“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”
Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.
Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 : Setelah Badai.
Kecepatan mobil yang tinggi membuat Arin sesekali mengepalkan tangannya karena takut. Namun, ia memilih tetap diam dan tidak berani mengeluarkan suara. Sesekali ia melirik Nathan yang sedang mengemudi dengan wajah penuh amarah. Arin dapat merasakan emosi pria itu yang masih belum mereda sejak meninggalkan rumah besar keluarga Regen.
Di sisi lain, Nathan masih dipenuhi amarah. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi tanpa menyadari bahwa ada orang lain di dalam mobil selain dirinya. Perkataan Ayahnya terus terngiang di telinganya, diiringi bayang-bayang masa lalu bersama ibunya yang kembali memenuhi pikirannya. Semua itu membuat pikiran dan dadanya terasa sesak.
CHEETTT...
Nathan akhirnya menginjak rem secara mendadak dan menghentikan mobil di tepi jalan yang lengang. Tangannya masih menggenggam erat setir, sementara pandangannya lurus menatap ke depan meski pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Lima menit berlalu dalam keheningan. Hingga suara mobil yang melintas membuyarkan lamunannya, Nathan akhirnya kembali tersadar. Ia lalu menoleh ke samping dan pandangannya langsung bertemu dengan Arin.
Tatapan itu berlangsung cukup lama. Arin hanya diam, sesekali ia melirik Nathan lalu kembali menundukkan pandangannya.
"Kita akan pulang," ucap Nathan akhirnya.
Ia kembali menatap ke depan, menyalakan mesin mobil lalu melanjutkan perjalanan.
...*****...
Tak lama setelah meninggalkan rumah besar keluarga Regen, Andre langsung menuju kantornya. Sepanjang perjalanan, ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Rahangnya mengeras sementara Niken hanya duduk di sampingnya, membiarkan amarah suaminya mereda dengan sendirinya.
Andre mendorong pintu kantornya dengan kasar. Ia langsung masuk diikuti Niken di belakangnya. Begitu tiba di meja kerjanya Andre menyapu plakat namanya hingga terjatuh ke lantai. Plakat itu bahkan terbelah menjadi dua. Namun, kemarahannya masih belum mereda. Tangannya mencengkeram ujung meja begitu kuat.
"Melempar benda itu tidak akan mengubah apa pun," ucap Niken yang sudah duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"Dia selalu seperti itu! Selalu mentoleransi apa pun yang dilakukan Nathan!" balas Andre sambil menatap istrinya.
"Bagaimanapun juga, Nathan tetap putranya. Ayah tidak mungkin membuangnya," ucap Niken dengan senyum tipis.
"Putranya," ulang Andre dengan senyum sinis. "Dia hanya putra dari wanita simpanan."
Andre berjalan menghampiri Niken, lalu duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
"Dengar, seberapa emosinya pun dirimu, jangan pernah mengatakan itu di depan Ayah." Niken berhenti sejenak, menatap suaminya yang tampak acuh tak acuh. "Kau mengerti maksudku, Andre."
"Aku tahu!" jawab Andre dengan nada tinggi. "Lalu sekarang bagaimana? Aku tidak akan membiarkan perusahaan ini jatuh ke tangannya."
"Kau tenang saja. Aku ini istrimu." Niken menatap Andre dengan tenang. "Keluargaku akan berada di pihakmu. Sahammu, sahamku, dan saham Ayahku jika digabungkan masih jauh lebih besar daripada kepemilikan saham Nathan."
"Yang harus kita lakukan sekarang adalah memastikan Ayah tidak marah, agar saham miliknya tidak sepenuhnya diberikan kepada Nathan. Kau tau sendiri, semuanya akan berakhir jika itu terjadi."
Niken terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan.
"Lagipula, kalau dipikir-pikir pernikahan Nathan justru menguntungkan kita. Dia menikahi wanita dari kelas bawah. Itu bisa menjadi keuntungan bagi kita."
Mendengar penjelasan istrinya, Andre terdiam sejenak, mencerna setiap perkataan Niken.
"Keuntungan..." gumam Andre sambil mengangguk pelan. "Baiklah. Kalau begitu aku akan menjalankan perintah Ayah dan mengumumkan pernikahan mereka."
Setelah mengatakan itu, Andre mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menyelesaikan tugas yang di berikan Ayahnya.
...*****...
Setibanya di apartemen, Nathan meletakkan kunci mobilnya di atas meja dengan sembarangan. Arin terus mengikutinya dari belakang. Begitu masuk ke dalam, Arin hanya berdiri diam mematung di ruang tamu.
Nathan yang sedang minum di area dapur memperhatikannya dari kejauhan. Ia lalu menghampiri Arin.
“Ada apa? kenapa kau hanya berdiri” jawab Nathan bingung melihat sikap Arin.
"...Aku harus melakukan apa?" balas Arin, kebingungan menghadapi keadaan barunya.
Nathan terdiam sejenak, memperhatikannya.
"Mulai sekarang, ini rumahmu. Kamarmu di sebelah sana," ucap Nathan sambil menunjuk kamar tempat Arin pernah menginap sebelumnya.
"Dua hari lagi kita akan melihat rumah baru. Setelah itu, kita akan pindah" lanjutnya.
Nathan kembali meraih kunci mobilnya.
"Bolehkah aku keluar?" tanya Arin.
"Untuk sekarang, belum bisa," jawab Nathan. "Aku tidak melarangmu. Hanya saja, selama seminggu ini usahakan jangan sampai terlihat oleh media."
"Ponselku mati. Aku harus membeli pengisi daya," ujar Arin.
"Akan kubelikan. Aku juga harus keluar sebentar, ada urusan yang harus kuselesaikan."
Arin mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Kalau lapar, kau bisa melihat apa yang ada di dapur," ujar Nathan sebelum akhirnya berbalik dan pergi.
Arin hanya mengangguk, lalu memperhatikan Nathan hingga pria itu menghilang di balik pintu lift.