
"Ngapain lo nyembunyiin tugas Celia?" tanya Alfian.
"Pengen ngasih pelajaran aja sama cewek kampungan itu, lagian banyak tingkah di sekolah kita," jawab Yogi.
"Itu sama aja lo banci, gimana ceritanya kalau nyembunyiin tugas orang yang sudah dikerjakan susah-susah, lo cari kesenangan dari cara lo yang tidak lucu itu?" sahut Alfian.
Yogi terdiam dengan garuk-garuk kepalanya.
"Kita semua bahkan bersusah payah untuk belajar, dan selalu bersaing dengan sehat, apa yang lo lakuin sama Celia sama aja takut dia akan jauh lebih bisa diatas lo dan persaingan lo sama aja tidak sehat," ucap Alfian memberi peringatan kepada Yogi bahwa perbuatannya benar-benar salah.
"Iya-iya maaf," sahut Yogi.
"Bukan minta maaf sama gue, sama orang yang telah lo buat susah dan jika lo memang gentlemen tidak takut mengakui kesalahan dan minta maaf," ucap Alfian tidak banyak bicara dan kemudian langsung pergi.
"Alfian...."
"Apa-apaan sih, Alfian kenapa marah-marah mulu sih kerjanya," sahut Yogi.
"Apa dia itu lagi belain Celia," sahut Valery.
"Ya, menurut kalian bagaimana, sudah pasti karena membela Celia," sahut Kania
"Sudahlah, lagian lo juga Yogi ngapain juga sih nyembunyiin tugas Celia, lo kayak nggak punya kerjaan aja," sahut Valery geleng-geleng kepala dan kemudian langsung pergi yang disusul oleh Kania.
"Issss, kenapa kita yang disalahin sih," sahut Yogi.
"Bukan kita yang disalahi, elu yang ngerjain dan kita tidak tahu apa-apa yang tiba-tiba saja lu sudah punya ide buat ngerjain Celia," sahut Diego juga tidak ingin diajak ikut-ikutan.
"Payah kalian semua," sahut Yogi.
******
Celia saat ini berada di kantin seperti biasa makan sendirian.
"Celia!" Celia mengangkat kepala saat Cintya berdiri di sebelahnya membawa nampan berisi makanan.
"Boleh, Kan duduk di sini!" tanyanya memastikan.
"Oh boleh," sahut Celia.
Chintya tersenyum dan kemudian langsung duduk di depan Celia.
"Aku selalu memperhatikan kamu makan sendirian, memang kamu tidak memiliki teman di kelas yang bisa menemani kamu makan bersama, jalan bersama?" tanya Chintya.
"Susah, kayaknya gue sulit menyesuaikan diri di kelas, anak di kelas gue pada sombong sombong, mereka juga tidak berusaha untuk berbaur atau mengajak gue ke mana gitu, tapi ya nggak papa juga sih gue juga nggak ngarep punya teman di kelas," jawab Celia sembari mengunyah makanannya.
"Benarkah seperti itu, tidak menyangka padahal kelas 12 IPA A, terkenal dengan murid-muridnya yang tampak solid, bahkan mereka juga pemegang juara umum, ternyata di balik semua itu anak-anak di kelas itu tampak tidak saling menghargai dan mendukung, persaingannya ternyata benar-benar sangat ketat," sahut Chintya.
"Entahlah, seperti apa yang gue katakan, mau seperti apapun orang-orang yang ada di kelas gue, tetap aja gue nggak peduli yang terpenting bagaimana caranya gue bisa dapat juara di kelas," ucapnya.
"Setuju, terkadang ketika kita memiliki banyak teman, justru itu akan menjadi penghalang untuk kita dan lebih baik hidup mandiri dan lagi pelan kita juga tidak akan mati jika tidak memiliki teman," sahut Chintya membuat Celia yang mengangguk-anggukkan kepala.
"Tetapi gue pikir kamu masuk geng Valery dan teman-temannya karena beberapa hari ini, gue lihat lo sering berduaan dengan Alfian," ucap Chintya.
"Mana mungkin gue bisa masuk geng mereka, yang adanya mereka itu musuh bebuyutan gue dan kalau misalnya dan kalau misalnya gue sering sama Alfian, itu karena kita berdua punya tugas kelompok bareng, kemarin kita berdua mendapat hukuman dan mau tidak mau harus dikerjakan bersama," sahut Celia.
"Begitu ternyata," sahut Chintya dengan geleng-geleng kepala.
Ternyata Celia makan bersama dengan Chintya diperhatikan oleh Valery bersama dengan teman-temannya yang makan satu meja.
"Tumben sekali Chintya dekat sama Celia, apa dia lagi cari teman di sekolah ini," sahut Kania.
"Masa bodo, cewek kayak dia memang nggak ada yang nemenin di sekolah ini, menyebalkan dan selalu membuatku ingin sekali menarik rambutnya," sahut Valery dengan kekesalannya yang memiliki dendam kepada Chintya.
"Benar, dia itu cewek paling pintar cari perhatian di sekolah, orang-orang berpikir bahwa dia itu adalah cewek yang paling ramah, dan selalu berteman dengan siapapun, tetapi tidak ada yang menyangka jiwa-jiwa menyebalkannya melekat di wajahnya yang sombong itu," sahut Kania.
"Sudahlah, kali ini ngapain sih setiap hari ngurusin orang mulu, biarin aja dia itu mau duduk dengan siapa, ada baiknya kita juga nggak usah ikut campur," sahut Alfian belakangan ini memang tidak ingin membicarakan orang lain.
"Bye the way, minggu depan kita akan camping kalian sudah mempersiapkan apa?" tanya Kania.
"Memang nama-nama yang pergi sudah tercantum di mading?" tanya Valery.
"Belum sih, tetapi tidak mungkin juga kita berlima tidak ikut dan sudah pasti kita berlima akan ikut dan digabung dengan anak-anak yang lain dari kelas yang lain untuk mengadakan acara camping tahunan sekolah," jawab Kania.
"Gue belum nyiapin apa-apa," jawab Valery.
"Tetapi iya juga sih, ngapain juga harus buru-buru yang terpenting kalau sudah nama-nama yang ikut camping tertulis di mading, kita harus shopping untuk mencari perlengkapan baru," sahut Kania seperti biasa akan tampak begitu semangat jika sudah berurusan dengan urusan sekolah yang akan diadakan di luar.
"Shopping mulu kerja kalian," sahut Yogi.
******
Celia saat ini berdiri di depan mading, bukan hanya sendirian tetapi beberapa murid juga tampak berdiri melihat pengumuman yang baru saja dikeluarkan oleh pihak sekolah.
Camping tahunan atau study tour yang biasa dilakukan murid-murid pilihan yang selalu berhubungan dengan kegiatan sekolah sudah dikeluarkan dengan nama-nama sekitar 80 murid yang akan di bawa untuk mengikuti acara camping.
Celia melihat namanya tertulis diantara murid-murid yang lain.
"Aku ikut juga ternyata," ucapnya sepertinya tidak berharap apapun.
"Celia kamu ikut," Celia menoleh ke sebelahnya ketika Cynthia sudah berdiri di sampingnya.
"Aku juga tidak tahu sebenarnya apa gunanya ini dan apa tujuannya ikut dan tidak ikut?" tanya Celia.
"Kamu berarti adalah orang pilihan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan sekolah berbaur dengan alam pada tahun ini, kamu seharusnya bersyukur karena dipilih, tidak semua murid-murid bisa ikut, seluruh murid kelas 12 dipilih secara acak dan biasanya ini merupakan camping secara gantian dan bisa dikatakan sebagai perpisahan murid kelas 12, tetapi secara bertahap dan ini sudah tahap ketiga," ucap Chintya.
"Begitu, tetapi jangan khawatir, gue juga ikut dan kita bisa bareng nanti," ucap Chintya.
"Ya, lagian juga masih lama minggu depan," sahut Celia.
"Minggu depan itu tidak lama Celia, banyak yang harus dipersiapkan, bagaimana kalau kita mulai menyicil printilan yang harus dibawa?" tanya Chintya.
"Kita," sahut Celia.
"Benar! kita harus mulai mencari printilan, nanti sore aku akan jemput kamu ke rumah kamu, sini nomor kamu," Chintya mengeluarkan ponselnya dan Celia sama sekali tidak keberatan dengan keduanya yang saling bertukar ponsel.
Celia pada akhirnya mendapatkan teman yang mau berbaur untuknya walau tidak teman satu kelasnya yaitu Chintya.
Bersambung....