“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Keputusan
...BREAKING NEWS...
-Regen Corporation-
-Arin Regen-
-Nathan Regen, Putra kedua dari Victor Regen mengumumkan Pernikahan nya-
-Siapa Arin Regen?-
-Arin Regen, menantu kedua dari pemilik grup Regen Corporation-
-Arin Regen, wanita yang berhasil menaklukkan Nathan Regen-
-Keluarga Arin Regen-
Nathan terus menggulir layar ponselnya sambil membaca satu per satu headline yang bermunculan, kemudian beralih ke komentar-komentar di bawahnya. Berita tentang pernikahannya dengan Arin memenuhi media sosial dan menjadi sorotan di berbagai stasiun televisi. Komentar para netizen pun membuat pemberitaan itu semakin memanas.
“Dia tidak secantik itu”
“Jujur saja dia memang cantik, tapi siapa dia?”
“Aku pernah melihatnya bekerja di Hotel Regen”
“Aku juga pernah melihatnya bekerja di Virella Hotel”
“Dia orang miskin? “
“Haruskah aku bekerja di hotel juga agar menikah dengan CEO? Hahaha”
“Dasar genit, dari bawahan jadi nyonya aku yakin dia sengaja merayunya cih dia bahkan jelek”
“Orang miskin selalu ingin instan”
“Hei…Melihat komentar kalian, berarti dia memang tidak sebanding dengan Model yang terakhir kali di gosipkan dengan Natan, hmmm.. bahkan menurut ku Artis Naila lebih cantik, kenapa Nathan meninggalkan mantannya untuk wanita seperti itu?”
“Dia Jelek”
“Nathan pasti akan sadar sadar menceraikannya”
“Hatiku sakit”
“Pangeran dan Upik Abu”
“Semua komentar penuh dengan kecemburuan hahahaha, tapi jika dibandingkan dengan mantan-mantan Nathan dia memang bukan siapa-siapa.”
Nathan membaca semua komentar itu sambil terus menggulir layar ponselnya, mengikuti setiap headline terbaru dan reaksi media terhadap pernikahannya. Perhatiannya begitu terpaku pada layar hingga ia sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya masih duduk di ruang tamu bersama yang lain, setelah Victor memerintahkan mereka keluar dari ruangannya.
Kini semua orang menunggu dalam diam di ruang tamu sebelah timur, tidak jauh dari kantor Victor.
"Jadi... kapan kalian mulai menjalin hubungan?" Suara Niken memecah kesunyian. Sejak tadi semua orang sibuk menatap ponsel mereka, kecuali Arin yang hanya diam dengan pikiran yang dipenuhi berbagai hal.
Mendengar pertanyaan itu, Nathan akhirnya tersadar. Ia segera mematikan ponselnya lalu menoleh ke arah Niken. Namun, sesaat kemudian pandangannya beralih ke arah kantor Victor, tanda bahwa ia tidak berniat menjawab pertanyaan tersebut.
Niken memahami maksud Nathan, tetapi ia mengabaikannya. Pandangannya beralih kepada Arin seolah meminta wanita itulah yang menjawab.
"Adik ipar? Apa mulai sekarang aku harus memanggilmu adik ipar?" ucap Niken sambil menyunggingkan senyum tipis, lalu melirik suaminya Andre.
Nathan menangkap senyuman itu dan langsung merasa tidak senang.
"Lebih baik jangan mencampuri urusan masing-masing," ucapnya dengan tatapan tajam.
"Kau tidak perlu marah, Aku hanya bertanya. Bagaimanapun dia sudah menikah denganmu, berarti dia bagian dari keluarga ini. Tapi Nathan, bukankah memilih pasangan juga harus melihat bibit, bebet, dan bobotnya? Kau justru menikahi seorang wanita jalanan" lanjut Niken sambil melirik Arin dengan tatapan meremehkan.
Nathan hendak membalas ucapan Niken, tetapi Arin lebih dulu menggenggam ujung celananya. Nathan merasakan sentuhan itu, ia lalu menoleh ke arah Arin.
"Memanggilku adik ipar juga boleh. Jadi, mulai sekarang aku akan memanggilmu kakak ipar" jawab Arin memberanikan diri. Ia tidak ingin Nathan kembali terlibat masalah karena dirinya. Untuk pertama kalinya, Arin memilih menghadapi situasi itu sendiri.
Nathan masih menatap Arin. Sejak tadi, wanita itu hanya duduk diam di sampingnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Karena itu Nathan sama sekali tidak menyangka Arin akan menjawab pertanyaan Niken. Bahkan bagi Nathan, apapun yang terjadi setelah ini adalah tanggung jawabnya seorang dan Arin tidak perlu terlibat lebih jauh.
Arin akhirnya menyadari tatapan Nathan. Ia menoleh hingga pandangan mereka bertemu selama beberapa detik.
"Kau sakit?" tanya Nathan saat melihat wajah Arin yang tampak pucat.
Arin terdiam. ia tidak tahu harus menjawab apa, hingga Nathan kemudian meraih tangannya.
"Kenapa tanganmu dingin sekali?" tanyanya sambil tetap menggenggam tangan Arin.
Arin segera menarik tangannya dari genggaman Nathan. "Aku tidak sakit, hanya sedikit kedinginan," ucap Arin pelan. Sebenarnya ia tidak kedinginan ia hanya merasa takut berada di tempat yang seharusnya bukan menjadi tempatnya.
Mendengar jawaban itu, Nathan langsung berdiri lalu melepaskan jas yang dikenakannya, ia lalu menyampirkannya ke bahu Arin. Arin pun hanya diam menerima perlakuan itu, ia sedikit menundukkan kepalanya tidak berani menatap satu pun orang yang berada di ruangan tersebut.
Dan benar saja, semua pasang mata tengah memerhatikan interaksi mereka. Namun tentu saja Nathan sama sekali tidak memedulikannya.
...*****...
Dua jam berlalu sejak Victor memerintahkan mereka keluar dari ruangannya. Semua orang masih duduk dengan sikap siaga, menunggu instruksi dari Victor terutama Andre yang sejak tadi terlihat serius.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Semua orang yang sedang menunggu langsung menoleh ke arah yang sama. Namun, orang yang muncul bukanlah sosok yang mereka tunggu, melainkan Marcus. Melihat itu beberapa orang yang sempat berdiri kembali duduk.
Tidak lama kemudian, suara langkah kaki kembali terdengar. Kali ini semua orang langsung berdiri karena sudah mengetahui siapa yang akan datang. Dan benar saja, Victor muncul dari ruangannya.
Semua orang yang berdiri diam menunggu Victor berbicara. Namun, Victor tetap tidak mengatakan apa pun. Ia hanya memperhatikan mereka satu per satu bahkan pandangannya cukup lama tertuju pada Nathan.
"Ayah... apakah ada yang ingin Ayah sampaikan?" tanya Andre sambil melangkah mendekat, ia sangat berharap kali ini Victor akan menyingkirkan Nathan.
Victor masih tetap diam, tatapannya tidak pernah lepas dari Nathan. Begitu pula Nathan yang tetap menatap mata Ayahnya, bersiap mendengar keputusan yang akan disampaikan.
"Umumkan pernikahan ini kepada media. Dan aku ingin kau menghapus semua jejak masa lalu istrinya" ucap Victor akhirnya.
Setelah mengatakan itu, Victor mengalihkan pandangannya kepada Andre.
"Ayah!" suara Andre sedikit meninggi, meskipun ia masih berusaha mengendalikan emosinya, ia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Jangan sampai media mengetahui lebih dalam tentang dirinya," lanjut Victor sambil melirik Arin. "Aku akan memantau setiap pemberitaan ini. Jangan membuat sedikitpun kesalahan," tegasnya sebelum kembali menatap Andre.
Andre hanya diam membeku di tempatnya. Raut wajahnya jelas menunjukkan ketidaksenangan atas keputusan tersebut.
Setelah mengatakan semuanya, Victor berjalan menuju meja makan yang telah disiapkan oleh para pelayan. Ia melewati mereka semua, lalu sekilas melirik Nathan. Begitu pula Nathan yang sejak tadi terus memperhatikannya. Tatapan mereka bertemu selama beberapa saat sebelum Victor akhirnya berjalan menuju meja makan.
Setelah duduk di kursinya, Victor menoleh kepada para pemegang saham dan pengacara yang masih berdiri menunggu.
"Kalian boleh pergi."
Mendengar perintah itu, mereka segera membungkukkan kepala sebagai tanda hormat sebelum meninggalkan ruangan. Kini hanya tersisa delapan orang di sana, bersama beberapa pelayan yang masih melayani Victor di meja makan.
"Sayang?" panggil Niken setelah Andre pergi tanpa mengatakan apa pun.
Niken sempat menoleh ke arah Victor sebelum akhirnya mengikuti suaminya keluar. Setelah mereka pergi, hanya tersisa tiga orang di ruangan itu. Para pelayan pun sudah meninggalkan ruangan setelah Victor meminta mereka pergi.
Victor hanya berfokus pada makanannya. Ia menyantap hidangan di depannya seolah tidak ada siapapun di ruangan tersebut.
Nathan yang sejak tadi terus memperhatikan Ayahnya akhirnya berjalan mendekati meja makan. Kini ia berdiri tepat di sebelah Victor.
"Ayah... terima kasih," ucap Nathan sambil menatap Victor lekat.
Mendengar ucapan itu, Victor menghentikan gerakannya. Ia meletakkan alat makannya, lalu mengalihkan pandangan kepada Nathan.
"Sebagai Victor Regen, aku tidak pernah membiarkan hatiku memimpin. Pikirankulah yang selalu mengatur setiap keputusan." Victor berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Sebagai sesama pebisnis, aku cukup mengagumimu. Kau tidak reaktif, tidak gegabah, dan sangat disiplin. Kau mampu membaca lawanmu, Aku pikir kau sama sepertiku."
Victor terdiam sesaat. Tatapannya tetap tertuju pada Nathan.
"Tapi kau tahu di mana kelemahanmu?" Victor mengangkat tangannya, lalu menunjuk dada kirinya. "Di sini."
Nathan tetap diam. Ia hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ayahnya.
"Kelemahan itu bisa menghancurkanmu. Dan sebagai Ayahmu aku akan memberimu nasihat. Saat kau memutuskan sesuatu, pikirkan apakah keputusan itu akan berdampak dalam jangka panjang."
Victor kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arin.
"Wanita itu tidak akan membantumu untuk naik lebih tinggi. Kau sama sekali tidak membutuhkannya," lanjut Victor.
Mendengar perkataan Ayahnya, bayangan tentang ibunya kembali muncul dalam pikirannya. Nathan mengepal tangannya kuat-kuat, berusaha menahan amarah yang perlahan memenuhi dirinya.
"Jadi... apakah itu alasannya Ayah membuang kami?" suara Nathan mulai bergetar. "Karena alasan itu Ayah membuatnya menderita sepanjang hidupnya? Karena dia tidak berguna dan tidak bisa memberikan keuntungan apa pun untuk Ayah?"
Mendengar itu Victor terdiam. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini akan pergi.
Kini mereka hanya saling menatap tanpa satupun dari mereka mengatakan apa-apa.
Tanpa menambahkan kalimat lain Nathan akhirnya berbalik pergi. Dengan emosi yang masih meluap ia meraih tangan Arin dan membawanya keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Victor yang masih duduk diam di kursinya.